Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Good News


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, sesampainya di Bandara Internasional Dubai...


Ara mengalami morning sickness saat kembali ke Dubai. Ia harus sampai mencari toilet pejabat bandara agar bisa leluasa mengeluarkan rasa mualnya. Rain pun dengan setia mendampingi sang istri.


Kasihan sekali istriku. Apakah semua wanita hamil seperti ini?


Saat ini Ara tengah beristirahat di ruang pribadi milik pejabat bandara. Sedang Rain setia menemaninya. Tak lama Byrne pun datang membawakan obat. Obat pereda mual yang ia dapat dari dokter jaga bandara.


"Bagaimana keadaan Ara, Rain?" Byrne duduk di seberang sofa Ara.


"Dia sampai tidak kuat untuk berjalan. Aku jadi cemas." Rain terlihat mengipasi istrinya.


Byrne jadi ikut kasihan melihat kondisi Ara. "Mungkin kau terlalu nakal padanya. Jadinya anakmu juga ikut nakal. Membuat ibunya mual-mual." Byrne asal bicara.


"Hah?! Memangnya ada hubungannya?" Rain tampak tak percaya.


"Ya, kali-kali saja." Byrne juga tidak tahu pastinya.


Rain terdiam sejenak, ia merasa bersalah. Diingatnya kembali apa yang telah dilakukannya sebelum Ara dinyatakan hamil. Ia tidak pernah membiarkan Ara beristirahat lama sekalipun. Selalu saja diajak main olehnya.


Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu jika wanita hamil akan mengalami hal menyiksa seperti ini. Aku cuma tahu cara buatnya saja. Maafkan aku, ya. Besok-besok aku akan memberi jarak mainnya. Tidak seperti kemarin-kemarin yang menggebu-gebu. Aku sayang kamu, Araku.


Rain memperhatikan sang istri yang tengah beristirahat di sofa. Ia pun memijat kaki Ara walau tidak tahu ada fungsinya atau tidak. Tak lama Owdie pun datang membawakan makanan ringan untuk ketiganya. Ia terlihat sibuk sekali sampai-sampai masih menerima telepon walau sudah berada di dalam ruangan.


"Ya, nanti kita bicarakan lagi. Sampai nanti." Owdie akhirnya mengakhiri teleponnya.


"Ada apa?" tanya Byrne kepada Owdie.


"Hah ... aku harus berangkat ke Iran hari ini. Ada acara pemilihan ratu di sana." Owdie menjelaskan.


"Iran? Di Oman sudah selesai?" Rain ikut bertanya sambil mengipasi Ara.


"Belum. Maka itu aku kesal. Acara di Iran tidak bisa diundur dan mereka amat mengharapkan kedatanganku." Owdie duduk di sofa yang ada di samping Byrne.


"Hei, kali-kali kau bisa mendapatkan istri di sana," celetuk Byrne.


Terlihat alis Owdie yang naik-naik sendiri saat mendengar ucapan Byrne. Byrne dengan begitu mudahnya membicarakan jodoh di saat Owdie sedang pusing.


"Ya, sudah. Kalian langsung berangkat saja. Aku tidak apa ditinggal." Rain akhirnya memutuskan.

__ADS_1


"Kau yakin?" Owdie bertanya lagi.


"Ya. Nanti aku minta jemput Jack saja. Selepas dari sini juga aku akan ke Saudi Arabia." Rain menjelaskan.


"Masih ada urusan di sini?" Byrne ikut bertanya.


"Masih. Aku harus mengecek keamanan pengeboran minyak yang baru ditemukan kemarin. Mungkin masih memakan waktu sekitar satu minggu lagi," jelas Rain.


Baik Byrne maupun Owdie mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu kami langsung berangkat." Mereka kemudian bergegas.


"Hati-hati." Rain beranjak berdiri untuk mengantarkan kedua saudaranya.


"Kau yang harus hati-hati menjaga Rain Junior." Byrne menepuk pundak Rain.


Rain mengangguk.


"Satu dulu ya, Rain. Jangan nambah lagi. Kasihan Ara. Hahahaha." Owdie pun meledek Rain.


"Sialan! Aku juga tidak akan setega itu." Rain menggerutu.


"Hah, baiklah. Sampai nanti, Kawan. Jaga dirimu." Mereka akhirnya berpelukan sebelum berpisah.


