Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Back to Body


__ADS_3

Ini kan dekat padepokanku?!!


Sungguh tak percaya di mana gerangan diriku berada. Kulihat putri itu sembunyi-sembunyi memberikan sesuatu kepada pria-pria berbadan kekar itu. "Ini upah untuk kalian! Setelah ini pergilah jauh-jauh dari Agartha. Lupakan semua dan jangan katakan apapun jika ada yang mendesak kalian. Kalian mengerti?!" Putri itu bertanya dengan keras.


"Baik, Nona." Mereka pun menyanggupi.


"Bagus. Sekarang pergilah." Dia mengusir pria-pria itu agar lekas pergi.


Pria-pria berbadan kekar itupun mengangguk lalu segera pergi dari gerbang belakang istana. Aku pun melihat putri itu berjalan ke arahku. Segera saja aku bersembunyi agar tidak ketahuan olehnya. Ya, walaupun penglihatanku ini hanya sebatas memutar kembali waktu, tetapi tetap saja tubuhku refleks dengan sendirinya.


"Semua sudah beres. Aku telah berhasil. Hahahaha." Dia tertawa tanpa merasa berdosa.


Aku tak habis pikir dengan wanita itu. Bisa-bisanya dia berbuat hal sekeji ini kepada Lily. Apakah sebenarnya dia tahu jika Lily dekat dengan pangeran? Sehingga dia menyingkirkan Lily agar pangeran tidak ingat lagi? Wanita itu memang tidak bisa dibiarkan. Ini sudah keterlaluan.


Jadi dia mengurung Lily di ruang bawah tanah istana? Tapi pangeran bilang seminggu sebelum sayembara dia sudah tidak melihat Lily lagi. Apa itu berarti Lily disembunyikan lebih dulu baru dikurung di ruang bawah tanah? Atau pangeran yang tak sempat untuk mengunjungi Lily karena sibuk dengan persiapan sayembara? Aduh ... kepalaku pusing sekali.


Aku berhasil mengilas balik waktu. Tapi mungkin hal yang kulihat ini adalah hal yang penting-penting saja. Namun, alurnya bisa kupahami. Tapi masalahnya, bagaimana caraku agar bisa kembali ke raga? Apakah aku harus memutari istana ini tujuh kali baru bisa kembali? Sungguh aku tidak mampu untuk melakukannya. Aku sedang mengandung sehingga tidak boleh terlalu capek. Tapi jika terus seperti ini, bagaimana bisa aku menceritakan hal yang terjadi kepada pangeran? Ya Tuhan, tolong aku.


Ara merasa tidak sanggup jika syarat kembali ke raganya adalah harus memutari istana Agartha sebanyak tujuh kali. Ia akhirnya duduk di tangga padepokan seraya berdoa kepada Tuhan agar jiwanya dapat dikembalikan. Tak lama sinar putih keemasan pun muncul di hadapannya. Saat itu juga cahaya perak menelan tubuhnya. Ara pun segera tersadarkan dari destinasi alam bawah sadarnya. Jiwanya telah kembali ke raga.


"Sayang ... bangunlah."

__ADS_1


Di istana sendiri sang suami terlihat masih berusaha menyadarkan istrinya. Ia setia berada di sisi sambil menepuk-nepuk pipi Ara agar lekas tersadarkan. Raut wajahnya terlihat begitu cemas setelah menyadari istrinya jatuh pingsan. Sang pangeran pun tampak khawatir terhadap keadaan tamunya. Ia merasa tidak enak hati karena telah memanggil Ara untuk menemuinya.


"Sa-yang ...."


Suara serak pun akhirnya terdengar. Rain menyadari jika suara itu adalah suara istrinya.


"Sayang, aku di sini."


Ia tersenyum semringah saat mengetahui istrinya telah tersadarkan. Raut wajahnya seketika berubah menjadi senang. Ia pun menyambut kesadaran Ara dengan semburat senyum di bibirnya.


"Ya Tuhan, Sayangku."


Dipeluknya sang istri di depan Pangeran Agartha. Rain tidak lagi peduli sedang berada di mana. Ia tanpa malu menunjukkan kasih sayangnya. Pangeran Agartha pun tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga tamunya. Ia merasa iri. Hati kecilnya juga ingin seperti itu. Namun, ia juga harus sadar jika masih sendiri dalam penantian. Pangeran masih menantikan Lily datang kembali.


