Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Meeting


__ADS_3

Sementara itu di Washington DC...


Di rumah keluarga besar sedang diadakan rapat mengenai hilangnya Rain dalam peristiwa ledakan kemarin. Terlihat di sekeliling meja bundar, sang kakek beserta ketujuh cucunya serius saat rapat berlangsung. Mereka membahas penyebab kecelakaan ini. Dan kini sang kakek terpukul dengan kabar yang tengah beredar. Desas-desus mulai bermunculan di media bisnis internasional.


Meledaknya kapal pengeboran yang ditangani Rain tentu saja membuat nama organisasi ikut terseret. Hal itu pastinya berdampak pada krisis kepercayaan pejabat Timur Tengah kepada pihaknya. Yang mana menyebabkan organisasi menderita kerugian besar. Namun, sayangnya Nick tidak sampai berpikiran ke sana. Ia terlalu fokus dengan ambisi sampai melupakan sesuatu hal yang penting dalam organisasi, kepercayaan kerja sama relasi.


Kini Sam sedang berpikir keras untuk menghentikan laju media di Timur Tengah yang membahas ledakan kapal pengeboran minyak. Tanpa Sam ketahui, jika cucunya sendirilah yang menggerakkan media untuk mengusut tuntas kasus ini. Di dalam organisasi sedang terjadi peperangan besar. Di antara cucunya sedang terjadi pertikaian. Namun, Sam belum menyadarinya sama sekali.


"Kakek, aku rasa hal ini bisa dijadikan bukti jika Rain tidaklah selalu dapat diandalkan. Dia juga manusia. Harusnya Kakek tidak percaya begitu saja padanya." Pria berambut pirang bernama Nick itu menyampaikan pendapatnya saat rapat internal keluarga.


Beberapa saudara Nick menghadiri rapat tersebut, terkecuali Byrne dan juga Owdie. Dari ketiga belas cucu Sam, hanya enam orang saja yang dapat hadir bersama Nick. Sedang yang lainnya masih sibuk dengan jadwal dan tugas masing-masing.


"Dia begitu ceroboh. Apa dia tidak tahu berapa besar kerugian yang harus ditanggung organisasi?" Sam frustrasi karena harus menanggung kerugian besar.


"Kakek, saat ini aku rasa jiwa Rain lebih penting dari kerugian yang ditanggung organisasi. Kita harus mencarinya terlebih dulu." Salah satu cucu Sam menuturkan.


"Benar, Kek. Selama ini Rain telah bekerja keras untuk organisasi. Bahkan hampir setahun penuh di Timur Tengah tanpa cuti. Dan dia tidak pernah salah langkah dalam tindakannya. Ada baiknya jika Kakek menyelidikinya terlebih dahulu." Cucu Sam yang lain menyarankan.


Sam menoleh ke arah dua cucunya yang memberikan pendapat. Ia tampak menimbang ulang saran dari kedua cucu tersebut. Sedang Nick memasang wajah tak senang kepada kedua saudaranya.


Ternyata mereka berada di pihak Rain. Apa bagusnya dia itu?


Hati dengki membuat perasaan Nick mati. Nick merasa tidak diperhitungkan di dalam organisasi. Semua saudara-saudaranya seperti tertuju pada Rain. Ia pun berpikir, jika seandainya dilakukan voting siapa yang berhak menduduki tahta organisasi, pastinya Rain akan memenangkannya. Sehingga Nick harus memikirkan cara lain agar bisa meyakinkan sang kakek jika tahta itu hanya miliknya.


"Begini saja, Kek. Aku akan meminta pihak Dubai untuk mencari tahu keberadaan Rain. Apa Kakek setuju?" Nick mencoba mengambil hati sang kakek.


Sam merasa pusing. "Kerjakan saja. Aku tunggu kabarnya. Jika ditemukan, suruh menghadapku. Dia harus mengganti semua kerugian yang ditanggung organisasi." Sam beranjak berdiri.


Nick mengangguk. Ia memainkan peran di depan saudara-saudaranya, jika amat peduli terhadap Rain. Terlihat saudara Nick pun mendukung dirinya untuk mencari di mana keberadaan Rain. Walaupun mereka tidak tahu bagaimana isi hati Nick yang sebenarnya. Dan Nick pun harus pintar-pintar mencari muka di depan saudara-saudaranya.

__ADS_1


Rain, kau hanya bisa menyusahkan saja.


