Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
You Still The One


__ADS_3

*) Sudut Pandang Pertama


...


Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.


Kugantungkan hidupku di tanganmu.


Orang bilang aku ini gila dan aku buta.


Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.


Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.


Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.


Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.


Selama kau masih di sini bersamaku.


Aku tak peduli siapa dirimu.


Darimana asalmu.


Apa yang sudah kau lakukan.


Selama kau mencintaiku...


...


Awan-awan putih berarak di angkasa, menghiasi langit di hari menjelang siang ini. Menambah kesyahduan hatiku yang sedang berbunga-bunga karena sikapnya. Sikap seorang pria yang kucintai.

__ADS_1


Teringat jelas bagaimana pertemuan pertama kami yang disertai drama ketakutan akan hantu. Dini hari aku kesasar dimana dia begitu kaget akan kedatanganku. Masih teringat jelas bagaimana roman wajahnya saat itu. Dia juga menodongkan pistolnya ke arahku.


Untung saja dia tidak gegabah kemarin. Jika sampai terjadi, maka aku tidak bisa meneruskan cerita ini. Cerita tentang seorang pangeran tampan yang jatuh cinta kepada gadis biasa nan miskin. Dan gadis itu adalah aku.


Sejak pertama bertemu aku memang sudah menyukainya. Ditambah lagi kejadian tak terduga yang kami alami, membuat rasa suka itu menjadi cinta. Dan kini aku benar-benar menyayanginya, seolah tidak ada lagi pria di hatiku.


Jujur saja sebelumnya aku memang berkhayal seperti ini. Walaupun hanya sebatas khayalan, setidaknya bisa memuaskan hasrat fantasi akan seorang pria tampan yang setia menemani. Dan kini keberuntungan besar kudapatkan setelah berulang kali bermain di alam bawah sadar. Mimpiku menjadi kenyataan dan aku sangat mensyukurinya.


Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan aku percaya hal itu. Tidak ada manusia yang sempurna lahir-batin terkecuali manusia terpilih. Tapi, di pandangan mataku dia begitu sempurna dan tidak ada duanya. Mungkin karena rasa di hati ini yang membutakan segalanya.


Kami hanyalah manusia biasa. Terkadang khilaf dan juga lupa. Tapi aku percaya apapun yang kami lakukan, dia akan mempertanggungjawabkannya. Terbukti kemarin dia melamarku besar-besaran. Atau paling tidak, dia menyatakan ingin menikahiku secepatnya.


Namanya Rain Sky yang berarti hujan langit. Dia memang seperti hujan yang menyuburkan tanah yang gersang. Segersang hatiku karena kekurangan kasih sayang. Tapi semenjak bersamanya, semuanya jadi berubah. Kehidupanku menjadi lebih ceria, dan bahkan bahagia.


Kini hanya tinggal hitungan hari kami akan menikah. Dan aku harap pernikahan ini tidak lagi tertunda. Aku sudah tidak sabar ingin menimang bayi kami. Entah bagaimana rupanya, aku ingin sekali melihat kedua mata bayiku yang lucu. Aku yakin secepatnya akan memiliki bayi, karena priaku begitu bernafsu.


Hahaha. Terkadang aku ingin tertawa saja jika mengingat dirinya yang sudah tidak dapat menahan hasratnya. Dia gupek bukan main, tidak bisa tidak. Harus melakukannya di tempat itu juga. Tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya. Ya, paling-paling jika sudah dia lekas meminta maaf padaku. Dia bilang tidak bisa mengontrol diri saat di dekatku.


Aku memaklumi mengapa dia seperti itu. Mendengar dari cerita kehidupannya yang dulu amat bebas dan tidak terbatas. Jadi wajar saja jika dia kini begitu menggebu-gebu. Dia sudah menahannya lama sekali. Katanya sih aku yang pertama dan kuharap hal itu memang benar adanya.


Selepas dari lantai teratas Burj Khalifa, kami lekas pergi ke sebuah tempat yang menangani acara pernikahan, sejenis wedding organizer. Dan kini kami sudah sampai. Kedatangan kami pun disambut pelayan yang bertugas. Dia segera menemaniku memilih gaun pengantin.


