
"Bentar ya, Sayang. Ro memanggil." Dia menunda percakapan kami.
Aku pun mengangguk lalu melanjutkan santapku. Sedangkan priaku segera mengangkat telepon dari Ro, asisten pribadinya itu.
"Ya, baru sampai di rumah. Apa ada jadwal untuk empat hari ke depan?" tanya priaku di telepon.
"Tidak. Jumat ini aku akan menikah. Jadi tolong semua jadwal dipindahkan ke hari Senin dan Selasa. Rabu aku sudah libur," kata priaku lagi.
Entah apa yang dibicarakan mereka, aku tidak bisa mendengar perkataan dari Ro. Namun, jika dilihat dari wajah priaku, sepertinya Ro sedang membacakan jadwal kegiatan beberapa hari ke depan.
"Em, baiklah. Tidak masalah jika harus lembur. Yang penting Rabu aku sudah libur, tidak menerima dokumen lagi," kata priaku.
Lantas kuteguk air minumku lalu segera menyeka mulut dengan tisu. Aku mendengarkan priaku berbicara saja karena sepertinya serius.
"Baik, nanti kita bicarakan lagi besok. Untuk saat ini pindahkan semua jadwal ke hari Senin dan Selasa. Terima kasih, Ro." Priaku lantas mengakhiri pembicaraannya di telepon.
"Sayang, apa semuanya baik-baik saja?" tanyaku khawatir.
Dia meletakkan ponsel mininya ke atas meja. "Tenang saja. Semuanya beres, Nyonya Rain." Dia menyebutku seperti istrinya.
Aku pun tertawa mendengar ucapannya. Rasa-rasanya aku memang seperti telah menjadi istrinya. Dia bisa sekali menghibur hatiku. Ya sudah, akhirnya kami menikmati santap bersama sampai dengan selesai. Ditemani semilir angin pantai yang menyejukkan. Kebetulan cuaca panas hari ini, jadi jika ingin berjalan-jalan di pantai kami harus memakai topi.
Setengah jam kemudian...
Priaku memang idaman sekali. Selepas makan dia membantuku mencuci piring. Dan kini kami sedang menikmati pemandangan pantai dari teras lantai dua. Kulihat ombak berkejaran di sana. Suaranya pun bisa terdengar jelas sampai ke sini.
"Akhirnya aku bisa merasakan kehangatanmu."
Priaku memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar di perutku seolah tidak mau terlepas. Dia juga membenamkan wajahnya di pundakku. Menciumnya dengan lembut sehingga membuat sekujur tubuhku merinding.
"Sudah, Sayang. Nanti keterusan." Aku mencoba menghentikannya.
"Memangnya kenapa? Tidak ada yang melarang." Dia bermanjaan denganku.
"Dasar." Kuusap saja wajahnya dengan lembut.
"Besok mau ikut ke kantor?" tanyanya kemudian.
"Aku kuliah, Sayang," jawabku segera.
"Ya, berarti aku sendiri." Dia mengeluh bak balita yang manja.
Lantas aku berbalik menghadapnya. "Jangan berbicara seperti itu. Jadi aku ini dianggap apa coba?" Aku mencubit hidung mancungnya.
Dia lalu tersenyum. "Aku ingin selalu bersamamu, Ara." Dia menempelkan dahinya ke dahiku.
"Iya, aku tahu. Sabar, ya. Sebentar lagi." Aku menenangkannya.
"Baiklah. Kalau begitu sekarang cium aku," pintanya.
__ADS_1
"Eh?!"
"Cium aku," katanya lagi.
Priaku ini ada-ada saja. Padahal belum lama tadi kami berciuman di dalam bathtub. Tapi kini dia sudah meminta lagi. Dia seperti tidak bisa lepas dariku, maunya menempel saja.
"Sedikit saja, ya."
Lantas kudekatkan bibirku ke bibirnya, aku berniat menciumnya. Tapi, saat itu juga dia menghindar dariku.
"Sayang?!" Perasaanku mulai tak enak.
"Cium lagi," pintanya, sambil terus memelukku.
Aku pun mendekatkan bibirku lagi, berniat untuk menciumnya. Tapi lagi-lagi dia menghindar. Jika seperti ini terus tidak lebih dari sekedar mempermainkanku.
Dia mau main-main rupanya.
