
Rose menoleh. Saat itu juga ia terkejut melihat siapa yang datang. "Dosen Lee?!" Ia tidak menyangka jika akan melihat dosen idolanya menghampiri.
"Apa kabarmu, Rose? Lama sudah kita tidak bertemu." Lee berbasa-basi.
Seketika Rose menyadari maksud kedatangan Lee. "Apakah ayah yang meminta Dosen Lee untuk mencariku?" tanya Rose kepada Lee.
Lee tersenyum. Senyuman manis yang membuat suasana hati Rose menjadi lebih baik. "Boleh aku duduk di sini?" Lee meminta izin untuk duduk di samping Rose.
Rose mengangguk. Ia kemudian membuang es krim di tangannya. Kedatangan Lee tentu saja membuat hatinya senang. Bagaimana tidak, Lee adalah pria yang berhasil menarik perhatiannya.
Beberapa menit kemudian, Palm Jumeirah pukul lima sore...
Angin pantai berembus dengan kencang, menyapu helaian rambut dara cantik yang sedang duduk manis di samping pria berkemeja hitam. Keduanya belum membuka percakapan karena masih ingin menikmati pemandangan matahari yang tak lama lagi akan tenggelam. Deru ombak yang berkejaran seolah menjadi saksi kebisuan di antara mereka. Lee yang masih diam dan Rose yang malu-malu. Hingga akhirnya dosen fakultas teknik itu memutuskan untuk membuka percakapannya.
"Ayahmu datang menemuiku beberapa hari yang lalu. Aku pikir telah melakukan kesalahan besar selama pengajaran di kampus." Lee memulai pembicaraan.
Rose terdiam. Ia berusaha mendengarkan perkataan Lee dengan baik.
"Kenapa memutuskan untuk pergi di saat situasi sedang tidak bersahabat? Bukankah masalah yang membuat kita bertambah dewasa?" tanya Lee lagi.
Sontak Rose tersentak. Ia merasa kata-kata itu seperti menghentak jantungnya. Ia mulai mengerti mengapa Lee sampai menemuinya di sini.
"Maaf merepotkanmu, Dosen Lee." Rose sadar diri.
Lee tersenyum. Pria berkemeja hitam yang digulung sampai ke siku itu berusaha bijak menghadapi situasi. "Dari awal aku tidak tertarik untuk memacari mahasiswiku sendiri. Mengapa kalian sampai bertengkar hanya karenaku?" tanya Lee kepada Rose yang tertunduk di sampingnya.
Rose diam, ia tidak menjawab.
"Inginnya aku mau langsung menikah saja jika sudah menemukan yang pas. Aku tidak ingin berlama-lama menggantung hubungan dengan yang namanya pacaran. Apakah kalian rela melepas masa muda hanya untuk menikah denganku?" tanya Lee lagi.
__ADS_1
"Dosen Lee?!"
Rose tersentak hebat. Ia menyadari pemikiran Lee tidaklah sempit. Ia juga tidak mungkin melepas masa lajangnya hanya untuk menikah dengan Lee. Masa depannya masihlah sangat panjang. Terlebih Rose adalah anak satu-satunya yang akan mewarisi seluruh harta kekayaan ayahnya. Tidak semudah itu bagi dirinya untuk menikah.
"Mungkin aku yang salah, Dosen Lee." Rose akhirnya mengakui.
Lee tersenyum. Jarak duduk keduanya hanya sekitar satu meter saja, sehingga membuat angin pantai berembus sesuka hati melewati mereka. Namun, Rose tampak tidak menggubris rambutnya yang mulai acak-acakan terkena angin. Ia membiarkannya.
"Jasmine masuk rumah sakit. Dia ternyata menderita leukimia stadium satu. Tak inginkah kau menjenguknya?" tanya Lee lagi kepada Rose.
"Apa?!" Seketika Rose terkejut mendengarnya.
"Ya. Beberapa hari yang lalu aku mendatangi dosen pendampingnya. Dan ternyata Jasmine sudah beberapa hari tidak masuk kampus. Saat kutanya pihak kesiswaan, ternyata dia sedang dirawat di rumah sakit." Lee menuturkan.
Entah mengapa Rose merasa sedih mendengar kabar ini. Ia merasa menyesal karena telah menampar Jasmine waktu itu. Ia merasa bersalah dengan perbuatannya dulu.
“Rose, apa yang kau lakukan pada Jasmine?!”
“Dosen Lee, kenapa Anda jalan bersamanya?” Rose malah balik bertanya.
