
Dubai, 6.30 pagi...
Hari ini aku hanya membuat telur dadar, sambal goreng dan juga nasi hangat untuk sarapan pagi bersama. Aku mencari tempe di sini, tapi susahnya minta ampun. Sepertinya nanti kubawa tempe dari negeriku saja.
"Ara."
"Ya, Sayang?"
"Ayo."
Dia hari ini tidak datang pagi-pagi ke kantor. Jam kerjanya sudah mulai normal karena proses pengeboran berjalan dengan lancar. Dan kini dia memintaku untuk memanjakannya. Membantunya memakai kemeja, dasi dan juga menyisirkan rambutnya. Dia manja sekali.
Sudah beberapa hari ini aku selalu melakukan untuknya. Kami bak sepasang suami istri sungguhan saja. Tak ada malunya jika sedang berdua. Dia juga tidak malu mengenakan pakaian dalam di hadapanku. Mungkin akunya yang belum terbiasa atau dianya yang sudah merasa dekat dengan denganku. Entahlah, kadang aku tidak mengerti mengapa dia bisa bersikap seperti itu.
Dia banyak menceritakan kehidupan sosialnya saat di USA dulu. Dimana orang-orang di sana amat menjunjung tinggi nilai kebebasan. Tapi, dia bilang tidak terlalu menyukai hal itu. Sehingga setelah lulus kuliah dia langsung melalang buana ke manca negara. Dia ingin membandingkan budaya tiap negara yang dikunjunginya.
Dia sebenarnya sangat sopan, amat berbeda dengan pria lainnya. Tapi denganku saja dia menggila. Bahkan sekarang sendawa pun tidak malu-malu lagi di depanku. Astaga, ya. Cepat sekali kedekatan kami ini.
"Nanti aku akan pulang cepat setelah semua urusan selesai," katanya setelah aku memakaikan dasi.
"Bagaimana dengan keluarga Jack?" tanyaku ingin tahu.
"Jack hanya akan membawa istri dan kedua putranya. Kita akan bertemu di bandara nanti. Aku sengaja meminjam jet pribadi milik pejabat kota ini. Karena kalau pakai jet organisasi, bisa-bisa bikin heboh negerimu." Dia menjelaskan.
"Memangnya?" Aku merasa bingung.
"Nanti banyak media meliput kedatanganku. Para menterimu juga malah ikut datang melihat kita. Apa mau jadi pusat perhatian seluruh pejabat negeri?" Dia bertanya sambil mencolek hidungku.
__ADS_1
"Nanti malah tidak bisa jalan-jalan," kataku lagi.
"Ya, maka itu aku akan menggunakan jet pribadi milik pejabat kota saja." Dia memintaku menyisirkan rambutnya.
"Tadi pagi aku sudah berkemas dan memisahkan pakaian yang ingin dibawa. Aku juga sudah merapikan apartemen. Jadi saat pergi ke sana, kita merasa tenang." Aku memberi tahu sambil menyisiri rambutnya.
"Nanti kubawakan koper untukmu. Koper memang cuma satu. Nanti aku juga akan membeli oleh-oleh untuk ibu," katanya yang membuat hatiku terenyuh.
"Sayang ...." Aku terpana menatapnya.
"Kenapa?" Dia lalu menarikku, mendudukkan aku ke atas pangkuannya. "Aku milikmu sekarang dan kau milikku. Kenapa matamu berkaca-kaca?" tanyanya sambil memangkuku.
"Aku hanya ... merasa sedikit takut," kataku, tertunduk.
"Takut?" tanyanya lagi.
"Takut kenapa, Ara? Katakan padaku." Dia menatapku sambil menunggu aku mengatakan jawabannya.
"Sayang, ibuku tidak lagi muda. Rumahku juga tidak layak dipandang mata. Apa setelah ini kau akan meninggalkanku?" tanyaku khawatir.
Dia lalu tertawa.
"Sayang, aku serius!" Aku mengguncang-guncang kerah bajunya.
"Iya-iya, maaf." Dia lalu memegang tanganku yang memegang kerah bajunya. "Apapun itu, aku tidak peduli. Yang aku tahu sebentar lagi kita akan menjadi suami-istri. Dan aku punya kewajiban menafkahimu." Dia mencubit pelan pipiku.
Aku terdiam mendengarkan kata-katanya.
