
"Agartha, kau tidak bilang jika dirimu adalah pangeran negeri ini." Lily terlihat kesal. Raut wajahnya dipenuhi kekecewaan.
"Lily ...." Pangeran pun beranjak berdiri.
"Agartha, kenapa tidak sedari awal menceritakannya? Kenapa kau membiarkanku menanggung derita akibat statusmu itu? Kau begitu jahat padaku!" Gadis bergaun putih itu mengungkapkan kekesalannya.
"Lily, aku—"
"Jadi selama ini perlakuan yang kuterima adalah karena memperebutkan posisi pendampingmu?" Lily meminta kepastian. Ia teringat dengan kejadian yang menimpanya...
"Jangan dekati Agartha. Atau kau akan menerima akibatnya!" Sesosok putri bergaun cokelat muda mendatanginya di telaga.
"Siapa kau?! Kenapa kau melarangku?" Lily yang sedang mengambil air di telaga pun terkejut dengan kedatangan putri itu.
"Aku adalah calon istri Agartha. Jadi enyahlah dari sini!" Sosok putri itu ingin mengikat Lily.
Lily tahu bahaya sedang mengancam keselamatannya. Ia segera melemparkan kendinya ke arah putri itu. Putri itu pun terkena kendi Lily. Segera saja Lily berlari dari telaga, keluar untuk mencari pertolongan. Namun, di pintu keluar telaga ternyata sudah ada dua pria berbadan kekar yang menunggunya.
"Lepaskan!!!"
Lily pun akhirnya tidak sadarkan diri. Ia terjatuh di atas rerumputan dengan darah yang mengalir dari sela bibirnya. Ia dipukul paksa sampai tidak sadarkan diri.
.........
"Lily ...." Pangeran merasa bersalah.
"Kau tahu, Agartha. Wanita itu ... wanita itu bilang padaku agar tidak dekat-dekat denganmu. Dia juga memintaku untuk tidak mengikuti sayembara istana. Apakah karena hal ini dia memperlakukanku begitu kejam?" Lily bertanya lagi. Air matanya mulai menggenang.
Pangeran menelan ludahnya. Berarti benar apa yang dikatakan nona Ara selama ini.
Saat itu juga pangeran menyadari jika apa yang dikatakan oleh Ara adalah benar. Tidak salah lagi jika yang dimaksud dengan wanita itu adalah Camomile. Pangeran pun merasa amat bersalah kepada Lily.
Diraihnya tangan Lily, ditariknya punggung gadis itu lalu dipeluknya. Lily pun terkejut dengan sikap pangeran. Ia mencoba untuk menolak, namun tak bisa. Agartha benar-benar memeluknya dengan erat.
Agartha ....
__ADS_1
Hati Lily belum bisa menerima segala kekerasan yang ia dapatkan karena dekat dengan pangeran. Tapi kini kehangatan tubuh itu bisa saling mereka rasakan. Pangeran memeluk Lily dengan erat, seolah tidak ingin Lily pergi darinya.
"Maafkan aku ...," Dua kata yang pangeran ucapkan seakan mampu menghentak relung hati Lily yang terdalam. "Maaf jika karena statusku, kau harus mengalami kepedihan, Lily. Aku berjanji setelah ini tidak akan membiarkanmu merasakannya lagi. Aku akan menjagamu." Pangeran Agartha berjanji.
Agartha ....
Lily pun menjadi lemas. Tenaganya seperti tersedot magnet bumi. Tak kuasa menolak pelukan hangat dari pria yang hampir setiap hari menemaninya di telaga. Bagaimanapun Lily juga seorang manusia. Ia mempunyai perasaan dan rasa cinta. Dan rasa itu sudah muncul sejak pandangan pertama. Hanya saja Lily tidak menampakkannya di hadapan pangeran.
Tak lama bulir-bulir air matanya pun jatuh membasahi jubah pangeran. Lily terharu dengan kata-kata yang pangeran ucapkan. Ia merasa telah menemukan pelabuhan hatinya.
"Ke depannya kita akan selalu bersama. Kau mau, kan?" tanya pangeran yang terus memeluk Lily.
"Agartha ...?" Lily belum mengerti maksud pangeran.
Pangeran melepas pelukannya. Ia kemudian menatap wajah Lily. "Menikahlah denganku. Aku akan menjagamu sepenuh hatiku." Pangeran memegang lembut wajah sang gadis dengan kedua tangannya.
Sontak Lily terkejut. "Jadi ... jadi pernikahan yang kau maksud tadi ... sungguh-sungguh?" Lily tak percaya.
Pangeran mengangguk. "Ya. Aku serius. Aku akan menikahimu. Tidak ada wanita lain yang ingin kunikahi selain dirimu." Pangeran berkata lagi.
"Bercanda?" Pangeran merasa kaget.
