Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Waiting Baby Born


__ADS_3

Beberapa jam kemudian...


Kontraksi kualami berulang kali dan rasanya sungguh luar biasa sekali. Berulang kali aku mengambil napas panjang dan dalam, tapi rasa sakit itu tidak dapat terlawankan. Mungkin inilah yang dinamakan bertarung dengan kematian. Berjuang sekuat tenaga untuk menang dan terus meniti kehidupan. Sungguh besar perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anak-anaknya. Berjam-jam menahan rasa sakit hanya untuk melihat buah hati lahir ke dunia.


Rasa sakit saat menstruasi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kontraksi saat akan melahirkan. Kini aku mengalaminya sendiri yang membuat keringat bercucuran dari dahi. Suamiku pun tampak tak tega melihatku kesakitan. Dia memohon padaku untuk melakukan operasi sesar.


"Aakhhh!"


Sakit sekali. Dorongan mereka pada panggulku membuatku hampir menangis merasakannya. Sungguh luar biasa sekali tekanannya. Tidak tahu bagaimana raut wajahku saat ini, aku tidak peduli lagi. Aku hanya menginginkan bayi-bayiku selamat lahir ke dunia.


"Sayang, pembukanya baru tiga. Kita harus cepat melakukan tindakan. Kau harus mempunyai tenaga sesudah melahirkan." Suamiku mendampingi. Dia terlihat panik dan tak tega melihatku.


Mungkin hal yang kurasakan ini seperti tulang yang dipatahkan secara bersamaan. Aku tidak dapat menggambarkan lebih rinci bagaimana rasa sakitnya. Ini adalah perjuangan yang luar biasa.


"Sayang, kumohon. Jangan habiskan tenagamu untuk menunggu pembukaan. Ingat bayi kita. Kita harus merawat setelah kelahirannya."


Aku mengerti kekhawatiran suamiku. Tapi aku masih bersikeras untuk melakukan persalinan normal. Aku tidak mau sesar. Walaupun kini tubuhku terasa lemas sekali.


Ya Tuhan, berikan jalan yang terbaik untuk persalinanku.


Suamiku selalu setia berada di sisi. Kami berada di ruang kelas satu RSIA Istanbul, Turki. Sedang ibu dan Kak Jamilah bergantian jaga dengan suamiku. Rencana mereka akan datang esok pagi selepas salat subuh. Lagipula tidak boleh banyak orang menemaniku di ruang rawat ini. Jack saja tidak boleh ikut masuk walau hanya sebatas menemani. Dia kini menunggu di luar untuk mendampingi suamiku.


"Sayang ...."


Kupegang lengan suamiku. Kucengkeram kuat tangannya. Rasa-rasanya risiko harus kutanggung malam ini. Ternyata aku begitu lemah melawan rasa sakit. Aku tidak lagi bisa berlama-lama seperti ini. Aku harus menyimpan tenagaku untuk sesudah persalinan nanti.

__ADS_1


"Ya, Istriku. Katakan apa yang kau mau?" tanyanya dengan raut wajah amat cemas melihatku.


"Permisi."


Tiba-tiba seorang perawat datang setelah mengecek keadaanku tadi. Ternyata setiap satu jam dia memeriksa kondisiku tanpa perlu dipanggil lagi. Dan kini dia datang untuk mengecek tensi darah dan denyut nadiku kembali. Suamiku pun memberinya ruang untuk memeriksa. Sedang aku mulai lemas tak berdaya.


"Tensi darahnya turun, Tuan. Denyut nadi mulai melemah. Kami sarankan untuk segera melakukan operasi sesar sebelum tekanan darah berada di ambang kritis. Nona bisa membutuhkan banyak transfusi darah jika terus menunggu dan menunggu."


Perawat itu mengabarkan. Entah menakutiku atau tidak. Saat ini aku tidak boleh berprasangka buruk terhadap orang lain. Aku harus tetap berpikiran positif agar hatiku tenang.


"Apakah masih bisa menunggu, Suster?" Suamiku bertanya dengan cemas.


Perawat itu menggelengkan kepalanya. "Maaf, Tuan. Tekanan darah nona semakin melemah. Sekalipun menunggu persalinan normal ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kami sarankan untuk cepat melakukan tindakan sebelum terlambat. Karena waktu tidak akan bisa mengulang. Permisi."


