Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Tired Together


__ADS_3

Dubai, pukul sembilan malam...


Calon suamiku sibuk mengerjakan tugas kantornya di depan meja laptop. Dia tampak serius saat membaca beberapa dokumen yang ada. Dan aku tidak berani untuk mengganggunya. Aku tiduran saja sambil menonton televisi di ruang tamu.


Mungkin sudah ada sekitar tiga jam dia duduk di sana. Aku pun kini telah mengantuk dan berniat untuk tidur. Jadi selama menunggunya, aku tiduran di sofa saja. Dan entah mengapa, aku malah tertidur sungguhan. Aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.


Ara merasa mengantuk dan lantas tertidur. Hingga akhirnya sang penguasa selesai dari pekerjaannya hari ini. Ia berniat untuk bercengkrama bersama Ara, namun nyatanya sang gadis malah tertidur di atas sofa.


Rain segera merapikan meja laptopnya. Ia masukkan dokumen penting itu ke dalam koper kerja. Setelahnya barulah ia mengangkat tubuh sang gadis ke dalam kamar. Ia merebahkan Ara di atas kasurnya.


Rain juga sudah lelah. Ia lekas-lekas berbaring di samping gadisnya. Ia mengusap kepala sang gadis sampai ia juga tertidur dengan lelapnya. Dan untuk ke sekian kali keduanya tertidur di atas kasur yang sama, namun tidak melakukan apa-apa.


Ketenangan batin akan terwujud jika tidak ada masalah yang menerpa. Dan kini tiba masa-masa bagi keduanya untuk saling mendekatkan diri. Proses kehidupan telah dijalani, hingga ujian cinta telah membuktikan kesetiaan keduanya. Tinggal bagaimana semesta merestui kelancaran pernikahan mereka.


Tinggal menghitung hari, waktu yang dijanjikan akan datang. Altar pernikahan itu akan segera dihamparkan. Sang penguasa tidak akan lagi menunda pernikahan. Ia akan segera mempersunting gadisnya. Namun, untuk sementara ini ia akan menyingkirkan aral rintangan terlebih dahulu yang menghadang pengucapan janji suci mereka. Rain berniat menemui Jane setelah menghadiri pertemuan esok hari. Ia akan membicarakan baik-baik hal yang terjadi dan meminta restu atas pernikahannya bersama Ara.


Entah apa yang akan Jane lakukan saat Rain menemuinya nanti. Tapi Rain tidaklah datang sendiri. Ia berniat datang bersama kedua saudaranya, Byrne dan juga Owdie. Karena ia ingin ada saksi atas pertemuannya kali ini. Rain tidak ingin membuat Jane salah mengartikan kedatangannya.


Lain Rain, lain pula dengan Jane. Wanita berkebangsaan USA dengan garis keturunan Korea itu tampak berdiri dari duduknya. Ia terkejut saat mendengar kabar dari seseorang yang menelponnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Nail. Pria suruhannya itu mengabarkan hal tak terduga pada Jane.


"Apa?! Kau bilang penyihir itu mati?" Jane tak percaya dengan kabar yang didengar olehnya.

__ADS_1


"Benar, Nona. Saya baru saja sampai di sini dan menemukan mayatnya dalam keadaan membusuk. Kini orang-orang di sekitaran sedang mengevakuasi mayatnya," terang Nail dari seberang.


Jane menelan ludahnya. Mini dres abu-abu yang ia kenakan menemani pikirannya yang kacau. Ia tidak menyangka penyihir yang telah disewa harus mati mengenaskan dalam waktu sehari. Padahal baru saja kemarin ia mendengar kabar baik jika sihirnya sudah bereaksi.


Astaga, sebenarnya siapa yang aku hadapi?


Jane dirundung kekecewaan dan juga kecemasan. Ia merasa kesal karena belum bisa memisahkan Rain dan Ara. Sedang waktu terus saja berputar, membuat dirinya semakin kalang-kabut menghadapi pernikahan Rain. Jane sama sekali tidak menginginkan Rain menikah dengan Ara. Menurutnya, hanya dialah yang pantas untuk menikah dengan sang penguasa.


Esok harinya...


Aku terbangun dengan tubuh terasa berat. Kucoba membuka kedua mata dan kulihat jika pria bersweter krim ini ada di sisiku. Dia tidur sambil memelukku. Kulihat jam di dinding kamar juga sudah menunjukkan pukul empat pagi. Sepertinya semalam aku ketiduran saat menunggunya selesai bekerja.


