Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Wishes


__ADS_3

Dia ternyata berdiri di samping pintu. "Ara."


"Ya?" Owdie memanggilku.


"Bisakah tidak bermesraan di depanku? Aku masih lajang, belum beristri." Owdie mengatakannya padaku.


"Tidak perlu memberi penegasan seperti itu kepada istriku, Owdie." Suamiku menanggapinya.


"Hah. Kalau tidak begini, aku sendiri yang akan makan hati, Rain," balas Owdie.


"Hahaha. Maka dari itu cepatlah menikah. Jangan menunggu mati." Suamiku malah memperkeruh suasana.


Astaga ... mereka?!


Aku jadi hanya bisa melihat mereka. Beralih ke kanan dan ke kiri, bergantian melihat keduanya yang saling sahut menyahut. Entah mengapa mereka senang sekali bertengkar mulut di depanku. Seperti tidak ada wibawanya sama sekali.


"Hei, kau sombong sekali! Mentang-mentang sudah menikah!" Owdie pun terlihat kesal.


"Iya, dong. Sudah ada hasilnya. Ini." Rain mengusap perutku.


"Eh, sudah-sudah." Kusadari jika situasi ini tidak akan berakhir karena tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Lantas saja aku menengahi lalu mempersilakan masuk keduanya. "Kita ke dalam, yuk." Aku mengajak suamiku. "Ayo, Kak!" Aku juga mempersilakan Owdie untuk masuk.


Kulihat keduanya saling memalingkan muka. Aku pun tidak habis pikir dengan keduanya yang selalu saja bertengkar. Apakah mereka selalu seperti ini saat menjalankan tugas organisasi? Terkadang aku jadi kepo sendiri.


"Ara, apakah ada sesuatu yang menyegarkan untuk bisa kuminum?" tanya Owdie saat sudah sampai di ruang tamu apartemen kami.


"Ada, Kak. Tunggu, Ara ambilkan sebentar." Aku pun beranjak mengambilkan minum.


"Sayang, jangan!" Suamiku menahan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Owdie sudah besar. Biarkan saja dia mengambilnya sendiri. Kau layani aku saja ya." Rain mengecup tanganku di depan saudaranya.


"Uwek! Rasanya aku ingin muntah!"


Owdie pun memasang wajah mual melihat kemesraan kami. Dia lalu beranjak pergi menuju dapur untuk mengambil minumannya sendiri. Suamiku ini memang tega sekali.


Sayang, harus kuakui jika kau memang terkadang menyebalkan.


Aku pun tersenyum kepada pria tinggi di hadapanku ini. Kupeluk saja dirinya dari samping sambil menghirup aroma tubuhnya. Aku begitu merindukannya setelah beberapa hari tak bertemu. Dan entah mengapa, hasratku tiba-tiba menginginkannya. Mungkinkah ini yang dinamakan rindu sudah menggila?


Sepuluh menit kemudian...


Aku memakai daster. Di rumah memang selalu memakai daster agar terasa lebih lega dan tidak gerah. Namun, jika ada orang yang datang, aku segera melapisinya dengan memakai kardigan ataupun sweter tipis sebagai rompi. Tak enak jika kelihatan lengannya saat ada orang. Apalagi orang itu belum pernah aku kenal sebelumnya. Lagipula suamiku ini banyak maunya. Dia sempat memintaku untuk menutup seluruh tubuh saat di luar. Tapi sayangnya, aku belum bisa memenuhinya.


Usiaku baru sembilan belas tahun. Tapi karena setengah tahun tidak berada di sini, tahun ini aku genap berusia dua puluh tahun. Sedang suamiku dua puluh delapan. Kami berbeda umur sekitar delapan tahun. Cukup jauh, bukan? Tapi yang namanya cinta tidak memandang apa-apa.


Kini aku sedang bercermin di dalam kamar, menunggu suamiku keluar dari kamar mandi. Dia tadi bilang ingin mandi sebelum bergantian dengan Owdie. Aku pun menunggunya di dalam kamar seraya melihat perkembangan perutku. Ternyata si kecil sudah rindu pada ayahnya. Dia tidak sabar ingin ditengok bapaknya.