"Ya, aku di sini, Istriku." Rain menatap lembut istrinya.


Ara tersenyum. Ia terlihat senang karena sang suami selalu berada setia di sisinya. Senyum kebahagiaan itu pun terpancar dari wajahnya. Walaupun nyatanya ia baru saja mengalami sesuatu hal yang cukup melelahkan. Kesetiaan Rain bagai obat untuk kelelahan jiwanya.


"Tuan, lebih baik baringkan Nona Ara di atas kasur. Mari, silakan." Pangeran Agartha menawarkan.


Dalam sekejap jiwa Ara bisa berpindah tempat. Ia dengan mudah menembus dimensi ruang dan waktu saat berada di Agartha. Padahal sebelumnya, ia masih berada dalam rengkuhan tubuh Rain agar tidak jatuh. Namun, saat melihat wajah pangeran, Ara masuk ke dalam sebuah putaran waktu yang mana tanpa ia sadari ia sendiri mengalaminya. Dan saat terbangun, Ara pun masih berada di pelukan Rain yang tampak amat mengkhawatirkannya.

__ADS_1


Teori relativitas waktu memang sudah ada sejak dulu. Dan mungkin hal itulah yang sedang dialami oleh Ara sekarang. Dimana dirinya bisa dengan mudah berpindah tempat hanya dalam hitungan detik saja. Namun, hanya sebatas jiwanya, tidak bersama raganya. Dan sehabis melakukan perjalanan jauh itu, Ara amat tampak kelelahan. Tenaganya seperti terkuras habis dan tak bersisa. Seolah kekuatannya terkikis di setiap dimensi yang dilaluinya.


Sayang, terima kasih telah setia mendampingiku.


Ara pun digendong Rain menuju sebuah ruang terbuka yang ada di dekat ruang kerja pangeran. Sebuah ruang untuk bersantai setelah menghabiskan waktu dengan bekerja. Ruangan terbuka itu juga berisi pengobatan alternatif yang telah sediakan. Pangeran pun mengikutinya dari belakang. Ia kemudian memanggil para pelayan untuk menyediakan hidangan. Mereka akan berbincang tentang hal apa yang terjadi tadi. Namun, apakah Pangeran Agartha akan percaya dengan penglihatan Ara?


Beberapa saat kemudian...


Aku sedang dipijat oleh suamiku. Dia tampak begitu telaten sebagai seorang suami. Kini kami sedang berada di gazebo belakang istana sambil menunggu pangeran datang. Dia tadi berpamitan karena ada tamu yang datang. Kata pelayan sih tuan tanah yang ada di selatan. Entah benar atau tidaknya.


"Bagaimana sudah enakan?" tanya suamiku dari belakang.


"Lumayan. Tapi masih lelah," jawabku kepadanya.


Dia berhenti memijat. "Sayang." Dia melingkarkan kedua tangannya di perutku. "Jangan seperti itu lagi ya. Aku takut." Dia merebahkan kepalanya di bahuku.


Aku berbalik. "Kenapa berkata seperti itu? Jangan bilang ini alasan untuk selingkuh!" Entah mengapa aku malah mencurigainya.


"Eh?!" Saat itu juga dia terlihat panik. "Tidak, Sayang. Tidak." Dia tidak membenarkan dugaanku. "Aku benar-benar khawatir saat kau hampir jatuh. Kau kan sedang mengandung anakku. Ibu hamil tidak boleh sampai terjatuh. Itu dapat mengakibatkan keguguran. Dan aku tidak mau kau mengalami hal itu. Kerja kerasku selama ini bisa sia-sia. Apa kau tidak kasihan padaku? Memangnya tidak capek apa kerja terus?" jelasnya, yang membuat pikiran buruk tentangnya hilang seketika.


Dia bisa bawel seperti ini juga ternyata.

__ADS_1


Entah sadar atau tidak, suamiku mengucapkan sesuatu hal yang tak kuduga. Baru kali ini mendengar pengakuannya jika dia bisa lelah juga. Padahal selama ini dia terlihat begitu bersemangat saat berbaur bersamaku. Dia bak seorang petani yang tak henti-hentinya bercocok tanam. Berharap hasil panen akan memuaskan. Ya, walaupun hanya kata-kata tersirat yang kurasakan, aku bisa merasakan betapa besar keinginannya untuk segera memiliki anak. Aku pun mencoba mengerti keinginannya itu.


__ADS_2