
Tugas Lee kini bisa dikatakan sudah selesai. Ia telah menyatukan kembali dua sahabat yang sempat bertengkar. Selama perjalanan ke rumah sakit pun, ia meminta Rose agar kembali ke kampus. Lee membujuk Rose agar kuliah kembali. Rose pun akhirnya mengiyakan perkataan Lee setelah ia mencernanya baik-baik. Pria itu berhasil membuka cakrawala Rose dengan tutur kata yang lugas dan logis. Alhasil tinggal menunggu waktunya saja, baik Rose maupun Jasmine akan kembali ke kampus, mengais ilmu kembali.
Mungkin setelah ini lebih baik aku mengajukan pertukaran dosen saja. Aku tidak ingin kejadian ini terulang kembali.
Di sisi lain Lee menginginkan sesuatu setelah tugasnya selesai. Ia ingin mengajar di universitas lain untuk menghindari pertengkaran ini terulang kembali. Pria berkemeja hitam itu menatap kekejauhan. Entah bagaimana ke depannya, ia akan mengajukannya terlebih dulu. Lee juga ingin mencari suasana baru di kampus lain. Entah di mana, ia berharap tidak salah langkah dalam mengambil keputusan.
Gedung Putih, Washington DC...
Di sebuah ruangan tertutup, beberapa petinggi negara adidaya berkumpul melingkari meja bundar. Yang mana meja itu berisi peta dunia saat ini. Meja berlapis kaca tebal yang diterangi lampu berdaya tinggi. Namun, keadaan sekitar tampak gelap sehingga hanya area sekitar meja saja yang terang.
Para pejabat tinggi itu menggunakan papan nama berinisial huruf di dadanya. Mereka menggunakan inisial huruf sebagai kata sebut saat berada di ruangan rapat. Ada Tuan A, B, C, D dan seterusnya. Hingga akhirnya sang pemegang tahta organisasi, Sam juga ikut duduk di tengah-tengah mereka. Ia menggunakan kata sebut dengan huruf S.
"Semua sudah hadir?" Seorang pria berinisial A melihat keadaan sekeliling rapat.
"Sudah, Tuan. Mari kita mulai rapat kali ini." Pria B mengatakan.
Lampu yang berada di atas meja pun dimatikan. Proyektor kemudian memperlihatkan diagram perekonomian dunia selama beberapa tahun terakhir. Mereka melihat bersama diagram itu dan memperhatikannya. Tak lama pria berjas hitam berinisial A berdiri di tengah-tengah mereka. Ia berjalan ke dekat dinding, tempat proyektor memperlihatkan diagram. Ia juga menggunakan pena laser berlapis emas untuk menunjuk diagram tersebut.
"Pergerakan dunia semakin bisa kita kuasai. Tapi, sebelumnya kita harus membuat banyak pangkalan militer untuk berjaga-jaga. Tentunya pasokan bahan bakar harus lebih dari cukup. Setelah itu barulah mencicil yang lainnya." Pria A menuturkan.
"USA tidak ingin ambil pusing mengenai bahan bakar, Tuan. Produksi dalam negeri tidak sesuai dengan yang ditargetkan. Mau tidak mau kita mengambil dari Timur Tengah. Tapi masalahnya, mereka satu per satu memutuskan kerja samanya." Pria B menuturkan.
"Benar begitu Tuan S?" tanya Pria A kepada Sam.
__ADS_1
Sam mengangguk. "Kecelakaan terjadi di kapal pengeboran minyak milik kami kemarin. Cucuku yang bekerja di sana juga belum ditemukan sampai sekarang. Sedang hanya dialah yang mahir dalam menentukan ladang minyak di sana. Untuk sementara kita tidak bisa berbuat banyak. Mungkin ada baiknya jika bekerja sama dengan pihak Rusia untuk memenuhi kebutuhan pasokan minyak." Sam mengungkapkan.
"Tidak. Itu tidak mungkin, Tuan S. Kita tidak bisa bekerja sama dengan mereka. Ada seseorang yang sangat berpengaruh di sana yang tidak bisa ditumbangkan dengan politik apapun. Terkecuali kita berani membayar mahal untuk bekerja sama dengan mereka. Mungkin dia bisa saja goyah." Pria berinisial D mengungkapkan pendapat.
"Kita harus cepat menata dunia ini kembali sebelum nubuwat itu terjadi. Jangan sampai terlambat. Karena jika terlambat, kita semua akan mati. Sampai detik ini sudah 50% bidang kehidupan berhasil kita kuasai. Tinggal setengahnya lagi. Kita harus mencari cara untuk mempercepat waktunya." Pria A kembali menuturkan.
