
"Dia siapa, sih? Sepertinya orang kaya." Seorang ibu berbisik kepada ibu lainnya di antara prosesi penerimaan lamaran.
"Iya. Ara kok bisa mendapatkannya, ya?" Ibu yang lain terheran.
"Satu kilogram batangan emas murni. Kalau dirupiahkan bisa beratus-ratus juta itu." Ibu yang lain menimpali.
"Ssst. Sudah jangan ngomongin orang. Sebentar lagi calon mempelai wanitanya akan keluar." Ibu lain memperingatkan.
Bisik-bisik tetangga tak lagi bisa terelakkan di tengah-tengah prosesi lamaran. Rain ternyata menyerahkan tanda keseriusannya berupa satu kilogram batangan emas murni. Yang mana membuat semua yang hadir terkejut dengan jumlah nominal lamaran Ara. Tak lama berselang Jack pun menyerahkan seserahan yang ada padanya.
"Ini dari calon mempelai pria untuk biaya pernikahan jika ingin diadakan di sini, Bu. Tapi mohon maaf, calon mempelai pria akan segera membawa calon mempelai wanita pada hari Senin pagi. Mengenai alasannya sudah disebutkan. Mohon diterima." Jack menyerahkan satu koper kecil kepada ibu Ara.
Pihak keluarga pun meminta koper itu dibuka oleh ibu Ara sendiri. Tak lama seluruh pita yang menghiasinya dicopot agar bisa melihat apa isinya. Dan ternyata isinya adalah...
"Nak Rain, apa ini tidak terlalu banyak?" Sang ibu sudah tidak dapat membendung air matanya. Ia menangis tersedu-sedu melihat apa yang diberikan calon menantunya.
"Tidak, Bu. Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jerih payah ibu selama membesarkan Ara. Rain harap ibu bisa menerimanya dan merestui pernikahan kami." Rain mengutarakan isi hatinya.
"Iya, Nak. Iya. Ibu merestui pernikahan kalian."
Sang ibu akhirnya tersenyum bahagia dalam tangis. Rain pun dengan segera memeluk calon mertuanya. Momen itu pun tidak lupa diabadikan sebagai tanda bukti lamaran pihak pria diterima pihak wanita. Dan akhirnya prosesi lamaran malam ini berjalan dengan lancar.
"Baiklah. Saatnya mempertemukan kedua calon mempelai."
__ADS_1
Ketua RT setempat meminta Ara segera keluar dari kamarnya. Sang bibi pun mengantarkan Ara untuk menemui Rain. Tak lama kemudian terlihatlah seorang gadis cantik di depan kedua mata sang penguasa.
Ara?!!
Seketika Rain terbelalak melihat Ara didandani seanggun dan secantik ini. Baru pertama kali ia melihat Ara dalam kondisi full make up. Biasanya Ara tampil polos atau hanya menggunakan sedikit bedak tipis di hadapannya. Tapi kali ini sungguh luar biasa apa yang terlihat di matanya. Ia tidak menyangka jika Ara akan secantik ini.
Sayangku ... kau sungguh cantik.
Kata sayang pun terucap di dalam hatinya. Bersamaan dengan itu Ketua RT meminta keduanya berdiri berhadapan dengan posisi Rain menyerahkan seserahannya kepada Ara. Keduanya lantas difoto oleh banyak kamera hadirin yang ikut mengabadikan momen bersejarah ini. Terlihat Rain dan Ara yang malu-malu saat difoto.
Ara tersenyum malu di hadapan Rain. Begitu juga dengan Rain yang berulang kali menelan ludahnya. Ia masih belum percaya jika akan mempersunting bidadari surganya. Ia selalu saja mencuri pandang saat Ara tersenyum ke arah kamera yang memotret. Ia ingin selalu menatap calon ibu dari anak-anaknya kelak. Ia amat bahagia malam ini.
Seusai acara...
Kini Ara dan Rain sedang duduk bersampingan di ruang keluarga. Mereka sedari tadi berdiaman tanpa kata. Padahal sejuta kata ingin mereka ucapkan bersama. Tapi entah mengapa rasa malu-malu itu melanda keduanya.
"Baik. Kami terima selesainya saja, Pak. Harap dibantu." Jack terlihat menelepon seseorang.
