Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
One Task


__ADS_3

**) Sudut Pandang Ke Tiga


.........


Akan kuceritakan padamu kisah tentang telepon yang telah mengubah takdirku.


Aku dan teman-teman nongkrong bersama dan berakhir merana.


Aku hendak pulang dan dia berdiri di depanku.


Dia menyapa, aku punya tempat di dekat sini, mau ikut?


Seharusnya aku menolak.


Seseorang sedang menungguku.


Tapi kutelepon kekasihku dan kubilang...


Dengar Sayang, maafkan aku. Aku hanya ingin bilang jangan kuatir.


Aku akan pulang larut malam, jadi tak usah kau menungguku.


Akan kukatakan lagi jika baterai ku habis.


Suaramu tak jelas, kau tahu kita akan pergi ke sebuah tempat.


Tapi, aku harus pergi sekarang.


Hingga semuanya terjadi dan tak ada yang dimenangkan.


Aku tak bisa memutar waktu, yang sudah terjadi biarlah terjadi.


Dan salah satu temannya tahu bahwa dia bukanlah satu-satunya kekasihku.


Sungguh menyiksa batinku bahwa dia tak lagi di sisiku.

__ADS_1


Hanya karena aku meneleponnya dan berdusta.


Dengar Sayang, maafkan aku.


Aku harus pergi...


.........


Kuwait, pukul lima pagi...


Fajar telah datang. Semburat ungu dan biru menyatu di ufuk timur salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia. Sebuah negeri kecil yang terbentang di Teluk Persia. Namun, memiliki cadangan minyak yang luar biasa.


Negeri ini memiliki mata uang tertinggi di dunia, bahkan mengalahkan Euro sekalipun. Penduduknya sedikit, namun kekayaan alamnya berlimpah. Tak ayal negeri ini dijuluki negeri kaya sehingga menggratiskan hampir seluruh sarana kesehatannya. Gedung-gedung pencakar langit juga ada di sini. Ia adalah Kuwait, sebuah kota di atas gurun pasir yang sudah berubah menjadi kota metropolitan di Timur Tengah.


Dahulu kala Kuwait memiliki sejarah masa lalu yang buruk. Namun, mereka bisa bangkit dari keterpurukan dan menjadi salah satu kawasan metropolitan di Timur Tengah. Kerja sama di sektor minyak menjadikan negeri ini sebagai negara dengan pendapatan per kapita yang amat besar. Tak salah jika negeri ini menjadi sasaran Byrne dan Owdie untuk singgah dan bekerja, melancarkan tujuan organisasinya. Namun sayang, suhu di sini sangatlah ekstrem. Jika dingin amat menusuk kulit, jika panas amat menyengat. Cuacanya kurang bersahabat.


Pagi ini Byrne masih tertidur di atas kasur empuk yang ada di salah satu kamar hotel bintang lima tengah kota. Semalam ia baru saja menyelesaikan eksperimennya tentang imunitas penduduk di Timur Tengah. Namun, pagi ini juga ia harus mendengar ponselnya berdering. Yang mana dering ponselnya itu tidak ada habisnya. Membuatnya bangun dari tidur yang baru sebentar saja.


Tangannya meraba-raba meja kecil yang ada di samping kasurnya. Dengan mata yang masih mengantuk dan kesadaran yang belum sempurna, ia melihat siapa gerangan yang meneleponnya.


"Kau di mana?" tanya sosok di seberang yang memang benar adalah kakeknya.


"Aku ... aku di hotel bintang lima tengah kota, Kek. Kakek di mana?" Byrne balik bertanya.


"Temui aku di Sheraton Hotel pukul tujuh pagi. Kita sarapan pagi bersama," ucap kakeknya.


"Apa?!" Seketika Byrne terkejut. Ia merasa sedang salah mendengar. Namun, tak lama kemudian teleponnya itu terputus. "Sheraton? Bukankah itu di Kuwait?" Byrne bertanya sendiri. "Astaga!" Seketika dia terkejut. Byrne akhirnya mau tak mau segera bersiap-siap untuk menemui kakeknya. Ia tersadar jika kakeknya sedang berada di Kuwait juga.


Pagi-pagi buta menerima telepon seperti mimpi buruk yang tak terelakkan. Byrne tahu jika kedatangan kakeknya ke Kuwait bukanlah tanpa alasan. Ia akhirnya segera bergegas walaupun matanya masih sangat mengantuk. Ia akan menemui kakeknya.


Dua jam kemudian, pukul tujuh pagi waktu Kuwait dan sekitarnya...


