
Detik demi detik kulalui, menit demi menit pun berlalu. Mungkin ada sekitar lima menit mencari cahaya, namun tidak kutemukan juga. Sampai akhirnya aku mendengar suara langkah kaki mendekat.
Astaga! Astaga!
Kulihat ke sekeliling arah, tapi masih saja gelap, tidak ada cahaya selain dari luar. Namun, langkah kaki itu terdengar semakin mendekat. Aku takut, takut jika ada yang berniat jahat padaku. Tapi ternyata...
"Ha-han-han-hantuuuu!!!" Kudengar seseorang berteriak menyebut hantu.
"Hantu?! Ada hantu?! Aaaaaa!!"
Aku juga ikut berteriak lalu segera berlari sambil melihat ke arah belakang. Namun, seketika itu juga...
Lampu dinyalakan, aku jadi bisa melihat di mana aku sekarang. "Eh, ini?"
Kulihat jika tidak ada hantu yang mengejarku. "Syukurlah."
Kuusap dada karena merasa tenang, perlahan membalikkan pandangan ke depan. Lalu kemudian...
Astaga ...?!
Aku terkejut melihat seorang pria berdiri di hadapanku, pria tampan rupawan. Tubuhnya tinggi dengan wajah seperti orang timur tengah. Dia mempunyai brewok di sisi wajahnya. Terlebih kedua bola matanya berwarna hijau kebiru-biruan.
Apakah ... aku berada di taman surga?
Aku tidak menyangka akan melihat pria setampan ini. Dia mengenakan sweter lengan panjangnya yang berwarna krim dan juga celana panjang putihnya. Aku jadi tersenyum-senyum sendiri melihatnya. Rasanya ingin kusentuh wajahnya yang rupawan.
Dia tampan sekali, Tuhan ....
Tanpa kusadari aku terpukau dengan pria di hadapanku. Namun, tiba-tiba aku tersadar saat melihat ke arah keningku.
"Pi-pi-pistol?!" Aku terbata, takut, terkejut melihat pistol di depan kepalaku.
"Siapa kau?!!" tanyanya dengan suara lantang.
"Ak-ak-aku ...."
Sebenarnya aku ingin bicara. Tapi karena melihat pistol di depan mata, aku jadi takut bukan kepalang. Serasa tidak dapat berpikir.
"Cepat katakan! Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk ke apartemenku?!" tanyanya lagi.
__ADS_1
Apartemen?
Aku jadi bingung. Aku pikir ini di dalam rumah, tapi ternyata bukan. Aku baru tahu jika dalam apartemen itu seperti rumah.
"Ak-aku ... namaku Ara. Ak-aku tidak tahu kenapa bisa sampai ke sini. Tiba-tiba a-aku sudah di sini," kataku terbata.
"Jangan berbohong! Atau kau ingin aku menembakmu?!" Seketika badanku gemetar mendengar kata-katanya.
Aduh, bagaimana ini? Aku sudah menjawab dengan jujur, tapi dia masih juga tidak percaya.
Pria rupawan ini ternyata galak sekali. Aku sudah jujur tapi dia malah bilang berbohong. Mana pakai mengancam segala lagi.
Aku harus menyebutnya dengan sebutan apa ya? Om? Paman? Saudara? Sejenak aku berpikir. Tidak-tidak. Aku panggil saja dia Tuan. Sepertinya dia bukan orang sembarangan.
Kutarik napas dalam-dalam untuk menormalkan detak jantungku yang melaju kencang. "Tu-tuan ... saya benar-benar tidak tahu mengapa bisa sampai ke sini. Sungguh." Aku meyakinkannya.
Pistol itu masih ditodongkannya ke arahku, namun dia diam. Mungkin sedang menelaah kebenaran kata-kataku ini.
"Semua pintu dan jendela sudah kututup. Jika kau datang dari atap juga tidak mungkin. Apartemen ini berada di lantai lima puluh. Satu-satunya jalan ...," Ucapannya terhenti sejenak.
Dia bilang apa? Dia bilang ini di lantai lima puluh? Astaga! Untung saja aku terjatuh di sini, bukan di bawah!
"Berbalik dan merapat ke tembok!" pintanya dengan pistol.
"Berbalik dan merapat ke tembok!!!" Dia mengulanginya lagi.