Tatapan Rose menyiratkan kecemburuan dan ketidakterimaan besar dari hatinya. Tapi Lee bersikap biasa-biasa saja kepada keduanya.
“Jasmine memintaku untuk menemaninya mencari buku. Lagipula ada apa dan kenapa? Kau seperti marah karena kekasihmu direbut saja. Apakah ada kekeliruan di antara kita?” Lee merasa heran sekali.
Rose terdiam, ia menatap tajam ke arah Jasmine. “Teman yang paling kupercaya telah merebut orang yang kusukai. Dia benar-benar tidak tahu diri.” Rose terlihat amat kesal.
“Orang yang kau sukai?” Lee terheran. “Tunggu. Sepertinya telah terjadi kesalahpahaman di antara kita.” Lee akhirnya mengerti.
.........
__ADS_1
"Aku tidak tahu jika dia mempunyai penyakit seperti itu." Rose benar-benar tidak tahu. Ia tertunduk sedih.
Lee menghirup dalam-dalam udara pantai di sore ini. "Dia takut sendirian. Dia pikir dengan mempunyai pasangan akan membuatnya bahagia. Tapi ternyata aku tidak bisa memenuhi permintaannya. Seperti yang kubilang tadi, apa alasannya. Dan aku berharap kalian bisa mengerti," tutur Lee lagi.
Rose mengangguk. Sepertinya kali ini ucapan Lee dapat menyentuh hatinya. Lee pun harus mengatakan hal sejujurnya agar kedua gadis itu tidak bertengkar lagi karenanya. Lee tidak ingin main-main. Jika serius dan cocok, ia akan segera mengajak menikah. Baginya pacaran hanyalah membuang-buang waktu saja.
"Di mana Jasmine dirawat, Dosen Lee?" Rose kemudian bertanya. Ia ingin menemui Jasmine secepatnya.
"Kita bisa pergi bersama ke sana. Kau tidak keberatan?" tanya Lee lagi.
Rose menggelengkan kepala.
"Baiklah. Mari." Lee pun berdiri. Ia mengajak Rose menemui Jasmine di rumah sakit.
Ternyata Rose bisa dengan mudah menerima perkataan Lee kali ini. Pembicaraan empat mata mengundang simpatik dari lubuk hati Rose yang terdalam. Ia menyadari hal apa yang sebenarnya membuat Lee tidak bisa membuka hatinya untuk sembarang gadis. Karena nyatanya Lee ingin segera menikah.
Selama ini aku telah berbuat kasar padanya. Aku tidak tahu jika dia menderita penyakit seperti itu. Aku menyesal. Maafkan aku Jasmine.
Akhirnya Rose pun mengakui kesalahannya. Ia kemudian menyetujui untuk pergi bersama Lee ke rumah sakit, tempat di mana Jasmine dirawat. Rose berusaha lapang dada menerima kisah hidupnya. Ia juga menyadari jika sesuatu yang diinginkan tidak semuanya bisa didapatkan. Apalagi mengenai sebuah hubungan.
Satu jam kemudian...
Lee bersama Rose akhirnya tiba di sebuah rumah sakit ternama di ibu kota. Keduanya berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit. Hingga akhirnya sampai di depan sebuah ruangan eksklusif. Lee pun segera mengetuk pintu lalu membukakannya. Ia mempersilakan Rose untuk masuk terlebih dahulu.
Rose mengerti. Ia kemudian masuk dan mencari di mana keberadaan sahabatnya. Dan ternyata memang benar. Ia melihat seorang gadis tengah terbaring lemah di atas sana, di atas kasur rumah sakit. Namun, gadis itu tidak sendiri, melainkan ditemani ibunya.
"Rose?" Ibu Jasmine pun melihat teman anaknya datang.
Rose merasa bersalah. Hatinya teriris melihat Jasmine terbaring lemah. Selang udara dan infus itu masih terhubung di tubuh temannya. Ingatan akan sikap buruknya ke Jasmine pun terbayang kembali. Tanpa sadar bulir-bulir kristal bening itu keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
"Tante, maafkan aku." Rose memeluk ibu Jasmine.
Ibu Jasmine membalas pelukan Rose. Wanita berdres putih itu tampak masih muda. Usianya baru menginjak empat puluh lima tahun beberapa hari yang lalu. Ia merayakan ulang tahunnya bersama Jasmine. Namun, entah mengapa di hari ulang tahunnya, ia harus melihat hal tak terduga. Jasmine jatuh pingsan di depannya.