Perkataan suster itu tentu saja membuatku semakin meragukan diri ini. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Rasa-rasanya aku masih ingin bertahan agar bisa melahirkan normal. Tapi, aku juga tidak mampu merasakan sakit yang lebih lama lagi.


Kutahu jika suamiku begitu khawatir. Dia tidak ingin aku merasakan sakit yang lebih lama lagi. Akhirnya kucoba untuk memasrahkan diri ini. Aku pasrah jika harus melakukan operasi. Setidaknya aku sudah tahu bagaimana rasanya kontraksi. Dan itu sangat luar biasa sakit sekali.


Setengah jam kemudian...


Lampu-lampu rumah sakit berjalan di atasku. Padahal aku sendiri yang sedang dibawa menuju ruang operasi. Suamiku pun masih setia berada di sisi. Sedang Jack ikut mendampingi. Suamiku akan menemani masuk ke ruang operasi. Tim dokter paling ahli diminta olehnya tanpa peduli lagi berapa mahal harga yang harus dibayar nanti.


Kini keadaanku sudah lemas. Aku pun mencoba bermunajat kepada Sang Pencipta. Jikalau takdirku harus berakhir di sini, aku harap anak-anakku kelak bisa tumbuh dewasa dan membanggakan kami. Aku meyakini jika hari pertemuan itu akan ada walaupun tidak di sini. Aku amat menyayangi mereka.


"Yang tidak berkepentingan harap menunggu di luar."

__ADS_1


Pintu ruang operasi terbuka. Saat itu juga aku banyak-banyak berdoa. Aku masuk ke ruang operasi dalam keadaan lemas tak bertenaga. Namun, melihat wajah suamiku di sisi rasanya semangat itu berkobar lagi. Aku pun tersenyum kepadanya.


"Sayang, terima kasih," ucapku pelan padanya.


"Tuan, tetap mendampingi istri Anda. Jangan kemari karena hanya akan mempersulit kami yang bekerja. Berdoalah." Dokter meminta suamiku berdoa.


Aku disuntik. Suntikan yang begitu sakit dan terasa menembus tulang belakangku. Setelahnya aku dibaringkan dan diminta untuk membayangkan hal yang indah-indah saja. Tiga dokter dikerahkan dengan satu dokter senior sebagai pemimpinnya. Kulihat dua orang perawat juga sudah siap berjaga. Operasi sesar akan segera dimulai. Aku pun pasrah kepada Sang Pencipta.


"Sayang, aku mencintaimu."


Suamiku berbisik di telinga ini. Kulihat air mata menggenangi bola mata birunya. Entah apa yang terjadi pada perutku, aku sudah tidak bisa merasakannya lagi. Aku tidak merasakan kontraksi lagi. Aku sedikit tenang karena tidak kesakitan. Tapi, kesadaranku seperti akan hilang.


"Terima kasih, Sayang. Aku juga mencintaimu."


Detik demi detik kulalui di ruang operasi. Menit demi menit terus membuatku menunggu kabar kelahiran bayiku. Hingga akhirnya kudengar para dokter memuji Sang Pencipta. Saat itu juga aku merasa mengantuk sekali. Sepertinya obat bius sudah mulai bekerja ke seluruh tubuhku.


"Tuan, Nona, selamat."


Kata-kata itu kudengar dari seorang dokter yang menangani. Tapi aku hanya bisa mengangguk dengan memejamkan mata ini. Rasa kantuk sudah tidak bisa tertahan lagi. Aku ingin tertidur. Tidur yang sedikit lama untuk mengistirahatkan tubuhku.


"Nona, lihat anaknya begitu cantik dan juga tampan."


Dokter memintaku untuk melihat dua bayi yang dibawa menggunakan keranjang dorong. Namun, aku tidak bisa melihatnya lebih jelas. Aku sudah tidak sanggup menahan rasa kantuk ini. Aku ingin tertidur.


Anak-anakku, selamat datang ke dunia, Nak. Terima kasih telah hadir mewarnai kehidupan kami.

__ADS_1


Rambut mereka hitam. Kulit mereka juga putih. Tapi sayangnya aku tidak bisa melihat bagaimana wajah keduanya. Tubuhku sudah tidak bisa digerakkan lagi. Namun, walaupun begitu aku sudah amat bersyukur. Hidupku telah sempurna dengan kelahiran mereka. Semoga Tuhan meridhoi proses persalinan ini.


__ADS_2