Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Learning


__ADS_3

Sinar ungu mulai menggantikan gelapnya malam. Fajar pun telah datang ditemani bintang yang bersinar. Udara sejuk seakan ikut menenangkan hati yang kelam. Bersama merdunya suara burung yang berkicauan.


Jam di dinding telah menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. Dan kini sang gadis sedang bersiap untuk berolahraga pagi. Ia mempunyai janji temu dengan Lee di toserba kemarin. Selintas ia pun ingin meminta izin kepada Rain. Tapi sayang, sang tuan masih terlelap dalam mimpi.


Dia masih tidur. Haruskah aku membangunkannya? Tapi nanti dia malah berpikir yang aneh-aneh lagi. Padahal aku cuma sebentar saja.


Sang gadis menimbang ulang untuk membangunkan Rain dan meminta izin. Ia lalu memutuskan untuk segera keluar dari apartemen dan menguncinya agar tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam. Ditemani jaket hitamnya sang gadis berjalan menuju lift. Ia akan berolahraga pagi di jalanan sekitar kawasan gedung apartemen.


Tak perlu menunggu lama, ia akhirnya sampai di lantai dasar. Dengan pakaian olahraga yang seba hitam, Ara melangkahkan kaki menuju toserba waktu itu. Dan ternyata Lee sedang berolahraga pagi di sana, di samping mobilnya. Dosen fakultas teknik itu tampak mengenakan jaket hijau dan celana training hitam.


"Dosen Lee!" Ara pun berteriak, melambaikan tangannya ke arah Lee.


Sontak Lee terkejut. Ia tidak menyangka jika Ara akan datang padahal jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 5.20 pagi. Ia kemudian membalas senyuman Ara sambil menanti Ara datang. Dan akhirnya, sang gadis tiba di hadapannya.


"Andai ini di kampus, aku sudah menghukummu!" Lee mencubit hidung Ara tanpa sadar.


"Aww!" Seketika Ara merasa sakit karena hidungnya dicubit.


"Cepat masuk! Kita ke taman." Lee meminta segera, ia kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Dosen Lee ...?


Ara merasa bingung dengan keadaan, ia seperti terkena hipnotis, menurut saja apa yang dikatakan oleh Lee. Ia lalu ikut masuk ke dalam mobil tanpa menyadari apa yang akan terjadi nanti jika sampai telat kembali ke apartemen. Ara seakan dikendalikan oleh sang dosen.


Perjalanan keduanya diteruskan menuju taman air mancur Kota Dubai. Tampak Lee yang mencuri pandang kepada Ara. Ia pun tersenyum sendiri sambil melajukan mobilnya.


Sesampainya di air mancur...


Ara dan Lee berjalan bersama menuju kursi panjang putih yang terbuat dari kayu. Di mana kursi taman itu mempunyai kenangan tersendiri akan pertemuan mereka. Baik Ara maupun Lee tampak berdiaman saat berjalan bersama. Hingga akhirnya mereka duduk di kursi taman namun berjauhan.


"Di sini tempat yang bagus untuk memulai penerapan LOA." Lee menuturkan seraya melihat pemandangan air mancur yang ada di seberangnya.


"Kenapa harus di sini?" tanya Ara ingin tahu sambil menoleh ke arah Lee yang duduk di sebelah kirinya.


"Pelatihan LOA itu harus di tempat yang tenang. Semakin tenang keadaan sekitar, semakin cepat menanamkan bibit LOA itu sendiri." Lee menerangkan.


"Oh, begitu." Ara mengangguk.


"Sebelum memulainya, kau harus mempunyai tiga pondasi dasar. Yang mana jika salah satu tidak ada, hukum LOA akan berjalan pincang."

__ADS_1


Lee mulai menjelaskan apa yang ia ketahui tentang LOA kepada Ara. Terlihat sang gadis yang antusias menanggapi setiap ucapan Lee. Gemercak air mancur pun menemani pembicaraan mereka. Tanpa terasa sudah bermenit-menit Lee bicara.


"Jadi?" Ara memastikan apa yang diucapkan oleh Lee.


"Kau harus mengenal dirimu sendiri terlebih dahulu. Bagaimana sifatmu, sikapmu, egomu, prilakumu, kekuranganmu, kelebihanmu. Semua tentang dirimu kau harus mengenalinya. Itu adalah pondasi dasar yang pertama." Lee menjelaskan.


"Jadi jika belum mengenal diri sendiri maka tidak boleh mempelajari hukum ini?" Ara bertanya segera.


"Boleh, hanya saja..."


"Hanya saja?"


"Hanya saja kau akan kesulitan sendiri. Akan ada pertentangan nantinya. LOA itu hampir sama dengan doa. Seperti kita menggoes sepeda, harus berulang kali menggoes agar bisa sampai ke tujuan. LOA juga seperti itu, harus sering diulang. Dimana ia bersifat seperti hukum tabur-tuai." Lee menerangkan.


