Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Still Trying


__ADS_3

"Kakek, maaf. Aku rasa hal ini tidak bisa dipecahkan dengan mudah. Selama tidak ada yang mengaku, masalah ini hanya akan menjadi tuduhan semata. Aku tidak berpihak kepada Rain ataupun Nick. Hanya saja ada baiknya jika kita menyerahkan urusan ini ke pihak yang lebih berkompeten agar cepat menemukan titik terang." Salah satu saudara Owdie yang netral ikut bicara.


"Benar, Kek. Kita bisa mengerahkan FBI untuk mencari tahu dalang dari kecelakaan yang menimpa Rain. Jikalau perlu, kita juga bisa menyewa CIA dan aset keamanan USA lainnya. Karena jika memang terbukti benar Nick yang bersalah, tentunya kita tidak bisa diam karena Nick akan dihukum berdasarkan hukum di Dubai. Sedang mereka menganut hukum setimpal yang dapat membuat organisasi goyah." Seorang cucu Sam berusaha bijak menyikapi hal ini.


Sam menghela napasnya dengan berat. "Kau benar." Sam mengiyakan. "Owdie." Sam beralih ke Owdie. "Dalam misi tatanan dunia baru, sesama saudara tidak diperbolehkan untuk saling menyerang. Kita harus mencapai tujuan organisasi dalam menata dunia ini. Terkecuali jika lawanmu adalah pihak luar. Kau bebas melakukan apa saja terhadap mereka. Sekarang tenangkan dirimu. Aku akan membicarakan hal ini kepada pihak USA." Sam meminta. Ia kemudian beranjak pergi.


"Kek!" Owdie ingin menolak.


Sam berhenti sejenak. Ia mengerti apa yang ingin Owdie lakukan. "Aku tidak menerima penolakan atas perintahku, Owdie. Jalani saja pekerjaanmu." Sam tidak menghiraukan Owdie. "Sidang selesai. Kembali saat makan malam." Sam pun bergegas pergi meninggalkan ruangan sidang.


Arrgh!!!


Seketika Owdie mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak terima dengan sikap Sam yang seolah lebih memihak kepada Nick.


Apa karena dia cucu kandungmu sehingga membelanya habis-habisan? Aku tidak peduli dengan tatanan dunia baru atau tujuan organisasi. Yang aku ingin hanya keadilan sekalipun di ruang lingkup Empire Earth sendiri.


Owdie kesal. Namun, ia berusaha menahan emosinya agar tidak naik pitam. Ditatapnya tajam seorang pria yang duduk berseberangan dengannya. Owdie ingin membuat perhitungan dengan pria tersebut. Sedang pria itu tampak bersikap biasa saja di hadapannya. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.


Ya, ia adalah Nick yang sedang bersandiwara agar kejahatannya tidak terbongkar. Ia harus memainkan peran sebagai pihak yang paling dirugikan atas tuduhan Owdie. Sedang hatinya merasa senang karena gugatan Owdie tidak ditanggapi oleh kakeknya. Ia merasa menang telak dari saudaranya itu. Ia pun tersenyum sinis saat meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Satu per satu cucu penguasa dunia meninggalkan ruangan sidang internal. Sebagian dari mereka ada yang langsung pergi meninggalkan manshion Sam, sedang sebagian lain ada yang berusaha menenangkan Owdie dengan menepuk-nepuk pundaknya. Namun, Owdie tidak bisa menerimanya begitu saja. Ia masih memendam kekesalannya.


Washington DC, apartemen tengah kota...


Beberapa jam berlalu dari sidang, Owdie dan Byrne memutuskan untuk beristirahat sejenak di kawasan apartemen bernuansa pedesaan yang ada di tengah kota. Kini keduanya tengah duduk di pinggir kolam renang sambil menikmati segelas jus jeruk yang menyegarkan. Perbedaan waktu antara Agartha dan dunia sebenarnya ternyata cukup jauh. Kini di dunia sebenarnya sudah memasuki awal tahun dengan cuaca yang lebih hangat, tidak seperti bulan sebelumnya. Owdie dan Byrne pun menikmati awal tahun mereka di USA.


Owdie menatap langit biru dari balik kaca mata hitamnya. Ia tampak santai sambil merebahkan diri di kursi dan meletakkan satu tangannya ke belakang kepala. Sedang Byrne tampak melepas jas hitamnya lalu duduk di seberang Owdie.


