
Dubai, pukul 10.10 pagi...
Angin berembus melayangkan tirai-tirai di jendela kamar Rain. Sinar matahari menyorot seisi kamarnya. Detik jam di dinding pun kian terdengar semakin besar. Begitu juga dengan gumaman kecil yang keluar dari mulut sang gadis.
"Pangeran ...."
Gadis itu masih saja menyebut sebuah kata yang membuat calon suaminya bingung. Gumaman berulang akhirnya membangunkan Rain dari alam mimpinya. Sang penguasa yang tertidur di sisi Ara lekas terbangun setelah mendengar Ara mengigau. Ia memutar badannya, menghadap ke Ara lalu mengelap keringat yang bermunculan di dahi gadisnya.
"Ara ... bangunlah. Tidak rindu kah kau padaku?" tanyanya dengan penuh kelembutan.
Tubuh Ara masih lemah dan membutuhkan waktu untuk kembali ke sediakala. Dan kini hanya gumaman yang bisa keluar dari mulutnya. Tak lama, dering ponsel dari Rain pun terdengar memecahkan suasana kamar yang pintunya dibiarkan terbuka.
"Halo?" Rain segera menjawab panggilan masuk itu.
"Iya. Aku usahakan sebelum jam makan siang sudah tiba di kantor. Letakkan saja di atas meja kerjaku," pintanya kepada seseorang di telepon.
"Baik. Sampai nanti." Ia akhirnya menutup telepon tersebut.
Tanpa Rain sadari tangan Ara bergerak pelan. Kedua mata sang gadis pun perlahan terbuka. Sepertinya ia mulai tersadar penuh dari kondisinya sekarang.
"Sa ... yang ...."
Kata-kata itu terdengar oleh Rain. Rain pun segera menoleh ke arah Ara. Ia melihat kedua mata Ara perlahan-lahan terbuka.
"Ara, aku di sini." Rain dengan sigap menyambut kesadaran calon istrinya.
Rain duduk di sisi kanan Ara. Ia memegang tangan kanan sang gadis seraya mengecupnya. Ia tersenyum bahagia manakala Ara sudah tersadar. Ia tatap wajah polos gadisnya dengan belaian kasih sayang. Seketika itu juga Ara tersenyum melihat dirinya sudah kembali.
"Ara, kau sudah bisa mendengarku?" tanya Rain lembut.
Ara mengangguk.
__ADS_1
"Syukurlah. Aku sangat senang sekali." Wajah Rain berubah berseri-seri.
Rain lantas memeluk Ara. Pelukan kebahagiaan setelah penantian panjangnya. Bersamaan dengan itu Ara pun ingin membalas pelukan Rain. Tapi sayang, tubuhnya masih lemah dan tidak bertenaga. Alhasil Ara hanya bisa meneteskan air matanya, pertanda bahagia.
Akhirnya aku kembali.
Menjelang siang ini ada kebahagiaan yang terjadi setelah semalaman dirundung kelam akan penantian. Namun, tidaklah sesuatu terjadi dengan sia-sia belaka. Semua pasti mengandung hikmah yang luar biasa. Begitupun dengan Ara, ia menerima kejadian yang menimpanya dengan berlapang dada.
Setengah jam kemudian...
Rain dan Jack sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda lagi. Keduanya mengenakan setelan jas hitam dengan jam tangan mahal di tangannya. Tampak Jamilah, istri dari Jack membantu menyediakan makanan untuk keduanya.
"Hari ini aku harus menyelesaikan pekerjaan dan berharap bisa cepat selesai. Aku minta tolong untuk menemani Ara sebentar di sini." Rain meminta tolong kepada istri Jack langsung.
"Baik, Tuan. Sebisa mungkin akan saya penuhi." Istri Jack yang mengenakan cadar itu menjawabnya segera.
"Apakah Tuan akan pulang larut malam nanti?" tanya Jack kepada bosnya.
"Baik, Tuan." Jack pun mengiyakan.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang. Lebih cepat lebih baik." Rain menyelesaikan sarapannya, ia beranjak berdiri.
"Sayang ...." Tiba-tiba saja Ara sudah berada di depan pintu kamar.
"Ara?" Rain segera mendekati. "Kau tiduran saja. Jangan berdiri dulu."
