Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Don't Worry, Honey


__ADS_3

Malam pertama di Agartha...


Angin malam menerbangkan tirai-tirai jendela yang ada di kamar Rain dan Ara. Keduanya kini tengah memandangi rembulan yang bersinar terang di angkasa. Malam ini adalah malam pertama bagi mereka di Agartha. Malam yang tidak jauh berbeda, namun tempatnya saja yang tak sama.


Keduanya mengenakan pakaian milik istana yang serba putih. Pakaian yang biasanya di bumi digunakan untuk pra-wedding. Rain berkemeja putih panjang dan Ara yang mengenakan baju terusan sebatas lututnya. Mereka terlihat serasi sekali.


Ara dan Rain mendapat perlakuan istimewa dari pihak istana. Mereka dilayani sebaik mungkin hingga membuat keduanya curiga. Tapi untuk sementara hal itu ditepiskannya. Karena saat ini baik Ara maupun Rain sedang fokus agar portal bisa kembali terbuka.


"Sayang, kau tidak mual-mual lagi?" Rain memeluk istrinya dari belakang.


"Tidak. Aku merasa lebih berenergi di sini," jawab Ara seraya menoleh ke suaminya.


"Syukurlah." Rain pun tersenyum. "Berarti anakku ini pengertian." Rain mengusap perut istrinya dari belakang.


Ara berbalik menghadap Rain. "Sayang, di sini memang indah, tapi ini bukan dunia kita." Ara mulai mengeluarkan keluhannya.


Rain mengusap kepala Ara. "Sabar ya, Sayang. Untuk sementara kita turuti saja apa kehendak pangeran itu. Aku rasa kita bisa mendapatkan sesuatu dari tempat ini." Rain mencoba menenangkan istrinya.


"Hah ...." Ara pun mengembuskan napasnya.


"Hei, tidak boleh begitu. Itu namanya kurang menerima takdir." Rain mencubit pelan kedua pipi istrinya.


Ara berjalan ke tempat tidur. Ia duduk di pinggir kasur. Rain pun mengikutinya lalu duduk di sisi kiri Ara. Ia menarik sang istri agar merebahkan kepala di dadanya.


"Besok kita akan mencari tahu bagaimana cara kembali ke bumi. Aku rasa tidak ada salahnya juga jika beberapa hari di sini. Di sini juga kita berkecukupan walau tidak mempunyai uang. Pihak istana berani menjamin semua kebutuhan selama berada di sini." Rain mengusap lembut rambut istrinya.


"Iya. Aku tahu. Tapi di sini aku sungkan untuk melakukan apa-apa." Ara mengeluarkan unek-unek dari dalam hatinya.


Rain terdiam sejenak. "Aku juga sebenarnya segan. Aku takut ada kamera tersembunyi di sini." Rain melirik ke arah kanan dan kiri.


"Ih, dasar!" Ara pun mencubit perut suaminya.

__ADS_1


"Sayang, sakit." Rain memegang perutnya.


"Kamu sih. Selalu saja begitu. Jangan di depannya begitu juga, ya!" Ara mengancam.


"Di depannya? Depan siapa?" Sontak Rain pun bingung.


"Depan wanita itu. Siapa lagi. Sejak awal kedatangan, dia selalu saja memerhatikanmu." Ara mulai pundung. Ia tidak lagi merebahkan kepala di dada suaminya.


Rain pun tersenyum. Ia kemudian menarik Ara agar duduk di atas pangkuannya. "Jadi ada yang cemburu, nih?" Rain meledek istrinya.


"Bodok, ah!" Ara pun memalingkan pandangannya.


"Hah, baiklah." Rain akhirnya menyerah kalau Ara sudah ngambek. "Aku itu hanya milikmu, Sayang. Dia itu siapa, aku juga tidak tahu. Lagipula si kecil bisa marah kalau ayahnya tidak setia." Rain mengusap perut Ara.


Seketika Ara menyadari jika seharusnya ia tidak perlu khawatir lagi akan kesetiaan suaminya. Janin yang sedang dikandungnya sudah cukup membuktikan betapa cinta Rain kepadanya. Ara seharusnya tidak berpikiran yang macam-macam terhadap Rain. Namun yang namanya wanita, pasti selalu saja ada rasa khawatir. Terlebih berhadapan dengan wanita yang dirasa lebih cantik darinya. Pastinya pikiran akan mulai gelisah.


