
Dubai, pukul dua siang...
Matahari amat terik menjelang sore ini, mengantarkan kedatangan seorang pria berkemeja abu-abu ke sebuah rumah yang ada di pinggiran kota. Rumah bercat putih itu menjadi tujuan utamanya saat baru keluar dari taksi. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju rumah tersebut.
Sesampainya, pria itu mengetuk pintu tiga kali seraya mengucap salam. Keadaan rumah tampak sepi, seperti tidak ada orang. Namun, tak lama kemudian seorang pria tua berjanggut putih membukakan pintu untuknya.
"Cucuku?" Pria itu menyapa seseorang yang datang.
"Kakek, maaf tiba-tiba datang." Pria itu menyebut kakek kepada si pemilik rumah.
Pria yang datang ke rumah bercat putih itu adalah Jack, supir pribadi sang penguasa yang tak lain adalah Rain. Ia mendatangi pria berjanggut putih itu sesegera mungkin setelah keluar dari rumah sakit. Ia ingin masalah yang melanda tuannya bisa segera terselesaikan dengan baik.
"Masuklah, Cucuku." Pria berjanggut putih itu mempersilakan Jack untuk masuk.
Keadaan rumah tampak berbeda dengan rumah-rumah modern lainnya. Tak banyak perabotan rumah tangga di dalam. Bahkan kursi tamunya juga tidak setinggi sofa. Bisa dibilang kursi yang digunakan untuk duduk di lantai. Jack pun duduk di atas hamparan karpet merah dengan kursi yang alasnya menyentuh permukaan karpet.
"Tidak biasanya kau datang tiba-tiba. Ada apa?" tanya pria berjanggut putih itu kepada Jack.
Jack segera mengutarakan maksud tujuannya kepada seseorang yang ia sebut sebagai kakek. "Bosku sedang mengalami hal aneh menjelang hari pernikahannya, Kek. Kemarin sudah sempat diobati, tapi hasilnya membuat kami tercengang." Jack memulai pembicaraannya.
"Maksudmu?" Pria berjanggut putih itu tampak serius menanggapi.
"Calon istri bosku terkena sihir pemikat. Sihir itu katanya ditujukan untuk bosku, tapi entah mengapa malah terkena calon istrinya." Jack heran sendiri.
"Mereka sudah tinggal satu atap?" tanya pria itu lagi.
"Sudah, sejak sebulan yang lalu. Dan mereka berniat melangsungkan pernikahan dua minggu lagi. Kebetulan calon istrinya orang Indonesia, jadi tidak memungkinkan jika pisah rumah. Bos khawatir dengan keselamatan calon istrinya." Jack menuturkan.
Pria berjanggut putih itupun mengangguk. Ia seperti mengerti duduk permasalahan yang terjadi. Ia berpikir sejenak sebelum memberikan pendapatnya kepada Jack.
"Bos meminta bantuan untuk pindah rumah esok hari. Tapi, tiba-tiba saja calon istrinya tidak sadarkan diri saat kembali ke apartemen. Dan kini pihak rumah sakit menyatakan jika dia telah memasuki fase delta." Jack meneruskan.
__ADS_1
Pria berjanggut putih itu memejamkan kedua matanya. "Siapa nama calon istrinya?" tanyanya kepada Jack.
"Ara. Nama lengkapnya Aradita. Dia gadis asal Indonesia yang masih berusia delapan belas tahun." Jack memberi tahu.
Pria berjanggut putih itu lantas berdoa seraya memejamkan kedua matanya. Jack pun dengan setia menunggu. Menit demi demit dilalui hingga pria berjanggut putih itu membuka kedua matanya.
"Dia gadis yang amat menyayangi ibunya," tutur pria itu kepada Jack.
"Kakek benar." Jack mengiyakan.
"Karena rasa sayangnya amat besar kepada ibu, membuat penghuni langit terpana melihatnya," kata pria itu lagi.
"Maksud Kakek?"
"Keduanya memang harus segera dinikahkan untuk menghindari fitnah. Ada seseorang dari masa lalu bosmu yang tidak menyukai gadis itu. Dia berniat tak baik untuk hubungan keduanya." Sang kakek menuturkan penglihatannya.
"Astaga!" Jack terperanjat kaget.