Sosok tegas dan berwibawa Rain seketika runtuh menjadi pria lembut dan perhatian, kala Ara memanggilnya. Jack dan istri pun tersenyum melihat sang bos besar memapah Ara kembali ke kamarnya.
"Aku ingin mengantar." Keduanya lalu duduk di pinggir kasur.
"Ya Tuhan, tidak perlu. Kau masih harus banyak beristirahat. Nanti sesampai di kantor kita bisa video call jika rindu." Rain memeluk Ara.
__ADS_1
Ara mengangguk dalam pelukan Rain. "Tapi aku harus kuliah hari ini." Ara menerangkan.
Rain melepas pelukannya, memegang kedua lengan sang gadis seraya menatapnya penuh perhatian. "Tidak perlu kuliah jika masih sakit seperti ini. Nanti aku akan meminta Jack untuk memberi tahu pihak kampus. Jika tidak dibolehkan, akan kututup kampus itu." Rain bersungguh-sungguh.
"Hush! Tidak boleh seperti itu." Ara mencegah.
"Baiklah. Sekarang beristirahat, ya. Saat aku pulang nanti kita bicarakan lagi. Sekarang aku harus segera berangkat ke kantor." Rain memberi tahu.
"Baik." Ara pun mengangguk.
"Ya sudah." Rain lantas mencium kening Ara. "Nanti mandi biar lebih cantik." Rain tersenyum kepada gadisnya.
Ara pun hanya bisa mengangguk. Ia ikut tersenyum saat senyum Rain mengembang di depan kedua matanya. Mau tak mau sang gadis pun harus merelakan kepergian Rain untuk bekerja. Ia memaklumi jika pekerjaan calon suaminya tidak lagi bisa ditunda. Padahal jika dipikir, Rain amat kurang tidur semalam. Tapi semua demi profesionalitas kerja yang harus dipenuhinya. Mau tak mau Rain berangkat menuju kantornya.
Satu jam kemudian...
Ara mandi dengan dibantu oleh Jamilah. Sedang kedua putra Jamilah sibuk bermain game di ruang tamu apartemen. Cuaca panas hari ini membuat tubuh Ara gerah sehingga harus segera mandi. Namun, air yang dipakainya bukanlah air dari shower, melainkan air yang sudah disediakan oleh Kakek Ali di ember besar terpisah.
Seusai mandi, Ara dibantu berjalan untuk mengenakan pakaian. Sang gadis siang ini mengenakan sweter tipis lengan panjang tapi tidak menerawang. Sweter berwarna biru muda itu dipadukan dengan celana kulot berwarna putih hingga semata kaki. Ia juga mengenakan sandal beruang madunya selama di apartemen. Sehingga kakinya tidak terasa dingin.
Sesampainya di depan ruang makan, Ara berkaca. Ia meminta bantuan Jamilah untuk menyisiri rambutnya. Rambut Ara yang mulai panjang ternyata harus rontok akibat hal yang terjadi kemarin. Jamilah amat menyayangkannya. Ia segera memakaikan pelembab di rambut Ara agar kuat dan tidak rontok lagi.
"Terima kasih telah membantuku, Kak." Ara tersenyum kepada Jamilah yang dengan sigap membantunya.
"Ya, sama-sama. Yang penting Ara lekas sehat, ya." Jamilah menganggap Ara bak adiknya sendiri.
Ada rasa sedih yang Ara rasakan saat mendapatkan perlakuan hangat dari Jamilah. Ia teringat dengan kakaknya di Indonesia. Tidak pernah ia mendapatkan perlakuan sehangat ini dari kakaknya sendiri. Yang ada hanya pertengkaran mulut yang saling menyakiti.
Andai kak Tia sepertinya.
Ara berharap perubahan baik lekas terjadi setelah badai menerpa kehidupannya. Tidak di sini, tidak di kampung halamannya. Ia mendoakan semua orang di sekitarnya agar selalu mendapatkan kelimpahan rezeki dan kebahagiaan. Karena ia pun sama, mengharapkan hal itu semua. Dan Ara percaya hukum tabur tuai akan selamanya ada di alam semesta. Sehingga hanya doa baik yang ia panjatkan ke Tuhannya.
__ADS_1