
Di pantai...
Hamparan pasir putih terlihat di depan kedua mataku. Suara burung-burung berkicau menemani langkah kaki ini menuju sebuah gubuk yang ada di tepi pantai. Aku pun turun dari mobil bersama si pria mesum ini tanpa membawa apapun. Semua perlengkapan kami dibawakan oleh si supir hingga sampai ke gubuk terbesar yang ada.
Hari ini kami berlibur bersama sebelum keberangkatan ke Dubai. Yang berarti hari ini adalah hari terakhirku bertemu dengan ibu. Ibu bilang tidak bisa ikut ke Dubai karena tidak kuat melakukan perjalanan jauh. Jika dipaksakan takutnya malah mengkhawatirkan keadaan ibu.
Jujur saja aku sedih karena di hari pernikahan nanti ibu tidak bisa hadir. Tapi setidaknya kebersamaan hari ini dapat sedikit mengobati kesedihanku. Membahagiakan ibu adalah tujuan utamaku. Dan sejak semalam ibu bilang kebahagiaannya telah sempurna karena ada yang menggantikannya untuk menjagaku. Aku jadi ingin menangis saja kalau ingat kata-katanya.
"Ara nggak ikut berenang, Dek?"
Kak Jamilah, istri dari Jack bertanya padaku saat kedua putranya bersiap-siap menceburkan diri ke air laut bersama sang suami. Kulihat air laut amat pasang pagi ini. Jadi cukup di pesisir saja sudah bisa berenang dengan riangnya.
"Tidak, Kak. Ara di sini saja dulu. Kakak tidak ikut?" tanyaku balik.
Dia menggelengkan kepala. "Tidak. Kakak berjaga saja di sini," jawabnya lalu mulai merapikan barang bawaan kami.
"Ara." Tak lama priaku pun datang, entah dari mana. Tapi sepertinya dia baru saja menelepon seseorang.
"Apa?" tanyaku jutek seraya menoleh ke arahnya.
"Ke sana sebentar, yuk. Aku ingin berfoto bersama," pintanya.
Pantai di pagi ini masih sepi sekali. Bisa dikatakan jika kami adalah pengunjung pertama di sini. Dan mungkin karena itu priaku mengajak berjalan-jalan terlebih dahulu.
"Aku bilang ibu dulu, ya." Aku ingin menemui ibu yang sedang berganti pakaian.
"Aku sudah bilang pada ibu dan ibu membolehkannya. Lagipula kita hanya foto sebentar." Dia meyakinkanku.
"Em ... baiklah." Akhirnya setelah menimbang, aku beranjak pergi bersamanya. Entah mau ke mana.
Aku berjalan di sisi kirinya sambil menikmati pemandangan sekitar. Pohon-pohon rindang yang tinggi lagi tertata rapi menemani langkah kakiku bersamanya. Hingga akhirnya kusadari jika kami menuju sebuah gubuk yang menjorok ke laut. Sebuah gubuk tertutup yang membuatku mulai curiga.
"Kita mau ngapain di sana?!" Aku mulai khawatir saat sudah sampai di pertengahan jalan.
Dia menghentikan langkah kakinya. "Foto-foto. Memangnya mau ngapain?" Dia malah balik bertanya padaku.
Astaga ....
Seketika aku malu sendiri jadinya. Sepertinya pikiranku ini memang kurang beres. Kulihat dia biasa-biasa saja. Hanya tempat tujuan kami yang membuatku curiga. Tapi semoga ini hanya sebatas kecurigaanku, tidak sesungguhnya.
Ara merasa curiga saat Rain mengajaknya menuju sebuah gubuk yang menjorok ke laut. Rain tampak santai sambil mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya, tapi Ara sudah kelabakan saat melihat tempat tujuannya. Alhasil sang gadis berprasangka yang tidak-tidak terhadap prianya.
Tak lama lagi keduanya akan melangsungkan pernikahan. Rain pun sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya di tengah jadwalnya yang padat. Tapi hari ini ia ingin bersama Ara lebih lama. Ia ingin bermesra-mesraan dengan gadisnya.
__ADS_1
"Sini duduk."
Akhirnya keduanya tiba di gubuk yang menjorok ke laut. Gubuk yang terbuka di bagian depannya, tapi samping kanan dan kirinya tertutup. Seperti dikhususkan untuk melihat pemandangan laut saja.
"Kenapa mengajakku ke sini?" tanya Ara lalu duduk di dipan yang ada di dalam gubuk, di sisi kanan Rain.
"Aku ingin berdua dengan calon istriku, masa tidak boleh?" Rain merangkul Ara dengan mesra.
