Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Thank You


__ADS_3

Tiga hari kemudian...


Angin sejuk menerpa rambutku yang dibiarkan tergerai. Aku duduk seorang diri di kursi panjang yang ada di taman kampus. Panasnya siang seolah tidak dapat mengalahkan sejuknya angin. Dan kini aku sedang membaca-baca katalog Kota Dubai. Ternyata kota ini menjadi incaran para turis dari mancanegara.


Luas wilayahnya memanglah tidak terlalu besar, tetapi mempunyai banyak tempat destinasi wisata yang mumpuni. Dan sepertinya aku tertarik untuk mengunjungi sebuah pantai yang katanya sangat indah memanjakan mata.


Kapan ya bisa ke sana?


Aku asik sendiri melihat-lihat katalog negeri ini. Setiap hari sambil menunggu jam kuliah selanjutnya, aku selalu duduk di sini sambil membaca katalog yang ada. Tapi hari ini sepertinya akan sedikit berbeda.


"Hai, boleh aku duduk?"


Seorang pemuda tiba-tiba saja sudah berada di depanku. Dia mengenakan kemeja hitam dan jeans biru sambil menyampirkan tas di pundak kanannya. Dia juga memegang bola basket.


"Em, silakan."


Tak tahu dia siapa, kupersilakan saja dia duduk di sampingku. Sedang aku meneruskan membaca katalog ini.


"Beberapa hari ini aku selalu melihatmu di sini. Kau mahasiswi baru, ya?" tanyanya yang kini duduk di sampingku.


"Em ... iya." Aku menjawabnya seraya tersenyum.


"Aku Taka." Dia mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan.


"Ara," jawabku sambil meletakkan tangan kanan di dada.


"Em, baiklah." Dia menarik tangannya, seperti mengerti maksudku. "Semua mahasiswa di sini tidak ada yang sendirian kecuali mahasiswa baru. Jika kau ingin mengetahui tentang kampus, aku bisa membantumu." Dia menawarkan bantuan.


"Em, terima kasih," jawabku segera.


"Ara, jangan terlalu kaku. Nanti kau bisa dibully. Santai saja. Anggap kita teman lama yang baru berjumpa." Dia menerangkan padaku.


Dibully? Sejenak aku berpikir tentang kata-katanya.


"Kampus ini mempunyai banyak organisasi. Daripada kau sendiri, lebih baik bergabung dengan yang lainnya." Dia menyarankan.


"Memangnya ada apa saja?" tanyaku yang tiba-tiba ingin tahu.


"Kau suka apa?" Dia balik bertanya padaku.


"Em, aku suka teater, menari atau bermain musik," kataku segera.


Entah mengapa aku seperti sudah lama kenal dengannya. Kami cepat sekali dekat. Mungkin ini memang jalan yang Tuhan berikan agar aku mempunyai teman.

__ADS_1


"Di sini ada teaterikal. Sudah merangkap tari dan musik. Jika kau ingin bergabung, aku akan mengantarkannya," katanya lagi.


Dia baik sekali.


Pemuda di sampingku ini ternyata baik sekali. Dia menawarkan bantuan dan menyarankan agar aku masuk organisasi kampus. Sepertinya tawaran darinya tidaklah buruk untuk kujalani.


"Em, baiklah. Tapi aku masih ada satu jam kuliah lagi hari ini. Mungkin menjelang sore baru selesai," kataku padanya.


"Tak apa. Nanti kutunggu kau di sini. Kalau begitu aku pamit dulu, Ara. Sampai nanti." Dia beranjak pergi dari hadapanku.


Taka ...?


Tidak tahu siapa dia dan apa yang membuatnya berbaik hati padaku. Tapi sepertinya, dia mahasiswa lama di sini. Ya sudah, kuteruskan saja melihat-lihat katalog kota sambil menunggu mata kuliah selanjutnya. Aku mencoba mengisi hari-hariku dengan menyibukkan diri.


Tuan, sudah empat hari kau tidak pulang. Apa kau benar-benar ingin pergi dariku?


Sejujurnya aku rindu padanya. Terasa sudah lama sekali tidak bertemu. Tapi, aku malu jika harus mengirimkan pesan atau meneleponnya terlebih dulu. Di apartemen aku juga menyibukkan diri dengan tugas kuliah. Dan sekarang aku sudah mulai terbiasa tanpanya. Aku tidak akan pergi sebelum dia benar-benar mengusirku.


