
Rain berjalan menuju pintu apartemennya. Terlihat dirinya yang mengenakan kaus oblong putih dibalut jas hitamnya. Sedang bawahannya mengenakan celana jeans yang dipadukan dengan sepatu hitam. Ia lantas membukakan pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang.
Pintu pun dibuka...
"Em, selamat sore, Om." Seorang pemuda berjaket cokelat menyapa Rain saat membukakan pintu.
"Ada Aranya, Om?" tanya pemuda berjaket hitam.
Rain terkejut saat melihat ketiga pemuda datang ke apartemennya. Namun, ia lebih terkejut saat dipanggil dengan sebutan om oleh mereka.
"Siapa kalian?!" tanya Rain ketus.
"Maaf, Om. Kami teman Ara di kampus. Katanya Ara sakit dan kami ingin menjenguknya." Pemuda berkaus putih menjawab.
Teman Ara? Bukannya teman Ara cuma satu? Kenapa yang datang tiga? Rain bertanya-tanya sendiri.
"Tunggu di sini!" Rain lantas menutup pintu.
Suara pintu terdengar keras hingga mengejutkan ketiganya. Mereka tidak percaya jika Ara bersama pria yang terlihat begitu menyeramkan di pandangan mereka.
"Hei, siapa tadi, ya?" Nidji mengelus dadanya.
"Entahlah, aku tidak tahu " Taka menimpali.
"Apa itu pamannya Ara?" Ken bertanya sendiri.
Tak lama kemudian, pintu kembali dibuka. Tapi kali ini bukan Rain yang membukakannya, melainkan Ara sendiri.
"Taka? Nidji? Ken?" Ara tak percaya melihat ketiganya datang.
"Ara, kau cantik sekali. Rambutmu keriting." Nidji berkata dengan polosnya.
"Hush, kau ini." Ken menyenggol lengan Nidji.
Tiba-tiba Rain kembali datang dan melihat ketiganya dengan tatapan tajam dari arah belakang Ara. "Jangan lama-lama bertamu. Ara mau istirahat!" Rain memperingatkan.
Ketiganya ciut seketika saat mendengar peringatan dari Rain. "Baik, Om," jawab mereka bersamaan.
Seketika itu juga Ara menahan tawanya. Ia jadi geli saat mendengar Rain disebut om oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Mari masuk." Ara lalu mempersilakan masuk ketiganya.
Rain membiarkan Ara menerima kedatangan teman-temannya. Tapi ia tidak pergi dari sana. Rain tetap berjaga di depan meja makan sambil mengawasi gerak-gerik ketiganya. Ara pun mengambilkan minuman lalu mengobrol sebentar dengan Taka, Nidji dan juga Ken. Tapi, ketiganya tampak berhati-hati dalam berucap karena sedari tadi Rain seperti mengintai mereka.
Tak banyak yang dibicarakan oleh ketiganya karena risih dengan tatapan tajam Rain yang selalu mengawasi gerak-gerik mereka. Sampai akhirnya Taka, Ken dan Nidji berpamitan pulang, Rain pun ikut mengantarkannya sampai ke depan pintu. Tapi bukan untuk mengantarkan, melainkan memastikan jika mereka tidak berbicara yang aneh-aneh kepada Ara.
Setelah mengantar ketiga temannya pulang, Ara lantas masuk dan menutup pintu apartemen dari dalam. Ia juga menguncinya karena sudah menjadi kebiasaan. Dan kini hanya ada Ara dan Rain di dalam apartemen. Ara pun tersenyum kepada prianya.
"Jadi berangkat, Sayang?" tanya Ara seraya berjalan menuju dapur, membawa buah tangan ketiga temannya.
"Jadi. Tapi menunggu Byrne terlebih dahulu." Rain menjawab sambil mengikuti Ara ke dapur.
"Sepertinya Byrne mempunyai andil besar dalam misi ini." Ara mencuci buah kaktus, pemberian dari ketiga temannya.
"Hm, ya. Aku memintanya membawakan formula khusus untuk berjaga-jaga," cetus Rain sambil menyandarkan diri di kitchen set.
"Hati-hati, ya. Jaga hati dan pandanganmu." Ara berpesan.
Rain lalu menarik Ara ke dalam pelukannya. "Apa kau masih tidak percaya padaku?" tanya Rain sambil menatap gadisnya.
Ara masih memegang buah kaktus yang baru saja dicuci olehnya. Tapi kini tubuhnya sudah ditarik oleh Rain. Perkataan Rain seolah-olah memintanya agar percaya, terhadap segala tindakan yang akan dilakukan. Ara pun mengangguk untuk membuat Rain tenang.
