Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Want Power


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, di kampus Ara...


Aku sedang melihat jadwal kuliahku dan menyesuaikannya. Hari Senin dan Selasa sengaja mengosongkannya sehingga bisa beristirahat setelah kembali dari Indonesia. Tuanku mengajak berangkat malam ini juga dan tidak ingin menundanya lagi. Aku sebagai penumpang hanya bisa ikut saja.


Sungguh aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi antara kami. Ternyata dia benar-benar ingin menikahiku nanti. Dia bahkan ingin memintaku langsung kepada ibu. Rasa-rasanya aku semakin menyayanginya.


Dia mempunyai rupa yang amat menawan di pandangan mataku. Dia seperti Pangeran Arab yang tampan. Dan aku tergila-gila padanya. Tubuh atletis ditambah senyum manisnya seakan mencengkramku agar tidak bisa lari lagi. Sehingga di otak ini hanya dipenuhi oleh namanya.


Pertahananku pun diruntuhkannya. Dia pria pertama yang berhasil menjatuhkanku dari kekerasan diriku sendiri. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kemauannya. Aku membutuhkannya sebagaimana dia membutuhkanku. Tapi sayangnya, dia belum juga menyatakan rasa cintanya padaku. Hal itulah membuat hatiku masih ragu.


Kulihat jam di ponsel pemberiannya telah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Aku pun mampir ke kantin dulu untuk menunggu Jack datang menjemputku. Sekalian belajar mengenai Law of Attraction. Rasa-rasanya aku mempunyai bibit LOA di dalam diriku ini.


Aku tertarik dengan hukum yang satu ini. Terlepas dari segala pro dan kontra yang ada, aku meyakini jika hukum ini benar adanya. Dimana kita diajari untuk selalu berbaik sangka dan berkata hanya yang baik-baik saja. Mungkin hampir mirip seperti doa dan hukum tabur tuai. Dimana menanam kebaikan akan menuai kebaikan. Dan aku rasa tidak ada yang salah dengan hukum ini. Hanya saja kita memang harus berhati-hati mencari akselerasinya. Karena tidak semua isi sugesti sesuai dengan apa yang kita harapkan.


Akselerasi itu adalah penanaman sugesti ke dalam otak, mirip hipnosis atau menghipnotis diri sendiri. Banyak sih akselerasi yang ditawarkan oleh akun-akun di YouTube. Tapi hanya satu yang aku percayai. Tidak semua akselerasi bisa dipercaya jika belum terbukti hasilnya. Apalagi ini berhubungan dengan mindset seseorang. Jadi memang harus ekstra berhati-hati memilih akun brainwave.


"Ara, tunggu!"


Sebelum sampai di kantin, aku dipanggil oleh seseorang. Aku pun menoleh ke asal suara. Dan ternyata yang memanggilku adalah...


"Dosen Lee?" Kulihat dia berlari ke arahku. Aku pun menunggunya tiba di hadapanku.


"Hah ... akhirnya kita bisa bertemu," katanya seraya memegang kedua lutut. Sepertinya dia kecapekan berlari ke arahku.


"Dosen Lee, ada apa?" tanyaku padanya.


"Ara, aku ingin menagih janjimu. Kau ingin mentraktirku, bukan?" Dia mengingatkanku.


Astaga ....


Sebenarnya aku belum gajian, aku gajian baru besok. Aku juga belum meminta gajiku pada tuanku. Tapi karena dia selalu menagih, mau tak mau aku menurutinya. Lagipula masih ada sisa uang dari hasil mengerok kemarin.


"Em, baiklah. Aku penuhi janjiku."

__ADS_1


Dia tersenyum setelah aku berniat memenuhi janji traktiranku padanya. Tapi kukira dia akan mengajak ku makan ke kantin, tahunya bukan.


Lima belas menit kemudian...


Kami tiba di suatu tempat yang mirip dengan taman tapi ada kolam pancuran airnya. Di sini ada tempat jualan makanan kaki lima. Mungkin lebih mirip dengan rumah makan di pinggiran yang tidak ada atap maupun dindingnya. Dan aku duduk di hadapan Lee, di depan meja makan ini. Dia memesan makanan sesuka hatinya.


Aduh, cukup tidak ya sisa uangku?


