Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Permission


__ADS_3

"Nah, sudah selesai Nona. Nona bisa menemui pangeran sekarang." Tak lama pihak penata rias kerajaan menyelesaikan tugasnya.


Lily didandani bak seorang putri cantik. Ia mengenakan gaun sutera berwarna putih dengan hiasan kepala yang menawan. Hiasan itu terdiri dari bebatuan zamrud yang dibentuk menyerupai jaring di dekat dahinya. Alhasil membuat Lily bertambah cantik bak putri kerajaan yang istimewa.


"Terima kasih, Bi." Lily mengucapkan terima kasih kepada penata rias yang telah membantunya.


Para penata rias itu mengundurkan diri. Mereka segera keluar dari kamar Lily, yang mana Pangeran Agartha telah menunggunya di luar.


"Bagaimana?" tanya pangeran segera kepada mereka.


"Sudah Pangeran. Silakan." Penata rias itu menuturkan.


Pangeran mengangguk. Ia kemudian segera masuk ke kamar Lily. Dibukanya pintu lalu dilihatnya seorang gadis tengah duduk di depan cermin rias. Pangeran pun menutup pintunya kembali.


"Lily." Ia menyapa gadis itu yang masih duduk membelakanginya.


Lily menoleh. Ia segera berdiri saat menyadari pangeran datang. Namun, saat itu juga pangeran terkejut melihat perubahan yang ada pada gadisnya. Ia terpana melihat kecantikan Lily.


Astaga! Dia ... cantik sekali.


Selama ini pangeran melihat Lily dengan wajah polos dan tanpa make up. Baru malam inilah ia melihat betapa cantiknya Lily jika sudah didandani. Baginya Lily adalah mutiara terpendam dalam lumpur. Dan kini mutiara itu telah bersinar menerangi hatinya. Hampir-hampir saja ia tidak bisa berkata apa-apa.


Pangeran terpukau dengan kecantikan Lily yang selama ini belum pernah dilihatnya. Lily pun tersenyum lalu segera berjalan mendekati pangeran. Langkah demi langkah terasa membayar semua penantian mereka. Hingga akhirnya Lily tiba di hadapan pangeran.


"Agartha, terima kasih." Lily mengucapkan terima kasih kepada sosok pria yang ditemuinya di telaga.

__ADS_1


Pangeran menelan ludahnya. Ia terpukau. "Lily, kau kah ini?" Tangannya bergerak sendiri ingin memegang pundak Lily.


Lily tersenyum kemudian mengangguk. Pangeran Agartha pun tidak lagi bisa menahan kerinduannya. Ia segera memeluk Lily tanpa berpikir panjang lagi.


Lily ... akhirnya kau kembali ....


Lily pun tersenyum di pelukan pangeran. Ia juga merasa bahagia karena bisa melihat pangeran lagi. Akhirnya kamar besar nan luas itu menjadi saksi pertemuan keduanya yang sudah lama terpisahkan. Hingga akhirnya pangeran tersadar dari apa yang ia lakukan. Seketika itu juga ia melepaskan pelukan lalu membalikkan badannya. Raut wajahnya merona saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan.


Beberapa saat kemudian di istana Agartha...


Rain dan Ara untuk pertama kalinya makan malam bersama pangeran, Lily dan juga Tabib Hu yang masih setia mengawasi perkembangan kesehatan Lily. Kelimanya duduk melingkari sebuah meja makan yang terbuat dari kaca. Mereka tampak menikmati hidangan makan malam yang disediakan pihak dapur istana. Namun, malam ini Ara tampak kurang bersemangat dalam menyantap makanannya.


Pangeran Agartha menyadari perubahan sikap Ara. Namun, ia memaklumi dan tidak banyak bertanya mengapa tamunya seperti itu. Ia merasa telah banyak merepotkan istri dari sang penguasa. Sehingga tidak ingin lagi membebani Ara dengan pertanyaannya.


Kini di samping pangeran sudah ada Lily yang menemani. Percakapan mereka di kamar harus terhenti sejenak saat pangeran menyadari apa yang telah ia lakukan kepada Lily. Ia kemudian mengajak Lily menuju meja makan. Lily pun dengan tersenyum memenuhi permintaan pangeran. Pangeran Agartha tampak masih malu-malu untuk menyentuh Lily. Namun, Lily sepertinya tidak merasa keberatan.