Penerbangan yang memakan waktu lama ini akhirnya didapatkan keputusan jika Byrne dan Owdie akan segera melanjutkan perjalanan ke negara Timur Tengah lainnya. Sedang Rain menetap di Dubai karena masih ada urusan yang belum terselesaikan. Mereka mempunyai jadwal masing-masing dan tidak bisa ditunda. Target sudah diberikan sehingga tidak lagi bisa bersantai.


Waktu bagi keluarga Empire Earth adalah uang. Menyia-nyiakan waktu sama saja dengan melepas uang. Dan hal itu sudah ditanamkan sejak kecil oleh Sam, kakek angkat ketiganya. Sehingga baik Owdie, Byrne, maupun Rain akan selalu memaksimalkan waktu. Tapi jika di hari libur, mereka akan bersantai ria sepanjang hari. Begitulah pembagian waktu bagi ketiganya.


Beberapa jam kemudian...


Ara tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dan ia lihat jika sudah tidak lagi berada di bandara, melainkan di rumahnya sendiri. Dilihatnya sisi kasur ternyata sang suami masih setia menemani. Saat itu juga Ara tersadar jika semuanya baik-baik saja.


Astaga ... apa yang terjadi denganku?


Dahi Ara berkeringat karena mengalami mimpi buruk lagi. Namun, mimpi kali ini seperti sebuah firasat buruk tentang suaminya. Ara pun segera beranjak bangun untuk mengambil air minum. Diteguknya air itu sampai habis lalu membasuh wajah di wastafel. Ara kembali mengingat mimpinya...


"Jangan biarkan dia memegang tahta. Tahta itu hanya milikku."


Kata-kata di dalam mimpi itu teringat kembali di benak Ara. Bayangan akan seseorang yang mengatakannya tidak bisa terlihat dengan jelas. Namun, ia melihat ada sang suami di dalam mimpinya. Ia melihat Rain seperti terbelenggu rantai yang amat besar.


"Sebenarnya apa arti dari mimpiku ini?"

__ADS_1


Ara bertanya, ia mencoba mengartikan mimpi itu sendiri. Ia khawatir jika mimpinya menjadi sebuah pertanda buruk bagi suaminya. Namun, Ara tidak ingin terlalu memikirkannya.


"Mungkin aku telepon ibu saja."


Dilihatnya jam di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Ara pun menelepon ibunya. Ia rindu dengan sang ibu. Nada tunggu panggilan pun tak lama terdengar.


Semoga ibu sedang senggang sekarang. Aku ingin memberi tahu kabar kehamilanku ini.


"Halo?" Tak lama telepon Ara pun diangkat oleh ibunya.


"Ibu, ini Ara. Apa kabar, Bu?" tanya Ara lewat jaringan telepon.


"Ara? Kabar ibu baik, Nak. Bagaimana Ara sendiri?" tanya ibunya kepada Ara.


Ara terdiam sejenak. "Bu, Ara mohon doanya. Ara sedang mengalami mimpi kurang baik beberapa hari ini. Doakan Ara agar dijauhkan dari bahaya ya, Bu." Ara meminta.


Sang ibu pun tersenyum di sana. "Iya, Nak. Ibu akan selalu mendoakan Ara. Ara juga banyak-banyak berdoa, ya. Jangan lupa menyebut nama Tuhan sebelum memulai suatu pekerjaan." Sang ibu berpesan.


"Iya, Bu. Ara akan selalu ingat nasihat Ibu." Ara mengiyakannya. "Tapi, Bu." Ara kembali meneruskan pembicaraan.


"Ya, Nak?" Sang ibu masih antusias menunggu.


"Ara punya kabar yang amat membahagiakan," kata Ara lagi.


"Apa, Nak?" Sang ibu tampak penasaran.


"Ara hamil, Bu. Ara sedang mengandung sekarang," kata Ara dengan semangat.


"Ara ...."


Seketika itu juga ponsel yang dipegang sang ibu terjatuh. Ibu Ara tidak menyangka jika akan mendengar kabar ini dari putrinya.


Anakku ... sudah hamil? Ya Tuhan ....


Sang ibu pun langsung bersimpuh di atas lantai, mengucap syukur kepada Sang Pemilik kehidupan.


Terima kasih Ya Tuhan. Akhirnya aku mendengar kabar bahagia ini.


Air mata ibu Ara menetes membasahi bumi. Ia amat bahagia dengan kabar kehamilan anaknya. Sedang Ara masih berucap halo-halo di sana. Ia mencari-cari ibunya.

__ADS_1


__ADS_2