
"Dosen Lee, mengapa menanyakan hal itu padaku?" Aku balik bertanya padanya.
Dia tersenyum lalu menyandarkan punggungnya di pagar teras. Aku jadi bingung dengan sikapnya pagi ini. Tak mengerti sebenarnya ke mana arah pembicaraan kami.
"Aku sudah jatuh cinta kepada gadis lain, Ara. Tapi aku tidak tahu apa dia menyukaiku atau tidak. Aku sedikit pesimis dengan keadaan kami." Dia menceritakan.
Sejenak aku merenungi kata-katanya.
"Selama aku di sini belum pernah menemui gadis sepertinya. Dia sangat sederhana tapi memiliki daya tarik yang begitu kuat. Dan aku menyukainya. Tapi sayangnya, keadaan tidak memungkinkan." Dia kembali menuturkan.
Aku mencoba mengerti. "Dosen Lee, jika Anda benar-benar menyukai gadis itu, kenapa tidak katakan isi hati Anda padanya? Agar hati Anda tenang." Aku memberikan saran.
Kulihat dia tersenyum. "Jadi aku harus mengatakannya terlebih dulu?" tanyanya lagi.
"He-em." Aku mengangguk dengan yakin.
"Baiklah. Dia lantas berdiri tegak di hadapanku. "Ara." Dia menyebut namaku.
"Ya?"
"Aku menyukaimu," katanya yang sontak membuat jantungku berdegup kencang.
"Do-dosen Lee ...?!" Aku tidak tahu apa maksudnya ini. Aku bingung sejadi-jadinya.
"Gadis yang kusukai itu adalah dirimu, Ara." Dia lantas mengatakan hal yang membuatku kaget.
"Hah? Ini tidak mungkin. Dosen Lee pasti salah orang," kataku seraya memundurkan langkah kaki ke belakang.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Ara. Aku percaya itu. Lalu bagaimana sekarang? Apa kau bisa mempertimbangkan rasaku?" tanyanya terus terang.
Sungguh aku sama sekali tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Ternyata gaya tarik-menarik di antara kami begitu kuat. Aku merasakan perubahan pada dirinya yang ternyata mengacu ke sebuah perasaan yang tidak aku harapkan. Lee menyatakan perasaannya padaku di saat aku sudah ingin menikah. Ini seperti godaan saja.
Lantas aku berusaha bersikap biasa saja padanya, seolah hal ini hanya bercanda dan sebatas gurauan belaka. "Dosen Lee, jika ini serius maka jawabannya aku tidak bisa. Tapi jika bercanda, aku juga menyukaimu," kataku.
Dia terdiam sejenak. Mungkin sedang memikirkan kata-kataku.
"Aku sudah ingin menikah, dan pernikahan itu tak lagi lama. Lagipula kita baru saja mengenal, belum mengetahui sifat masing-masing." Aku menuturkan.
Dia lalu meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku. "Proses pengenalan bisa seiring dengan berjalannya waktu, Ara. Aku tidak akan memaksamu untuk menerima perasaan ini. Kau mengetahuinya saja itu sudah cukup bagiku. Terima kasih." Dia lantas mencubit pipiku.
__ADS_1
Dia kemudian beranjak meninggalkanku. Dia pergi dari hadapanku setelah mencubit pipi ini. Rasanya aneh sekali. Aku malah merasa seperti mempunyai seorang kakak laki-laki di sini. Atau memang dia akan menjadi kakakku?
Jadi ... dia menyukaiku?
Angin yang berembus menjadi saksi akan hal yang tak terduga pagi ini. Tanpa terasa bel mata kuliah selanjutnya pun berbunyi. Menandakan jika aku harus segera kembali ke kelas. Ya, sudah. Untuk sementara kulupakan sejenak apa yang terjadi. Toh, dia baru saja mengutarakan belum membuktikannya seperti priaku. Lalu untuk apa dipikirkan?
Dua jam kemudian...
Mata kuliah hari ini berjalan dengan baik. Dan kini aku sedang menuju ke gerbang kampus. Jack telah menjemputku sedari tadi, mungkin ada sekitar lima menit yang lalu. Aku pun tak lama sampai di gerbang lalu segera masuk ke dalam mobil.
"Nona, apakah akan langsung pulang?" tanya Jack padaku.
"Em, aku ingin belanja kebutuhan harian dulu. Bisa mengantarkanku ke supermarket terdekat?" tanyaku segera.
"Bisa, Nona. Tapi saya menjemputnya satu jam lagi. Tak apa?" Dia bertanya padaku.
Kutahu jika Jack ingin beribadah nanti. "Tak apa, Jack. Aku tunggu di supermarket saja," kataku.
"Baik, Nona." Jack pun mengiyakan.
