Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Hopeness


__ADS_3

Sore harinya...


Semburat oranye mulai menghiasi langit Kota Dubai. Menemani langkah kaki kedua insan yang saling mencintai, menuju pasar malam di tengah kota ini. Lampu warna-warni pun terlihat menghiasi seluruh langit-langit pasar. Bianglala, komedi putar juga ada di sana. Pasar malam yang diadakan akhir tahun ini menarik perhatian Ara untuk mengunjunginya. Ia pun bersama sang suami berjalan mengelilinginya.


"Sayang, suatu hari nanti ada yang kita pegang." Ara menggandeng mesra tangan suaminya.


Wanita berblus merah itu tampak bahagia saat mengitari pasar malam. Sang suami pun masih setia menemani. Jasnya dilepas sehingga hanya mengenakan kemeja putih yang digulung sampai ke siku. Sedang bawahannya masih bersepatu. Celana panjang hitamnya tampak selaras dengan jeans yang Ara kenakan.


"Aku harap saat hari itu tiba semua pekerjaanku sudah selesai." Rain menoleh ke Ara.


Ara tersenyum. "Aku juga berharap kita bisa membawa si kecil liburan bersama ke Indonesia." Ara menyandarkan kepala di bahu Rain.


Rain juga tersenyum. Ia memberatkan kepalanya ke Ara lalu kembali melihat pemandangan pasar malam yang begitu meriah. Suasana ramai ini membuat hati Rain juga ikut ramai. Ia tidak merasa sendiri lagi.


Pasar malam akhir tahun ini dipadati oleh para pengunjung. Tidak hanya penduduk setempat, melainkan para turis juga ikut mengunjunginya. Sehingga waktu malam terasa seperti siang, ramai sekali.


Aku berharap di saat kelahirannya tidak lagi berada di organisasi. Mungkin aku akan berdiri sendiri. Aku tidak ingin kehidupan pribadiku sampai diatur oleh kakek. Aku ingin hidup tenang bersama istri dan anakku. Susah-senang bersama, hal itulah yang aku inginkan daripada hidup mempunyai segalanya tapi dikekang.


Rain bergumam dalam hati. Ternyata ia menginginkan kebebasan saat anaknya lahir. Ia tidak ingin diganggu oleh kakek angkatnya lagi, yang sampai-sampai ikut mengatur urusan pribadinya. Rain merasa jika masih berada di organisasi, ia tidak akan mendapat kebebasan. Dan karena hal itulah ia ingin mengundurkan diri, tanpa ada paksaan dari pihak manapun.


Sayang, aku ingin sekali saat melahirkan bayi ini kau menemaniku di sisi. Nanti temani aku melahirkan, ya.


Di lain sisi Ara amat berharap Rain bisa terus menemaninya. Bagaimanapun Ara hanya sebatang kara di sini. Ia hanya mempunyai Rain seorang. Di Dubai ia tidak mempunyai sanak-saudara apalagi keluarga. Harapannya penuh kepada sang penguasa pertambangan di Timur Tengah. Tak lain hanya Rain seorang.


Cinta keduanya begitu murni dan sejati. Perbedaan umur yang cukup jauh ternyata tidak menghalangi jalinan kasih di antara keduanya. Ara bisa mendewasakan diri dan Rain yang masih bersikap manja. Mereka seperti bertukar posisi, namun tetap berada di porsi masing-masing. Saling memberi, menerima dan melengkapi.


Perbedaan budaya dan iklim juga tidak menghalangi keduanya. Mereka malah saling berbagi cerita tentang negara masing-masing. Sebegitu besar kekuatan cinta hingga mampu menyatukan banyak perbedaan. Namun sayang, tidak semua orang yang sadar.


Satu jam kemudian...


Ara membeli jajanan di pasar malam. Dan kini mereka sedang mampir di warung bakso yang ada di sana. Ternyata di pasar malam ini juga terdapat warung bakso. Hanya saja bukan bakso sapi, melainkan bakso unta. Dan Ara pun mulai mencicipinya.

__ADS_1


Kuahnya ternyata berbeda dengan kuah di negeriku. Entah mengapa aku jadi rindu Indonesia. Rempah-rempah di sana memang tidak ada duanya.


Ara hanya mencicipi sedikit baksonya. Ia kemudian memberikan sisa bakso itu ke Rain. Rain yang masih belum habis pun tampak enggan memakan bakso dari Ara. Ia sepertinya juga kurang menyukai bakso unta.


"Kenapa Sayang? Mual lagi?" tanya Rain yang duduk di samping istrinya.


