Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Telephone


__ADS_3

Wanita paruh baya itu terlihat sedih. Air matanya mulai menggenang disertai helaan napas yang berat. Ia kemudian melihat ke arah Rain, menatap Rain dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Ia seperti tak kuasa untuk mengatakannya.


"Jika melihat tanda lahirmu, kau ... memang anakku." Wanita paruh baya itu terbata mengatakannya.


Sontak Rain terkejut dengan apa yang ia dengar. "Jadi ... benar?" Ia meminta kepastian.


Ibu itu mengangguk. "Ya. Putra kecilku dulu mempunyai tanda lahir yang sama sepertimu. Namun, kami terpisah karena insiden tak terduga waktu itu. Kemungkinan besar kau memang putraku. Namun, ibu ingin kau memastikannya dulu." Suara ibu itu terdengar lirih.


Rain menelan ludahnya. "Insiden? Insiden apa Bu?" tanya Rain dengan degup jantung yang berpacu cepat.


Ibu itu terdiam, ia kemudian mengatakannya. "Invasi Irak beberapa puluh tahun yang lalu," kata ibu itu yang sontak membuat Rain terkejut.


Jadi benar?!


Rain kembali mengingat apa yang ia lihat di telaga seribu warna waktu itu. Dimana ada penyerangan terhadap sebuah pemukiman di dataran pasir yang gersang. Tidak salah lagi jika itu adalah tanah kelahirannya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Ara dengan lembut menanyakan keadaan suaminya.


Rain masih terdiam. Ia berusaha menormalkan degup jantungnya. Ia tak percaya dengan pernyataan dari sosok wanita yang sama persis dengan apa yang ia lihat di telaga seribu warna. Rain pun langsung mendekati ibu itu lalu memeluknya. Ia tidak banyak berpikir tentang kebenaran yang ada. Ia yakin jika wanita di hadapannya adalah ibu kandungnya.


Anakku ... kau sudah tumbuh besar, Nak ....


Wanita itu sendiri membalas pelukan Rain dengan eratnya. Kini ia menyadari jika pria yang ada di hadapannya memang putra kandungnya. Ras haru pun menyelimuti hatinya. Puluhan tahun terpisah, akhirnya ia dipertemukan kembali dengan putranya. Kebahagiaan tak terkira ia rasakan. Tanpa terasa air mata pun terus jatuh membasahi pipinya.


"Ibu ...."

__ADS_1


Rain segera bersimpuh di hadapan sang ibu. Bukan mau dirinya berpisah dari ibunya. Takdir mengatakan lain kepada mereka. Suasana haru pun menyelimuti rumah kecil itu. Akhirnya Rain benar-benar bisa bertemu dengan ibunya. Ara yang menjadi saksi atas pertemuan anak dan ibu itu pun merasa terharu. Ia ikut meneteskan air matanya.


Sore harinya...


Ara dan Rain memutuskan untuk tinggal di pemukiman kecil yang ada di pinggiran Kota Turki. Kini keduanya sedang merapikan rumah wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Rain. Walaupun belum melakukan tes DNA, Rain percaya jika wanita yang ditemuinya adalah ibu kandungnya. Begitu juga dengan wanita itu, ia percaya dan mengakui jika Rain adalah putra kandungnya. Puluhan tahun mereka terpisahkan akhirnya dipertemukan Yang Maha Kuasa.


Kini Ara tampak sedikit lega karena bisa mendapatkan tempat tinggal sementara. Walaupun rumahnya kecil, ia sudah merasa cukup. Perutnya juga belum membesar sehingga tidak perlu terlalu khawatir jika tidur di lantai. Namun, sang ibu mertua tampaknya tidak rela jika menantunya sampai tidur di lantai. Ia segera berutang kasur kepada tetangganya untuk Ara.


"Ibu, Ibu tidak perlu repot-repot." Ara merasa tak enak hati saat kasur baru datang untuknya.


"Tidak apa, Nak. Kondisimu sedang mengandung. Tidak baik jika tidur di atas lantai." Ibu Rain menunjukkan perhatiannya.


"Tapi, Bu—" Ara masih tidak enak hati.


