
"Tante senang kau datang kemari." Ibu Jasmine terlihat bernapas lega saat melihat Rose datang menjenguk anaknya.
Rose melepaskan pelukannya. Di saat itu juga ibu Jasmine melihat Lee yang datang bersama Rose. Ia kemudian menyapa Lee yang masih berdiri jauh darinya.
"Dosen Lee, senang bisa bertemu Anda kembali." Ibu Jasmine menyapa.
Lee tersenyum. "Maaf kami tidak memberi tahu sebelumnya jika ingin ke sini, Nyonya." Lee menuturkan.
Ibu Jasmine menggelengkan kepala. "Tak apa, Dosen Lee. Mari kita bicara di luar. Biarkan Rose menjenguk Jasmine di dalam." Ibu Jasmine mengizinkan anaknya dijenguk oleh Rose.
Lee mengangguk. Ia mengerti akan maksud dari perkataan ibu Jasmine. Keduanya kemudian keluar ruangan. Sedang Rose masih terdiam di tempat sambil menatap sahabatnya yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Ia tak menyangka jika akan melihat Jasmine seperti ini. Air mata itu terus berjatuhan membasahi pipinya.
"Jasmine." Ia kemudian berlari dan memeluk sahabatnya. "Jasmine, kau harus sehat. Kau pasti bisa melawan penyakitmu. Kau harus kuat, Jasmine!" Rose tidak lagi bisa menahan kesedihannya.
Hati Rose begitu sedih. Bagaimanapun Jasmine adalah satu-satunya sahabat yang dimiliki olehnya. Hanya Jasmine yang menurut, mau mengalah padanya. Tapi kini temannya itu tengah tak berdaya di atas kasur rumah sakit.
"Jasmine, bangunlah."
Di saat-saat seperti ini pun ia malah tak ada untuk sahabatnya. Hanya karena merasa Jasmine telah merebut Lee darinya. Padahal kenyataannya, Lee tidak memilih siapa-siapa. Rose menyesali dirinya.
Ia kini menyadari penyebab Jasmine sampai dekat kepada Lee. Ternyata temannya itu takut kesendirian. Lee pun tidak pernah menggubrisnya, hanya sebatas menghargainya saja.
Sang ibu melihat Rose memeluk putrinya dari balik kaca pintu ruangan. Ia juga ikut bersedih karena sebelum Jasmine masuk rumah sakit, terjadi kesalahpahaman di antara putrinya dan Rose. Tapi sepertinya hal itu tidak perlu ia khawatirkan lagi. Karena sekarang Rose telah datang menjenguk anaknya.
__ADS_1
Bagaimanapun seorang ibu bisa merasakan apa yang tengah dirasakan anaknya. Begitu juga dengan ibu Jasmine yang akhirnya mengetahui duduk permasalahan yang sedang terjadi di antara putrinya dan Rose. Ia kemudian berbicara kepada sang suami untuk menyelesaikan masalah ini. Yang mana pada akhirnya, ayah Jasmine dan ayah Rose bertemu mendiskusikan hal ini. Dan akhirnya mereka sepakat untuk mengutus Lee menyelesaikannya.
"Bagaimana keadaan Jasmine sekarang, Nyonya?" Lee bertanya kepada ibu Jasmine setelah di luar ruangan. Mereka kemudian duduk di kursi tunggu yang ada di luar.
"Kondisi psikis Jasmine menurun drastis. Ia merasa kesepian, bahkan kami sampai mendatangkan psikolog untuknya," tutur ibu Jasmine dengan raut wajah penuh kesedihan.
Lee merasa prihatin. "Bagaimana kondisi kesehatannya sendiri?" tanya Lee lagi.
Ibu Jasmine menundukkan wajahnya. "Dia divonis menderita leukimia stadium satu. Dokter masih berupaya untuk mematikan sel kanker yang ada pada tubuhnya. Tapi dokter mengatakan dukungan moril bisa lebih mempercepat kesembuhannya." Ibu Jasmine menerangkan.
Seketika Lee merasa bersalah karena tidak bisa menerima cinta Jasmine. "Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa berbuat lebih banyak untuk Jasmine. Semoga Jasmine lekas sembuh dan dapat kembali ke kampus." Lee berdoa.
Ibu Jasmine tersenyum berat. "Mungkin aku juga yang salah karena telah membiarkan dia besar sendiri tanpa kasih sayang dari kami, kedua orang tuanya. Aku dan suami terlalu sibuk mengejar dunia sampai-sampai putri semata wayang kami terlantar karenanya. Aku tidak tahu jika dia sampai menderita leukimia jika tidak jatuh pingsan tiba-tiba. Selama ini kami sebagai orang tua melihatnya baik-baik saja." Ibu Jasmine mengungkapkan.
