
Dua jam kemudian...
Ara dan Rain tampak berpelukan di bawah selimut tebal kasurnya. Keduanya kini beristirahat dari permainan yang dimenangkan oleh Rain. Ternyata ketahanan tubuh Rain memang luar biasa. Ia mampu bertahan di saat Ara sudah tiga kali kalah darinya.
"Sayang."
"Hm?"
"Bagaimana jika nanti kita punya anak kembar?" tanya Ara kepada Rain. Terlihat rambut Ara yang sedang dibelai-belai oleh Rain.
"Tak apa. Aku malah senang, apalagi jika dapat sepasang." Rain tidak keberatan.
"Tapi, nanti aku ingin ditemani saat melahirkan. Bisa?" tanya Ara lagi.
Rain merasa heran. Ia kemudian menjitak kening istrinya. "Kok berbicara seperti itu? Memangnya aku mau ke mana?" Entah mengapa Rain merasa kesal.
Ara pun mengusap-usap dada bidang suaminya. "Ya, aku kan bilang dari sekarang. Siapa tahu nanti masih sibuk saat mau melahirkan." Ara memberi alasan agar Rain tidak marah padanya.
"Hahaha. Sayang-sayang." Rain pun tertawa.
"Eh? Kok malah tertawa?" Ara menatap heran suaminya.
"Tidak. Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa heran. Memangnya ada suami yang tidak mau menemani istri melahirkan anaknya?" Rain bertanya sambil tertawa.
Ara mengangkat bahunya, tidak tahu.
Rain pun memeluk istrinya. "Sayang, sudah. Jangan berpikiran aneh-aneh. Aku akan menemanimu saat melahirkan nanti." Rain berjanji.
"Benar, ya?" Ara memegang janji Rain.
"Iya, Sayangku." Rain pun mencubit gemas hidung istrinya.
Ara merasa senang. Ia kemudian mencium pipi Rain. Malam ini kembali terjadi kemesraan di antara mereka. Baik Ara maupun Rain tidak lagi memikirkan di mana keberadaan sekarang. Bagi keduanya yang terpenting adalah kebersamaan dan kasih sayang yang abadi. Mereka pun berharap bisa selalu terus bersama sampai waktu yang memisahkan. Cinta keduanya begitu sejati hingga tidak memandang asal-usul lagi. Butiran salju pun ikut mewarnai kisah cinta mereka ini.
"Sayang, turun salju?" Ara melihat ke luar jendela kamarnya.
Rain pun ikut melihat. "Iya, turun salju." Rain terperanjat saat melihat butiran salju juga turun di Agartha.
__ADS_1
"Haduh, astaga." Ara memukul dahinya sendiri.
"Kenapa, Sayang?" Rain mulai cemas.
Ara menoleh. "Besok aku mau ke bukit peternakan, tapi sekarang malah turun salju." Ara mengungkapkannya.
"Bukit peternakan?" Rain pun antusias menanggapi.
"Iya. Aku mau mencoba membuka portal di sana. Kali-kali saja bisa," kata Ara lagi.
"Di sini sulit, ya?" tanya Rain.
Ara mengangguk. "Aku rasa begitu. Aku tidak bisa fokus di sini, entah kenapa." Ara menceritakan.
Rain pun mengangguk, seolah mengerti. "Oh, begitu. Baiklah, nanti akan kutemani besok." Ia kemudian menggendong istrinya.
"Eh, Sayang. Mau ke mana?" Ara pun terheran saat Rain menggendongnya.
"Kita mandi dulu biar segar. Kan habis tiga ronde. Ada yang kalah lagi." Rain mengejek istrinya.
Rain tersenyum. Ia terus mengendong istrinya sampai masuk ke kamar mandi. Kedua tangan Ara pun melingkar erat di leher suaminya. Mereka akan menikmati malam turun salju bersama di negeri ini.
Washington DC, pukul dua siang waktu sekitarnya...
Bumi dan Agartha memiliki perbedaan waktu yang cukup jauh. Entah sudah berapa lama dari kejadian ledakan waktu itu, kini Owdie telah tiba di kediaman sang kakek. Ia menginjakkan kaki di halaman rumah keluarga besar saat baru turun dari mobil. Ia kembali datang bersama Byrne ke manshion Sam karena ingin menemui seseorang di sana.