Rapat pun akhirnya selesai setelah membahas kabar yang terjadi. Sam kembali ke kamarnya ditemani beberapa wanita cantik yang selalu berada di sisinya. Sedang cucu-cucunya kembali bekerja sesuai tugas masing-masing.


Siang ini kembali menjadi saksi trending topik akan hilangnya sang penguasa pertambangan minyak di Timur Tengah. Seseorang yang berhak mendapatkan tahta organisasi sesuai perjanjian yang telah disepakati.


Iran, pukul delapan malam waktu sekitarnya...


Byrne datang tergesa-gesa ke kamar hotel Owdie. Ia mengetuk pintu dengan cepat sampai Owdie membukakan pintu. Byrne baru tahu kabar yang terjadi. Wajahnya terlihat pucat sekali.


"Owdie?!" Byrne tak menyangka.


"Masuklah." Owdie meminta Byrne untuk masuk ke dalam kamar hotelnya.


Byrne terlihat gelisah. Ia duduk di sofa dengan napas tidak beraturan. Owdie pun memberikan minum agar Byrne bisa bernapas lega. Pria berkulit pucat itu akhirnya meneguk air yang diberikan saudaranya.


Byrne terlihat frustrasi. "Sungguh, eksperimenku belum selesai tapi sudah kutinggalkan karena hal ini. Aku tak percaya jika hal ini bisa menimpa Rain." Byrne tak menyangka.


"Ya. Aku juga begitu. Selama ini Rain sangat memperhitungkan setiap langkahnya. Aku juga merasa heran dan malah menaruh curiga." Owdie tampak serius. Ia menggabungan kedua jemari tangannya. Tak percaya dengan kejadian ini.


"Apakah ini ada kaitannya dengan pertemuan tahunan kita?" Byrne menduga.


"Maksudmu?" Owdie memastikan yang dimaksud oleh Byrne.


"Ya, mungkin saja. Hal ini terjadi sepulang dari USA. Apa kau tidak merasakan ada sesuatu yang aneh?" Byrne mengajak Owdie bertukar pikiran.


Owdie menghela napas panjang. "Jika memang benar dia dalang dari kejadian ini, maka aku tidak akan tinggal diam." Owdie tampak kesal.


"Kau harus sabar, Owdie. Ini hanya perkiraan sementara, belum yang sebenarnya. Tapi aku berharap dia tidak ada sangkut-pautnya dengan hal ini." Byrne berharap ledakan kapal pengeboran bukan kecelakaan yang direkayasa.

__ADS_1


"Aku juga berharap begitu." Owdie berharap. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. "Bentar, Byrne." Owdie segera mengangkat telepon itu.


Owdie terlihat serius saat mendengar semua penuturan suara dari seberang. Ia bahkan tidak bergerak sama sekali. Kedua matanya terbelalak kaget mendengar kabar yang diterima. Ia pun menoleh ke arah Byrne. Seketika itu juga Byrne ingin tahu apa yang dikabarkan lewat telepon.


"Oke. Terus mencari informasi." Owdie kemudian mengakhiri sambungan teleponnya.


"Owdie?!" Byrne menantikan kabar dari Owdie.


"Byrne, ini aneh sekali." Owdie terheran sendiri.


"Kenapa?" Byrne sangat antusias menanggapi.


"Kau tahu, kepala pengeboran ditemukan mengalami kecelakaan saat pulang ke rumahnya." Owdie menuturkan.


"Apa?!" Byrne terkejut.


"Dia meninggal di tempat. Dia menumbur tiang listrik yang berdiri kokoh di sana. Ini aneh, bukan?" Owdie terheran sendiri.


"Kapan kejadiannya?" tanya Byrne lagi.


"Pukul sebelas malam. Selepas dia pulang dari rapat pekerja." Owdie menjelaskan.


"Astaga ... jangan-jangan?!!" Byrne mulai curiga.


"Byrne, mari kita lakukan perhitungan. Aku rasa kita dapat menemukan jawaban atas penyebab kejadian ini." Owdie mulai serius.


"Oke." Byrne pun mengangguk. Ia menuruti Owdie.


Owdie segera mengambil kertas dan penanya. Ia juga mengambil laptop pribadinya. Keduanya mulai melakukan perhitungan atas musibah yang menimpa Rain. Mereka juga mencari tahu kepada setiap orang yang dikenalnya. Owdie dan Byrne ingin mencari tahu sendiri. Benarkah jika ada keterkaitan Nick dengan kejadian ini?

__ADS_1


__ADS_2