
***) Sudut Pandang Campuran
...
Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.
Kugantungkan hidupku di tanganmu.
Orang bilang aku ini gila dan aku buta.
Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.
Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.
Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.
Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.
Selama kau masih di sini bersamaku.
Aku tak peduli siapa dirimu.
Darimana asalmu.
Apa yang sudah kau lakukan.
Selama kau mencintaiku.
Semua hal kecil yang sudah kau katakan dan lakukan.
Terasa merasuk ke dalam relung hatiku.
Tak masalah jika kau sedang melarikan diri.
Tampaknya kita sudah ditakdirkan bersama.
Telah kucoba tuk menyembunyikannya agar tak ada yang tahu.
__ADS_1
Tapi kurasa semua terkuak saat kutatap matamu.
Apa yang sudah kau lakukan dan darimana asalmu.
Aku tidak peduli.
Selama kau mencintaiku, Kasih...
...
Aku duduk di bawah sebuah pohon besar yang berada di atas bukit ini. Kubiarkan suamiku berjaga di sekitarnya, sedang pak kusir menjaga kuda yang tak jauh dari kami. Dari sini bisa kurasakan betapa sejuk semilir angin yang menyapu helaian rambutku. Suara-suara binatang ternak pun terdengar semakin lama semakin mengecil. Sepertinya pintu alam bawah sadarku sudah mulai terbuka. Aku pun mengambil napas dalam sambil terus mempersiapkan diri.
Satu helaan napas kunikmati. Lambat laun dapat kurasakan keadaan sekelilingku tenang dan terkendali. Frekuensi getaran gelombang yang kuterima semakin lama semakin menuju titik temu. Dari nol hingga 432 hertz. Cahaya biru kehitam-hitaman pun mulai terlihat di pandangan mataku. Kini saatnya bagiku untuk mengikuti alam yang menuntun.
Ini?!
Tak lama, kudapati diriku tengah berada di atas dataran bunga berwarna-warni. Aku pun berdiri untuk melihat keadaan sekelilingku lebih jelas lagi. Tak ada pepohonan ataupun ranting kecil di sini. Sepanjang penglihatan hanya ada hamparan bunga yang tersusun dengan indahnya. Berwarna-warni bagai spektrum cahaya yang indah. Sepertinya tak lama lagi aku akan bertemu dengan nenek pemberi gelang ini.
"Cucuku ...."
"Nenek?" Dengan senyum semringah aku menyebutnya.
Dia tersenyum. Nenek pemberi gelang tampak awet muda dengan gaun sutera putih yang membalut tubuhnya. Ada hiasan di kepalanya seperti burung merak yang mengepak indah. Dan kurasa pertemuan kali ini akan sedikit berbeda. Kulihat di tangannya seperti menggenggam sesuatu, entah apa itu.
"Panjang umur untukmu, Cucuku. Akhirnya kita bisa bertemu kembali." Dia tersenyum menyapaku.
"Terima kasih, Nek. Nenek tampak awet muda." Aku memujinya.
Dia tersenyum. "Kau bisa saja." Dia menanggapi perkataanku. "Ini adalah hamparan seribu bunga. Kebetulan aku sedang berada di sini saat kau memanggil. Bagaimana kabarmu, Cucuku?" tanyanya padaku, seperti bertanya kepada cucunya sendiri.
Aku dengan segera mengungkapkan apa yang ada di hati ini. "Nenek, mengapa aku selalu mengalami hal seperti ini?" Aku begitu tergesa-gesa ingin menanyakannya.
Dia tersenyum. "Kau pasti ingin menanyakan mengapa bisa sampai kemari?" Dia menduga pertanyaanku.
Aku mengangguk seraya menantikan jawabannya.
"Cucuku, semua ini sudah menjadi suratan takdirmu. Kau harus melewatinya. Pasti ada hikmah di balik kejadian ini. Hanya saja terkadang kita tidak sabar untuk menantinya." Dia menasehatiku.
__ADS_1
Aku tertunduk malu.