Jack kemudian menghampiri Rain lalu berbisik kepada tuannya. Rain pun hanya mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan oleh Jack. Tak lama, ibu Ara juga keluar dari kamar dengan membawa seserahan yang Rain berikan. Sang ibu berencana menyimpannya agar lebih aman dan terjaga.
"Ara, ibu sudah siap." Sang ibu terlihat sudah berganti pakaian, sedang Ara masih mengenakan kebaya ungunya.
"Baik, Bu. Kita mampir ke hotel dulu." Ara beranjak bangun mendekati sang ibu.
__ADS_1
Sang ibu akan ikut serta dalam rangka liburan bersama yang diadakan oleh Rain esok hari. Karena bagaimanapun proses perkenalan pihak wanita dan pihak pria amat singkat sehingga membutuhkan waktu lebih intens untuk menambah kedekatan.
"Semua sudah dikunci?" tanya sang ibu kepada putrinya sambil berjalan keluar rumah. Rain pun mengikutinya dari belakang.
"Sudah, Bu. Tapi beres-beresnya besok sore saja, ya. Kita mengejar waktu," jawab Ara sambil menggandeng lengan ibunya.
"Iya, tak apa." Sang ibu pun mengangguk. "Calon pengantin tidak perlu memikirkan hal itu. Cukup tenang dan banyak berdoa." Sang ibu mencolek dagu putrinya.
"Ah, Ibu bisa saja."
Ara pun merona malu mendengar ucapan ibunya. Sedang sang ibu segera mengunci pintu rumahnya dari luar. Mereka akan menginap di hotel lalu berlibur di pantai keesokan harinya. Jadwal ini tentunya sudah dipersiapkan matang-matang, jadi tidak boleh sampai terlewatkan.
Menjelang pertengahan malam...
Aku bersama ibu tiba di hotel dan segera dijamu oleh hidangan istimewa. Setelahnya kami pun memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing. Tapi, malam ini aku tidur bersama ibu. Calon suamiku memesan satu kamar lagi untuk ibu. Sehingga sekarang tuanku tidur sendiri, sedang Jack bersama istri dan kedua putranya.
Menjelang pertengahan malam aku berbincang bersama ibu mengenai keadaan di rumah selepas aku pergi. Dan ibu banyak menceritakan padaku perihal apa yang kakak lakukan. Miris rasanya mendengar kenyataan yang ibu ceritakan. Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi. Kak Tia ternyata sedang dicari orang sehingga dia harus pergi dari rumah untuk bersembunyi. Kata ibu sih Kak Tia meminjam banyak uang dan tidak bisa mengembalikannya.
Ada rasa khawatir terlintas di benakku jika Kak Tia pulang ke rumah dan mengetahui jumlah lamaranku. Aku khawatir dia memaksa ibu untuk menyerahkan uang yang tuanku berikan. Lamaran malam ini tidak main-main diberikannya kepada ibuku. Satu kilogram emas murni dan juga uang tunai seratus juta rupiah. Tentunya jika ditotal dengan semua pengeluaran, bisa mencapai satu milyar rupiah. Nominal itu amat besar bagiku dan juga bagi semua orang di kota ini. Tuanku memang tidak pernah perhitungan dengan apa yang dia punya.
Terlepas dari rasa khawatir yang melanda hati, aku tidak henti-hentinya berucap syukur atas semua karunia yang Tuhan berikan padaku. Imajinasiku kini menjadi nyata dan membuahkan hasil yang manis. Sampai-sampai aku ketagihan untuk berimajinasi hal yang lainnya. Tetapi tetap dalam kadar positif. Karena menurut Law of Attraction, positif hanya akan menarik positif, begitupun dengan sebaliknya. Dan aku ingin menarik lebih banyak nilai positif dalam hidupku.
Ara mulai merasakan buah dari bibit kesabaran yang ia tanam. Kini impiannya terwujud dan melampaui apa yang dibayangkan olehnya. Tentunya hal ini tidak terlepas dari usaha dan doa. Niat baik di dalam hati Ara yang ingin membahagiakan ibunya, ternyata membuat semesta beramai-ramai menaikkan doanya ke langit teratas. Alhasil impiannya kini sudah terwujud, bertemu dengan pangeran tampan dan juga dermawan. Ara pun amat mensyukurinya.
__ADS_1