Rain lantas mengajak istrinya tidur. Ia ingin tidur lebih awal agar bisa berjaga nanti malam. Bagaimanapun Rain masih khawatir dengan tempat yang baru dikunjunginya. Sehingga ia harus tetap berjaga dan waspada dengan keadaan sekitar. Karena sekarang ia tidak hanya melindungi dirinya sendiri, melainkan juga melindungi istri dan anaknya yang sedang dalam kandungan. Dan Rain akan melakukan semua itu demi keluarga kecilnya. Ia amat menyayangi Ara dan si buah hati. Karena ia adalah lelaki sejati.


Pagi ini Nick datang menemui Jane di kantornya. Wanita berdarah Korea itu pun menyambut kedatangan Nick dengan baik. Ia segera mengajak Nick untuk bersarapan pagi bersama di ruang kerjanya. Berbasa-basi sebentar lalu menuju ke inti pembicaraan.


"Kau sudah tahu tentang kabar yang beredar di Dubai?" Nick menyeka mulut dengan tisu sehabis menyantap sarapan paginya.


"Tidak. Ada apa memangnya?" Ternyata Jane belum tahu tentang kabar yang tengah beredar.


Nick menyadari jika Jane pasti akan kaget mendengar kabar ini. Tapi bukan Nick namanya jika tidak bisa mengalihkan situasi. Ia lantas pura-pura tidak tahu penyebab yang terjadi di Dubai.


"Aku dapat kabar Rain kecelakaan," tutur Nick.


"Apa?! Kecelakaan?!" Seketika Jane terbelalak kaget.


"Ya. Kapal pengeboran minyak yang Rain tangani meledak. Sayangnya Rain masih berada di kapal itu." Nick duduk santai di sofa ruang kerja Jane. Ia merentangkan kedua tangannya di sisi sofa.

__ADS_1


"Astaga!" Jane pun terkejut bukan main. Ia menutup mulut dengan tangannya karena tak percaya.


"Kau senang atau sedih?" Nick ingin tahu perasaan Jane.


Jane terdiam sejenak. "Hei, mengapa kau menanyakan ini padaku?" Jane balik bertanya. Wanita berseragam bisnis abu-abu itu mulai merasakan hal aneh pada Nick.


"Tidak, aku hanya bertanya saja. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya." Nick mencari tahu.


Jane mengembuskan napasnya. "Apakah Rain satu-satunya korban?" tanya Jane lagi.


Nick tersenyum picik. "Dia bersama istrinya di dalam kapal. Kudengar jika keduanya tidak ditemukan sampai radius satu kilometer dari tempat kejadian. Aku rasa mereka sudah terlalap api." Nick dengan santainya mengabarkan.


Jane menelan ludahnya. Ia merasa sedih tapi juga senang karena Ara ikut menghilang. Namun, di dalam hatinya ingin Ara saja. Tapi nyatanya bersama Rain juga. Ia tidak percaya jika harus mengubur perasaannya terhadap Rain.


"Aku sedih mendengar hal ini. Aku pikir aku bisa mendapatkannya dengan mudah. Tapi nyatanya cerita kami harus berakhir." Jane terlihat muram.


Nick lalu membuka botol anggur yang disediakan oleh Jane. Ia kemudian menuang anggur itu ke dalam gelas lalu meminumnya.


"Aku rasa segala kemungkinan masih bisa terjadi. Lagipula Rain tidak sebodoh itu. Dia pasti bisa menyelamatkan diri." Nick seolah memberi angin segar kepada Jane.


"Kau yakin?" Jane melihat serius ke arah Nick.


"Tentu. Rain bisa berenang di laut. Dia mempunyai ketahanan tubuh yang maksimal. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana istrinya. Apakah dia mampu berenang di lautan?" Nick menyenangkan hati Jane.


Nick tahu jika Jane tidak menyukai Ara. Karena semenjak Ara datang, hubungan Jane dan Rain jadi merenggang. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Nick agar Jane merasa senang. Ia memberi angin segar seolah-olah hanya Rain yang selamat dari ledakan. Sedang Ara tertinggal di dalam kapal.


"Aku harap apa yang kau katakan itu memang benar. Aku ingin Rain kembali." Jane mengungkapkan.


Nick mengangguk. "Semoga saja apa yang kau inginkan tercapai." Nick tersenyum lalu mengajak Jane bersulang.


Jane sangat berharap apa yang dikatakan oleh Nick memang benar. Ia ingin Rain kembali dan hanya dimilikinya seorang. Cintanya amat buta hingga tidak sadar siapa dirinya. Padahal Rain tidak pernah mempunyai perasaan terhadapnya. Tetapi tetap saja Jane bersikeras jika karena Ara lah penyebab mereka berpisah.

__ADS_1


__ADS_2