"Cucuku, ini adalah dunia yang berbeda dari duniamu. Di sini orang-orang yang kau lihat mempunyai kekuatan yang tidak bisa dilawan dengan tangan kosong. Kau juga harus mempunyai sedikit kekuatan untuk melawan setiap tindakan yang dapat membahayakan. Kau harus mempunyai cukup bekal sebelum melanjutkan perjalanan." Nenek pemberi gelang memberi tahu tentang teka-teki perjalanan ini.
"Nenek, maksud Nenek?" Aku ingin lebih tahu tentang apa yang dibicarakannya.
Nenek pemberi gelang kemudian memperlihatkanku sebuah benda yang mirip seperti konde. Benda itu sepertinya terbuat dari emas murni. "Ini, pakailah di kepalamu. Jangan pernah dilepas dalam situasi apapun." Dia menjulurkan tangannya ke arahku. "Putri negeri ini amat kurang menyukaimu. Dia ingin membuat sebuah perkara yang menjauhkanmu dari suamimu sendiri," katanya yang membuatku terbelalak kaget.
"Apa?!"
Sungguh aku tak percaya jika putri itu memang benar akan menabuhkan genderang perangnya denganku. Siapa lagi yang dimaksud oleh nenek pemberi gelang jika bukan Camomile yang sedari awal sudah menunjukkan rasa ketidaksukaannya padaku.
"Nenek, apakah ada konsekuensi yang harus kuterima dari benda ini?" tanyaku serius, tak ingin salah langkah dan terjerat lagi ke dalam perjanjian yang tak kuinginkan.
Dia tersenyum. "Tidak, Cucuku. Saat kau kembali ke duniamu, benda ini akan menghilang dengan sendirinya. Kau tidak perlu khawatir. Tak lama lagi gelang yang ada di tanganmu juga akan terlepas. Tinggal menunggu waktunya saja. Semua yang kau inginkan akan diraih secepatnya. Jadi bersabarlah." Dia menasehatiku.
Aku mengangguk. "Lalu bagaimana cara agar bisa kembali ke duniaku, Nek?" tanyaku lagi pada inti pertemuan ini.
Nenek pemberi gelang tersenyum. Dia mengarahkan benda itu untuk hinggap di rambutku. Tak lama kemudian benda itu pun terpasang di rambutku. Dan akhirnya aku mengenakannya dengan perasaan yang lebih tenang lagi.
"Kau cantik, Cucuku. Tak lama lagi portal akan terbuka dan kau bisa kembali bersama suamimu ke dunia yang sebenarnya. Setelah berhasil melewati tiga gantungan bintang, kita akan bertemu kembali." Nenek pemberi gelang memberi tahu.
"Baik, Nek." Aku menuruti.
"Jagalah benih yang ada di dalam kandunganmu. Mereka akan merubah kehidupan dunia menjadi lebih baik lagi. Sampai jumpa, Cucuku," katanya, lalu tak lama sinar menyilaukan terlihat di depan mataku.
"Nenek!!!"
Aku pun lekas mengejarnya, namun tak bisa. Cahaya menyilaukan itu membuatku seperti tersedot ke suatu tempat. Aku pun melayang cepat hingga akhirnya kurasakan napasku kembali. Aku bisa mendengar detak jantungku lagi.
"Sayang?"
Samar-samar kudengar suara seorang pria yang kucintai tak jauh dariku. Kusadari jika aku telah kembali ke tempat di mana aku memulai meditasi ini. Pelan-pelan kubuka mata lalu melihat paras rupanya yang menyambut kedatanganku. Dia begitu setia berada di sisiku. Dialah suamiku tercinta, Rain Sky.
"Suamiku ...."
Kuusap pelan pipinya dan dia pun terlihat tersenyum. Ada kebahagiaan tersirat dari bola mata birunya saat melihatku kembali. Ingin rasanya aku menemaninya hingga akhir hayat ini. Semoga saja cinta kami abadi dan tak lekang oleh waktu. Aku ingin selalu berada di sisinya, menemaninya dalam suka maupun duka.
__ADS_1