Pelan-pelan aku singkirkan tangannya dari perutku. Aku beranjak bangun lalu berniat duduk di tepi kasur. Tapi baru saja bangun, kakiku ternyata sulit untuk digerakkan. Priaku ini ternyata menimpa kakiku dengan kakinya sehingga aku jadi sulit bergerak.


Apa ini gaya tidur aslinya? Apa dia pikir aku akan lari sampai dikunci seperti ini?


Kupandangi wajah tampannya yang menawan. Aku jadi teringat dengan pria yang kutemui di bukit waktu itu. Parasnya mirip sekali, namun mungkin sedikit berbeda di umurnya saja. Entahlah, aku juga tidak tahu pasti. Tapi pagi ini entah mengapa aku jadi kepikiran dengan pria yang bernama Rain itu.


Pertemuan kami memang singkat. Aku pergi pun tanpa pamit kepadanya. Entah sedang apa dia sekarang, jika hal itu memang nyata terjadi, aku berharap dia tidak mencariku. Lagipula aku tidak mengiyakan permintaannya untuk menunggu. Jadi sepertinya tidak terlalu harus memikirkan tak enak hati padanya.


Kakinya berat sekali.

__ADS_1


Lantas aku mencoba menepiskan kakinya yang menimpa kakiku. Akhirnya kakinya bisa juga ditepiskan. Kulihat dia kini tidurnya terlentang, tidak miring seperti tadi. Tapi tiba-tiba saja aku harus menelan ludah saat melihat sesuatu yang menyembul di bawah pusarnya.


Astaga ... apa semua pria seperti ini?


Aku memalingkan pandangan, tidak ingin lama-lama melihatnya. Aku khawatir pikiranku akan tercemar karena sesuatu itu. Lantas saja aku beranjak bangun sambil memakai sandal. Kugulung rambutku lalu keluar dari kamar. Aku berniat untuk mencuci pakaian yang kotor.


Beberapa menit kemudian...


Aku mencari di mana pakaian kotor kami berada. Namun nyatanya, tidak ada satupun pakaian kotor di keranjang cucian. Aku lalu ke pintu teras luar apartemen, dan kulihat tida ada pakaian yang dijemur di sana. Sepertinya pakaian kotor kami di loundry semua oleh calon suamiku.


Enaknya ngapain, ya?


Karena tidak bisa tertidur lagi, aku mengambil ponsel lalu memainkannya. Aku ingin menelepon ibuku sekarang. Tapi kalau dilihat-lihat, jam di sana pastinya sudah malam. Jadi kutunda saja teleponku ini. Aku lalu ke kamar mandi, membasuh wajah kemudian menuju ke dapur. Aku ingin membuat kopi latte pagi ini.


Sepertinya semua pekerjaan harianku sudah ada yang membereskan.


Mungkin calon suamiku tidak ingin aku lelah. Jadinya dia meminta tolong kepada orang lain untuk mengerjakan tugasku. Senang sih dimanjakan olehnya. Tapi aku juga kan ingin berkeringat agar cepat pulih. Setahuku diam saja malah akan semakin membuat badan bertambah lemas. Jadi aku harap bisa lebih banyak bergerak agar lekas sehat.


Ara kini tidak perlu repot-repot untuk membereskan atau merapikan apartemen. Semua pekerjaan hariannya telah ada yang mengerjakan, sehingga Ara hanya tinggal duduk diam dan bersantai. Tapi, sang gadis seperti merasa keberatan karena tubuhnya jadi kurang bergerak. Ia ingin banyak mengeluarkan keringat agar lekas pulih. Ara ingin kembali fit dan bertenaga kembali.


Fajar ini sang gadis membuka laptopnya lalu mulai mengetik hal yang ia alami beberapa hari terakhir. Ia kembali melatih kemampuannya dalam menuliskan sebuah cerita sambil menunggu matahari terbit. Alhasil, ia dapat membuat beberapa bab cerita pagi ini. Mungkin benar apa yang dikatakan orang, jika pagi adalah waktu terbaik untuk memulai segala aktivitas. Karena otak masih dalam keadaan fresh dan lancar. Ara pun menikmati kegiatannya ini.

__ADS_1


__ADS_2