Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Let's Try Together!


__ADS_3

Cuaca pagi ini begitu cerah. Sang mentari perlahan naik ke singgasananya menemani hati senduku. Dan kini aku duduk di sampingnya sambil tertunduk, tidak berani menatapnya. Namun, hari ini aku ingin keadaan membaik seperti dulu.


Semilir angin membelai rambutku yang panjang. Sesekali harus kusampirkan ke belakang telinga agar tidak menganggu wajahku dari pandangannya. Aku khawatir dia semakin marah padaku. Aku tidak ingin ditinggalkan olehnya.


"Ara." Dia mulai bersuara.


"Ya, Tuan?" jawabku santun sambil tetap menundukkan pandangan.


"Maaf," katanya singkat, yang membuatku seketika melihatnya. "Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Banyak kejadian kualami satu minggu ini." Dia mulai menceritakan.


Aku diam, mendengarkan.


"Aku ... aku membutuhkan psikiater," katanya yang mengejutkanku.


"Psikiater?" tanyaku memastikan.


"Ya. Aku membutuhkan psikiater. Aku sedang mengalami hal yang tak wajar. Aku juga tidak mengerti kenapa." Dia memalingkan pandangannya dariku.


Ingin rasanya aku berpindah duduk di sampingnya. Aku ingin menenangkan kegundahan yang ada. Tapi, aku ini pembantunya. Apa pantas duduk bersanding dengan majikan sendiri?


"Tuan, maaf jika keberadaanku mengusik hidupmu," kataku pelan.


"Tidak, Ara." Dia segera menanggapinya. "Sejujurnya aku malah merasa senang dengan kehadiranmu. Aku tidak kesepian lagi." Dia tersenyum sejenak.


"Tuan ...."


"Aku tidak pandai merangkai kata. Aku bingung bagaimana harus mengatakannya padamu. Tapi apa bisa kau membantuku?" tanyanya yang membuat jantungku dag-dig-dug tak karuan.


"Maksud Tuan?" Aku amat antusias menanggapinya.


"Apa kau bisa duduk di dekatku. Tidak berjauhan seperti ini?" tanyanya yang membuatku tersenyum kecil.


Aku mengangguk, lalu segera berpindah tempat ke dekatnya. Kutebarkan senyuman agar dia lebih leluasa untuk bicara. Entah mengapa dari kata-katanya tersirat keengganan karena hati yang bimbang. Entahlah, hanya dia yang tahu bagaimana isi hatinya.


"Tuan, sekarang aku sudah di sisimu. katakanlah apa yang ingin kau katakan," pintaku padanya.


Aku melihat rona merah di wajahnya, seperti malu mengungkapkan sesuatu. Jujur saja hatiku semakin tak karuan menanti apa yang akan dia ucapkan. Tapi sepertinya, dia bukanlah tipe pria yang banyak bicara. Sesaat setelah kuminta bicara, tangannya mulai meraih tanganku ini. Namun, pandangan matanya tidak tertuju kepadaku, melainkan menatap lurus ke depan. Dan aku hanya bisa melihat tangannya yang menggenggam erat tanganku ini.


"Tuan?" Aku menyapanya lagi.


"Em, ya." Dia seperti kaku di hadapanku.

__ADS_1


"Katakan saja, Tuan. Aku akan mendengarkannya." Aku meyakinkan.


Kulihat dia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Setelah itu barulah dia menatapku. Kedua bola mata kami akhirnya saling bertatapan tanpa ada sesuatu yang menghalangi.


"Ara ... kenapa tidak kita coba untuk saling memahami?" tanyanya yang sontak membuat jantungku hilang kendali.


"Tuan?"


"Ara ... cobalah untuk memahami tanpa perlu kuminta. Aku kesepian," katanya yang menatap sendu ke arahku.


Tuan ... apakah ini pernyataan cintamu?


Sungguh hatiku girang bukan main. Kalimat yang diucapkan olehnya mampu meluluhlantakkan hatiku. Rasanya amat gembira dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku bahagia sekali.


"Tuan, maksud Anda?" tanyaku memastikan.


"Maksudku ... aku ingin ... kita mempunyai ikatan untuk ke depannya. Apakah kita bisa lebih dekat lagi?" tanyanya padaku.


Tuan, kau tidak perlu meminta. Aku akan memberikannya padamu.


Aku pikir dia akan membiarkanku pergi begitu saja. Tapi ternyata sesuatu mengubah pemikiranku. Mungkin ini yang dinamakan gayung bersambut.


"Hm, ya. Aku tahu." Dia mengangguk lalu memalingkan pandangannya. "Tapi apa tidak bisa kita coba terlebih dahulu untuk beberapa minggu ke depan?" tanyanya seraya menatapku kembali.


"Tuan ...."


