
Pesta kali ini mengusung konsep pesta kebun yang mana kursi dan mejanya disusun dalam satu rangkaian di sepanjang ruangan. Satu meja terdiri dari enam sampai delapan kursi yang mengelilingi. Dan di atas meja tersebut telah disediakan berbagai macam hiasan. Ada bunga hias, serbet makan dan juga cemilan berupa kue cokelat kacang yang menggoda selera. Kue cokelat itu tentunya tidak perlu diragukan lagi rasanya. Karena pangeran sendiri telah membuat tim dapur khusus untuk membuatnya.
Di atas meja dan kursi yang telah ditata rapi, terdapat lampion-lampion kecil berwarna-warni. Diselingi beberapa hiasan bunga palsu yang sengaja istana siapkan. Di sekeliling ruangan pesta pun terdapat pepohonan beserta pot besarnya. Ada pohon pisang, delima, tin, jeruk, yang mana sudah masak semua. Sehingga para tamu tinggal memetiknya saja.
Ara sendiri akhirnya datang bersama Rain sambil bergandengan tangan. Pesta belum dimulai tapi istana sudah mulai ramai. Pada akhirnya mereka memilih untuk duduk di kursi paling pojokan. Tak lama pelayan pun datang menawarkan minuman.
"Permisi Nona. Bisa saya ambilkan apa yang Nona inginkan?" Seorang pelayan wanita bertanya.
Ara tampak berpikir untuk menjawabnya.
"Minuman segar saja dari sari buah asli." Rain menjawabnya.
"Ingin buah apa Tuan?" tanya pelayan itu kepada Rain.
Rain menoleh ke istrinya. Tapi entah mengapa ia malah tertawa. "Aku ingin sari jeruk yang dicampur susu. Apakah ada?" tanya Rain segera.
Pelayan tampak melihat daftar minuman yang dipegang olehnya. "Ada Tuan. Sebentar saya ambilkan." Pelayan itu pun berpamitan.
Pesta kali ini begitu memanjakan tamu undangan. Para pelayan yang bertugas sampai disediakan daftar makanan yang dibuat oleh pihak dapur istana, agar mereka tidak lagi susah untuk mengingat apa saja yang ada.
"Sayang." Rain memanggil Ara.
Ara yang duduk di sebelah Rain pun menoleh.
"I Love You," kata Rain yang sontak membuat Ara merona.
__ADS_1
Ada-ada saja ulah Rain untuk menghibur istrinya. Saat di padepokan ia bersikeras menolak istrinya untuk mengenakan gaun pesta yang diberikan pihak istana. Sampai-sampai Ara kesal dibuatnya. Namun, saat sudah tiba di istana, ia malah mengatakan kata cinta. Tak ayal Ara pun tak habis pikir dengan sifat suaminya.
Bisa-bisanya dia menghiburku setelah membuatku kesal.
Namun, walaupun begitu amarahnya hanya sementara. Sebatas melampiaskan kekesalan saja. Tidak lebih karena Ara pun tahu jika ada batas-batasnya.
"Hadirin dimohon untuk berdiri. Kita akan memulai acara ini." Seorang pria beryukata biru berbicara dengan lantangnya dari tempat yang lebih tinggi. Seperti podium untuk berpidato.
Para hadirin pun berdiri. Tak lama seseorang berjubah putih datang membawa sesuatu di tangannya. Resepsi pernikahan Pangeran Agartha segera dimulai.
Janji suci sepasang insan sebelum melabuhkan bahtera cinta...
Saat-saat yang ditunggu akhirnya datang. Pesta pernikahan yang awalnya hanya sebatas panjat syukur kepada Sang Maha Pencipta, ternyata di luar dugaan. Baik di dalam maupun di luar istana kini sudah dipadati oleh para tamu undangan yang ingin melihat secara langsung pesta pernikahan sang putra mahkota. Bahkan pihak pelayan istana harus menyediakan meja dan kursi tambahan untuk menampung tamu yang datang. Tak ayal pesta pernikahan ini bertambah ramai saja.
"Mana ya pengantin perempuannya?"