"Senang rasanya bisa makan bersama seperti ini." Tabib Hu merasa senang karena bisa makan bersama Pangeran Agartha.


Pangeran Agartha tersenyum. "Aku harap kita bisa terus seperti ini, Tabib Hu. Benarkan Lily?" Pangeran Agartha menoleh ke Lily yang duduk di sampingnya.


Lily mengangguk seraya tersenyum. Namun, ia belum banyak bicara. Ia masih harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang baru baginya. Lily juga masih harus banyak-banyak beristirahat pasca menjalani pengobatan.


Tabib Hu menoleh ke Ara yang tampak diam. "Nona, apakah Nona ingin mencicipi ramuan herbal yang saya buat? Ramuannya sangat bagus untuk meningkatkan stamina." Tabib Hu menawarkan.


Seketika Ara tersenyum. "Terima kasih, Tabib Hu. Aku sudah merasa lebih bertenaga setelah dipijat oleh suamiku tadi." Ara menolak dengan halus.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang Nona pikirkan?" Pangeran Agartha mencoba membuka percakapan.


Saat itu juga Ara merasa kikuk. "Ah, tidak Pangeran." Ara menutupinya.


Pangeran Agartha meneguk air minumnya. "Katakan saja Nona. Kita bisa berdiskusi sekarang." Pangeran Agartha seolah mengerti apa yang dirisaukan Ara.


Ara menoleh ke suaminya. Meminta Rain untuk mengungkapkan kegelisahan yang sedang melanda hatinya. Rain pun tersenyum lalu merangkul Ara di hadapan pangeran dan yang lainnya. Ia tahu apa yang harus dilakukan.


"Kami rasa tugas kami di sini sudah selesai, Pangeran. Maka dari itu kami ingin berpamitan. Istriku khawatir jika berlama-lama di sini karena dia sedang mengandung." Rain akhirnya mewakili sang istri.


Pangeran?


Saat itu juga Lily terkejut dengan panggilan pria di sampingnya.


Pangeran Agartha mencoba memahami kerisauan tamunya. "Ya. Aku juga tidak bisa memaksa kalian untuk tetap tinggal di sini. Namun, aku sangat berharap kalian bisa hadir di pesta pernikahanku lusa ini." Pangeran mengungkapkan.


Seketika Ara dan Rain pun terperanjat kaget. "Jadi Pangeran akan segera melangsungkan pernikahan?" tanya Rain dalam rasa keterkejutannya.


Pangeran mengangguk. "Ya. Tadi aku sempat membicarakan hal ini kepada Tabib Hu. Kami bisa segera melangsungkan pernikahan karena kondisi tubuh Lily sudah membaik. Dan aku berharap kalian bisa menghadirinya." Pangeran amat berharap kepada Ara dan Rain.


Ara dan Rain merasa tugas mereka sudah selesai di Agartha. Namun, pangeran ingin keduanya menghadiri pesta pernikahannya bersama Lily. Ara dan Rain pun tampak saling pandang mengenai hal ini. Mereka kaget, terkejut dan tak percaya jika pesta pernikahan akan dilangsungkan secepatnya. Sangat berbeda dengan di dunianya.


"Em, nanti akan kami pertimbangkan kembali Pangeran." Rain akhirnya mengambil keputusan.


Pangeran mengangguk, mengiyakan perkataan Rain. Sedang Ara tampak sudah tidak sabar untuk segera kembali ke dunianya. Namun, ia juga masih bingung mengapa portal belum kembali terbuka.

__ADS_1


Tugasku sudah selesai. Tapi, kenapa portal belum juga terbuka? Apakah masih ada tugas tambahan untukku?


Dalam tanyanya Ara berusaha mencari tahu mengapa portal belum kembali terbuka. Sedang ia tidak bisa bertemu kembali dengan nenek pemberi gelang jika satu gantungan belum terlepas. Ara merasa heran namun ia tidak ingin terlalu memusingkannya. Sebagai seorang ibu hamil tidak boleh terlalu banyak pikiran. Jadinya dibawa santai saja. Toh, Rain juga selalu berada di sisinya.


__ADS_2