"Aku percaya padamu. Aku percaya pada suamiku." Ara mengatakannya begitu saja.
Tinggal hitungan hari keduanya akan segera melangsungkan pernikahan. Rain akan menyelesaikan permasalahannya terlebih dulu dengan Jane. Barulah setelahnya ia akan mempersiapkan acara sakral dalam hidupnya. Yaitu mempersunting gadisnya.
Dubai, pukul empat sore waktu sekitarnya...
Bel apartemen berbunyi. Rain pun dengan sigap membukakan pintu. Di saat pintu terbuka, terlihatlah kedua saudaranya yang sudah siap untuk beraksi. Sang penguasa lalu mempersilakan keduanya untuk masuk terlebih dahulu.
"Di mana Ara?" Byrne menanyakan keberadaan sang gadis.
"Dia sedang beristirahat. Kalian sudah siap?" tanya Rain kepada kedua saudaranya.
"Tenang saja. Kami sudah siap, Rain." Owdie menjawab.
Rain lalu menelepon Jane. Sesuai dengan rencana mereka, Rain akan menemui Jane sore ini. Sementara di lain tempat, Jane yang sedang menyelesaikan pekerjaan online itu menyadari jika ada telepon masuk. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat jika Rain lah yang menelepon.
"Rain?!"
__ADS_1
Wanita bergaun putih sebatas lutut itu terkejut saat menerima panggilan telepon dari Rain. Ia lantas ingin cepat-cepat mengangkatnya. Tapi ternyata, terburu dimatikan oleh Rain.
"Astaga! Kenapa tidak terangkat olehku?!"
Baru saja ingin menelepon balik, telepon dari Rain kembali masuk. Jane pun berdehem untuk memecahkan rasa gugupnya. Ia lantas mengangkat telepon dari Rain.
"Halo?" jawabnya, sambil menutupi rasa gugup karena tak percaya Rain akan meneleponnya.
"Kau di mana, Jane?" tanya Rain dari seberang.
"Aku di apartemen, masih di Dubai," sahut Jane seraya berjalan menuju dispenser.
"Aku ingin bertemu denganmu, bisa?" tanya Rain lagi.
Seketika hati Jane riang tak terkira. "Bisa. Jam berapa?" Jane balik bertanya.
"Sekarang," jawab Rain singkat.
Sekarang?
Jane bertambah kaget saat mendengar Rain ingin menemuinya sekarang.
Apakah sihir itu sudah bereaksi di tubuhnya? Jangan-jangan kematian nenek sihir itu bukan karena tugas dariku?
Jane bertanya-tanya sendiri.
Jane lantas mengambil segelas air minum lalu meneguknya sampai habis. Ia mencoba menormalkan suasana hati yang begitu riang sekaligus bercampur rasa heran. Ia benar-benar tidak menyangka jika Rain akan memintanya bertemu di saat ini juga.
"Em, baiklah. Aku di Apartemen Marina. Aku tunggu di lantai enam." Jane memberi tahu.
"Baik. Aku ke sana sekarang."
Tanpa ba-bi-bu Rain segera mematikan teleponnya. Jane pun menjadi heran dengan sikap Rain yang terburu-buru.
Dia kenapa, ya? Tapi apapun itu aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Mungkin saatnya bagiku untuk beraksi.
Jane lalu segera menelepon seseorang. "Halo, tolong cepat kirimkan serbuk perangsang ke lantai enam Apartemen Marina atas nama Jane. Aku tunggu dalam lima menit." Ia meminta dikirimkan serbuk perangsang secepatnya.
Jane ingin menjebak Rain di hari menjelang pernikahan. Ia ingin Rain berpisah dari Ara. Gadis yang telah membuatnya kehilangan kasih sayang dari Rain. Tanpa Jane sadari, telepon tadi ternyata di-speaker oleh Rain sehingga kedua saudaranya bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka. Rain lalu beranjak pergi diikuti kedua saudaranya. Namun, ia masuk ke kamar terlebih dulu untuk berpamitan kepada gadisnya.
__ADS_1
"Ara, doakan aku. Setelah ini selesai, aku akan menikahimu. Selamat tidur, Sayangku."
Rain lantas mencium kening gadisnya yang sedang tertidur di atas kasur. Rasa lelah membuat sang gadis begitu mengantuk hingga tidak bisa mengantarkan Rain menjalankan misi bersama kedua saudaranya. Rain pun menutup pintu lalu segera keluar dari apartemen. Sore ini juga ia akan menyelesaikan masa lalunya.