Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Come On, Baby!


__ADS_3

Sepulang makan malam...


Ara dan Rain duduk di teras kamar sambil memandangi rembulan yang bersinar dengan terang. Rain pun melepas jubahnya lalu dipakaikan ke Ara. Ia ingin menghangatkan tubuh istrinya.


Malam ini udara terasa dingin, namun sayang jika melewatkan pemandangan bulan purnama. Keduanya pun bercengkrama selepas makan malam di istana. Tampak Ara yang duduk seraya menekuk kedua lututnya, sedang Rain duduk santai sambil meluruskan kedua kakinya.


"Pangeran meminta kita untuk membantu pesta pernikahannya. Kita akan bertambah lama lagi di sini." Ara menuturkan kesimpulan yang ia dapat dari makan malam di istana.


"Ya. Aku rasa jika beberapa hari lagi tidak masalah Sayang. Lagipula portal juga belum ada tanda-tanda akan terbuka." Rain menopang tubuh dengan kedua tangannya di belakang.


Ara mengernyitkan dahinya. "Ini aneh. Apakah masih ada urusan yang harus kita selesaikan sebelum kembali ke bumi?" Ia bertanya-tanya sendiri.


Rain menoleh ke Ara, memegang tangan istrinya. "Kemari, Sayang." Ia meminta Ara merebahkan kepala di bahunya. "Sudah jangan dipikirkan, ya. Jalani saja. Banyak pikiran tidak baik untuk kesehatan ibu hamil." Rain mencolek hidung istrinya.


Ara mengangguk. Tetapi tetap saja ia merasa penasaran karena portal belum juga terbuka. Ia menyimpan seribu tanya di dalam hatinya.


"Kulihat kau dan Lily tidak bertegur sapa tadi. Apakah terjadi sesuatu di antara kalian?" tanya Rain ingin tahu.


Ara segera tersadar jika sedari mulai makan malam ia hanya diam. "Iya. Aku sedang tidak ingin banyak bicara. Lagipula saat di telaga, kami sudah sempat bertutur sapa." Ara menceritakan.


"Oh, begitu. Aku pikir kalian sedang bersitegang." Rain ternyata salah sangka.


"Tidak, Sayang. Kami baik-baik saja. Mungkin karena aku yang terlalu mengkhawatirkan kandungan ini, jadinya seperti itu." Ara mengusap perutnya.


Rain mencium kening istrinya. "Sudah, tenang ya. Kepanikan itu tidak akan menyelesaikan masalah. Malah akan menambah masalah. Apa kau mau anak kita panikan seperti dirimu?" Rain mengajak Ara berpikir tenang.


Ara menggelengkan kepalanya.


"Nah, jadi tak perlu dirisaukan lagi. Ada aku di sini." Rain mengecup tangan istrinya.

__ADS_1


Ara mengangguk. Ia semakin merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami. Rain pun mengusap-usap pelan lengan istrinya.


"Sayang."


"Ya?"


"Memangnya apa yang terjadi setelah proses pengobatan itu?" Rain tiba-tiba menanyakannya.


Ara mendongakkan kepala, melihat Rain. "Aku juga kurang tahu pastinya. Tapi aku merasa dia seperti dirasuki sesuatu." Ara mengingat kembali kejadian di telaga siang tadi.


"Maksudmu?" tanya Rain serius. Ia memperhatikan istrinya.


"Lily waktu itu terbelalak saat dia tersadarkan. Dia menatap tajam ke arahku, seperti marah karena telah dibangunkan. Dan saat melihatku, tatapan matanya mulai meredup, entah kenapa. Lalu tiba-tiba saja dia tidak sadarkan diri kembali." Ara menuturkan.


Rain mengangguk, mengerti.


"Apakah penyakitnya bisa kambuh lagi?" Rain ingin memastikan.


Ara menggelengkan kepala. "Entahlah. Tapi aku rasa putri itu telah berbuat sesuatu kepadanya. Jika dihitung oleh waktu, diperkirakan Lily berada di ruang bawah tanah sekitar satu setengah bulan lamanya. Bagaimana bisa dia bertahan tanpa makan dan minum selama itu? Atau jangan-jangan Lily juga mempunyai kekuatan sehingga mampu bertahan di dalam kurungan selama hampir dua bulan lamanya?" Ara mengajak Rain berpikir.