"Tak apa, Nak. Rumah ini juga rumah bantuan dari pemerintah. Ada amanat yang tersirat untuk saling berbagi. Tetapi maaf, kemampuan ibu hanya sebatas ini." Raut wajah ibu Rain terlihat sedih.


Ibu Rain tersenyum. "Ibu tidak mengharapkan apapun, Nak. Ibu hanya ingin kebahagian selalu menyertai kalian. Pertemuan ini sudah membuat ibu merasa bahagia. Terima kasih banyak." Ibu Rain terharu, bahkan sampai meneteskan air matanya di pelukan Ara.


Ara melepas pelukannya. Ia kemudian mencium tangan ibu Rain. Saat itu juga Rain tanpa sengaja melihat istrinya dari depan pintu. Ia merasa beruntung karena bisa memiliki Ara.


"Seorang anak yang amat menyayangi ibunya, maka keberuntungan akan selalu berpihak kepadanya. Tidak ada satupun makhluk yang dapat mencelakainya karena doa ibu yang selalu menyerta."


Rain teringat dengan kata-kata Kakek Ali waktu itu.


Istriku, terima kasih.

__ADS_1


Rain terharu melihat sikap Ara kepada ibunya. Ia merasa tidak salah dalam memilih pasangan hidup. Ara adalah sosok wanita idaman bagi kebanyakan pria. Walaupun usianya terbilang muda, namun pola pikirnya sudah dewasa. Dan bukankah dewasa itu memang pilihan?


Sore ini semburat merah menjadi saksi keakraban yang mulai terjalin antara Ara dan ibu mertuanya. Ara pun sebisa mungkin memposisikan diri agar bisa memahami keadaan. Ia tidak banyak menuntut kepada suaminya untuk ini dan itu. Baginya bisa makan saja sudah cukup. Ia berusaha mengerti keadaan suaminya.


Malam harinya...


Seorang pria bersweter krim memasuki sebuah warung telekomunikasi seorang diri. Tidak ada orang di sana melainkan hanya penjaga wartel saja. Ia kemudian menanyakan berapa nominal biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan sambungan langsung jarak jauh. Alhasil, mereka membuat kesepakatan atas biaya tersebut. Pria itu pun segera memasuki bilik telepon.


Ialah Rain yang kini berada di bilik telepon untuk melakukan sambungan langsung jarak jauh. Rain kemudian mulai menekan nomor tujuannya. Tak lama nomor itu pun tersambung. Rain dengan harap-harap cemas menantikan teleponnya diangkat.


Ayo, cepat angkat.


Keadaan sekeliling wartel tampak sepi. Maklum sudah pukul sembilan malam waktu Turki dan sekitarnya. Semua orang di pemukiman kecil sudah mulai beristirahat dari perniagaan hari ini. Sedang Rain memanfaatkan kesempatan untuk menelepon saudaranya di jam sepi. Ia tidak ingin keberadaannya diketahui orang lain. Apalagi oleh pihak-pihak organisasi yang berlawanan dengannya.


"Halo?" Seseorang dari seberang itupun menjawab telepon Rain.


Durasi telepon mulai berjalan. Rain tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi. Ia harus segera mengutarakan tujuannya.


"Owdie, ini aku, Rain." Rain berbicara setengah berbisik kepada sosok di seberang telepon.


"Rain?!!" Sontak saja sosok yang menerima telepon itu terkejut bukan main.


Bagai gemuruh menggelegar. Tak ada hujan, tak ada angin. Sosok yang ditelepon itu terkejut mendengar Rain meneleponnya. Hampir-hampir saja ponsel yang dipegangnya terlepas dari genggaman. Ia tak percaya jika Rain akan meneleponnya.


"Rain?! Benarkah ini dirimu, Rain?!!" Ia masih tak percaya.

__ADS_1


"Ssst! Jaga volume suaramu. Jangan sampai ada yang mendengarkan pembicaraan ini." Rain berpesan dahulu.


"Oh, oke-oke." Seseorang di seberang pun menyanggupi. Ia kemudian segera menutup tirai jendela kamarnya.


__ADS_2