"Oh ...."


Ara mengangguk. Ia mencoba memahami apa yang Lee katakan padanya.


"Untuk langkah pertama, kenali dirimu sendiri. Jika kau sudah mengenali bagaimana dirimu, kita lanjut ke langkah yang ke dua. Semangat, ya!" Lee memberikan dukungannya.


Dosen Lee ....


Ara tersenyum mendapatkan semangat dari dosen fakultas teknik itu. Melihat senyuman Lee membuat hati Ara merasa tenang, seolah bisa melupakan masalah yang sedang terjadi. Ara pun ikut tersenyum. Walau mereka duduk berjauhan, tapi kedekatan itu bisa mulai dirasakan.


Dalam senyumannya Lee masih berpikir mengapa bisa dipertemukan dengan Ara. Dan anehnya ia merasa tergerak sendiri untuk membantu sang gadis. Sedang Ara tampak berusaha mencerna segala apa yang dikatakan oleh Lee. Hingga kemudian...


"Dosen Lee." Ara tiba-tiba membuyarkan lamunan Lee.


"Ya?" Lee segera menyadarinya.


"Tadi ... Anda mencubit hidungku." Ara mengingatkan.


"Eh?!" Sontak Lee terkejut. Kedua matanya terbelalak. "Maaf, Ara." Lee mengakui kesalahannya.


"Em, kenapa Anda bisa berbuat seperti itu padaku?" tanya Ara padanya.


Seketika Lee membenarkan sikap duduknya. Ia tidak enak hati sendiri.


"Dosen Lee, apakah ini hasil tarik-menarik antara kita?" tanya Ara ingin tahu.

__ADS_1


Lee menghela napasnya. "Kenapa bisa bertanya seperti itu?" Lee ingin tahu alasan Ara.


Ara menunduk, ia lalu tersenyum. Lee pun memperhatikan sikap Ara yang tiba-tiba berubah. Gadis itu menghela napasnya sambil menatap langit pagi.


"Aku lihat LOA bisa menarik apa saja termasuk cinta. Bahkan kita bisa mengirimkan pesan ke orang yang kita tuju. Aku tertarik ingin mencobanya. Aku suka hal-hal yang berbau supranatural seperti ini." Ara tersenyum semringah di sisi Lee.


Dia ....


Lee memperhatikan senyuman Ara yang begitu menawan pandangannya. Kini ia mulai menyadari jika ternyata sang gadis banyak ingin tahu tentang hal-hal yang di luar jangkauan manusia.


"Ya. LOA bisa menarik apa saja asalkan yakin. Dan kau telah mencoba melakukan hal itu?" Lee balik bertanya.


"He-em, aku sempat mencobanya. Tapi universal. Dalam artian aku menujukan pesanku kepada siapapun yang akan menjadi pasanganku nantinya," jawab Ara segera.


Lee termenung. "Jadi kau belum mempunyai pasangan?" Spontan Lee menanyakannya.


"Eh?" Ara pun terkejut dengan pertanyaan Lee.


"Em, maaf jika kurang sopan." Lee tak enak hati.


Ara tersenyum. "Aku tidak berani mengatakannya jika sudah." Ara teringat dengan Rain.


"Ara?" Lee memandangi Ara.


"Dosen Lee, sebenarnya aku ingin menanyakan lebih banyak tentang hal ini. Tapi, aku tidak bisa berlama-lama karena masih ada pekerjaan. Terima kasih ya sudah mau mengajariku." Ara memberi kode untuk pulang.


"Jadi, ingin segera kembali?" Lee terkejut namun ditutupi.


Ara mengangguk. "Maaf. Lain kali kita bisa bertemu lagi. Tapi mungkin setelah aku mengenali diriku sendiri."


Wajah Ara berubah ceria. Seceria mentari yang mulai terbit dari arah timur. Lee pun seperti tidak berdaya untuk menolak permintaan Ara.


Aku pikir bisa berlama-lama dengannya pagi ini.


"Ayo, Dosen Lee!" Ara mengajak Lee pulang.


Lee akhirnya mau tak mau memenuhi permintaan sang gadis. Percakapannya hari ini harus tertunda karena Ara meminta pulang setelah mendengar penjelasan singkat darinya. Tak tahu mengapa, Lee merasa pertemuannya kali ini begitu cepat. Ia pun akhirnya mengantarkan Ara kembali ke apartemen.


Ara mengambil kesimpulan atas apa yang Lee paparkan tanpa peduli maksud hati Lee yang sebenarnya. Tidak mungkin bagi seorang pria mengajak bertemu wanita jika tidak ada maksud lain. Begitu juga dengan Lee. Tapi sayang, pertemuan kali ini terasa begitu cepat baginya.

__ADS_1


...


Bagian Ke Dua Tamat


__ADS_2