Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
I Wanna Kill You


__ADS_3

Astaga! Ternyata dia?!!


Perempatan urat muncul di dahiku saat mendengar kata-katanya. Langit pun seolah ikut runtuh dan ingin menimpaku saat kata-kata itu terdengar di telingaku. Rasanya ingin merobek mulutnya saja. Tapi aku harus tetap mengendalikan emosi sampai jalan pulang terbuka kembali. Aku tidak ingin emosi malah menggagalkan kepulangan kami ke duniaku. Aku harus bertahan dalam kesabaran.


Ara merasa kesal dengan ucapan Mile yang tidak tahu diri. Ia benar-benar kesal dan ingin melakukan tindakan anarkis kepada putri tersebut. Namun, sebisa mungkin Ara bersabar dan tetap menjaga keanggunannya agar tidak menambah masalah yang ada. Baginya menanti portal kembali terbuka sudahlah cukup lama. Ditambah lagi sikap Mile yang sangat menjengkelkan. Ara benar-benar kesal.


Tak jauh dari mereka duduk, Rain dan Pangeran Agartha berjalan bersama, keluar dari pintu belakang istana. Keduanya pun melihat Ara dan Mile yang sedang duduk bersama. Tiba-tiba saja raut wajah Pangeran Agartha berubah kala melihat keduanya. Ia merasa ada hal aneh yang sedang terjadi pada tamu dan calon istrinya.


"Tuan Rain, aku harap Anda tidak mendekati Putri Mile karena kami akan segera menikah." Pangeran Agartha tiba-tiba berkata seperti itu kepada Rain.


Rain tersenyum seraya tertunduk. "Aku sudah mempunyai istri yang mencukupi segala kebutuhan lahir dan batinku, Pangeran. Tidak pantas rasanya jika masih menginginkan wanita lain." Rain membalas dengan santun.


Pangeran Agartha mengerti. "Mengenai permintaanmu, besok datanglah pagi-pagi ke danau untuk melihat kebenarannya sendiri." Pangeran berpesan kepada Rain.


Suami dari Ara yang mengenakan yukata terbalut jubah putih itu tampak terheran. "Danau tempat kami tiba di sini pertama kali?" Rain memastikan.


"Ya. Di sana ada telaga yang dapat membantumu. Mungkin bisa menemukan salah satu dari mereka," kata pangeran lagi.


Rain mengangguk.


"Aku amat berharap apapun yang terjadi nanti hanya akan menjadi rahasia di antara kita." Pangeran menegaskan syarat bantuannya.


Rain mengangguk, mengerti syarat bantuan pangeran. "Aku mengerti, Pangeran. Kalau begitu aku permisi." Rain pun lekas berpamitan.


Pangeran Agartha mengiyakan. Rain pun menundukkan kepalanya lalu segera pergi. Percakapan keduanya malam ini menghasilkan sesuatu yang baik. Dimana pangeran bersedia untuk membantu Rain. Rain pun segera berjalan menuju gazebo istana untuk menemui istrinya yang sedang duduk bersama Mile. Sementara Pangeran Agartha mengawasi ketiganya dari teras belakang istana. Ia merasa curiga dengan percakapan tamu dan juga calon istrinya.

__ADS_1


Ada apa sebenarnya sampai Mile mengajak tamuku berbincang di gazebo istana? Apakah sesuatu terjadi pada keduanya?


Pangeran Agartha kemudian meminta prajurit yang berjaga di pintu untuk memanggil salah satu pejabatnya. Tak lama seorang pria berjubah hijau datang menghadap pangeran. Matanya sipit dengan lesung pipi yang menawan. Pria itu menghadap pangeran dengan santunnya.


"Pangeran." Pria berjubah hijau itu menundukkan kepalanya di hadapan pangeran.


Pangeran berbalik melihat pria itu. "Han. Tolong selidiki apa yang terjadi dengan Mile dan tamuku. Aku merasa ada sesuatu yang telah terjadi pada mereka." Pangeran meminta.


"Baik, Pangeran." Pria berjubah hijau itupun mengiyakan.


Pangeran kemudian melihat ke arah gazebo istana. Ia tatap kedua wanita yang sedang berbincang di sana. Ia kemudian memutuskan untuk pergi setelah memercayakan urusannya kepada salah satu pejabatnya. Ia berbalik lalu melewati Han. Han pun menundukkan kepalanya saat pangeran lewat. Ia tampak patuh dan juga sopan kepada calon raja negerinya.


