Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Broken Heart


__ADS_3

Satu jam kemudian…


Pagi ini kukenakan setelan blus biru panjang dan juga celana pensil hitam semata kaki. Sedang sepatunya kukenakan sepatu sandal dengan hak tinggi. Aku ingin tampil beda hari ini.


Rambut ku keriting gantung dan kubiarkan tergerai. Kebetulan ada peralatan lengkap untuk rambut yang tersedia di rumah, jadi kupakai saja. Alhasil penampilanku jadi begitu anggun. Apalagi ditambah polesan make up berdominasi warna oranye. Lengkap sudah menarik pandangan mata.


Lipglos kusapukan lebih banyak hari ini agar terlihat lebih bergairah. Lipglos berwarna dan beraroma peach yang menggoda. Aku ingin menarik perhatian priaku agar dia tidak marah lagi. Semoga saja sesampainya di kantor, dia segera menyambutku. Ya, aku sih berharapnya seperti itu.


Kini aku masih berada di dalam perjalanan menuju gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa. Aku akan mengantarkan sarapan pagi untuknya. Aku harus segera meredakan amarah yang sedang melanda priaku. Karena kalau tidak, pernikahan kami bisa lagi tertunda. Sedang aku tidak ingin hal itu sampai terjadi. Aku ingin bebas melakukan apa saja bersamanya tanpa rasa khawatir akan kenapa-napa.


“Nona, sudah sampai.”


Akhirnya tempat yang dituju pun sampai. Jack memberi tahuku saat sudah tiba di halaman parkir gedung. Aku pun lekas-lekas bersiap sebelum menemui priaku. Kubawa tas dan juga sarapan pagi untuknya sambil memasang wajah ceria. Aku berniat menemuinya dalam keadaan hati yang suka. Ya, walupun rasa sakit itu masih terasa karena didiamkannya. Tapi tidak apalah, namanya juga hubungan. Pasti ada kalanya terjadi pertengkaran.


“Terima kasih, Jack.”


Jack menungguku di mobil, dia membiarkanku masuk sendiri ke dalam gedung. Mungkin dia tidak ingin terlihat seperti mencampuri urusan kami. Aku pun mencoba mengerti hal itu. Lantas segera kulangkahkan kaki menuju lift lalu segera masuk ke dalamnya. Kutekan lantai tujuanku sambil terus berdoa. Semoga saja niat baikku membawakan sarapan ini bisa diterimanya.


Lima menit kemudian…


Akhirnya aku sampai juga di depan ruang kerja priaku. Kuketuk pintu lalu segera masuk ke dalamnya. Kulihat priaku masih tertidur di sofa dengan mengenakan setelan jas hitamnya. Sepertinya dia benar-benar lembur semalam.


“Sayang.”


Kuletakkan sarapan pagi yang kubawa untuknya. Kotak nasi berwarna biru itu kutaruh di atas meja lalu membangunkannya yang masih tertidur. Kukecup keningnya dengan penuh sayang lalu mengusap wajahnya. Tak lama dia pun terbangun. Bola mata birunya akhirnya bisa kulihat dari jarak dekat.


Dia beranjak bangun. “Ada apa?” tanyanya jutek.


“Sayang, aku bawakan sarapan untukmu. Ini.” Kuambil kotak nasi dari atas meja lalu kuberikan padanya.

__ADS_1


“Tidak perlu repot,” katanya dengan nada masih jutek.


“Sayang ....” Entah mengapa aku merasa sedih.


Dia beranjak dari duduk lalu masuk ke ruangan yang ada di samping dapur kecil. Sepertinya itu kamar mandi khusus untuknya.


“Sayang, tunggu!” Aku berlari mengejarnya.


Dia ingin menutup pintunya. “Apa lagi?” Wajahnya benar-benar jutek padaku.


“Sayang, maafkan aku. Aku salah. Tolong maafkan, ya? Aku sudah membawakan sarapan pagi untukmu. Nanti dimakan, ya?” Aku berharap padanya.


Dia diam, tidak menjawab. Lalu menutup pintu kamar mandi dengan cepat. Seketika aku kaget dengan suara pintu yang ditutup kuat olehnya.


Ya Tuhan ….


Kusadari jika tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain diam. Aku sudah berusaha semampuku, tapi nyatanya priaku tidak bisa diluluhkan dengan cepat. Kulihat jam di ponsel dan ternyata sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Aku pun tidak bisa berlama-lama di sini karena harus segera berangkat ke kampus. Aku punya mata kuliah pagi ini.