"Em ... rasanya sedikit aneh." Ara berbisik agar tidak menyinggung pemilik warung bakso.


Rain menutup mulut dengan tangannya. Ia menahan tawa. "Kamu belum terbiasa, Bidadariku. Mau coba kuliner yang lain?" tanya Rain ke istrinya.


Ara melihat-lihat ke sekeliling. "Aku ingin makan sup buah. Apa ada di sini?" tanya Ara sambil mencari-cari.


"Tidak ingin makan kebab?" Rain balik bertanya.


"Kebab? Roti isi daging?" Ara memastikan.


"He-em. Tapi dibakar. Mau?" Rain lekas-lekas minum.


"Eh, kenapa harus dua?" Rain antusias menanggapi istrinya.


"Karena satu untukku, satu untuknya."


Ara memegang tangan Rain lalu diletakkan di perutnya. Sontak Rain tersenyum, ia pun mengusap-usap perut istrinya. Ia merasa sudah menjadi pria yang sempurna karena sebentar lagi akan menjadi ayah.


"Yuk, kita beli." Rain pun mengajak Ara membeli kebab.


Ara tersenyum lalu beranjak dari duduk. Keduanya kemudian mencari di mana jualan kebab berada. Sesampainya di sana, Rain pun segera memesan dua kebab ukuran besar untuk Ara dan juga si kecil yang sedang tumbuh-kembang di dalam sana. Mereka adalah salah satu contoh keluarga yang bahagia.


Esok harinya...


Pagi ini Ara mempersiapkan keperluan Rain untuk pergi bekerja. Terlihat dirinya sedang memakaikan dasi sang suami tercinta. Rain pun ikut merapikan dasi itu sambil berkaca di depan cermin. Sedang Ara segera menyisiri rambut suaminya. Ia begitu memanjakan Rain.

__ADS_1


Banyak orang yang tidak tahu jika terkadang pria juga ingin dimanja. Namun, pria harus menemukan wanita yang tepat terlebih dahulu. Karena jika tidak, hal itu malah akan membuatnya malu. Dan kini Ara telah mampu memberikan apa yang Rain inginkan tanpa harus diminta. Ia melayani Rain dengan setulus hati dan perasaannya.


"Nanti aku akan mengecek ladang minyak yang baru ditemukan. Kemungkinan pulang agak malam." Rain memberi tahu istrinya.


"Aku boleh ikut?" tanya Ara kepada Rain.


Rain memegang kedua lengan istrinya lalu bergantian menciumnya. "Sayang, di sana itu bau. Nanti kau malah mabuk. Bukan karena minyaknya tapi karena aroma pengeboran. Aku tidak mau kau mual-mual lagi." Rain mengkhawatirkan keadaan istrinya.


"Hm, baiklah." Ara pun pasrah.


"Sayang." Rain lalu mendudukkan Ara ke atas pangkuannya. "Setelah di sini selesai, kita ke Saudi Arabia. Kita akan berjalan-jalan di sana. Bukankah kau ingin melihat Kota Mekah?" Rain menanyakan sang istri.


Ara tertegun. Pastinya ia ingin sekali jalan-jalan ke sana. Tapi sayang ia tidak bisa membawa ibunya ikut serta. "Nanti kabari aku, ya?" Ara meminta.


Rain mengangguk. "Jack akan tetap standby untuk menjemputmu. Mungkin kau ingin membeli sesuatu sendirian." Rain mengizinkan Ara pergi tanpanya.


"Kau yakin aku boleh pergi sendiri?" tanya Ara yang ragu.


Rain mengangguk. "Tapi pakai busana yang serba panjang. Seperti wanita Dubai pada umumnya. Agar mereka mengira kau juga asli orang sini. Jadi tidak ada yang berani menganggu." Rain berkata lagi.


"Kau suka aku memakai kerudung?" Ara ingin tahu keinginan suaminya.


Rain mengangguk. "Malam acara doa bersama itu kau begitu cantik, Sayang," katanya yang membuat Ara tersadarkan sesuatu.


Suamiku ....


Ara segera memeluk suaminya. Ia tiba-tiba merasa haru sendiri. "Pelan-pelan, ya. Aku akan mencobanya untukmu." Ara meminta waktu.


"Iya, Sayang." Rain pun mengusap lembut rambut istrinya yang tergerai panjang.


Pagi ini kemesraan terjadi lagi di antara keduanya. Baik Rain maupun Ara sudah tahu di mana posisi mereka seharusnya. Dan Ara pun mulai mencoba untuk memenuhi permintaan suaminya. Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti, ia akan menyenangkan hati suaminya setulus hati dan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2