
Dubai, pukul tiga sore waktu sekitarnya...
Seorang wanita sedang menikmati semilir angin di depan kolam renang apartemennya. Ia tampak sendiri, tak ada yang menemani. Hanya segelas jus jeruk menjadi teman setianya. Sepertinya ia sedang menenangkan pikiran dari angan yang tak kunjung diraihnya. Hampir dua minggu keberadaannya di Dubai dan tidak menghasilkan apa-apa.
Ialah Jane yang sedang risau sambil menatap langit cerah sore ini. Ia merasa rencananya telah gagal dan tidak menghasilkan sesuatu apapun. Pagi hari Nail menelepon dan memberi kabar jika Rain mengantarkan Ara ke kampus. Padahal yang ia harapkan Rain lekas menghubungi dan mengajaknya liburan.
Lelah sudah pasti dirasakan oleh wanita asal USA ini. Bimbang dan ragu menemani setiap langkahnya dalam mencapai tujuan. Hingga akhirnya sebuah dering telepon menyadarkannya dari kepiluan. Ia pun segera mengangkat telepon itu.
"Halo, Bu." Ternyata yang menelepon Jane adalah ibunya sendiri.
Di lain tempat sang ibu tampak sibuk dengan sesama pemegang saham perusahaan. Namun, ia menyisihkan waktu untuk menelepon Jane, putri kandungnya.
"Kapan kau pulang, Jane?" Ia bertanya kepada putrinya.
"Ibu, aku belum bisa pulang. Urusanku belum selesai di sini." Jane menjawab.
"Jane, rapat pembagian saham akan dimulai besok pagi. Dan kau tidak mau pulang? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?" tanya ibunya.
"Ibu, aku belum bisa pulang. Rain belum—"
"Ibu tidak mau tahu. Kau harus pulang. Jika tidak, kita akan kehilangan semuanya. Dan jika kita kehilangan semuanya, tidak ada lagi yang bisa dipandang Rain darimu. Kau mengerti maksud ibu?" Ibunya kembali bertanya.
"Bu, aku—"
"Zea akan mengambil kepemilikan sahammu jika kau tidak hadir besok. Dia akan memiliki 80% saham dari ayahmu. Apa kau rela membiarkan kakak tirimu mengambilnya sedangkan kau tidak mendapatkan apa-apa?!" Sang ibu marah kepada putrinya.
Jane terdiam.
"Jane, berapa banyak manusia di dunia ini yang mempunyai otak tapi tidak mempunyai pikiran? Mereka asal bertindak, asal bicara, asal bersikap, tidak memikirkan bagaimana baik-buruk ke depannya. Dan ibu tidak ingin kau seperti itu." Ibunya berkata lagi.
Jane menghela napasnya. "Baik. Aku akan pulang malam ini juga." Jane akhirnya menurut.
__ADS_1
"Pilih penerbangan tercepat sekalipun harus memakai kelas eksklusif. Kau harus tiba dan berdandan rapi sebelum rapat dimulai. Jangan kecewakan ibu. Jika kau berhasil mendapatkan saham sama besarnya dengan kakak tirimu, langkahmu akan semakin mudah untuk mendapatkan Rain. Ingat, kakek Rain adalah rekan kerja perusahaan kita. Kau bisa mendekati kakeknya terlebih dahulu untuk mendapatkan cucunya. Kau mengerti?" Sang ibu berkata kembali.
"Hm, ya. Aku mengerti." Jane mengiyakan.
"Bagus. Kalau begitu ibu tunggu kedatanganmu."
Telepon pun terputus setelah sang ibu mengakhiri pembicaraannya. Kini tinggal lah Jane yang bertambah bimbang akan kehidupan asmaranya. Tidaklah sebentar jika ia kembali ke USA untuk mengurusi harta gono-gini ayahnya. Pastinya membutuhkan waktu paling tidak seminggu untuk mengurusi serah-terimanya. Dan Jane mau tak mau harus memenuhinya.
Hah ... kenapa akhirnya begini? Dulu Rain sangat peduli padaku. Tapi semenjak kedatangan gadis itu semuanya berubah. Apa aku tidak secantik dulu?
Jane bertanya-tanya dalam hati di antara kegalauannya merebut hati Rain.
Andai saja aku cepat menanyakan perasaannya, mungkin tidak akan seberharap ini. Kini aku hanya bisa menunggunya menghubungiku tanpa peduli dengan diriku sendiri. Ya ampun, sebegitu gilakah diriku sekarang?