Terserah ditanggapi atau tidak olehnya, aku berpamitan saja padanya. Kuambil tas kuliahku lalu segera berjalan ke luar ruangan sambil berusaha tersenyum bahagia. Aku tidak ingin menampakkan kesedihanku ini di depan karyawan-karyawannya.


Perjalanan ke kampus…


Jack mengantarkanku ke kampus. Dan kini kami masih berada di dalam perjalanan. Rasanya hatiku perih sekali karena didiamkan begitu saja oleh Rain. Padahal aku tidak melakukan apa-apa di atap gedung bersama Lee kemarin. Kami hanya sebatas berbincang.


Sayang, apakah kau akan selalu seperti ini?


Kupandangi jalan raya dari balik kaca jendela mobil. Kulihat lalu-lalang kendaraan yang melintas. Terpikir olehku bagaimana jika dia selalu seperti ini. Bagaimana nasib rumah tangga kami jika dia mempunyai tabiat seperti itu? Entah mengapa rasa ragu mulai menghantuiku.


Kadang aku merasa heran dengan sikapnya. Apa nanti setelah menjadi istri aku tidak boleh berbicara dengan pria lain? Apa aku harus bicara dengannya saja? Jika dia terus seperti itu sama saja mengekang ruang gerakku, dan aku amat tidak menyukainya. Bagaimanapun aku butuh kebebasan tanpa melepas batas-batas yang ada. Aku juga ingin bersosialisasi.

__ADS_1


“Nona, Nona baik-baik saja?” Jack membuyarkan lamunanku tentang Rain.


Aku tersadar. “Jack, aku ….” Namun seperti tidak dapat melanjutkan perkataan.


“Nona bertengkar lagi?” Jack seperti tahu apa yang terjadi.


“Dia memberi tahumu?” tanyaku segera.


Kulihat Jack tersenyum dari kaca tengah. “Tuan Rain lucu jika sedang ngambek,” katanya yang membuat hatiku sedikit terhibur.


“Ngambek?”


“Iya. Baru kali ini saya melihatnya seperti itu, Nona. Lucu sekali.” Jack terlihat menahan tawanya.


Aku menghela napas panjang.


“Jangan patah arang, Nona. Terkadang pria juga ingin dimengerti dan dimanja. Hanya saja memang perlu menemukan pasangan yang tepat. Mungkin Nona bisa melakukan sesuatu untuk meredakan kekesalannya.” Jack memberi saran padaku.


Melakukan sesuatu?


Lantas aku berpikir. Hal apa yang bisa meredakan kekesalan priaku? Rasa-rasanya dia tidak perlu diberi ini dan itu karena sudah mempunyai segalanya. Namun, kalau diingat-ingat ada sesuatu hal yang sangat dia inginkan dariku. Tapi selama ini aku selalu menahannya.


Apa iya hal itu harus kuberikan agar dia tidak marah lagi. Ya ampun, mengapa aku merasa khawatir sendiri?


Priaku amat menginginkanku. Tapi aku tidak mungkin memberikan tubuh ini sebelum pernikahan itu terjadi. Aku masih menjaga budaya timurku. Mungkin jika di negaranya bisa bebas sekehendak hati. Tapi, hal itu tidak bisa berlaku bagiku. Bagaimanapun aku orang timur dan harus tetap menjunjung ketimuranku.


“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membuat kekesalannya reda, Jack.” Aku jujur pada Jack.


Jack tersenyum. “Nanti saya akan mencoba bicara pada tuan jika waktunya memungkinkan, Nona. Saat pria marah, kita memang harus tunggu amarahnya mereda, barulah kita coba untuk bicara. Pria memiliki sisi egois yang begitu tinggi. Saya harap Nona bersabar menghadapinya.” Jack menasihatiku.

__ADS_1


“Terima kasih, Jack. Aku minta bantuanmu, ya.”


Saat ini tidak ada orang lain yang bisa kumintai tolong agar priaku tidak marah lagi selain Jack. Aku berharap Jack bisa menasehati priaku agar tidak marah lagi. Kulihat Jack juga mengangguk. Sepertinya dia menyanggupi permintaanku. Jadi ya sudah, kutunggu saja kepulangan priaku ke rumah. Semoga Jack bisa menasehatinya hari ini.


__ADS_2