"Sepertinya sulit bagi kita untuk menuntut Nick atas hal ini." Byrne membuka ponsel pintarnya. Ia membaca-baca pesan yang masuk.


"Ya. Kau benar," jawab Owdie datar.


Owdie menghela napasnya. "Aku tidak peduli. Itu hanya katanya." Owdie menjawab lagi.


Byrne meminum jus jeruknya. "Hah ... kau ini memang berapi-api jika mengenai keadilan. Tapi tidak tahukah jika kita diutus untuk menjalankan misi organisasi?" Byrne mengingatkan lagi.


Owdie diam. Ia hanya menoleh sesaat ke arah Byrne.


"Setiap dari kita mengemban misi organisasi untuk mengendalikan dunia. Berbagai macam cara dilakukan agar manusia-manusia patuh terhadap dekrit yang kita keluarkan. Rasanya jika ingat itu, keadilan tidak bisa ditegakkan." Byrne menyadari.

__ADS_1


Owdie beranjak duduk. Ia meminum jus jeruknya lalu mengeluarkan sekotak rokok dari balik saku kemeja hitamnya. "Kau tahu, Byrne. Aku sebenarnya tidak setuju dengan misi organisasi. Setiap dari kita pasti menginginkan kehidupan yang aman dan tentram. Setiap dari kita juga pasti menginginkan kebebasan tanpa ketakutan. Dan aku ingin kita saling mengasihi tanpa harus menyingkirkan." Owdie terlihat serius saat bicara kepada Byrne.


"Kau ingin berbelok dari organisasi?" Byrne menduga pikiran Owdie. "Pikirkan kembali. Risiko tinggi akan kau hadapi. Setiap pengkhianat akan menemui kematian jika keluar dari jalur yang telah ditetapkan. Kau harus memikirkan baik-baik hal itu, Owdie." Byrne mengingatkan.


"Hahahaha." Owdie pun tertawa. "Dunia ini lucu sekali." Dia menghidupkan sebatang rokoknya. "Ada yang berteriak-teriak kemanusiaan tapi dia yang paling banyak membantai manusia tak bersalah. Ada yang berteriak-teriak membela keadilan, tapi dia yang paling banyak merampas hak orang. Lucu sekali." Owdie mengeluarkan unek-unek dari dalam hatinya.


Byrne terdiam. Ia tahu jika saudaranya amat kesal dengan keadaan saat ini. Bagaimanapun Byrne cukup tahu sikap dan sifat asli Owdie. Sejak kecil mereka dibesarkan bersama. Mereka juga selalu dikelompokkan dalam satu tim. Byrne amat menyayangi Owdie sebagai saudaranya. Walaupun nyatanya ia lebih banyak bertukar pikiran dengan Rain.


"Saat ini aku sedang mencoba mengaitkan banyak hal di tengah-tengah eksperimen yang menyibukkanku. Menurutmu, apakah hal ini ada kaitannya dengan Jane?" Byrne tiba-tiba berkata seperti itu.


"Jane?" Seketika Owdie teringat dengan Jane.


"Selagi kita berada di Washington DC, kenapa tidak coba untuk menemuinya? Mungkin saja bisa mendapatkan informasi darinya. Atau paling tidak, bisa menjebaknya untuk mengaku siapa dalang dari kejadian yang menimpa Rain." Byrne menuturkan.


Owdie terdiam sejenak. Ia menelaah baik-baik maksud dari perkataan Byrne. Tak lama berselang ia pun menepuk lengan saudaranya. "Kau benar, Byrne. Mengapa tidak kita coba untuk mencari tahu lewat Jane." Owdie mengiyakan.


"Baiklah. Kalau begitu mari kita susun rencana untuk menjebak Jane." Byrne ingin segera bertindak.


Owdie mengangguk. Keduanya lalu berdiskusi sebelum menemui Jane. Tentang rencana apa yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan informasi tentang keterkaitan Jane ataupun Nick dalam kecelakaan Rain. Mereka ingin mencobanya terlebih dahulu. Karena bagi mereka, Rain bukanlah sekedar saudara biasa. Mereka bak saudara kandung yang dilahirkan dari rahim ibu yang sama.

__ADS_1


__ADS_2