Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Cornered


__ADS_3

"Dia terlalu serakah." Suamiku pun akhirnya ikut mengghibah.


Tak tahu mengapa, aku sedikit geli mendengarnya. Walaupun mereka seperti serius, tapi aku merasa lucu. Aku pikir hanya kaum wanita saja yang suka membicarakan orang lain. Tapi ternyata pria juga seperti itu. Aku baru menyadari jika kami sebenarnya sama. Baik kaum wanita maupun pria, jika ada sesuatu yang tak disenanginya akan diluapkan ke pembicaraan. Tapi bedanya hal yang dilakukan Nick ini sepertinya sudah sangat keterlaluan. Sayang hanya wajahnya saja yang tampan.


"Kau sudah menyiapkan bahan untuk berbicara kepada pihak Kedubes USA, Rain?" tanya Owdie sambil membelokkan setir mobilnya ke kiri.


"Ya, sudah. Aku sudah mengisi penuh bateraiku semalam. Jadi lebih siap hari ini. Ya kan Sayang?" Tiba-tiba suamiku berkata seperti itu.


Ih, dia ini. Apa maksudnya dengan mengisi baterai. Dasar!


"Hahaha." Owdie tertawa. Sepertinya dia geli melihat ekspresi wajahku yang kaget ini. "Kalian memang pasangan yang membuatku iri. Semoga saja aku bisa menemukan gadis seperti Ara." Entah bercanda atau tidak, Owdie mengatakannya.


"Kau main-main lah ke Indonesia. Pasti banyak gadis sepertinya. Tapi jika di Timur Tengah, akan lain lagi ceritanya. Tergantung bagaimana seleramu." Rain menatapku dari sisi. Entah apa maksudnya.


"Hm, ya. Aku rasa ... ingin menyusul kalian. Tapi aku seorang pengangguran sekarang. Apa mau keluarga perempuan menerima calon menantu pria yang pengangguran?" tanya Owdie kepada suamiku.


Sepertinya Owdie sudah ingin menata hidupnya. Terbukti dengan dirinya yang sudah memikirkan melepas masa lajang. Walaupun hanya sekedar topik perbincangan saat di perjalanan, aku dapat menangkap keinginan besar dari dalam hatinya. Semoga saja Tuhan memberikan yang terbaik untuknya. Terlepas dari segala kekurangan yang ada. Ya, aku juga berharap Tuhan menganugerahi kami anak-anak yang mempunyai budi pekerti luhur dan juga rendah hati. Semoga saja semesta merestui.


Sesampainya di istana Kepresidenan Turki...


Gedung besar terpampang megah di ujung sana. Halaman yang amat luas memanjakan pandangan mata. Pancuran air di tengahnya seakan menjadi ikon tersendiri di istana ini. Tak kusangka istana Kepresidenan Turki amatlah besar. Bahkan melebihi istana kepresidenan yang ada di negaraku. Luas, megah dan juga mewah. Bendera Turki pun berkibar di sepanjang jalan menuju istana.


Siang ini cuaca mulai terang, tidak seperti tadi pagi yang redup dan malu-malu kucing. Aku pun mulai sedikit merasa kepanasan saat akan berjalan dari halaman parkir menuju istana. Ternyata kedatangan kami sudah ditunggu oleh beberapa orang di ujung sana.

__ADS_1


Kami diantarkan menuju istana kepresidenan oleh prajurit penjaga. Suamiku bilang, Turki amat menghormati tamunya dengan jamuan yang memuaskan. Mulai dari kedatangan sampai kepulangannya. Tapi, walaupun ini di area istana kepresidenan, aku belum juga melihat presidennya. Mungkin Presiden Turki mempunyai jadwal tersendiri yang tidak bisa dicampuri. Sehingga hari ini hanya sekedar membuat janji temu di sini.


Istananya luas sekali. Mungkin ada dua atau tiga kali lapangan sepak bola.


Sebelum sampai ke sini, Rain memintaku untuk berlagak seperti saat berada di Agartha. Anggun, sopan, dan juga elegan. Tentu saja bukan hal yang asing bagiku. Cukup lama berada di Agartha, ternyata mempunyai hikmah juga. Aku jadi lebih bisa memposisikan diri ini sebagai tamu kehormatan yang menjunjung tinggi nilai kesopanan. Aku pun merasa senang karena bisa datang ke sini, ke istana Kepresidenan Turki.


Ponsel suamiku berdering. "Halo?" Dia pun segera mengangkat teleponnya. "Oh, baiklah. Ke gedung pertama." Suamiku mengiyakan pembicaraan teleponnya, lalu tak lama telepon itu pun terputus.


