
Aku terluka. Luka yang kubuat sendiri. Harusnya tidak begitu saja percaya padanya. Tapi apa daya, semua sudah terjadi. Yang aku bisa hanya bertahan dari perasaanku sendiri, perasaan yang membumbung tinggi.
Kuusap air mata lalu segera membasuh wajah di pancuran air cuci piring. Setelahnya kuambil segelas air minum lalu meneguknya sampai habis. Kuatur ulang napasku agar bisa kembali berpikir jernih. Seketika aku mempunyai ide untuk mengobati hati yang terluka ini.
Kuambil ponsel lalu menyambungkan kabel earphone-nya. Kupasang di telinga dengan volume besar karena tidak sanggup mendengar hal-hal aneh dari luar.
Kuletakkan ponsel di saku celana lalu mulai membereskan barang belanjaan. Kutata di tempatnya sambil bernyanyi dengan riang. Lambat laun perasaan sedih pun hilang dari hatiku. Aku kembali bisa menikmati hidup ini.
Aku harus profesional!
Kusiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak lalu segera mencucinya. Siang ini aku akan membuatkan steak sapi dengan taburan lada hitam. Sepertinya enak disantap bersama rebusan kentang dan juga kacang polong. Ya sudah, kuselesaikan saja pekerjaanku.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit pun terlewati. Aku hampir lupa jika telah terjadi sesuatu tadi. Dan kini aku sedang menyajikan daging sapi yang telah dipanggang ke atas papan kayu. Kuhias cantik dengan irisan tomat dan brokoli. Namun, tiba-tiba jantungku kaget mendengar bunyi keras di pintu.
"Tu-tuan?!"
Kulihat tuanku mendobrak pintu dapur dan kini berdiri dengan wajah kesalnya. Kulepas segera earphone ini dari telingaku.
"Astaga, Ara?!" Dia memijat dahinya sendiri saat melihatku. "Kau tidak mendengar panggilanku karena memakai earphone?!" tanyanya sambil bertolak pinggang.
"Ma-maaf, Tuan. Aku tidak mendengarnya," kataku takut.
"Ara, kau benar-benar keterlaluan! Aku berulang kali memanggilmu, mengetuk pintu, tapi tidak juga dibukakan!" Dia menatapku dengan tatapan amarah.
"Maaf, Tuan. Aku salah." Aku mengakui kesalahanku sambil tertunduk di depannya.
"Tolong buatkan aku kopi," pintanya, dan dia pun segera pergi.
"Baik, Tuan." Aku mengiyakan.
Saat itu juga aku merasa bingung. Berapa jumlah kopi yang harus kubuat untuknya? Satu atau dua? Karena kulihat ada wanita itu tadi.
Dua sajalah daripada harus bolak-balik.
Kubuat dua cangkir kopi lalu segera membawakannya ke luar. Kulihat tuanku sedang duduk di depan meja makan seorang diri.
Eh, ke mana wanita itu?
Kulihat wanita itu sudah tidak ada. Tapi mungkin saja dia sedang berada di kamar mandi sekarang. Entahlah, aku tidak peduli. Kuselesaikan saja tugasku ini.
"Silakan, Tuan." Kuletakkan dua cangkir kopi ke atas meja.
"Kau membuatkannya dua?" tanyanya, saat menyadari jika aku sudah datang.
"Ya, Tuan," jawabku yang berdiri di sampingnya.
"Apakah kau ingin meminum kopi bersamaku?" tanyanya lagi.
"Tidak, Tuan. Ini untuk nona yang tadi," jawabku jujur.
Kulihat dia menggerak-gerakkan jemari tangannya di atas meja. Dia menatap ke arahku sambil menahan diri agar tidak bicara. Tetapi...
"Duduklah," pintanya kemudian.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Aku menurut, segera duduk di sampingnya, menghadap ke arah kaca yang ada di seberang. Kulihat tuanku meneguk kopi yang telah kusajikan. Dia juga mengambil napas panjang sebelum memulai pembicaraan.
"Maaf atas kejadian tadi," katanya pelan.
Aku yang mendengarnya hanya bisa tersenyum palsu.
"Dia Jane, temanku di USA," katanya lagi.
Aku tersenyum kembali.
"Aku tidak punya hubungan apapun dengannya selain pertemanan. Apa yang kau lihat tadi bukanlah yang sesungguhnya." Dia menjelaskan padaku.
Kutelan ludah sambil mengambil napas dalam. "Maaf, Tuan. Aku merasa tidak pantas menerima penjelasan dari Anda." Aku kembali tersenyum padanya.
"Ara ...."