Sebenarnya aku bukan tidak mendengarnya, hanya saja aku takut saat berbalik dia malah menembakku. Tapi bagaimana, semua sudah terjadi. Mau tak mau aku harus menurut padanya. Ya sudahlah, ini risikoku.
Dia pikir aku cicak apa ya, disuruh merapat ke tembok?
Aku berjalan membelakanginya lalu menuju tembok terdekat ruangan. Sepertinya aku sedang berada di ruang tengah apartemen. Entahlah, aku belum tahu pasti, baru juga sampai.
"Angkat kedua tanganmu ke atas!" Dia meminta kembali.
"Tu-tuan, Anda mau apa? Ja-jangan sakiti aku, Tuan." Badanku gemetar saat dia memintaku mengangkat kedua tangan ke atas.
"Aku akan memastikan jika kau bukanlah orang suruhan CIA," katanya lagi.
CIA? Apa itu? Aku tahunya cie-cie bukan CIA.
__ADS_1
Aku terpaksa menuruti apa katanya, merapat ke tembok dengan kedua tangan diangkat ke atas. Dan kulihat tangannya seperti ingin memegangku dari belakang.
"Tu-tuan, jangan! Aaaa!" Aku berteriak, merasa geli melihat tangannya ingin menyentuhku.
"Hei, kau ini berisik sekali. Belum juga aku menyentuhmu!" Dia menggerutu.
"Tu-tuan, sungguh. Aku bukan orang jahat, aku hanya pencari kerja. Aku tidak ada maksud buruk padamu. Aku juga tidak tahu mengapa bisa sampai ke sini."
Semakin lama aku semakin ingin menangis. Aku kesal karena dia tidak percaya padaku. Dan tanpa kusadari, aku menangis terisak sendiri. Kulihat kedua tangannya juga tidak jadi memegangku. Entah apa yang terjadi padanya, tapi sepertinya dia tersentuh karena tangisanku ini.
"Astaga, kenapa malah menangis?" Dia berbicara dari belakang.
"Tuan, aku menangis karena takut ditembak olehmu. Aku juga menangis karena kau tidak percaya kata-kataku. Padahal aku sudah jujur sejujur-jujurnya, tapi kau masih juga tidak percaya."
Tangisanku semakin lama semakin kencang. Dia kemudian meraih kedua tanganku lalu membalikkan tubuhku, menghadapnya. Sedang kedua tanganku dipeganginya di belakang. Dan kini ... kami saling berpandangan.
Dia ....
Kedua tanganku masih dipeganginya, mungkin berjaga-jaga jika aku berbuat sesuatu. Tapi, dadaku dan dadanya dekat sekali. Dia juga menatap kedua mataku, melihat pergerakan bola mata ini.
Apa dia ingin menghipnotisku?
Entah apa maksudnya, dia terus saja melihat pergerakan bola mataku. Seketika air mataku terhenti saat mendapat sorot dari mata indahnya. Detik demi detik pun berlalu, hingga akhirnya dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
Apa yang akan dia lakukan?!
Seketika rasa sedih berubah menjadi cemas karena wajahnya semakin lama semakin mendekat. Rasa-rasanya dia akan menciumku. Ya, apalagi jika bukan itu. Tapi, apakah harus secepat ini? Kami baru saja bertemu.
"Tu-tuan, to-tolong hentikan," pintaku sambil menjauhkan wajah darinya.
Semakin lama wajah kami semakin berdekatan. Dan karena kedua tanganku tertahan di belakang olehnya, aku jadi tidak bisa bergerak. Aku juga tidak dapat menghindar lagi dari wajahnya.
Aduh ... aduh, bagaimana ini? Dia benar-benar ingin menciumku.
Tidak tahu apa yang harus kulakukan, kupejamkan saja kedua mata ini. Semakin lama aku bisa merasakan hangat napasnya. Lalu akhirnya ... perutku berbunyi. Seketika dia terperanjat mendengar bunyi perutku ini.
"Kau!" Dia segera melepas pegangannya pada kedua tanganku.
Pria tampan ini menjauh dariku, dia pergi menuju dispenser air minum yang berada di dekat meja makan. Dia meneguk segelas air setelah kejadian tadi. Entah kenapa, mungkin saja dia kehausan.
__ADS_1
"Tuan?" Aku mencoba menyapanya.
Gelas air minum itu diletakkannya ke atas meja. Dia lalu beralih kepadaku sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Entah apa yang akan dia lakukan, tapi sepertinya menyiratkan sesuatu tak enak untukku.