__ADS_1
"Sudah, jangan terlalu khawatir. Jika semua itu membuatmu risau, nanti kita beli rumah di sana untuk ibu. Kita beri perawatan maksimal untuk ibu. Karena ibumu, ibuku juga." Dia tersenyum menyemangatiku.
"Terima kasih."
Aku memeluknya erat, seolah tidak ingin melepaskannya. Dia juga membalas pelukanku sambil membelai rambut panjangku ini. Rasanya kami memang sudah menyatu. Tak ada lagi yang perlu dirisaukan. Mungkin hanya perasaanku saja yang diliputi ketakutan akan ditinggalkannya. Ya, aku memang takut kehilangan semua yang ada padanya. Aku benar-benar mencintainya.
Setengah jam kemudian...
Dia berpamitan padaku untuk pergi bekerja. Kali ini aku tidak sungkan lagi untuk menciumnya. Saat melepas keberangkatannya, aku menciumnya. Ciuman lembut yang hampir membuatnya tidak jadi pergi ke kantor. Aku pun segera menyudahinya karena takut terbawa suasana dan kejadian di kolam renang waktu itu kembali terulang.
Kini aku masih berdiri di depan pintu, melihatnya berjalan bersama Jack masuk ke dalam lift. Untung saja tadi kami berciuman di dalam. Karena kalau di luar, sudah pasti Jack akan melihatnya dan akan membuatku malu. Tapi untung saja dia amat menjagaku, dia tidak mau mengumbar kemesraan di depan orang lain, sekalipun itu orang terdekatnya. Aku jadi merasa amat dijaga olehnya.
Hati-hati, Sayang. Selamat bekerja.
Aku kembali masuk ke apartemen lalu mengunci pintu dari dalam. Aku bersiap-siap berangkat ke kampus karena jam delapan ada mata kuliah yang harus kuikuti. Dan hari ini pulangnya lebih awal, sekitar jam makan siang. Aku jadi bisa beristirahat sebentar sebelum berangkat ke kampung halamanku, Indonesia.
Ara akan kembali ke negerinya bersama Rain dan Jack sekeluarga. Rain sengaja membawa Jack dan keluarganya sebagai perwakilan untuk melamar sang gadis. Karena kedua saudaranya sibuk dengan urusan masing-masing. Baik Byrne maupun Owdie mempunyai jadwal amat padat sehingga tidak bisa bersantai ria dengan libur berhari-hari.
Sebenarnya Rain juga tidak dapat libur lama. Selasa pagi ia harus sudah kembali bekerja. Ro sebagai asisten pribadinya belum berani mengambil alih semua pekerjaan Rain yang mengandung risiko tinggi. Ro merasa perhitungannya masih kalah dengan sang bos yang begitu akurat dan jarang sekali terjadi kesalahan. Rain masih amat dibutuhkan sehingga ia tidak bisa libur berlama-lama.
Rencana malam ini mereka akan berangkat ke Indonesia dengan menggunakan jet pribadi milik pejabat Kota Dubai. Rain sengaja meminjamnya karena khawatir saat menggunakan jet pribadi milik organisasi malah akan membuat ramai media di negeri Ara. Karena tidak ada satupun yang tidak tahu organisasi apa itu. Apalagi pejabat pemerintahan pastinya mengenal dengan baik organisasi yang menaungi pekerjaan Rain.
Rain nanti akan mengambil rute penerbangan tercepat yang mana perizinannya sudah ia persiapkan. Berbagai izin sudah ia kantongi untuk melintasi banyak negara hingga sampai ke negeri gadisnya. Dan malam ini proses lamaran itu akan segera dimulai. Tepat satu bulan Ara bekerja dengannya, tepat dua minggu lagi proses pernikahan akan digelar olehnya. Tapi, akankah Rain menyatakan cintanya saat prosesi lamaran?
Ada sebuah rahasia yang belum mampu Rain ungkapkan. Rahasia yang amat memilukan hati dan menjadi cambuknya untuk terus bekerja di bawah perintah sang kakek. Rain masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Ara. Kepada gadis yang dua minggu lagi akan segera dinikahinya. Tapi, mampukah Ara menerima setelah mengetahui siapa Rain sebenarnya?
Cinta memang terkadang tidak mengenal logika. Tapi cinta bisa terpengaruh sedikit demi sedikit oleh kata-kata yang terlontar dari mulut lawannya. Dimana hati akan diuji kesetiaannya, di mana kesabaran dan kepercayaan menjadi pondasi utamanya. Lalu mampukah kedua insan melalui itu semua?
__ADS_1