"Atau tidak begini saja. Kita berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Aku akan membayarmu untuk pekerjaan ini. Setidaknya aku tidak merasa kesepian lagi." Dia tersenyum lebar di depanku.


Tuan ....


Sungguh aku inginnya sungguhan, tapi ternyata dia malah memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya. Seketika hatiku dilema mendengar permintaannya. Aku bingung harus menjawab apa.


"Aku tidak akan memintamu untuk tidur denganku, Ara. Kau jangan khawatir. Aku tidak akan memaksamu. Aku ingin kau menemaniku dan bersikap seolah-olah menjadi kekasihku." Dia menerangkannya lagi.


Tak tahu apa yang ada di pikirannya, rasanya aku tahu di mana posisiku sekarang. Dia ternyata hanya ingin menjadikanku gadis sementara di hatinya.


"Baiklah, Tuan." Aku akhirnya menyanggupi.


Kulihat dia tersenyum lebar karena tak percaya. Aku pun ikut tersenyum bersamanya. Walau di hati ini masih belum bisa menerima. Tidak ada pernyataan cinta darinya. Dia hanya memintaku berpura-pura menjadi kekasihnya. Itu saja.


"Terima kasih, Ara." Dia lalu menggenggam kedua tanganku dan aku hanya bisa mengangguk. "Mulai sekarang jangan panggil aku tuan, ya. Panggil aku dengan sebutan sayang. Kau mengerti?" Dia mencolek hidungku.

__ADS_1


Lagi dan lagi aku hanya bisa mengangguk seraya tersenyum kepadanya. Mulai detik ini aku bukanlah pembantunya, melainkan kekasihnya, tapi dalam kepura-puraan.


Tuan, andai aku bukan perempuan, mungkin aku yang akan mengutarakan isi hati. Tapi sepertinya, saat ini aku harus memainkan peran sebagai kekasihmu. Kau berani membayarku untuk pekerjaan yang mengandung risiko ini. Tapi tak apalah, walaupun berpura-pura aku sudah amat bahagia. Aku akan membahagiakanmu dalam masa kepura-puraan. Setelah berakhir, aku akan kembali menjadi diriku yang mendambakanmu.


Waktu terus berlalu membuatku harus pintar memainkan peran. Aku kemudian mengajaknya untuk sarapan pagi bersama. Di depan meja makan kami mulai memainkan peran masing-masing. Tapi sepertinya, peranku ini lebih baik darinya. Kulakukan sebaik mungkin dan sepenuh hati.


"Bagaimana rasanya?" tanyaku seraya memandanginya.


"Enak sekali. Terima kasih." Dia memegang tanganku.


Rasanya seperti sungguhan saja menjadi kekasihnya. Aku pun tidak segan-segan lagi kepadanya. Dia sendiri yang memintaku untuk memainkan peran. Ya sudah. Kucurahkan semua perasaanku melalui peran ini. Semoga saja suatu hari dia menyadarinya.


"Aku melihat ada laptop. Bolehkah aku memakainya?" tanyaku sambil menyuap bubur ke dalam mulut.


"Laptop itu?" Dia menunjuk ke arah meja depan pintu kamarnya.


"He-em." Aku mengangguk.


"Pakai saja. Lagipula aku tidak membutuhkannya lagi. Jika perlu koneksi internet, tinggal menghubungkannya lewat jaringan kabel yang ada di bawah meja." Dia memberi tahu.


"Baiklah. Terima kasih." Aku tersenyum padanya.


Dia mengusap poniku. Dan tak lama dering ponsel menghentikan drama kami. Kulihat dia segera mengangkat teleponnya.


"Ya?" Dia melirik ke arahku. "Baik, nanti aku ke sana." Dia lalu mematikan teleponnya.


"Tuan, siapa?" tanyaku ingin tahu.


Seketika dia terkejut dengan pertanyaanku. "Tuan?" Dia menatap heran.


"Ups! Maaf, Sayang. Tadi siapa?" tanyaku lagi.


Dia kemudian menjawab, "Pemilik toko selular yang waktu itu. Dia bilang ponselnya sudah datang. Kita ke sana, ya," ajaknya.


"He-em." Aku pun mengangguk.


Aku tidak peduli ini pura-pura atau sungguhan. Kunikmati saja kebersamaan ini asal hatinya senang. Toh, dia juga tidak meminta yang macam-macam padaku. Lagipula membahagiakan orang lain selagi bisa, kenapa tidak?


Kujalani saja yang ada.


Kami pun segera menyelesaikan sarapan pagi ini. Setelahnya bergegas menuju toko selular yang waktu itu. Tuanku hari ini menyetir mobilnya sendiri. Dan hari ini adalah hari ngedate perdana kami. Tapi ... cuma pura-pura.

__ADS_1


__ADS_2