Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Why?


__ADS_3

Beberapa jam kemudian…


Pukul tiga sore Ara baru saja keluar dari kelasnya. Di depan kelas ternyata Taka sudah menunggunya. Ara pun terkejut dengan kehadiran pemuda berkebangsaan Jepang itu.


“Hai, Ara!” Taka tersenyum semringah kepada Ara.


“Hai!” Ara membalasnya. “Tumben, ada apa?” tanya Ara. Keduanya pun berjalan bersama menuju gerbang kampus.


“Em, tidak. Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja,” kata Taka sambil membawa bola basketnya.


“Aku baik-baik saja, kok.” Ara menjawabnya dengan segera.


“Hah, syukurlah. Aku pikir kau masih memikirkan ucapan kedua gadis itu.” Taka mendekap bola basket sambil menyampirkan tas di pundak kirinya.


“Yang tadi itu?” Ara memastikan.


Taka mengangguk.


“Biarlah. Aku juga tidak tahu mereka.” Ara seperti tak peduli.


“Mereka itu adalah anak pemilik saham kampus ini.” Taka menjelaskan tanpa diminta.


“Hah? Benarkah?” Ara tak percaya.


“Iya. Mereka juga pintar. Tapi, sombongnya kelewatan!” Tiba-tiba Taka terlihat kesal sendiri.


“Hahaha. Wajar saja jika mereka sombong, kan ada yang dibanggakan.” Ara tertawa, tak ingin ambil pusing.


Seketika Taka terbelalak. Ia menyadari bagaimana sikap Ara yang sesungguhnya.


Gadis ini ternyata tidak seperti gadis lain. Dia begitu jutek. Taka tertawa sendiri saat menyadari bagaimana sikap Ara.


“Ara.”


“Hm?”


“Besok aku ada latihan karate. Apa kau bisa menyemangatiku?” Taka berharap.


“Eh?”


“Jangan salah paham. Aku hanya ingin disemangati saja." Taka seperti memohon.


Ara melihat semburat kesungguhan dari wajah temannya. Ia pun merasa tidak enak hati jika sampai menolak. Tapi, ia juga mempunyai pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.


“Em, jam berapa memang?” tanya Ara lagi.


“Pukul tiga sore.” Taka menjawabnya.


Ara berpikir. “Em, baiklah. Aku akan mengusahakannya.” Ara berusaha memenuhi permintaan Taka.


“Serius?! Wah, aku bisa semangat berlatih jika ada dirimu, Ara.” Taka riang gembira.


“Ah, bisa saja.” Ara pun tertawa, malu sendiri.

__ADS_1


Keduanya meneruskan langkah kaki menuju gerbang kampus. Tanpa Ara sadari ternyata Jack sudah menunggunya di depan. Ia lalu segera berpamitan kepada Taka saat melihat Jack sudah datang.


"Taka, aku sudah dijemput. Sampai nanti!" Ara segera berlari, masuk ke dalam mobil.


Ara?


Taka pun terheran melihat Ara dijemput oleh mobil mewah. Terbesit keingintahuan pada dirinya tentang sang gadis.


Dia itu sebenarnya siapa?


Taka terheran-heran sendiri sambil melihat kepergian Ara dari hadapannya. Ia merasa jika Ara bukanlah gadis biasa.


Sementara itu di dalam mobil...


“Maaf, Nona. Tidak mengabari terlebih dahulu.” Jack mulai menghidupkan mesin mobilnya.


“Tak apa, Jack.” Ara segera memangku tasnya.


“Tuan sudah menunggu di apartemen,” kata Jack lagi.


“Tuan sudah pulang?!" Ara terkejut.


“Benar, Nona.” Jack pun segera melajukan mobilnya menuju apartemen Rain.


Seketika hati Ara berbunga-bunga mendengar Rain sudah pulang. Ia lantas mengecek ponselnya untuk melihat pesan yang masuk. Dan ternyata Rain memintanya untuk segera pulang tanpa harus mampir ke sana-sini dulu.


Pasti dia rindu padaku makanya pulang cepat.


Senyum Ara mengembang saat teringat dengan percakapannya semalam bersama Rain. Rasanya Ara pun sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan prianya.


Lima belas menit kemudian…


Ara dan Jack keluar dari lift. Keduanya berjalan menuju pintu apartemen Rain.


“Nona, jika ada yang diperlukan, Nona bisa menghubungi saya.” Jack menawarkan.


Ara pun membalasnya. “Terima kasih, Jack. Tapi untuk saat ini aku belum membutuhkan apa-apa.” Ara tersenyum.


“Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi. Tuan sudah menunggu Anda di dalam.” Jack berpamitan setelah selesai mengantar Ara sampai ke depan pintu apartemen.


“Terima kasih, Jack.” Ara pun mengangguk, melepas kepergian Jack.