Di tengah-tengah ruangan yang berada di depan terdapat panggung kecil yang ditata dengan banyak bunga. Mirip seperti pelaminan di dunia sebenarnya. Hanya saja tidak selebar dan sebesar di dunia nyata. Di Agartha hanya seperlunya saja. Berkisar 3x2 meter dengan tanaman bunga di sekelilingnya.
Tak lama, beberapa prajurit pun mengantarkan sang putra mahkota untuk berdiri di atas panggung tersebut. Di mana sang pria berjubah putih sudah menunggunya. Pria itu merupakan sesepuh istana yang dipercaya untuk memimpin sebuah acara sakral. Agartha pun meminta bantuannya.
Kini Pangeran Agartha sudah siap untuk mengucapkan janji suci. Tinggal menunggu sang mempelai wanita datang. Terlihat dirinya menantikan momen ini dengan hati yang berdebar. Ia khawatir pengucapan janji suci akan tersendat karena rasa grogi yang kian melanda. Namun, ia berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Hadirin dimohon untuk tenang." Suara pembawa acara terdengar.
Tak lama datang rombongan pelayan yang membawa serta sang mempelai wanita. Dan betapa terkejutnya Agartha saat melihat Lily mengenakan busana pengantin. Ia seperti bukan melihat Lily yang ia kenal.
__ADS_1
Lily ...?!
Lily cantik sekali. Mengenakan gaun berwarna putih yang indah dan juga panjang hingga menyapu lantai. Jari-jari lentiknya tampak memegang sesuatu yang akan dipersembahkan untuk Agartha. Entah apa, namun Agartha tampak tak percaya dengan penampilan Lily saat ini. Ia seperti melihat bidadari jatuh dari khayangan.
Bulu mata lentik, bibir merah merona seolah menggoda pandangan Agartha untuk segera memilikinya. Ditemani beberapa pelayan, Lily pun terus berjalan mendekatinya. Hingga akhirnya sang mempelai wanita dan pria bertemu dan berdiri berhadapan.
Sesepuh istana lalu berdiri di tengah-tengah mereka. Sesepuh itu meminta Lily untuk menyerahkan sesuatu yang dibawanya kepada pangeran. Pangeran pun menerima lalu memakannya. Ternyata sesuatu itu adalah coklat padat yang dibentuk bulatan kecil.
"Silakan mempelai pria menyuapi mempelai wanita."
Sesepuh istana kemudian meminta pangeran menyuapi Lily dengan cokelat yang sama.
Bukan tanpa maksud mereka diminta untuk memakan cokelat terlebih dahulu. Hal itu dilakukan agar keduanya tidak grogi saat mengucapkan janji suci di hadapan banyak orang.
Setelah Lily selesai mengunyah coklatnya, barulah sesepuh istana meminta kedua mempelai menghadapnya. Sang pangeran pun mengucapkan ikrar sebagai seorang pria yang meminang gadisnya. Di mana saat itu tidak ada satupun yang berani bersuara. Seluruh hadirin tampak khidmat mendengarkannya.
Dia begitu lancar mengucapkannya.
Lily terkejut saat mendengar Agartha mengucapkan ikrar pernikahan dengan suara yang lantang dan lugas. Ia pun tersenyum dalam kebahagiaan. Sebentar lagi mereka akan mengikat janji suci pernikahan setelah perjalanan yang melelahkan.
Setelah sang pangeran selesai mengikrarkan janjinya di depan sesepuh istana dan para hadirin yang datang, kini giliran pangeran yang meminta Lily secara langsung. Pangeran pun memegang kedua tangan Lily di hadapan para hadirin. Namun, ia tampak gugup kali ini.
Keduanya berdiri berhadapan dan saling berpegangan tangan.
"Lily, hari ini aku memintamu untuk menjadi istriku. Tidak hanya sebagai istri, melainkan juga sebagai ibu dari anak-anakku dan ratu negeri ini. Maukah kau menjadi istriku? Menemaniku hingga akhir usiaku?"
__ADS_1
Pangeran mengatakannya dengan suara yang hampir bergetar. Ia amat terharu karena bisa mencapai hari ini bersama Lily, gadis yang dicintainya.