"Benar, ya?" Ara berjaga-jaga.
"Iya." Rain pun mencolek hidung Ara. Keduanya lalu menikmati angin pantai yang berembus kencang.
Ara sesekali menyampirkan rambutnya ke belakang karena embusan angin pantai yang kencang. Rain pun membantu Ara menyampirkan rambut sang gadis. Tapi karena angin semakin kencang, membuat Rain kesal sendiri. Dia akhirnya berinisiatif untuk melakukan sesuatu kepada Ara.
Rain melebarkan kedua pahanya. "Sini duduk di depanku," katanya yang meminta Ara lebih mendekat.
"Jangan macam-macam, ah." Ara menolaknya.
"Ya ampun, masa dengan calon suami sendiri tidak percaya." Rain merasa heran.
"Hah ...." Akhirnya Ara pun menuruti permintaan Rain, ia duduk di depan sang penguasa.
"Aku bantu menggulung rambutmu."
"Nanti ibu kita belikan ponsel saja jika tidak bisa ikut ke Dubai." Rain membuka percakapan.
"Tidak. Tidak perlu. Kau sudah habis banyak untukku." Ara merasa keberatan.
"Apa?!" Seketika Rain terkejut dengan ucapan gadisnya.
"Em, maksudku ... biar aku saja yang membelikannya." Ara khawatir Rain tersinggung karena ucapannya.
"Kau ini." Rain menarik Ara agar merebahkan tubuh kepadanya.
"Sayang." Ara mulai tidak enak prasangka.
"Punyaku punyamu juga, Ara." Rain menatap sang gadis dari sisinya.
"Tapi..."
"Sudah. Pokoknya aku belikan. Titik." Rain bersikeras.
"Hah ... baiklah." Ara pun akhirnya tidak dapat menolak kehendak Rain.
__ADS_1
"Ara."
"Hm?"
"Semalam itu..."
"Hush! Sudah!" Sontak Ara menghentikan perkataan Rain.
"Kenapa?" Rain melingkarkan kedua tangannya di perut sang gadis.
"Malu tahu!" Ara mengerutu.
"Kan hanya denganku saja. Tak apalah." Rain menaikkan satu alisnya.
"Dasar!" Ara pun memukul Rain.
"Lagi, yuk!" Tiba-tiba saja Rain meminta.
Seketika Ara ingin lari mendengarnya.
"Mau ke mana? Sini saja!" Rain menahannya.
"Kau ini, ya. Dasar mesum!" Ara mencoba melepaskan diri dari Rain.
"Sayang."
Rain akhirnya menarik Ara sekuat tenaga. Ia jatuhkan sang gadis ke dipan gubuk.
"Kau tidak bisa lari dariku. Bahkan sampai ke ujung dunia pun aku akan mencarimu." Rain bersungguh-sungguh.
"Sayang ...." Ara pun seperti tidak berdaya menghadapi Rain.
Rain mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Ia belai lembut bibir Ara dengan bibirnya. Sontak seluruh tubuh sang gadis bereaksi saat terkena sentuhan bibir itu. Kumis tipis Rain mengenai bibir Ara sehingga memunculkan sensasi yang luar biasa pada dirinya. Ara pun hanya bisa menikmati setiap sentuhan yang Rain berikan.
Aku milikmu ....
Hasrat yang membara perlahan-lahan muncul ke permukaan. Rain pun segera menyapu bersih apa yang ada di wajah Ara dengan bibirnya. Ia kecup perlahan, beri penekanan hingga Ara membalasnya tanpa diminta. Terlihat keduanya begitu menikmati momen ini. Dan akhirnya tangan Rain mulai menelusup ke kaus yang Ara pakai. Ia mencari-cari sesuatu di dalam sana.
"Sayang, jangan!"
Ara berusaha menolak tapi kedua matanya terpejam. Rain pun mendaratkan ciumannya di leher sang gadis. Perlahan-lahan bibirnya naik hingga ke telinga Ara, sambil mencari-cari sesuatu dengan tangannya. Dan akhirnya, ia berhasil menemukannya.
"Kau hanya milikku, Ara. Hanya milikku." Rain berbisik di telinga gadisnya.
__ADS_1
Lautan menjadi saksi atas apa yang terjadi di dalam gubuk. Lenguhan kecil pun terdengar dari bibir manis sang gadis. Ia diperlakukan Rain dengan begitu lembut hingga hasratnya tak lagi bisa dikendalikan. Lagi-lagi sang penguasa berhasil menaklukkan gadisnya.