Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Not Believe


__ADS_3

Pukul 3.40 pagi waktu New York dan sekitarnya...


TV nasional menyiarkan berita tentang kabar akan runtuhnya Motel Red Chile di selatan Kota New York. Beberapa media pun ikut meliput kabar yang masih simpang-siur ini. Rain sendiri menonton siaran langsung tersebut dari televisi yang ada di kamar hotelnya. Ia duduk di sofa sambil menemani sang istri yang tengah tertidur. Rain sengaja menarik sofa ke dekat tempat tidur agar bisa menjaga istrinya. Karena Ara tampak kelelahan sekali setelah mengalami kejadian di alam bawah sadarnya tadi.


Rain harap-harap cemas. Ia khawatir jika kabar ini hanya bawaan Ara lelah saja. Tapi, ia juga lebih khawatir jika kabar itu sampai benar-benar terjadi. Saat ini Rain hanya bisa menunggu sampai terbit matahari untuk membuktikan apakah benar yang dilihat oleh Ara di alam bawah sadarnya? Ia sampai tidak bisa tidur lagi karena rasa cemas yang melanda.


Sang penguasa pertambangan minyak bumi itu terlihat menopang dagu dengan satu tangannya. Sedang tangan lain menggenggam tangan Ara yang terlelap di sampingnya.


Ya Tuhan, jika benar apa kata istriku, itu berarti benar apa yang dikatakan oleh Byrne dulu.


Rain kembali mengingat perbincangannya bersama Byrne. Di mana Byrne mengatakan jika gadis yang ditemuinya, Ara bukanlah gadis biasa, karena Ara bisa menembus portal ruang dan waktu. Dan jika yang dikatakan Ara sampai benar-benar terjadi, maka Ara adalah sebuah keberuntungan baginya. Tidak banyak pria yang dapat memiliki istri dengan kemampuan melebihi batas manusia pada umumnya. Namun, Rain bisa mendapatkannya.


Terlepas dari itu semua, ada rasa khawatir yang melanda sang penguasa jika Ara sampai tidak kuat menahan beban karena kemampuannya. Segala sesuatu pasti mengandung risiko tersendiri. Baik dan buruk tergantung bagaimana menyikapi. Dan Rain khawatir Ara belum mampu menanggung hal itu semua sehingga menyebabkan kejiwaannya terganggu. Karena biasanya, orang-orang yang memiliki kemampuan lebih namun belum bisa mengendalikan, biasanya jiwa mereka terjebak sehingga membuat kejiwaannya terganggu. Dan Rain berharap hal itu tidak pernah terjadi pada istrinya.


"Pemirsa, saat ini kondisi sekitaran Motel Red Chile sudah dipenuhi oleh aparat kepolisian dan juga tim medis setempat. Seluruh penyewa motel juga sudah diungsikan dan diminta untuk segera check out dari motel. Bisa dilihat di belakang kami sudah banyak kerumunan penduduk yang ada di sekitaran motel. Kita akan bertanya kepada salah satu penyewa hotel yang terpaksa check out sebelum waktunya. Halo, dengan siapa?" Penyiar itu bertanya kepada seorang wanita bertubuh tambun di sampingnya.


Rain menontonnya dengan saksama.


"Aku Grace," jawab wanita bertubuh tambun itu.


"Baik, Nyonya Grace. Bagaimana pendapat Anda mengenai kabar ini? Apakah Anda merasa dirugikan dengan pengosongan motel yang tiba-tiba?" tanya penyiar itu.


Rain tampak serius menonton berita di televisi. Ia ingin tahu bagaimana tanggapan orang-orang atas kabar ini.

__ADS_1


"Sejujurnya kabar ini tidak bisa saya terima. Saya merasa terganggu dengan pengosongan motel yang tiba-tiba. Saya sudah menyewa untuk dua malam ke depan, tapi nyatanya pihak motel meminta kami untuk segera keluar dari kamar. Aku mengutuk orang yang memberi kabar ini." Wanita bertubuh tambun itu tidak terima.