"Ya." Lily mengangguk. Ia mengangkat wajahnya. "Aku pikir karena kau ingin selalu makan malam bersama mereka." Lily dengan polosnya mengatakan.
"Astaga ...."
Saat itu juga pangeran tak percaya dengan kepolosan Lily. Ternyata gadisnya itu belumlah berubah. Lily masih polos seperti dulu. Hanya saja Lily merasa kaget dengan status pangeran sekarang. Lily pun menyadari jika semua kepahitan yang diterimanya karena memperebutkan posisi permaisuri.
"Lily ...," Pangeran memegang pundak Lily dengan kedua tangannya. "Aku serius padamu." Ia berkata seraya tersenyum.
"Agartha ...."
"Temani aku hingga masa yang memisahkan kita," pinta pangeran dengan tulus.
Lily terharu. "Bagaimana jika aku tidak mau?" Lily berusaha mengalihkan rasa harunya.
__ADS_1
Pangeran memutar bola matanya. Ia melihat ke langit dunia lalu menatap Lily kembali. "Aku akan memaksamu untuk menikah denganku. Aku akan mengejarmu sampai kau tidak bisa lari lagi dariku." Pangeran menuturkan.
Perlahan-lahan semburat senyum terlihat di sudut bibir Lily yang ranum. Ia akhirnya tersenyum manis kepada pangeran seraya mengangguk. Lily menyetujui dipersunting oleh pria yang selama ini menemani hari-harinya di telaga.
Pangeran membalas senyum Lily. Ia memegang kedua tangan Lily lalu mengecupnya secara bergantian. Ia tidak peduli terhadap sikap malu-malunya lagi. Pangeran akan berusaha lebih terbuka kepada Lily. Karena ia juga seorang manusia yang mempunyai naluri. Dan ia amat bahagia malam ini.
Bulan purnama menjadi saksi diterimanya cinta pangeran. Calon raja negeri ini langsung meminta Lily tanpa ada kata cinta atau pacaran. Ia ingin langsung menikahi dan menggelar pesta pernikahan. Lily pun tampak tidak keberatan. Ia tersenyum semringah menyambut ajakan menikah pangeran.
Begitulah ketetapan Tuhan. Tidak akan lari gunung dikejar, begitu juga dengan jodoh setiap insan. Hanya saja sebagai manusia diharuskan untuk tetap selalu berusaha dan berdoa kepada Tuhannya. Berdoalah, niscaya doa akan dikabulkan.
Sementara itu di Dubai...
Siang hari telah datang. Cuaca siang ini terasa panas namun juga menyejukkan. Di sana, di kampus ternama yang ada di Dubai, tampak seorang pria berkemeja hitam sedang ditemani ketiga mahasiswanya. Ialah Lee, Taka, Nidji dan juga Ken. Ketiganya akan mengantarkan Lee sampai ke depan gerbang kampus.
Hari ini Lee berpamitan kepada mahasiswanya karena pengajuan pertukaran dosen telah disetujui oleh pihak kampus. Hari ini juga ia akan berangkat ke Turki dengan menggunakan jalur udara, yang mana semua keperluannya sudah dipersiapkan. Lee tinggal pergi saja. Ia juga mendapat uang saku yang begitu besar dari pemilik saham terbesar di kampusnya.
Perjalanan Lee kali ini akan dianggap seperti pencarian jati diri. Ia ingin menguji seberapa besar daya tarik-menarik yang ia miliki. Ia ingin membuktikan apakah hal yang selama ini dipikirkannya akan kembali. Ia mencoba pasrah dengan jalan yang ditakdirkan. Namun, ia selalu berusaha dan pantang menyerah.
"Kami pasti akan kehilanganmu, Dosen Lee." Nidji tampak berat melepas keberangkatan dosennya.
Lee tersenyum.
"Kabari kami jika sudah sampai di Turki. Mungkin selepas ini kami juga akan segera menyusul ke sana." Ken menambahkan.
Lee mengangguk.
Taka terdiam. Ia seperti tidak mempunyai kata-kata perpisahan. Kedua temannya pun tampak memperhatikan.
"Taka." Nidji lalu menyenggol temannya.
Taka tersadar. Ia tersenyum. Semilir angin siang menyapu helaian rambutnya yang terjuntai ke depan. Ia kemudian menarik napas dalam seraya tersenyum kepada dosennya. Taka berusaha merelakan kepergian Lee dari kampus tempatnya belajar.
"Guru Lee, terima kasih. Aku harap kepergianmu bukan karena ingin melupakan Ara." Tiba-tiba saja Taka berkata seperti itu.
Sontak Lee terkejut. Ia tak menyangka jika Taka akan berkata seperti ini. Baik Ken maupun Nidji terdiam. Mereka menantikan tanggapan apa yang akan Lee berikan dari ucapan temannya.
__ADS_1