Lagi dan lagi Jane bertanya-tanya dalam hatinya. Ia tidak mengerti mengapa bisa sampai seperti ini. Baginya Rain adalah segalanya. Tempatnya bersandar, tempatnya berbagi cerita. Tapi itu dulu, tidak sekarang. Semenjak kedatangan Ara semuanya jadi berubah.
Tak berapa lama dering telepon kembali menyadarkannya dari kerisauannya sendiri. Jane pun segera melihat siapa yang meneleponnya. Dan ternyata Nail, pria yang disuruhnya untuk mencelakai Ara.
"Baik, tunggu aku." Jane pun segera meninggalkan kolam renang lalu melangkahkan kaki untuk bertemu Nail.
Di salah satu sudut restoran apartemen...
Wanita berdres putih selutut itu menemui Nail yang sudah menunggunya di meja restoran. Jane pun segera menghampiri lalu duduk di hadapan Nail. Mereka akan membicarakan rencana selanjutnya, tentang bagaimana cara menyingkirkan Ara dari Rain.
Jane menghidupkan puntung rokoknya. "Jadi Rain mengantarkan gadis itu ke kampus?" Jane membuka pembicaraan.
"Benar, Nona. Dan mereka sangat mesra sekali," jawab pria berjaket hitam, tak lain adalah Nail.
"Huuhh..." Jane mengembuskan asap rokoknya. "Aku harus segera kembali ke USA malam ini. Apa kau mempunyai saran untuk tindakan selanjutnya?" Jane seperti tidak dapat berpikir.
"Nona, bagaimana jika kita menabraknya saja?" Nail memberi saran.
__ADS_1
"Maksudmu?" Jane tak mengerti.
"Saat dia lengah, kita bisa menabraknya dengan mobil. Aku rasa sudah tahu kapan jam pulangnya." Nail merasa yakin.
"Jangan dulu. Itu terlalu berbahaya bagimu. Aku tahu benar siapa Rain. Dia tidak akan tinggal diam begitu saja. Kegagalan kemarin pasti masih dicarinya sampai sekarang. Atau kalau tidak, dia menyuruh orang lain untuk menyelidikinya. Aku khawatir kau akan tertangkap." Jane takut ketahuan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Nail bertanya lagi.
Jane mengembuskan asap rokoknya ke atas. "Adakah cara lain selain kontak fisik dengan gadis itu?" tanya Jane.
"Maksud Nona sejenis sihir?" Nail memastikan.
"Apa di sini ada yang seperti itu? Aku tidak punya banyak waktu sekarang. Aku harus segera kembali ke USA. Jika memang benar ada, aku ingin menggunakannya," kata Jane lagi.
Nail seperti berpikir.
"Aku ingin hasil cepat dan akurat. Aku tidak peduli berapa harganya asal mereka terpisah dan Rain kembali padaku." Jane sudah pusing, seakan menemui jalan buntu.
"Baik. Aku akan mencarikan informasi tentang yang Nona butuhkan." Nail menyanggupi.
"Beri kabar secepatnya. Nanti malam aku harus segera berangkat. Kau punya waktu dua jam dari sekarang untuk mencari keberadaan ahli sihir itu." Jane meminta Nail bergerak cepat.
"Baik." Nail menyanggupi.
Tersirat senyum keputusasaan dari wajah Jane. Ia nekat menggunakan media sihir untuk memisahkan Ara dan Rain. Ia meminta bantuan Nail mencarikan ahli sihir dan tidak lagi memedulikan berapa harganya. Yang ia inginkan hanya Rain kembali padanya.
Rain, lihatlah bagaimana aku melumpuhkanmu. Kau telah membuatku gila hingga senekat ini. Maka tunggu saja sampai kau tergila-gila padaku.
Rasa kecewa berujung nekat bersemayam di hati Jane untuk melumpahkan hati dan pikiran Rain. Karena ia khawatir jika melakukan rencana selanjutnya, Nail bisa tertangkap dan ia ikut ketahuan. Pastinya Rain tidak akan diam begitu saja jika semua ini sampai terbongkar.
Di lain pihak Nail segera mencari keberadaan si tukang sihir yang mampu mencerai-beraikan sepasang insan yang saling mencintai. Ia membantu Jane menemukan jalan tak kasat mata. Tapi, mampukah sihir itu nantinya membuat Ara dan Rain terpisah?
__ADS_1