Pangeran Agartha meminta Han untuk menyelidiki apa yang sedang terjadi di antara kedua tamu dan calon istrinya. Han pun menyanggupi permintaan sang pangeran tanpa membantah. Ia segera menyusun strategi untuk mengetahui permasalahan yang ada.


Sementara itu, Rain semakin mendekati kedua wanita cantik yang sedang berbincang di gazebo istana. Ia menyapa sang istri dengan sebutan nama agar Mile tidak salah sangka. "Ara?" Dia memanggil istrinya.


"Tuan Rain, kebetulan sekali." Mile semringah begitu melihat kedatangan Rain.


Dia ini rubah licik! Ara pun menggerutu di dalam hatinya.


Baik Ara, Rain, maupun Mile, sama-sama menggenakan busana kerajaan yang berwarna putih. Hanya saja Mile mengenakan mahkota kecil di kepalanya sebagai tanda calon permaisuri kerajaan ini. Berbeda dengan Ara yang hanya mengenakan hiasan biasa tanpa mahkota. Namun, walaupun begitu Ara tetap cantik di hadapan Rain. Rain pun semakin menyayangi istrinya.


"Sayang, lebih baik kita segera pergi dari sini. Hari sudah semakin larut." Ara mengajak Rain kembali ke padepokan.


"Tunggu! Kenapa terburu-buru? Kenapa tidak minum teh dulu?" Mile menahan keduanya.

__ADS_1


Ara terlihat kesal dengan sikap Mile yang semakin berani. Rain pun menyadari perubahan sikap istrinya. Ia merasa sesuatu telah terjadi di antara mereka sampai sang istri bersikap seperti ini.


"Em, maaf. Malam semakin larut, Putri. Kami permisi." Rain pun memegang tangan istrinya lalu beranjak pergi.


Sialan! Gara-gara wanita itu!


Seketika Mile mengumpat dalam hatinya. Ia bergantian kesal karena Rain meninggalkannya begitu saja. Ia kecewa dengan sikap acuh tak acuh Rain kepadanya. Padahal ia sudah berbaik hati dan menarik perhatian Rain dengan keanggunannya. Tetapi tetap saja sang penguasa tak bergeming dengan kecantikan yang Mile miliki. Karena bagi Rain, Ara adalah yang tercantik.


Aku harus menggunakan cara lain untuk menjebaknya. Kita lihat saja nanti!


Raut dengki pun timbul di hati dan pikiran Mile karena sikap Rain yang acuh tak acuh. Mile tidak lagi berpikir jika Rain adalah suami dari Ara. Yang ia tahu hanya tertarik kepada Rain dan ingin bersama. Entah mengapa dirinya amat berambisi untuk mendapatkan Rain, walaupun nyatanya ia sendiri adalah calon istri dari Pangeran Agartha.


Di pondokan Ara dan Rain...


Aku menarik napas panjang kala sampai di dalam kamar. Aku kesal bukan main dengan sikap putri itu kepadaku. Dia secara terang-terangan mengatakan jika tertarik pada suamiku. Dia benar-benar gila.


"Aku tidak keberatan jika jadi yang ke dua, Nona Ara." Dengan penuh percaya diri dia berkata seperti itu.


"Apa maksudmu, Putri?!" Intonasi bicaraku pun meninggi di hadapannya.


Dia tersenyum simpul sambil menyilangkan kedua tangan di dada. "Aku tertarik dengan kegagahan suamimu. Aku rasa dia lebih jantan jika dibandingkan pangeran." Seenaknya dia berkata seperti itu.


"Kau!" Aku pun ingin menamparnya.


"Kenapa? Kau ingin memukulku? Pukul saja. Aku akan mengadukan tindak kekerasan yang kau lakukan terhadapku. Lalu pangeran akan mengurungmu. Setelah itu ...," Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. "Aku akan mendapatkan suamimu." Dia setengah berbisik kepadaku.

__ADS_1


Saat itu aku geram bukan main. Kedua tanganku sudah mengepal dan siap untuk meninju. Tapi, lagi-lagi aku harus tetap berhati-hati karena ini bukanlah duniaku. Segala macam perlawanan pasti tidak akan ada arti. Lain cerita jika terjadi di duniaku. Pastinya wanita itu sudah kuacak-acak tak berbentuk lagi.


__ADS_2