Sang gadis segera masuk ke dalam apartemen setelah men-scan jarinya. Pintu pun terbuka bersama dengan hatinya yang dag-dig-dug tak karuan. Sebentar lagi ia akan berjumpa dengan pria idamannya.


Aku pulang!


Sesampainya di dalam, Ara melihat prianya sedang duduk di sofa, menghadap ke arah pintu. Ia pun menebarkan senyumannya kepada pria yang tak lain adalah Rain.


“Sayang, sudah pulang?” Ara tersenyum semringah kepada Rain.


Rain sendiri berwajah datar saat melihat kedatangan Ara. Ia lalu berbicara kepada sang gadis yang sedang melepas sepatunya itu.


“Ada hal yang ingin aku bicarakan, Ara.” Rain sama sekali tidak membalas senyuman Ara.

__ADS_1


“Tentang apa, Sayang?” tanya Ara yang belum menyadarinya.


Rain beranjak dari duduk. Ia mendekati Ara yang juga berjalan ke arahnya. Rain pun segera menyerahkan amplop cokelat yang ia terima tadi pagi.


"Apa ini?"


Melihat wajah Rain tanpa senyuman membuat suasana hati Ara berubah. Ia lalu segera membuka amplop tersebut.


“Astaga!”


Ara terkejut saat melihat isi dari amplop tersebut. Ia pun menyadari penyebab perubahan sikap Rain padanya.


“Sayang, ini…” Ara melihat ke arah prianya.


“Aku tak menyangka jika kau akan berkhianat padaku, Ara.” Rain membelakangi Ara.


“Sayang, ini tidak seperti yang kau bayangkan.” Ara berusaha menjelaskan.


“Tidak seperti yang kubayangkan, apa maksudmu?!” Rain berbalik menghadap Ara.


“Pria ini menolongku. Kemarin sore aku hampir ditabrak oleh pengendara motor yang mengebut di jalan.” Ara menjelaskan.


“Menolong? Harus sampai memeluk seperti itu?” Rain tidak percaya dengan cerita Ara.


“Sayang, sungguh. Kejadiannya begitu cepat. Aku juga tidak tahu jika akan seperti ini."


“Cukup, Ara! Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi!” Rain tidak dapat mengendalikan emosinya, ia marah kepada Ara.


Sayang ....


Ara pun terdiam sambil memegangi lembaran foto yang ia terima. Ia tidak menyangka jika Rain akan membentaknya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak kala mendengar intonasi tinggi dari prianya.


“Apa kau sebegitu murahannya sehingga bisa dipeluk oleh pria manapun?!” tanya Rain kepada Ara.


"Ap-apa ...?"


Seketika itu juga Ara tersentak dengan pertanyaan Rain. Hatinya bak gelas-gelas kaca yang jatuh dan pecah berkeping-keping. Dadanya bertambah sesak setelah mendengar pertanyaan dari prianya.


Tuan ....


Betapa sakit kata yang diucapkan oleh Rain. Rain mengucapkan kata yang menusuk sampai ke jantungnya. Bulir-bulir air mata pun mulai keluar dari persembunyian, bersamaan dengan rasa sesak yang tak dapat lagi tertahan di dada.


"Ak-aku ... tidak seperti itu ...."


Ara menjawabnya dengan terbata. Ia menatap sedih pria yang ada di hadapannya. Sedang Rain menatap Ara dengan penuh kesal. Ia diselimuti amarahnya sendiri.


“Aku tahu jika aku bukanlah gadis kaya. Tapi, aku tidaklah semurahan yang kau kira." Satu-dua tetes air mata jatuh ke pipi sang gadis. "Ini kukembalikan semua yang kau titipkan padaku. Terima kasih." Ara meletakkan semua pemberian Rain ke atas meja tamu.


Angin sore yang masuk lewat ventilasi jendela seakan menjadi saksi atas pertengkaran yang terjadi. Ara pun tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia segera meletakkan tas kuliahnya, ponsel, bahkan kartu kredit yang Rain berikan padanya ke meja tamu.


Ara ...?!


Rain terbelalak melihat Ara menyerahkan semua barang yang telah ia berikan. Sang gadis pun segera berjalan menuju pintu, ia berniat keluar dan menyudahi perjumpaan ini. Hatinya benar-benar terluka oleh perkataan Rain.

__ADS_1


“Tunggu!” Rain pun menahan kepergian Ara. “Apa ini caramu menyelesaikan masalah?” tanya Rain sebelum Ara sempat pergi.


Gadis itu membelakangi Rain sambil menahan rasa sakit yang semakin lama semakin menjadi. Air matanya pun jatuh, satu per satu membasahi pipi. Ia tidak mampu lagi jika harus berlama-lama seperti ini.


__ADS_2