Siapa yang menelepon ya? Apakah pejabat Turki?


"Kita langsung diminta ke gedung pertama, Rain?" tanya Owdie kepada suamiku. Dia berjalan di sisi kiri si hujan.


"Ya. Di gedung pertama sudah menunggu pihak kedubes dan juga Wakil Menteri Pertambangan. Sepertinya kita tidak bisa menemui langsung pak menteri." Suamiku menuturkan.


Suamiku mengangguk. Aku pun terus melangkahkan kaki bersamanya menuju gedung yang ada di sebelah kiri istana Kepresidenan Turki. Sedang di sisi kanan kami tampak prajurit bersenjata yang mengantarkan. Kami sudah seperti tamu kehormatan.


Makan siang bersama Duta Besar USA dan Wakil Menteri Pertambangan Turki...


Lilin-lilin merah dinyalakan sebagai hiasan meja makan yang terlapisi taplak meja berukuran besar. Ukiran batik pun mengelilingi sepanjang sisi taplaknya. Tampaknya makan siang mewah akan segera dimulai.


Aku sendiri duduk di tengah-tengah Owdie dan suamiku. Kami berhadapan dengan dua orang besar di bidang pemerintahan. Satu pria berjas putih asal USA, dan satu pria berjas hitam asal Turki. Keduanya tampak menunggu hidangan pembuka.


Sendok garpu sudah ditata sedemikian rupa. Serbet makan pun diletakkan di sampingnya. Para pelayan istana mulai berdatangan dengan membawa hidangan pembuka. Mereka mengenakan pakaian yang sopan dan serba panjang. Mirip seperti pramugari Turki.

__ADS_1


"Silakan Tuan, Nona."


Hidangan pembuka telah disajikan. Aku pun melihat apa yang diberikan pihak istana untuk kami. Ternyata salad buah yang menggoda selera. Tapi anehnya tidak ada buah kurma di sini. Aku pikir akan ketemu kurma lagi.


"Terima kasih." Aku menjawabnya seraya tersenyum.


Kedua pria di hadapanku ini tampak diam seperti sedang bersitegang. Pria berjas hitam lalu mulai mengambil sendoknya. Dia tersenyum kepada kami sebagai tamu kehormatan lalu berkata, "Mari, silakan." Saat itu juga suamiku dan Owdie ikut mengambil sendoknya.


Oh, jadi begini tata cara makan bersama pejabat pemerintahan?


Aku sendiri seolah menjadi saksi atas pertemuan orang-orang penting di sini. Tak lama kudengar Kedubes USA berdehem seperti ingin memulai pembicaraannya. Pria berjas hitam pun seakan mengerti jika pembicaraan ingin segera dimulai. Dia kemudian menyapa suamiku.


"Sudah lama sekali Tuan Rain tidak datang ke Turki. Kudengar kapal pengeboran minyak yang Tuan tangani meledak. Bagaimana bisa seperti itu?" tanyanya.


Pria berjas hitam bertanya kepada suamiku. Terbesit pertanyaannya seperti ingin memojokkan kinerja organisasi. Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja.


"Aku hanya seorang pekerja yang mempunyai batas kemampuan dalam mengawasi, Tuan Pasha. Puji syukur kecelakaan itu tidak sampai menimbulkan korban." Suamiku menanggapi.


Pria berjas hitam itu ternyata bernama Pasha. Entah nama aslinya atau nama panggilannya. Kulihat Kedubes USA tampak kurang berselera untuk meneruskan makannya. Mungkin dia agak sedikit tersinggung dengan ucapan pria berjas hitam itu yang tak lain adalah Wakil Menteri Pertambangan Turki.


"Aku tidak pernah menyangka sekelas Empire Earth bisa mengalami kecelakaan seperti ini. Beritanya pun bahkan sampai memenuhi headline news di Timur Tengah. Apakah organisasi mendapat tekanan tinggi dari pemerintah USA?" tanya pria berjas hitam tersebut.


Sontak kata-kata itu seperti benar-benar menyudutkan USA. Aku pun hanya bisa menelan ludah saat mendengarnya. Ternyata pembicaraan di pemerintahan bisa sehalus dan mematikan seperti ini. Aku rasa harus banyak-banyak belajar lagi tentang ketatanegaraan. Kali-kali saja bisa mendapat kesempatan untuk berkecimpung di dunia pemerintahan.

__ADS_1


__ADS_2