
Sementara di apartemen Rain...
Malam yang semakin larut membuat Rain semakin cemas. Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi sang gadis belum juga terbangun dari mimpi.
Hatinya gelisah, gundah-gulana memikirkan jiwa calon istrinya yang entah ada di mana. Ia hanya bisa menggenggam erat tangan sang gadis seraya berdoa sebisanya. Sedang Jack terlihat baru saja selesai beribadah.
Jack tidak jadi pulang ke rumah karena masih harus berjaga, menemani tuannya. Ia membantu Rain menyiapkan apa saja yang dibutuhkan, termasuk makanan untuk sang tuan. Tapi nyatanya, makanan yang ia sajikan tidak sedikitpun disantap oleh Rain. Rain bersikukuh menunggu Ara siuman terlebih dulu.
"Tuan, beristirahatlah. Biar saya yang menggantikan menjaga nona sementara." Jack meminta tuannya beristirahat.
"Tidak bisa, Jack. Tidak bisa. Calon istriku belum kembali. Aku tidak bisa seperti ini. Aku khawatir." Rain menjelaskan dengan raut wajah yang kacau.
"Saya mengerti, Tuan. Tapi saat ini yang kita bisa hanya berdoa. Kakek Ali berpesan untuk tidak panik, apapun yang terjadi. Percayalah, dia sudah lama berpengalaman dalam hal ini. Pastinya dia tidak akan membiarkan nona berada di sana. Kakek Ali pasti membawa nona Ara kembali." Jack menenangkan.
Rain tertunduk. "Tapi..."
Belum sempat meneruskan kata-kata, tiba-tiba angin berembus kencang mengenai jendela kamar, melayangkan tirai-tirai jendela di kamar Rain. Sontak keduanya terkejut. Dari kejauhan pun terdengar Kakek Ali yang terbatuk-batuk.
"Astaga, apa yang terjadi?!" Rain berdiri, ia melihat jendela kamarnya seperti diketuk-ketuk dari luar.
"Tuan, tetaplah di sini dan jangan panik. Saya periksa sekarang." Jack meminta lalu segera pergi.
Rain pun menuruti perkataan dari Jack. Ia tetap menjaga Ara dan berusaha untuk tidak panik. Sedang Jack segera melihat keadaan Kakek Ali di ruang tamu. Ia melihat tubuh pria tua berjubah putih itu sedikit membungkuk di duduknya. Jack pun segera melakukan sesuatu.
Apakah pertarungan sedang terjadi di alam sana?
__ADS_1
Jack segera mengganjal pintu teras dari dalam dengan meja makan. Jendela-jendelanya ia ganjal dengan kursi di ruang makan. Ia tidak akan membiarkan angin besar itu sampai membuka pintu atau jendela apartemen tuannya. Ia juga segera kembali ke kamar untuk mengganjal jendela dengan sofa yang ada. Sontak Rain merasa terheran.
"Jack, ada apa sebenarnya?" Rain bertanya-tanya.
"Tuan, teruslah berdoa dan jangan panik. Kakek Ali sedang berjuang di sana. Mari kita mendoakannya agar lekas berhasil." Jack meminta.
Rain lantas mengangguk. Ia tidak berkata apapun selain mengiyakan apa yang dikatakan oleh Jack. Jack sendiri pun lekas-lekas berdoa, duduk di atas sofa kamar yang digunakan untuk mengganjal jendela. Ia kemudian memutar butiran kayu hitam di tangannya, sambil memuji Sang Pencipta. Sedang Rain terus berdoa seraya memegang erat tangan calon istrinya.
Malam ini sedang terjadi pertempuran sengit di alam yang tidak bisa dijangkau oleh manusia biasa. Seorang kakek tua sedang berjuang melawan sihir dari seorang nenek berjubah hitam yang tak lain adalah penyihir itu sendiri. Nenek penyihir itu mengunci jiwa Ara agar tidak bisa kembali ke raganya.
"Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-makhluk-NYA. Dengan menyebut nama Allah tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakan, baik di langit maupun di bumi. Dan DIA lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
Setelah mengucapkan kalimat itu, sontak saja semua ular yang menggigit tubuhnya terlepas. Ular-ular itu menggelepar di atas tanah lalu perlahan-lahan lenyap menjadi butiran api yang berterbangan ke angkasa. Butiran itu semakin lama semakin padam. Seketika itu juga si nenek sihir merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sedang sang kakek tampak membaca doa agar luka-luka bekas gigitan ular itu hilang dari tubuhnya.
Sial!!! Ternyata dia begitu kuat!
"Bertobatlah, sebelum nyawa sampai di kerongkongan."
Kini seluruh luka akibat gigitan kawanan ular di tubuhnya sudah hilang. Tentunya atas izin Yang Maha Kuasa.
"Hahahaha. Aku sudah banyak melakukan dosa. Tuhan pun sudah benci padaku. Bukankah kau tadi bilang jika perbuatanku ini dikutuk?" tanya si nenek yang mulai merasa frustrasi.
"Sebanyak apapun dosamu terdahulu, dengan air mata kesungguhan memohon ampunan, Tuhan akan mengampuninya. DIA akan menghapuskan dosa-dosamu." Sang kakek menasihati.
"Kau ini sok suci dan sok tahu! Aku telah menyekutukannya! Sudah tidak ada tempat lagi untukku. Sekarang, aku akan membungkam mulutmu selamanya! Kakek tua yang malang!!!"
__ADS_1
Bukannya sadar dan mengakui kesalahan, si nenek penyihir malah mengeluarkan tipu daya lainnya. Ia membuat sihir seolah-olah banyak wanita berpakaian seksi di hadapan si kakek. Sontak kakek berjubah putih itu marah. Ia memejamkan kedua mata seraya memuji Tuhannya.
"Wahai Yang Memiliki Kerajaan, Maha Suci..."
Seketika itu turun kawanan tentara bersayap dari langit. Kepakan sayapnya membuat angin kencang menerpa si nenek penyihir. Dan tak lama tentara-tentara berbaju besi itu mengarahkan busur panahnya ke arah si nenek.
"Maafkan aku. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita."
Satu, dua, tiga, anak panah menancap di tubuh si nenek sihir. Satu anak panah melenyapkan satu jelmaan wanita yang menggoda kakek tua tersebut. Dan akhirnya, satu per satu anak panah menghujam tubuh si nenek. Bersamaan dengan hilangnya semua wanita jelmaan dari sihir yang nenek itu buat.
"AAAAA!!!"
Terdengar teriakan yang menggema. Darah segar bercucuran, mengalir dengan derasnya dari tubuh si nenek. Anak-anak panah tentara bersayap itu menembus tubuhnya. Lalu tak lama si nenek pun tumbang dan tidak bergerak lagi.
"Segala puji bagi Tuhan semesta alam."
Sang kakek mengucapkan puji syukur. Tak lama para tentara bersayap itu naik kembali ke atas langit.
Kakek Ali akhirnya berhasil mengalahkan si nenek penyihir tersebut. Di tempat yang berbeda, si nenek sihir terlihat memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Darah itu mengenai foto sepasang insan yang akan segera menikah. Ternyata foto Ara dan Rain ada di atas meja sihirnya.
"Keparat!!!" Nenek itu memegangi dadanya yang terasa amat sakit.
"Baru kali ini aku gagal. Sialan!" Dia mencaci maki dirinya sendiri.
Tak berapa lama berselang, kedua mata nenek penyihir itu terbelalak kaget. Ia melihat sesuatu yang amat menakutkan datang.
__ADS_1
"Mau apa kalian?!! Aku tidak salah, kalian lah yang bodoh! Mengalahkan satu kakek tua saja tidak sanggup!" seru si nenek.
Entah apa yang dilihat oleh si nenek. Tiba-tiba saja lehernya seperti tercekik. Tubuhnya pun melayang ke udara, ia tampak di ujung ajalnya. Dan tak lama, tubuhnya dibenturkan ke tanah dengan keras. Hingga akhirnya ia tidak lagi bisa bergerak untuk selamanya.