"Pembicaraan ini menyiratkan jika Tuan merasa bersalah atas kejadian tadi. Maaf jika aku salah mengira. Tapi sepertinya, tidak ada yang perlu dibicarakan tentang hal barusan. Aku juga tidak punya alasan yang kuat untuk marah." Kutatap wajahnya seraya tersenyum, menutupi duka di hati.
Kulihat dia menelan ludahnya. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Aku hanya berusaha mengobati perasaanku sendiri.
"Ara." Dia mendekatkan wajahnya ke arahku. "Mengapa kau seperti ini? Mengapa memanggilku dengan sebutan tuan kembali? Apa kau marah padaku?" tanyanya serius.
Aku tersenyum seraya menunduk, menutupi perasaan yang sesungguhnya. "Tidak, Tuan. Bukankah hubungan kita hanya sebatas kontrak? Aku tidak berhak marah kepada Anda." Aku tersenyum kecil padanya.
Dia diam lalu memperhatikanku sejenak.
Aku tidak mau peduli lagi padanya. Rasanya sudah cukup sakit hati. Aku tidak boleh membiarkan hatiku menjadi mainannya. Aku harus bangkit dari rasa sakit ini.
Segera kutarik tangan yang ingin dia pegang. Seketika itu juga wajahnya berubah masam. Dia lalu mengusap kepalanya dan mengembuskan napas dengan kuat.
"Baiklah-baiklah. Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanyanya, seperti tidak mempunyai jalan lagi.
"Tuan, sudah pukul satu. Aku bawakan bekal untuk makan siang di kantor, ya." Aku beranjak berdiri lalu segera melangkahkan kaki menuju dapur.
"Ara!" Dia memanggilku lalu berdiri dari duduknya.
"Ya, Tuan?" Aku membalikkan badan ke arahnya.
"Kau benar-benar ingin aku pergi sekarang? Kau tidak ingin bicara lagi padaku?" tanyanya, dengan tatapan seperti menahan kesal.
"Tuan, aku laksanakan tugasku. Aku siapkan bekal," kataku lagi seraya tersenyum.
Kubalikkan badan, membelakanginya lalu menuju ke dapur. Kusiapkan segera bekal makan siang untuknya. Sungguh aku tidak mampu jika harus berlama-lama berhadapan dengannya. Aku bisa menangis dan dia mengetahui perasaanku yang sesungguhnya.
Maafkan aku, Tuan.
Setelah selesai menyiapkan bekal makan siang untuknya, aku kembali ke meja makan. Tapi ternyata ... dia sudah tidak ada.
Tuan ...?
Tak lama nada pesan pun terdengar dari ponselku. Dan kulihat jika dialah yang mengirimkan pesan.
__ADS_1
...
/Jika kau ingin aku pergi, maka aku akan pergi./
Rain
...
Satu kalimat yang kubaca membuat hatiku seperti tercabik-cabik sendiri. Ternyata dia pergi begitu saja tanpa ada kata pamit kepadaku. Rasa sesak pun kembali melanda dada ini. Segera kuletakkan kotak bekal yang kubawa ke atas meja lalu duduk merenung. Rasanya kepalaku sakit sekali.
Tuan ... kenapa harus seperti ini?
Kupegang kepalaku karena rasa sedih yang tertahan. Rasanya baru semalam kami berbagi kasih. Tapi, siang ini duka sudah menerpa kami.
Sungguh aku tidak percaya jika akhirnya seperti ini. Mungkin akunya yang salah, harusnya lebih tahan banting melihatnya bersama wanita lain. Atau mungkin akunya kekanak-kanakan dan dia yang belum dewasa. Entahlah, kuteguk saja kopi yang ada di meja untuk mengembalikan suasana hatiku. Namun nyatanya ... aku tidak mampu.
...
Sayang,
Bahkan di hatiku aku melihat kamu tidak jujur padaku.
Jauh di dalam jiwaku aku merasa tidak ada yang seperti dulu.
Terkadang aku berharap bisa memutar kembali waktu.
Tidak mungkin seperti yang terlihat, tapi aku berharap bisa.
Sangat buruk, Sayang.
Berhentilah bermain-main dengan hatiku.
Berhenti bermain-main dengan hatiku,
Sebelum kau memisahkan kita.
Berhenti bermain-main dengan hatiku.
Seharusnya aku tahu dari awal.
Kau tahu harus berhenti.
Kau mengobrak-abrik hatiku.
Berhentilah bermain-main dengan hatiku.
Sayang, Sayang...
Cinta yang kita miliki begitu kuat.
Jangan tinggalkan aku di sini selamanya.
Oh, Sayang...
__ADS_1
Sayang ini tidak benar.
Mari kita hentikan malam ini...