Terlihat di layar televisi banyak sekali mobil polisi yang sudah berada di sana. Beberapa dari polisi tersebut memberi garis batas di sekitaran motel agar penduduk setempat tidak melewatinya. Beberapa mobil ambulan dan pemadam kebakaran pun sudah siap siaga. Untuk sementara kawasan Motel Red Chile dikosongkan. Termasuk halaman parkirnya yang tidak terlihat ada satu kendaraan pun.


Tim keamanan kota ternyata bergerak cepat.


Dilihatnya jam di dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 3.50 pagi. Rain pun semakin was-was dengan kebenaran cerita istrinya. Namun, sebisa mungkin ia bersikap tenang.


"Bagaimana jika kabar ini benar terjadi?" tanya penyiar berita itu lagi.


Wanita bertubuh tambun itu terlihat angkuh dan tak peduli. "Aku akan kembali ke motel jika sampai pukul empat tidak terjadi apa-apa. Aku tidak percaya dengan kabar ini. Tidak bisa diterima logika," tutur wanita itu.


"Baik. Kalau begitu terima kasih atas waktunya, Nyonya Grace." Sang penyiar menyudahi wawancaranya. "Pemirsa, demikian wawancara kami dengan salah satu penyewa motel di selatan kota ini. Tim keamanan masih siap siaga atas kabar yang diberi tahukan oleh salah satu pejabat setempat. Semoga saja hal ini tidak benar-benar terjadi. Kita kembali ke area." Penyiar menyerahkan liputan ke kameramen di sekitaran gedung.


"Jadi ada seseorang yang bisa meramal masa depan?" Pria berjas hitam itu bertanya kepada asistennya.


"Kita belum tahu pasti, Tuan. Kita masih menunggu kabar selanjutnya," jawab asisten itu.


Nick tersenyum menyeringai. "Baiklah. Kita lihat kebenarannya." Ia menonton siaran langsung lewat televisi berukuran 72 inchi yang ada di rumahnya.


Jika benar ada seseorang yang bisa meramal masa depan, maka aku akan sangat tertarik untuk mendapatkannya.


Nick masih menunggu kebenaran kabar ini. Ia duduk santai di sofa ruangan sambil menatap layar televisi yang menyiarkan secara langsung aktivitas di Motel Red Chile. Ia duduk menyilangkan kaki sambil menggabungkan kedua tangannya, berharap kebenaran akan segera didapatkan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian...


Waktu tak terasa semakin berlalu. Hingga jam di dinding kamar hotel sudah menunjukkan pukul empat pagi waktu New York dan sekitarannya. Namun, belum ada tanda-tanda jika motel akan runtuh. Rain pun membuat secangkir kopi sambil menunggu siaran berlangsung. Ia ingin menenangkan pikiran atas kabar yang diterimanya ini.


Sayangku masih tidur. Kasihan, dia terlihat kelelahan sekali.


Dilihatnya sang istri yang masih tertidur di atas kasur, Rain pun kembali duduk sambil menikmati secangkir kopi latte-nya. Ia kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi kedua saudaranya. Namun, tak beberapa lama kemudian, terdengar suara teriakan dari televisi.


"Aaaaaaaa!!!"


Teriakan itu langsung membuat Rain menoleh, melihat ke arah televisi. Saat itu juga Rain terkejut bukan main. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Motel Red Chile yang diceritakan oleh Ara memang benar runtuh. Motel itu perlahan-lahan runtuh, tidak ada angin, tidak ada hujan.


"Astaga!"


Rain beranjak dari duduknya. Ia mendekat ke arah televisi agar bisa melihatnya lebih jelas. Dan ternyata, apa yang dikabarkan oleh Ara memang benar-benar terjadi. Rain pun melihat jam di dinding kamar hotelnya. Dan ternyata waktu menunjukkan pukul empat lewat empat pagi.


Ya Tuhan, istriku ....


Benar sudah apa yang diceritakan oleh Ara kepadanya. Ia menelan ludah karena masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kejadian yang ia lihat begitu cepat, sampai-sampai Rain merasa semua ini hanya mimpi belaka.


Ternyata istriku ....


Dilihatnya sang istri yang masih tertidur. Di saat itu juga dering ponsel menyadarkannya. Rain pun segera mengangkat telepon masuk itu.

__ADS_1


__ADS_2