"Nona menyukai gaun seperti apa?" tanyanya, saat aku melihat gaun pengantin yang dipajang.


Di sini banyak sekali gaun pengantin. Semuanya bagus-bagus dan juga terlihat mewah. Pastinya satu gaun pengantin ini sangat mahal harganya. Apalagi jika disertai aksesoris mutiara asli. Habis sudah isi kantong.


"Em, aku ingin gaun yang biasa saja tapi cantik," jawabku.


Kulihat gaun di depanku berwarna putih dan tidak terlalu banyak perhiasan pernak-perniknya. Gaun yang cantik, namun sayang bagian bahunya terbuka sehingga dadaku bisa terlihat nantinya. Aku khawatir kami tidak jadi menikah, malah masuk ke kamar secepatnya. Tahu sendiri bagaimana priaku itu.


"Nona ingin warna apa?" tanya pelayan lagi.

__ADS_1


"Warna putih saja sepertinya. Apa semua gaun berpasangan?" tanyaku balik.


"Jika waktunya masih lama, kami bisa membuatkan sesuai keinginan Nona. Tapi jika mepet, kami hanya bisa menyediakan yang ada. Silakan Nona lihat-lihat dulu. Saya ambilkan yang masih tersimpan."


Pelayan berpamitan padaku. Dia ingin mengambilkan gaun yang lain. Tapi sebenarnya hal itu tidak perlu dia lakukan. Gaun yang dipajang sudah begitu banyak. Mungkin ada sekitar sepuluh gaun pengantin dengan model yang berbeda-beda.


"Sore saja. Aku masih ada urusan. Nanti kita langsung berangkat." Tiba-tiba kudengar suara priaku mendekat.


"Ya, ya. Atur saja. Aku sebenarnya ingin mengajak Ara dan menikah di sana. Tapi dia tidak mau." Priaku berkata seperti itu di telepon.


Eh? Kenapa dia malah berkata seperti itu?


Aku segera mencari di mana gerangan dirinya berada. Dan ternyata dia ada di balik jas pengantin pria. Dia sedang menelepon seseorang yang pastinya saudaranya. Siapa lagi kalau bukan Byrne atau Owdie yang diteleponnya.


"Kata Jack hari Jumat paling baik untuk melangsungkan pernikahan. Maka dari itu aku ingin besok. Tapi si tua bangka itu malah menyuruhku berangkat ke Turki." Priaku menggerutu.


Aku terdiam sejenak, memikirkan perasaan priaku yang seperti amat kesal kepada kakeknya. Aku jadi penasaran, sebenarnya ada apa? Mengapa priaku sampai begitu kesal? Tidak mungkin jika hanya sekali kejadian langsung membuatnya sekesal ini. Priaku bukanlah tipikal pendendam. Apalagi dia bilang jika kakeknya lah yang telah membiayai hidupnya selama ini.


"Oke. Sampai nanti." Dia akhirnya menutup teleponnya.


Aku lekas mendekati. "Sayang, ada apa?" Aku khawatir padanya.


"Tidak apa, Ara. Aku sudah dikirim pesan oleh kakek untuk berangkat siang ini juga. Katanya ada pertemuan makan malam di Turki." Priaku menceritakan.


"Lalu?" Aku prihatin.


"Sebenarnya aku ingin menikahimu besok. Tapi waktunya tidak memungkinkan. Sedang kata Jack hari pernikahan terbaik adalah hari Jumat. Dan aku ingin menikah di Jumat pagi."


Kulihat raut kesungguhan dari wajahnya. Aku jadi tidak enak hati sendiri. Lantas aku segera mengambil keputusan dengan cepat.


"Ya, sudah. Jika itu maumu. Kita menikah saja besok pagi," kataku.

__ADS_1


Seketika kulihat dia terkejut. "Kau yakin, Ara? Tapi kita tidak bisa berbulan madu dengan segera. Aku masih ada urusan di Turki. Jalan satu-satunya Jumat depan." Dia menuturkan kembali.


Lantas aku berpikir. Jika pernikahan diselenggarakan terburu-buru, nanti malah hasilnya kurang baik. Jadi aku menimbang ulang untuk menikah besok.


__ADS_2