Aku mengernyitkan dahi karena khawatir makanan di sini mahal. Aku tidak tahu tarif-tarif makanan di sini. Dia juga tidak membocorkannya sama sekali. Dia hanya mengajak ku ke sini, duduk lalu memesan makanan yang dia suka. Tanpa bertanya, "Uangnya ada, Ara?" Kalau tidak cukup terpaksa aku harus menggunakan kartu kredit dari tuanku.


Semenjak kami dekat kembali, aku menggunakan lagi apa yang dia berikan padaku. Kartu kreditnya, ponselnya. Semua barang pemberian darinya kugunakan lagi. Dia bilang tidak suka dengan caraku yang mengembalikan barang pemberian darinya saat bertengkar. Aku pun jadi harus memakainya kembali.


Walau sedang bersama Lee, pikiranku tetap tertuju kepadanya. Dia bagai hujan yang kubutuhkan setelah lama berada di tanah gersang. Hatiku seolah tertutup untuk pria lain. Dan hanya ingin menyerahkan diri ini kepadanya. Entah mengapa, dia seperti menyihirku agar tidak bisa lari ke mana-mana.


"Aku suka mampir ke sini sehabis pulang mengajar." Lee menceritakan padaku bersamaan dengan datangnya makanan pesanan kami.


"Benarkah? Sudah lama?" tanyaku padanya.


Aku meneguk jus alpukatku. "Dosen Lee sudah lama tinggal di sini, ya?" Aku berbasa-basi.


Dia menatapku. "Lama tapi sendiri," katanya.


"Hah?!" Aku terperangah, kurang mengerti maksudnya.


Dia tersenyum menahan tawa melihatku terperangah. "Sejak lulus SMA aku kuliah dan mengajar di sini." Dia menjelaskan.


"Oh, begitu." Akhirnya aku dapat mengerti apa maksudnya.


"Pantas saja Dosen Lee banyak yang naksir," kataku memujinya.


Dia tersenyum seraya tertunduk. Mungkin dia malu mendengar kata-kataku ini. Tapi aku sih biasa saja. Aku masih menganggap hal ini wajar. Toh, kami hanya sekedar makan biasa. Ini juga karena membayar utangku padanya.


"Dosen Lee, aku rasa bisa ke tahap selanjutnya." Aku memecahkan suasana yang ambigu.

__ADS_1


"Sudah dapat mengenali diri sendiri?" Dia langsung menyadari apa yang aku katakan.


"He-em." Aku mengangguk.


"Lalu apa yang kau minta?" tanyanya seraya menyuap makan siang ke mulutnya.


"Aku minta punya kekuatan super," kataku dengan pedenya.


Seketika dia tersedak.


"Dosen Lee, Anda tidak apa-apa?"


Aku jadi panik sendiri saat melihatnya tersedak. Segera kuambilkan tisu untuknya. Dia pun meneguk air minumnya dengan cepat. Tak tahu mengapa, aku merasa kata-kataku ini tidak ada yang salah.


"Dosen Lee?"


"Hm, aku tak apa-apa, Ara. Tak apa." Dia menahanku bicara agar bisa menormalkan diagfragmanya terlebih dahulu.


Aku mengerti.


"Kalau ingin mempunyai kekuatan super, kau juga harus siap bertanggung jawab atas apa yang ada di sekitarmu," katanya lagi.


"Maksud Dosen?"


"Jika berhasil mempunyai kekuatan, kau juga mempunyai tanggung jawab baru dalam hidupmu. Apa kau sanggup?" Dia seperti ragu pada niatanku.


"Em ... aku rasa aku siap menerimanya. Lagipula aku memang ingin menolong orang dengan kekuatan yang kudapat. Aku ingin membuktikan jika manusia bisa melampaui kekuatannya sendiri." Aku merasa yakin pada kemampuanku.


Dia terdiam lalu menatap mataku. Tatapan matanya entah mengapa terasa beda sekali. Dia lalu ingin memegang tanganku. Tapi segera kutarik tangan ini agar tidak dipegang olehnya.


Dia ini latah atau bagaimana?


Tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat aku menolak untuk dipegang olehnya. Tapi kulihat dia tersenyum tanpa berkata apa-apa. Sampai akhirnya dering telepon menyadarkannya. Dan kulihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua belas siang.

__ADS_1


__ADS_2