
Atmosfer sekitar berubah kelam saat keduanya saling berhadapan. Pria berkemeja hitam itu tidak menyangka jika ia akan salah pintu.
"Maaf, apakah benar di sini tempat tinggal Ara?" tanyanya ragu.
Rain memperhatikan wajah pria yang ada di hadapannya. Sesaat kemudian ia menyadari jika pria di hadapannya adalah pria yang dilihatnya di foto waktu itu. Lantas saja Rain ingin mengusirnya. Tapi sebelum itu terjadi, tiba-tiba Ara muncul untuk melihat siapa yang datang.
"Siapa yang datang, Sayang?" Ara berbelok ke arah pintu. Saat itu juga dia melihat siapa gerangan yang datang. "Do-dosen Lee?!" Ara tak percaya jika yang datang adalah dosen fakultas teknik di kampusnya.
Suasana berubah mencekam saat Ara melihat prianya bertemu dengan Lee. Bayang-bayang akan pertengkaran mereka kemarin kembali teringat di benaknya. Lee pun menelan ludah saat melihat sang gadis hanya mengenakan daster pendeknya. Sore ini ia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.
"Em, Ara. Aku datang untuk menjengukmu." Lee tersenyum ragu sambil menyerahkan plastik berisi buah kepada Ara.
Rain terdiam. Raut wajahnya penuh kesal saat melihat pria di foto waktu itu memberikan Ara buah tangannya. Rasanya ia ingin sekali membuang apa yang Lee berikan. Namun...
Ara segera berjalan mendekati Lee. "Terima kasih, Dosen Lee. Anda tidak perlu repot-repot." Ara menolaknya dengan halus.
Bertambahlah rasa sedih yang melanda hati Lee saat mendapatkan penolakan. Wajah Rain berubah sedikit senang karena gadisnya menolak pemberian dari pria lain. Tapi tak lama kemudian, ia menjadi kesal kembali.
"Aku sudah jauh-jauh datang ke sini dan meluangkan waktu untuk menjengukmu, Ara. Kudengar kau sakit hingga tidak masuk kuliah. Jadi kubawakan buah-buahan untukmu. Tapi mengapa kau malah menolaknya?" Lee tersenyum palsu.
Seketika hati Ara tak enak sendiri. Ia lalu menerima dengan terpaksa pemberian dari Lee. "Terima kasih, Dosen Lee." Hanya kata itu yang bisa Ara ucapkan.
Rain terlihat kesal, tapi ia tidak juga ingin pergi dari sana. Ia ingin tetap di situ untuk melihat gadisnya. Sedang Lee, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia kemudian berpamitan.
"Kalau begitu, lekas sembuh, Ara. Aku permisi."
__ADS_1
Lee tersenyum lalu membungkukan badannya. Ia berharap Ara akan menahan kepergiannya. Tapi ternyata, sang gadis tidak juga memanggilnya saat kakinya sudah melangkah pergi. Lee menelan ludahnya. Hatinya dipenuhi kekecewaan.
Ara ... ternyata kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu.
Lee menuju lift untuk segera turun ke lantai dasar. Ia pergi dengan hati yang menahan kekecewaan. Sebisa mungkin ia tutupi perasaan itu hingga masuk ke dalam lift. Ia lantas menuju ke lantai dasar. Ia biarkan langit sore menjadi saksi hatinya yang patah.
Tanpa Lee sadari, tiga sekawan melihat kedatangannya ke apartemen Ara. Mereka bersembunyi di belokan koridor begitu melihat Lee tiba di depan pintu. Dan saat Lee berjalan pulang menuju lift, mereka pura-pura berjalan menjauh dari belokan koridor, sehingga Lee tidak menyadarinya. Dan kini ketiganya menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dosen fakultas teknik itu.
"Ini bisa jadi trending topik kampus, Taka." Nidji tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aku rasa tidak mungkin dosen Lee datang sendirian jika tidak ada tujuan pribadi." Ken menambahkan.
"Ya. Aku juga berpikir begitu. Lalu bagaimana dengan rencana kita menemui Ara?" Nidji bertanya.