Siang ini butiran salju mencair cepat saat terkena sinar matahari. Cuaca hari ini pun terasa berbeda, tidak seperti biasanya. Owdie dan Byrne juga terlihat tidak mengenakan jaket musim dingin. Keduanya mengenakan setelan seragam jas hitam formal.
"Di mana Nick?"
Sesampainya di dalam rumah, Owdie segera menanyakan keberadaan Nick kepada pelayan yang menyambut kedatangannya. Pelayan itu kemudian memberi tahu jika Nick sedang berada di dalam ruangan yang berada di lantai tiga. Saat itu juga Owdie segera menaiki anak tangga menuju ruangan Nick. Ia tidak lagi peduli dengan keberadaan sang kakek yang entah di mana.
Owdie kemudian membuka pintu ruang kerja Nick. Ia masuk ke dalam ruangan dengan wajah dingin. "Halo, Brother!" sapanya kepada seseorang yang sedang membaca dokumen.
"Owdie?!"
Nick pun terkejut dengan kedatangan Owdie. Ia segera berdiri dari duduknya. Ruangan seluas 2x2 meter itupun menjadi saksi pertemuan mereka.
__ADS_1
"Kedatanganku ke sini bukan karena rindu padamu. Tapi, karena ingin meminta pengakuanmu," kata Owdie yang membuat Nick menelan ludah.
"Halo, Nick." Byrne pun muncul dari belakang Owdie. Seketika Nick bertambah kaget dengan kedatangan keduanya.
Ruangan berisi satu set meja dan kursi kerja itu menjadi saksi kedatangan Owdie dan Byrne. Rak buku yang berada di belakang Nick pun seolah menonton hal apa yang sedang terjadi. Sedang Nick sendiri tak menyangka jika Byrne dan Owdie akan datang hari ini.
"Apa maksudmu?" tanya Nick, pura-pura tidak mengerti.
Owdie mendecih. Ia melipat kedua tangannya di dada. "Jangan pura-pura tidak tahu. Bukti sudah kupegang. Kau mau apa lagi?" tanya Owdie tajam.
Nick pun seperti tersudut.
"Kami hanya ingin meminta pengakuanmu, Nick. Kami tidak akan melanjutkan hal ini ke ranah kriminal." Byrne meyakinkan.
Nick kesal. Ia merasa kedua saudaranya telah lancang kepadanya. "Kalian ini sedang membicarakan apa? Aku tidak mengerti sama sekali dengan pembicaraan kalian. Jika tidak ada urusan lagi, silakan kembali ke tugas yang sudah diberikan. Aku sibuk." Nick mengusir keduanya.
Owdie kemudian berjalan mendekati Nick. "Oh, begitu. Baiklah. Tapi sebelumnya, katakan padaku siapa dalang dari kecelakaan kepala pengeboran minyak di Dubai?" tanya Owdie seraya menatap tajam ke arah Nick.
Nick menelan ludahnya.
"Kau tidak bisa menyangkal, bukan? Kau sudah ketahuan, Nick. Kau pikir kami akan tinggal diam dengan perbuatanmu?" Owdie menukik Nick dengan kata-katanya.
"Hei, sedang apa kalian?!" Belum sempat menjawab pertanyaan Owdie, tiba-tiba kedua saudara Nick datang menghampiri Owdie dan juga Byrne.
"Halo, Brothers. Aku ke sini karena ada urusan dengan seorang pembunuh!" Owdie melirik ke arah Nick.
Seketika kedua saudara Nick menyadari akan maksud dari perkataan itu. "Owdie, jangan bilang jika kau sedang menuduh Nick. Kita saudara, Kawan." Pria berjas biru meminta Owdie berbicara hati-hati.
Owdie tersenyum simpul. "Tanyakan saja padanya. Benar atau tidak?" Owdie bersikap santai.
Nick pun terpancing emosi. "Kau keterlaluan! Keluar dari ruanganku sekarang juga!" Nick mengusir Owdie.
Seketika Owdie ikut emosi. "Apa kau bilang? Kau bilang aku keterlaluan?" Owdie memalingkan pandangannya, lalu kemudian...
"Owdie, hentikan!" Byrne segera menahan Owdie.
Owdie melayangkan satu tinjauannya ke Nick. Nick pun jatuh hingga menabrak beberapa dokumen yang ada di atas meja. Dokumen-dokumen itupun jatuh berserakan di atas lantai ruangan. Sontak kejadian itu membuat kedua saudara mereka melindungi Nick.
__ADS_1