Aku kesal karena sudah dua kali merasa dipermainkan. Kulihat dia juga tersenyum puas di hadapanku, entah mengapa. Lalu akhirnya kulepas saja tangannya yang melingkar di pinggangku ini. Aku ngambek dan kesal padanya. Tapi, di saat itu juga dia menciumku.
Sayang ...?!!
Aku terkejut tiba-tiba dia menciumku. Mungkin dia tahu jika aku kesal lalu segera meredakannya. Mungkin dia tidak mau berdiaman seperti dulu. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, yang jelas bibirnya kini menyapu bibirku.
Sayang, aku mencintaimu.
"Sayang ... sudah."
Selepas bibir kami bertemu, bibirnya mengecup daguku. Bibirnya itu mengecup pelan daguku lalu turun ke bawah lagi, ke leherku. Sampai aku tidak sadar jika tali dasterku sudah diturunkan olehnya. Aku tahu benar apa yang akan dilakukannya saat ini.
"Sayang ...." Lantas aku menahan wajahnya.
Dia menatapku dengan tatapan yang berbeda. "Kenapa?" Hanya kata itu yang terucap dari bibir tipisnya.
"Geli," jawabku singkat.
Seketika dia tertawa kecil di depanku lalu mencium dada ini dengan satu kecupan. Senyum manis dari wajahnya pun terlihat di kedua mataku. Rasanya aku ingin selamanya memiliki senyum itu.
"Sayang, main yuk!" Tiba-tiba saja dia mengatakan hal itu.
Dia lantas merebahkan kepalanya di dadaku. Menghirup aroma dada ini sambil merasakan bentuknya yang semakin lama semakin membesar karena ulahnya. Aku pun memegangi kepalanya agar tidak bergerak lagi. Karena bisa bahaya jika dia sampai menurunkan dasterku lalu melihat pucuk indah di tengah sana. Bisa-bisa kami tidak lagi bisa mengendalikan diri.
"Yuk, main. Tapi di pantai." Aku mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Di pantai?!!" Kulihat dia membelalakkan kedua matanya.
Sayang, memangnya berpikir apa sih?
Lantas segera kutarik tangannya agar mengikutiku ke lantai bawah. "Ayo, Sayang. Cepat!"
__ADS_1
Kutahu jika dia amat menginginkanku. Tapi, ini belum saatnya. Jika aku tidak cepat-cepat mengalihkan perhatiannya, bisa-bisa habislah aku. Dia dapat melahap apa saja jika sudah menggila. Dan aku amat khawatir jika kejadian itu sampai membuatku lepas kendali. Akhirnya hal yang tidak diinginkan pun terjadi.
Maaf, Sayang. Sabar, ya. Beberapa hari lagi.
Kuambil topi pantai di kamar lalu segera mengenakan sandal biasa. Menjelang siang ini aku mengajak priaku berjalan-jalan di tepi pantai. Kebetulan hari Minggu pantai terlihat ramai. Jadi ya sudah, kualihkan hasrat priaku dengan berjalan-jalan. Dan kulihat dia hanya terdiam tanpa berkata sepatah kata pun. Sepertinya dia tengah kesal sendiri.
....
Meskipun kesepian sudah menjadi teman dalam hidupku.
Kugantungkan hidupku di tanganmu.
Orang bilang aku ini gila dan buta.
Karena mengambil risiko tanpa berpikir panjang.
Dan bagaimana caramu membutakan aku, masih menjadi misteri.
Aku tak bisa mengusirmu dari kepalaku.
Tidak peduli apa yang tertulis di masa lalumu.
Selama kau masih di sini bersamaku.
Aku tak peduli siapa dirimu.
Darimana asalmu.
Apa yang sudah kau lakukan.
Selama kau mencintaiku.
Karena semua hal kecil yang sudah kau katakan dan lakukan.
Terasa merasuk ke dalam relung hatiku.
Tak masalah jika engkau sedang melarikan diri.
Tampaknya kita sudah ditakdirkan bersama.
Aku juga telah mencoba untuk menyembunyikannya agar tidak ada yang tahu.
Tapi, kurasa semua terkuak saat kutatap matamu.
Apa yang sudah kau lakukan dan darimana asalmu.
Aku tidak peduli.
Selama kau mencintaiku, Kasih...
__ADS_1