"Karpet hijau telah dihamparkan di Yerusalem, Tuan. Aku rasa politik adu domba masih bisa digunakan untuk memiliki sebuah ladang minyak yang baru," timpal pria berinisial F.
Pria A terdiam di dekat layar proyeksi.
"Kita bisa menerapkan kembali operasi Black Angel di sana. Seperti yang dulu pernah kita lakukan. Bukankah begitu Tuan K?" Pria F menyinggung pria yang duduk di seberangnya.
Pria K tampak acuh tak acuh dengan ucapan Pria F. "Sudah banyak yang menjadi korban atas operasi Black Angel. Aku rasa tidak akan bisa tidur dengan tenang jika didatangi jutaan orang yang mati," terang Pria K.
"Jangan lupa 80% media telah kita kuasai. Mungkin kita bisa menyibukkan penduduk dunia dengan berita-berita yang tak penting. Sementara itu kita lancarkan kembali operasi Black Angel di Timur Tengah. Menurutku ini satu-satunya cara untuk mendapatkan pasokan minyak yang banyak." Pria H ikut bicara.
Pria A mengangguk. "Baiklah. Kita bisa menggunakan cara itu untuk mengalihkan perhatian dunia dari politik yang kita mainkan. Kita akan mengelompokkannya." Pria A mengambil keputusan.
"Bagaimana caranya Tuan?" Pria J bertanya.
Pria A mengganti slide proyeksinya. "Kita hancurkan kaum wanita terlebih dulu." Pria itu menuturkan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.
"Anda yakin, Tuan?" Pria F terbelalak kaget.
__ADS_1
"Ya. Untuk menghancurkan suatu negeri, maka yang pertama-tama harus kita lakukan adalah menghancurkan kaum perempuannya terlebih dulu. Terutama kaum ibu yang menjadi inti dari sebuah peradaban. Jika mereka rusak, maka akan dengan mudah merusak yang lainnya." Sebuah cara licik ditemukan pemimpin rapat.
"Apa yang harus kita lakukan terhadap mereka, Tuan A?" tanya Pria B.
Pria A tersenyum picik. "Buat mereka melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Buat mereka sibuk dan ketergantungan dengan media sosial, sehingga sampai lupa untuk mendidik anak-anaknya. Jika kita berhasil melakukan itu, negara manapun bisa dengan mudah kita kuasai. Karena peran seorang ibu adalah pusat dari peradaban. Baik-buruknya anak manusia berada di tangan ibunya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?" Pria A menuturkan.
Seketika para pejabat tinggi itu mengangguk, membenarkan.
"Kita kendalikan media massa dan juga panggung hiburan. Viralkan hal-hal yang tidak penting agar mereka merasa dunia ini baik-baik saja. Tanamkan juga rasa kemewahan agar para ibu menuntut suaminya untuk terus menghasilkan uang. Jika itu terjadi, pria tidak akan sempat lagi untuk memikirkan yang lainnya. Mereka akan fokus mengejar dunia. Sedang anak mereka tidak terarah. Saat itu juga siarkan tayangan bebas pada bibit-bibit unggul yang bisa saja memberontak suatu hari. Agar mereka tidak lagi mempunyai kekuatan untuk melawan kepada kita. Hal itu sepertinya cukup mudah untuk kita lakukan." Pria A menerangkan.
Para pejabat tinggi dunia tampak mengerti arah pembicaraan ini.
"Baiklah. Aku rasa kita bisa dengan mudah membingkai media seperti yang kita mau. Tapi, kita membutuhkan dana yang besar. Bagaimana cara kita mendapatkan dana itu?" tanya Pria D.
Pria K ikut bicara. "Buat virus lalu jual anti virusnya. Gunakan media untuk menjadikan virus itu amat berbahaya. Maka orang akan berlomba-lomba untuk membeli anti virusnya. Saat itulah keuntungan besar akan kita dapatkan." Pria K menuturkan.
Sam mengernyitkan dahinya. Ia seperti mengerti arah pembicaraan rapat kali ini.
Para pejabat tinggi dunia itu terus saja melanjutkan rapat untuk menguasai peradaban. Dan hal yang harus pertama kali mereka lakukan adalah membuat virus yang mematikan. Mereka akan bekerja sama dengan pihak farmasi untuk melakukan hal ini. Namun, apakah rencana pertama mereka akan berhasil?
...
Bagian Ketujuh Tamat
__ADS_1