Cuaca masih dingin, membuat pria berkulit pucat itu datang menemui kakeknya dengan baju yang berlapis-lapis. Tidak tanggung-tanggung, Sam meminta cucunya datang ke sebuah hotel mewah yang ada di tengah kota. Ia juga menunggu di atap hotel tersebut dengan mengenakan mantel tebal yang berlapis-lapis. Cuaca dingin tidak dapat lagi dihindari olehnya.


"Kau membuatku menunggu, Byrne."

__ADS_1


Byrne baru saja tiba setelah lewat satu menit dari pukul tujuh pagi. Ia lalu segera duduk di hadapan sang kakek yang mana di atas mejanya sudah tersedia hidangan yang menghangatkan. Ada anggur, sup dan beberapa hidangan pembuka hari lainnya.


"Maaf, Kek. Aku harus ke laboratorium lebih dulu untuk memastikan semua formulanya di tempat aman." Byrne menuturkan.


Sam mengangguk pelan. Ia kemudian membuka tutup botol anggurnya. Byrne pun segera menanyakan maksud tujuan kakeknya datang ke negeri ini. Ia penasaran.


"Ada apa gerangan Kakek sampai datang ke sini? Bukankah masih sibuk di Washington DC?" tanya Byrne penasaran.


Sam menuangkan anggur ke dalam gelasnya. "Aku terpaksa datang karena ada hal yang ingin kubicarakan padamu," terang Sam lalu meneguk anggurnya.


Sheraton hotel memiliki area privasi yang berada di atas gedung. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menyewa atap gedung untuk tempat makan atau pertemuan. Dan Sam melakukannya karena ada hal penting yang harus segera ia bicarakan. Ia sampai rela terbang dari Washington DC ke Kuwait hanya untuk menemui Byrne. Sedang Owdie yang sama-sama berada di Kuwait tidak mengetahui jika kakeknya itu datang.


"Tentang apa Kek?" tanya Byrne segera.


"Tentang organisasi," jawab kakeknya singkat.


Seketika Byrne menelan ludahnya.


"Kalian bertiga memiliki kedekatan emosional yang cukup baik. Beberapa bulan terakhir pasti amat kehilangan jika salah satunya tidak ada. Apa kalian sudah mencari tahu sendiri di mana keberadaan Rain?" Sam membuka percakapan.


Byrne berpikir jika ini adalah tujuan kakeknya datang. "Kami tidak tahu, Kek. Kami sudah meminta pihak kepolisian untuk mencarinya, bahkan sampai di radius satu kilometer dari tempat meledaknya kapal. Namun, polisi belum juga menemukannya. Hanya bangkai kapalnya saja." Byrne menceritakan.


Sam menghela napas seraya meletakkan gelas anggurnya. "Saat ini organisasi sangat membutuhkan Rain untuk mencari ladang minyak yang baru. Tanpa ahli, kita hanya akan membuang-buang waktu. Dan aku berharap jika ada info tentangnya, segera beri tahu aku." Sam berpesan.


"Baik, Kek." Byrne mengangguk.


"Organisasi tak terelakkan lagi harus mengalami kerugian besar karena kecelakaan kemarin. Kita membutuhkan suntikan dana agar mempunyai simpanan yang cukup. Maka dari itu aku ingin meminta bantuanmu, sesuai kesepakatan rapat para pejabat tinggi USA. Apakah kau bersedia untuk melakukannya Byrne?" tanya sang kakek.


Byrne mulai merasa curiga. Ia jadi berpikir ulang tentang maksud kedatangan kakeknya. "Maksud Kakek?" Ia akhirnya memberanikan diri bertanya.


Sam menatap cucu angkatnya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke arah sang cucu. "Kau harus membuat sebuah virus yang mematikan. Apa kau bisa melakukannya Byrne?" tanya sang kakek yang seketika membuat Byrne terkejut.


"Ap-apa?!" Saat itu juga Byrne menyadari maksud kedatangan kakeknya.


Astaga ... jadi kedatangannya hanya untuk membicarakan hal ini?!

__ADS_1


Byrne tak percaya jika kakeknya jauh-jauh datang menemuinya hanya untuk membicarakan hal ini. Byrne tahu persis apa maksud kakeknya. Ia sudah cukup lama berada di organisasi dan menjalankan semua program kerjanya. Tapi, permintaan Sam kali ini amat memberatkan baginya. Ia merasa tidak boleh melakukan hal itu dengan keahliannya. Tujuan organisasi yang diketahuinya sudah mulai berubah. Byrne ingin menolak tugas ini.


__ADS_2