Rain merenungi hal ini. "Secara logika satu setengah bulan bukanlah waktu yang sebentar untuk bertahan tidak makan dan tidak minum. Apalagi di ruang itu tidak ada alas sama sekali. Pastinya amat sangat dingin. Dan manusia tidak akan mampu bertahan dari dingin tanpa makan dan minum berbulan-bulan lamanya. Mungkin saja ada sesuatu tentangnya yang bisa kita cari tahu." Rain mulai penasaran.


"Tapi, Sayang. Kita tidak mungkin menanyakan langsung hal ini kepada Lily. Bukankah pangeran mengatakan jika dia lupa ingatan? Dia pasti tidak ingat asal muasal dirinya. Atau mungkin ...," Ara berhenti sejenak.


"Atau mungkin?" Rain antusias menanti kelanjutan ucapan istrinya.


"Atau mungkin sebenarnya dia mempunyai hubungan dengan putri itu?" Ara berpikir keras mengenai hal ini.


"Hahahaha." Rain menarik istrinya. Ia lalu mendudukkan Ara di atas pangkuannya. "Sayangku, kau ini sungguh kritis. Aku tidak tahu bagaimana anak kita nantinya. Apakah akan sekritis ibunya? Aku saja tidak terlalu memedulikannya, hanya sebatas penasaran. Tapi sepertinya, istriku ini amat ingin tahu." Rain mencubit kedua pipi Ara.

__ADS_1


"Ih! Sakit!" Ara pun menepiskan tangan Rain yang mencubit pipinya.


Rain tersenyum. Ia pandangi wajah istrinya yang hanya berjarak beberapa jengkal saja. Tatapan matanya menyiratkan cinta, sepenuh hati dari relung yang terdalam. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke Ara. Ara pun segera menyadari apa yang akan dilakukan suaminya.


"Ssstt." Seketika Ara menahannya. "Nanti ada yang bangun." Ara memperingatkan.


Rain yang hampir mencium istrinya itu segera membuka matanya. "Kenapa memang?" Ia berbicara dengan jarak yang amat dekat dengan wajah Ara.


"Besok kita akan membantu pangeran menyiapkan resepsi pernikahan. Pastinya akan lelah sekali. Jadi lebih baik kita mengumpulkan tenaga malam ini." Ara ingin mengumpulkan stamina.


"Banyak alasan." Rain pun segera berdiri lalu menggendong istrinya masuk ke dalam kamar.


"Sayang?!" Ara bak anak kecil yang bergelayut manja di tubuh Rain.


Rain menutup pintu dan jendela kamarnya sambil terus menggendong istrinya. Ia kemudian merebahkan Ara ke atas kasur. Ara pun segera menyadari apa yang akan dilakukan suaminya.


"Aku ingin menjenguk yang di dalam. Jangan dicegah ya." Rain meminta izin.


"Sayang ...." Ara pun seperti terhipnotis oleh Rain.


Rain merendahkan tubuhnya hingga wajah keduanya amat berdekatan. Ia kemudian memegang kedua tangan Ara, lalu mulai mencium bibir ranum yang terpoles lipstik merah muda. Sambil terus berpegangan tangan, ia menciumi bibir istrinya.


Miliki aku malam ini, Istriku ....


Cumbuan Rain akhirnya mampu membangkitkan gelora di tubuh Ara. Perlahan-lahan keduanya terhanyut dalam cumbuan yang begitu lembut. Pertukaran saliva pun tak lagi bisa terelakkan. Hingga akhirnya Ara seperti kekurangan udara. Ia berhenti sejenak sambil memalingkan pandangan dari suaminya. Saat itu juga bibir tipis Rain mulai merayap, bergerilya di sepanjang lehernya. Tak ayal Ara pun tak berdaya di hadapan sang suami tercinta.


Lagi dan lagi keduanya memadu kasih. Tidak ada yang dapat menghalangi keduanya untuk menyalurkan gejolak hasrat di dada. Setelah kata sah didapatkan, baik Rain maupun Ara menikmati malam-malam mereka dengan penuh suka cita. Cinta mereka direstui semesta hingga akhirnya bisa selalu bersama.


Lain yang dilakukan Rain dan Ara, lain pula yang terjadi pada Lily dan Pangeran Agartha. Keduanya tampak sedang duduk di gazebo depan istana sambil menikmati sinar bulan purnama. Teh persik pun menemani keduanya. Pangeran Agartha terlihat seringkali mencuri pandang saat Lily tidak melihatnya. Ia seperti masih malu-malu untuk berdekatan dengan Lily. Sedang Lily tampak menyadari sikap pria yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2