Tuan, pulanglah. Aku menunggumu.


Semilir angin siang menemaniku dalam kerinduan yang tidak bisa diungkapkan. Aku berharap dia pulang malam ini. Aku rindu padanya. Entah rindu sebagai apa, tapi semoga saja rinduku sampai kepadanya.


Pukul tiga sore, waktu Dubai dan sekitarnya...


"Hei, Ara!"


Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku pun segera menoleh ke arahnya.


"Taka? Kau mengagetkanku, tahu!" Aku kaget karena ulahnya.


"Em, maaf." Dia membungkukkan badannya.


"Eh, tidak perlu seperti itu." Aku jadi tidak enak sendiri.


"Haha. Tak apa, Ara. Ini budayaku saat di Jepang dulu," katanya.


"Jepang?" tanyaku lalu mulai berjalan bersamanya.


"Ya, aku berasal dari Jepang. Di sini karena mendapat kesempatan pertukaran mahasiswa." Dia menceritakan padaku.


"Oh ...." Aku tertegun.


"Kau sendiri?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Aku dari Indonesia," jawabku sambil tersenyum padanya.


"Wah, jauh sekali, ya!" Dia tak habis pikir.


"Ya, begitulah. Lalu kita ini mau ke mana sekarang?" tanyaku mengalihkan.


"Kita ke gedung pentas teaterikal kampus. Aku akan menemanimu melihat-lihatnya dulu. Kalau berminat, kau bisa bergabung hari ini juga." Dia tersenyum padaku.


"Em, terima kasih, Taka. Kau sudah baik sekali padaku." Aku membalas senyumannya.


"Tak apa. Anggap saja ini sambutan dari senior kampus," katanya lalu tertawa sendiri.


Eh? Dia kakak tingkatku?


"Ara, di sini jangan bersikap kaku. Anggap saja orang lama. Biasanya orang-orang kaku itu mengalami penindasan. Jadi bersikap luweslah." Dia mengingatkanku.


"Em, baik." Aku mencoba menerimanya.


"Nah, itu gedungnya! Tak lama lagi kita sampai."


Dia menunjuk sebuah tempat. Sepertinya memang gedung yang dikhususkan untuk pementasan atau mungkin aula untuk para mahasiswa wisuda. Entahlah. Kita lihat saja nanti.


Aku mencoba menuruti saran dari teman baruku. Ternyata tubuhnya tinggi juga. Aku hanya sebatas telinganya saja. Mungkin dia hampir sama tingginya dengan tuanku.


Tuan, kau belum juga menghubungiku.


Kuteruskan langkah kaki ini menuju gedung yang dimaksud. Sepanjang perjalanan kami mengobrol ringan dan dia menunjukkan tempat-tempat apa saja yang ada di kampus. Aku pun mencoba mengingatnya dengan baik.


Mungkin butuh beberapa minggu agar terbiasa dengan lingkungan baru.


Kuakui jika aku masuk telat waktu. Tahun ajaran baru sudah berlalu tiga bulan yang lalu. Jadi aku tidak sempat mengikuti yang namanya ospek. Atau memang di sini tidak ada kali, ya? Aku juga kurang tahu. Aku baru beberapa hari di sini. Jadi mungkin lebih baik mengikuti arusnya saja. Dan aku berharap Taka bukanlah badboy yang memanfaatkanku. Semoga saja ke depannya kami bisa berteman dengan baik.


"Nah, kita sudah sampai. Selamat datang di organisasi teaterikal kampus, Ara."


Tak lama kami akhirnya tiba di gedung yang dimaksud. Taka lalu membukakan pintunya untukku. Kulihat di dalam gedung ini memang seperti panggung pementasan. Atau lebih mirip bioskop. Dan di panggung yang ada di bawah sana terlihat beberapa mahasiswa sedang berlatih teater.


"Bagaimana, Ara?" Taka mengajak ku untuk lebih mendekat ke panggung.


"Aku senang." Aku tersenyum lalu ikut berjalan bersamanya.


"Kita duduk di sini saja." Taka mengajak ku duduk di kursi barisan tiga dari depan.


"He-em." Aku pun mengikutinya.

__ADS_1


Kami melihat latihan teater para mahasiswa dari kursi yang bersampingan. Aku tidak tahu mengapa kedekatan kami bisa secepat ini. Ya, anggap saja dia malaikat penolongku yang masih baru di kampus.


__ADS_2