"Ibu ke mana, Sayang?"


Suamiku membuka pintu kamar sehabis mandi. Dia hanya mengenakan handuk putihnya saja. Tetesan air yang jatuh dari rambutnya itu begitu membuatku tergoda. Bagaimana tidak, tubuhnya amat maskulin dengan lekuk kekar di seluruh tubuhnya. Apalagi perutnya itu yang seperti roti sobek. Menggugah selera mata.


"Ibu ke pasar, Sayang. Jadi aku menunggu saja di rumah. Tadi sih ibu mengajak ku. Tapi aku sedang malas. Aku masih ingin membaca-baca buku." Aku jujur padanya.


Dia berjalan mendekatiku. Entah mengapa saat dia berjalan mendekatiku, hatiku ini dag-dig-dug tak karuan. Seperti teringat dengan sesuatu yang pernah terjadi di antara kami sebelum menikah. Apakah dia ingin memintaku saat ini? Kulihat sudah hampir jam sebelas siang. Apa iya siang-siang akan main di atas ranjang?


"Pintar." Kata itu yang dia ucapkan saat sudah berada di hadapanku. "Kau tidak perlu melakukan pekerjaan yang berat, Sayang. Santai saja ya. Baca buku juga boleh. Tapi, buku apa yang kau baca?" tanyanya padaku.

__ADS_1


"Oh, itu. Buku sejarah tentang Turki," jawabku segera.


Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Aku kira buku kamasutra," katanya yang membuatku geli.


Dia tersenyum seraya menampakkan gigi-gigi kecilnya. Kuakui jika suamiku ini tidak pernah berubah. Dia selalu mesum seperti dulu. Tidak saat pendekatan, tidak sesudah menikah. Sama saja. Dia memang tidak ada duanya.


Sayang, jangan pancing aku. Aku sudah sangat rindu padamu. Apa tidak keberatan jika aku memintanya sekarang? Bagaimana dengan saudaramu? Mau dianggurkan begitu saja?


Aku berbicara sendiri di dalam hati. Tak berani mengatakannya langsung. "Sayang." Aku pun segera memeluknya. "Aku ingin digendong," kataku begitu saja.


Kuhirup aroma tubuhnya. Kucium permukaan dadanya yang bidang. Kulingkarkan kedua tangan ini di pinggangnya. Kuakui jika aku amat merindukannya. Rasanya ingin sekali berbulan madu kembali. Tapi kasihan juga janin yang ada di dalam kandunganku ini. Pastinya dia tidak akan bisa tidur nyenyak karena selalu diganggu bapaknya. Siapa lagi kalau bukan si hujan ini.


"Nanti kugendong, ya. Masih ada Owdie di sini. Kasihan jika dia menunggu. Aku tidak bisa main cepat soalnya." Dia berkata seperti itu.


"Ih, dasar mesum!" Aku pun mencubit perutnya.


"Hei, mesum-mesum gini suamimu. Wajar kan aku mesum pada istri sendiri?" Dia meminta pembelaan.


"Em, baiklah. Aku mengalah saja," kataku yang tidak ingin melanjutkan hal ini.


"Tunggu, ya. Ada urusan yang harus kubicarakan bersama Owdie." Dia mengecup keningku.


Aku mengangguk. Dia pun ingin mengenakan pakaiannya.


"Sayang!" Sebelum sempat membuka lemari pakaian, aku memanggilnya.


"Ya?"


"Yang ini tidak dicium?" Aku menunjuk perutku.

__ADS_1


"Astaga ...," Dia pun menepuk dahinya sendiri seraya tertawa. "Maaf, tidak terpikirkan."


Dia mendekat lalu berlutut di depanku. Kemudian mendaratkan ciumannya pada perutku. Dia mengusap-usap perutku lalu menciumnya lagi. Dia begitu sayang pada buah hati kami. Kerja kerasnya kini membuahkan hasil. Tak sia-sia selalu bercocok tanam di setiap kesempatan. Kami akan segera menjadi orang tua paling berbahagia di dunia. Rasanya tak sabar menanti kelahirannya. Semoga saja semuanya lancar tanpa kendala.


__ADS_2