"Mungkin ada baiknya untuk beberapa minggu ke depan Nyonya dan tuan ada di rumah untuk memberikan dukungan moril padanya. Karena bagaimanapun orang tua mengambil andil besar dalam perkembangan psikis anak. Setahu saya hati dapat merubah segalanya. Dengan dia merasa disayangi dan diperhatikan lebih oleh Nyonya dan tuan, maka kekuatan hatinya akan bertumbuh besar. Dan kekuatan hati itu akan membuat pikirannya secara otomatis membuat imun kebal terhadap penyakit apapun." Lee menuturkan apa yang ia ketahui.
Ibu Jasmine menoleh ke arah Lee yang duduk tak jauh darinya. "Apakah ada alternatif lain untuk penyembuhannya tanpa kemoterapi?" Ia bertanya serius, berharap ada cara lain untuk menyembuhkan putrinya, tanpa harus mengalami efek samping.
Lee mengangguk. Ia berpikir sejenak sebelum berbicara. "Saya rasa cara ini tidak mudah untuk dipercaya menyembuhkan penyakit, Nyonya." Lee merasa ragu mengatakannya.
Ibu Jasmine tampak amat serius mendengarkan. "Katakanlah. Kami akan mencobanya. Kami tidak tega jika Jasmine harus menjalani kemoterapi yang menyiksa. Kami berharap Dosen Lee bisa membantu mencarikan alternatif lain." Ibu Jasmine amat berharap Lee dapat membantunya.
Lee mengangguk. Ia mengerti. "Ada sebuah cara untuk membuat kekuatan hati itu bangkit dan mengendalikan pikiran. Namun, cara ini tidaklah memakan waktu yang sebentar. Tergantung dari kesungguhan orang itu sendiri. Bersungguh-sungguh kah dalam pelatihannya atau tidak." Lee menerangkan.
__ADS_1
"Maksud Dosen Lee?" Ibu Jasmine tampak bingung.
"Law of Attraction. Sebuah hukum yang menyugesti pikiran sendiri dengan kekuatan batin yang bisa diolah dengan bermeditasi, berdoa ataupun menyatu dengan alam." Lee menerangkan lagi.
"Law of Attraction?" Ibu Jasmine tampak ragu.
"Ya, Nyonya. Bukankah pikiran yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi di dalam tubuh? Ada pepatah mengatakan, jiwa yang sehat menghasilkan badan yang sehat. Itu berarti semua berasal dari sini." Lee menunjuk hatinya.
Ibu Jasmine mengangguk. Ia tampak mulai mengerti. "Baiklah. Kami akan mencobanya. Apakah Dosen Lee tahu tempat terbaik untuk pelatihan tersebut?" tanya ibu Jasmine lagi.
Lee mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya. "Ini, Nyonya. Di tempat ini banyak orang yang mengikuti terapi kekuatan hati dan pikiran. Mungkin Nyonya mau mencobanya." Lee membantu memberikan alternatif lain.
Ibu Jasmine melihat alamatnya. "Bisa antarkan kami menemui pemiliknya jika proses di rumah sakit sudah selesai?" tanya ibu Jasmine lagi.
Lee mengangguk. "Tentu. Nyonya tidak perlu khawatir." Lee pun menyanggupi.
Lee mengutarakan sesuatu kepada ibu Jasmine sebagai bahan pertimbangan pengobatan anaknya. Ibu Jasmine pun tampak mengernyitkan dahinya. Awalnya ia tidak percaya. Namun, pada akhirnya ia akan mencoba.
"Baiklah. Aku akan mendiskusikan hal ini kepada suamiku terlebih dulu. Terima kasih Dosen Lee." Ibu Jasmine akhirnya menerima apa yang dikatakan oleh Lee.
"Kembali Nyonya." Lee pun membalasnya dengan senyuman.
Lee siap sedia jika memang harus mengantarkan keluarga Jasmine ke tempat pelatihan Law of Attraction. Kebetulan ia mempunyai perkumpulan sehingga memiliki banyak kenalan dalam hal apa saja. Termasuk pelatihan alam bawah sadar juga. Dan ia berharap Jasmine bisa segera disembuhkan.
__ADS_1
Jasmine, lekaslah sembuh. Buatlah tugasku selesai dengan baik.