"Tanyakan kepada bosmu siapa wanita yang pernah dia lukai perasaannya. Bicarakan baik-baik dan minta kerelaan wanita itu untuk pernikahan mereka. Kakek khawatir wanita itu akan semakin menjadi-jadi jika bosmu tidak membicarakan hal ini baik-baik kepadanya." Pria berjanggut putih itu meneruskan.
"Ya, ya. Kakek mengerti. Tapi hati orang siapa yang tahu. Kita baik saja masih ada yang tidak suka." Kakek itu kemudian memberikan segelas air mineral kepada Jack.
Jack tertegun.
"Untuk sementara kita kembalikan dulu jiwa calon istrinya. Setelah selesai, baru kita bereskan yang ada di apartemen bosmu," tutur sang kakek lagi.
"Maksud Kakek?"
"Jiwa calon istri bosmu sedang pergi ke suatu tempat. Jika dibiarkan lama, dia bisa tidak kembali lagi ke raganya. Dan selamanya akan berada di fase delta." Sang kakek menerangkan.
"Astaga ...." Jack menelan ludahnya.
__ADS_1
"Sihir yang digunakan awalnya memang sihir pemikat. Tapi sihir itu berubah menjadi sihir pemisah. Tujuannya memang kepada bosmu, tapi gadis itu membentenginya. Sehingga akhirnya dia yang terkena."
"Maksud Kakek calon istri bosku ...?"
"Dia memiliki kelebihan jika dibandingkan gadis lainnya. Semua itu buah dari rasa cintanya yang begitu besar kepada ibu. Dan bukan hanya dia saja yang mendapatkan keistimewaan karena memuliakan ibu. Sejak zaman dulu sudah banyak kisah dari seorang anak yang memuliakan orang tuanya. Dia gadis yang baik." Pria berjanggut putih itu tersenyum.
Jack pun memahami apa yang dikatakan oleh pria berjanggut putih itu. "Kalau begitu kita menemui calon istri bosku dulu, Kek?" tanya Jack, memastikan.
"Ya, tidak masalah. Tapi setelah waktu Ashar. Kakek harus meminta petunjuk terlebih dahulu. Kau ingin menunggu atau bagaimana?" tanya sang kakek.
Dilihatnya jam di dinding dan masih tersisa waktu dua jam lagi. Jack lantas mengambil keputusan.
"Aku pulang sebentar ke rumah untuk mengabari istriku, Kek. Nanti aku ke sini setelah Ashar untuk menjemput Kakek." Jack membuat janji temu.
"Baiklah. Dengan izin-NYA kita akan bertemu kembali di sini. Hati-hati di jalan, Cucuku." Pria berjanggut putih itu mengiyakan.
"Baik, Kek."
Jack lantas segera berpamitan setelah membuat janji temu dengan pria berjanggut putih tersebut. Ia akhirnya mengetahui akar permasalahan yang dihadapi tuannya. Ia tidak menyangka jika hal itu memang benar-benar terjadi.
Siapa wanita masa lalu tuan Rain?
Jack kemudian memesan taksi untuk kembali ke rumahnya. Ia berniat memberi tahu sang istri jika malam ini harus kembali bekerja. Tak lain untuk menemani tuannya yang sedang dirundung duka. Duka karena jiwa calon istrinya tidak bersatu dengan raga.
Sementara itu di rumah sakit...
Rain masih setia menemani Ara. Tersirat kelelahan dari wajahnya karena harus menghadapi kejadian ini. Ia tidak menyangka jika Ara tidak sadarkan diri secara tiba-tiba.
Ia mengusap kepalanya saat duduk di atas sofa putih yang ada di ruangan rawat Ara. Ia pun menolak semua panggilan masuk di ponselnya. Ia tidak ingin diganggu terlebih dulu saat ini. Ia hanya menginginkan kesadaran Ara kembali.
Kenapa niat baik untuk mempersuntingnya seperti dipersulit?
__ADS_1
Hatinya bergumam, raganya merebahkan punggung di sofa sambil menatap langit-langit ruangan. Senyum sang gadis pun terlintas di benaknya, bersama dengan rasa rindu yang tercipta.
Ara masih tertidur lelap di atas kasur rumah sakit. Sedang Rain berjaga di sofa sambil terus memperhatikan perkembangan gadisnya. Dilihatnya jam yang berlalu begitu lambat. Rain tidak sabar jika harus menunggu lebih lama. Ia ingin segera bercanda kembali dengan sang gadis. Ia mencintai Ara.