Lantas mobil kami segera melaju ke supermarket terdekat dari kampus. Aku pun mengecek ponsel sambil menunggu sampai. Dan ternyata priaku telah mengirimkan pesan satu jam yang lalu. Dia bertanya apakah waktuku sudah senggang atau belum. Lantas segera saja aku membalasnya.
Hari Jumat yang indah.
"Sudah pulang?" tanyanya dari seberang.
"He-em, sudah. Ini lagi diantar Jack ke supermarket. Aku ingin membeli makanan dulu," kataku.
"Jangan lelah-lelah, Ara. Nanti kau sakit." Dia perhatian padaku.
"Tidak, tenang saja. Kan aku sudah punya obat kuat sekarang," kataku seraya tertawa sendiri.
"Obat kuat? Kau membelinya?!" Kudengar dia terkejut.
"Tidak, Sayang," jawabku. "Obat kuat ku kan dirimu." Aku memujinya.
Dia terdiam, tidak membalas kata-kataku. Sepertinya dia tengah baper sekarang. "Ara." Tapi ternyata aku salah. Dia menyebut namaku.
"Iya?"
__ADS_1
"Sebentar lagi akan ada pertemuan makan siang dengan pejabat di sini. Kau juga jangan lupa makan siang ya, Sayang." Suaranya terdengar lembut sekali.
Seketika hatiku terasa syahdu saat dia menyebutku dengan kata sayang. Rasanya aku jadi ingin cepat-cepat bertemu dengannya.
"Siap, Pangeran!" Aku pun bersemangat menanggapinya.
Kudengar dia tertawa kecil di sana. "Baiklah. Kalau begitu sampai nanti." Dia akhirnya mengakhiri perbincangan ini.
"Sampai nanti." Aku pun membalasnya segera.
Panggilan telepon diakhiri bersama dengan datangnya rasa rindu yang menyelimuti hati. Rasa rindu ini semakin terasa menggebu manakala mendengar suaranya. Aku jadi ingin cepat-cepat bertemu.
Kulihat Jack tersenyum mendengar apa yang kukatakan di telepon tadi. Mungkin dia mengerti bagaimana perasaanku saat ini. Dimana kerinduan membumbung tinggi ke langit-langit hati. Dan menginginkan pernikahan itu segera terjadi. Sungguh, aku ingin segera menikah dengannya. Dengan pangeran tampan dan juga rupawan. Dia adalah pangeran impianku, Rain Sky.
"Nona, sebentar lagi kita sampai."
Jack lantas memberi tahuku saat sudah memasuki kawasan pertokoan yang ada di kota. Tak lama aku pun bisa melihat supermarket dari sini. Lantas segera saja aku bersiap-siap untuk keluar dari mobil. Sampai akhirnya mobil tiba di parkiran supermarket, aku pun bergegas masuk ke dalam untuk membeli kebutuhan harian.
Setengah jam kemudian...
Aku membeli berbagai macam peralatan mandi dan juga peralatan untuk bersih-bersih di rumah. Tanpa terasa keranjang dorong belanjaanku sudah terisi setengah. Lantas aku membeli kebutuhan pangan untuk beberapa hari ke depan. Aku seorang diri berbelanja di sini.
Entah mengapa, tiba-tiba saja aku merasa merinding saat berbelok ke lorong sembako. Aku merasa tengah diawasi dari jauh. Namun, saat kulihat pantulan bayangan di cermin, tidak memperlihatkan hal-hal yang mencurigakan. Di lorong sembako ini juga aku bersama ibu-ibu yang lain. Kami berbelanja bersama dan mereka tampak biasa-biasa saja.
Aku kenapa, ya?
Karena tidak ingin terlalu kepikiran, akhirnya aku menuju ke chiller terdekat. Kuambil minuman ringan seraya melepaskan dahaga yang melanda. Mungkin karena kurang cairan jadinya pikiran ikut tak karuan. Namun, setelah meneguk setengah botol minuman ringan, rasa khawatir itu masih saja ada. Lantas aku segera menghubungi Taka karena khawatir jika lama sendirian di sini.
"Halo?" Taka pun segera menjawab teleponku.
"Taka, apa kau sibuk?" tanyaku sambil melihat-lihat keadaan sekitar.
"Em, tidak juga. Baru akan makan siang. Kenapa Ara?" Dia bertanya padaku.
"Taka, bisakah kau ke supermarket dekat kampus? Aku merasa aneh hari ini." Aku memintanya.
"Kau sendirian di sana?" tanyanya lagi.
"He-em." Aku mengangguk.
__ADS_1
"Em, baiklah. Tunggu lima menit. Aku segera sampai." Taka lalu menutup teleponnya.
Hatiku merasa tenang kala Taka ingin segera kemari. Aku jadi tidak was-was lagi. Lantas sambil menunggunya datang, aku ke tempat yang lebih ramai. Aku pergi ke dekat satpam yang berjaga.