Ketiganya membicarakan Ara dan Lee di sudut koridor yang tak jauh dari belokan apartemen. Mereka masih tak percaya jika dosen yang terkenal kalem dan berwibawa itu ternyata datang sendirian untuk menemui mahasiswi yang bukan di ranah mata kuliahnya. Ketiganya lalu melanjutkan pembicaraan sebelum menemui Ara.
Rain tampak kesal dengan kedatangan Lee ke apartemennya. Rasa cemburu itu kembali menyelimuti hati dan juga pikirannya. Dan kini ia sedang mengenakan kaus oblong untuk lekas pergi dari apartemen.
"Sayang, sungguh. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya."
Ara menjelaskan. Ia berbicara di depan Rain dengan penuh permohonan agar prianya tidak marah. Tapi, raut kesal telah memenuhi wajah sang penguasa.
Rain memakai jas hitamnya. "Tidak mungkin dia datang sendirian ke sini jika tidak mempunyai hubungan apapun denganmu!" Rain mengeluarkan sisi asli dari dirinya.
"Sayang, percayalah. Aku tidak ada hubungan apapun. Dia ke sini hanya untuk menjengukku. Kau bisa lihat sendiri tadi." Ara masih berusaha menjelaskan agar Rain tidak marah padanya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli. Yang aku tahu dia telah berani datang sendirian ke sini. Itu berarti dia menyimpan alasan tertentu untuk hal ini. Tidak mungkin jika hanya—"
Belum sempat meneruskan kata-katanya, Ara segera menciumnya. Sang gadis melingkarkan kedua tangannya di leher Rain lalu mencium bibirnya. Ciuman Ara seolah menyumpal bibir Rain agar tidak lagi bicara. Ara pun terus mencium Rain tanpa memberikan jeda.
Sang penguasa terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan gadisnya. Perlahan-lahan ia pun memejamkan kedua mata, menikmati setiap sapuan dari bibir gadisnya. Kali ini Ara memberinya tanpa diminta atau dipaksa. Rain mulai menyadari jika hanya dirilah yang bertahta di hati Ara. Ia lantas memeluk Ara sambil membalas ciuman gadisnya.
Keduanya saling bercumbu dalam hasrat yang kian menggebu. Penekanan-penekanan saling keduanya berikan hingga mulut mereka terbuka. Lidah Rain lalu menyelinap masuk untuk mengajak beradu. Dan akhirnya kedua lidah mereka berpadu, saling beradu untuk melampiaskan hasrat yang kian menggebu.
Beberapa saat kemudian, Ara melepaskan cumbuannya dengan masih mengalungkan kedua tangan di leher Rain. Rain pun masih terpejam sambil memeluk gadisnya.
"Sayang." Suara Ara terdengar begitu lembut. "Hanya kau yang aku cintai. Hanya dirimu." Ara mengungkapkan sisi hatinya.
Tiba-tiba Rain merasa bersalah. "Maaf, Ara. Aku hanya ... cemburu." Rain mengakuinya.
Ara lantas menggesek-gesekkan hidungnya di ujung hidung Rain. "Sudah, jangan marah lagi. Aku hanya milikmu, Hujanku." Ara mengatakannya seraya tersenyum.
Rain ikut tersenyum. Ia lantas mengusap kepala gadisnya. Ia tatap sang gadis sepenuh hati. Ia tidak mau jika ada yang mendekati Ara apalagi sampai menyentuhnya. Rain hanya ingin Ara menjadi miliknya seorang.
"Iya. Aku tidak marah," kata Rain lalu mencium kening gadisnya.
Ara lantas memeluk Rain. Pelukan hangat di sore hari yang penuh dengan cinta dari hati keduanya. Mereka bak sepasang insan yang tidak bisa terpisahkan. Hanya tinggal waktu saja yang mengeksekusi hari pernikahan.
Tak lama, bel apartemen kembali berbunyi. Rain pun segera waspada kembali. Ia melepas pelukan yang tengah hangat dirasakan. Ia ingin memastikan siapa yang datang.
"Biar aku saja yang membukakan pintu."
__ADS_1
Lagi-lagi sikap waspadanya begitu tampak di mata Ara. Sang gadis lantas tersenyum bahagia kala melihat prianya yang begitu menjaga. Ia tidak salah jika memercayakan semuanya kepada sang penguasa.