Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Don't Dodge!


__ADS_3

“Sayang … tunggu besok. Biar bersih dulu. Mhh ....”


Aku memejamkan mata karena tidak mampu menahan sensasi yang dia berikan saat bibirnya mulai mengecup-ngecup dadaku. Kedua tangannya mencengkeram kuat tanganku ini, tubuhku pun diapit oleh kedua paha kekarnya. Aku hanya bisa pasrah di bawah tubuhnya tanpa melakukan apa-apa.


"Sayang ...."


Aku masih mencoba menghentikannya. Namun, sepertinya suamiku tidak lagi bisa diajak berkompromi. Dia terus saja menghujaniku dengan sentuhannya. Napasnya pun mulai terasa berat. Wajahnya memerah, seperti tidak mampu menahan api yang sedang bergejolak di tubuhnya. Dan akhirnya dia mempermainkan pucuk dadaku secara bergantian, mengecupnya, menghisapnya lalu menggigitnya.


“Sayang … aahhh ….”


Sungguh aku tidak sanggup, setiap sentuhannya hampir membuatku gila. Napasku terengah-engah kala dia tidak juga berhenti bermain-main dari dadaku ini. Hingga akhirnya kusadari jika zat kimia di dalam tubuhku bereaksi.


“Sayang—hah … hah ….”


Pandangan mataku sayu, jiwaku seperti melayang ke angkasa. Padahal dia baru saja melakukan pemanasan denganku. Bagaimana jika hal ini berlanjut ke lebih dalam?


“Sayang ….” Dia mencium bibirku.


Cengkeramannya pada kedua tanganku di lepaskan. Kedua tangannya kini melingkar di punggungku. Dia menekan-nekan bibirku dengan bibirnya. Bibir tipisnya terasa begitu lembut saat mencium bibir ini. Beberapa hisapan kecil akhirnya mewarnai cumbuan kami.


Dia menjauhkan wajahnya sesaat. “Kau menikmatinya?” tanyanya seraya menatapku.


Mata beningnya seolah mengharapkan dapat melihat bagian tubuhku lainnya. Tapi begini saja aku seperti sudah tidak bertenaga. Apalagi jika dia melanjutkannya sampai ke bawah. Mungkin aku bisa jadi gila.


“Sayang, besok saja ya dilanjutkan. Mens-ku belum berakhir.” Aku memberi tahunya.


“Apa?!” Seketika itu juga dia terbelalak kaget.


“Sayang, sungguh. Aku tidak bohong. Masih ada flek cokelatnya. Tunggu besok, ya,” kataku lagi.


Rainku ini seperti tidak percaya. Dia akhirnya melihat celana dalamku sendiri. Dan ternyata memang benar, flek kecokelatan itu masih ditemukan olehnya.


“Astaga ….” Saat itu juga dia menepuk dahinya, lagi-lagi seperti orang yang frustrasi.

__ADS_1


“Sayang.” Aku mendekatinya. “Besok saja. Aku mandi besar dulu. Malam ini seperti kemarin saja, ya.” Entah mengapa aku jadi tidak enak hati jika menyudahinya begitu saja.


Rainku pundung. Dia pergi dari hadapanku lalu menepi di pinggir kasur. Kusentuh lengannya, tapi dia malah menepiskannya. Priaku ini akhirnya ngambek lagi padaku.


“Sayang.” Aku mencoba menyapanya.


“Sudah tidur saja sana!” Dia ngambek lagi.


“Sayang, tidak ingin dihisap?” Aku menawarkan diri padanya.


“Aku mau yang bawah.” Dia duduk membelakangiku, seolah tidak ingin melihatku.


Aku lalu bangkit, berdiri di hadapannya. Sengaja kuturunkan semua tali lingerie agar dia tergoda. Dia pun menelan ludahnya tapi segera memalingkan muka. Saat itu juga aku duduk di atas pangkuannya. Melebarkan kedua kaki sambil mendekatkan dadaku ini ke wajahnya. Kunaik-turunkan pinggulku secara perlahan agar dia bisa merasakannya. Kulihat Rainku mulai bereaksi.


“Sayang, jangan goda aku.” Dia memegang pinggulku.


Aku mendorongnya hingga jatuh ke kasur. Perlahan-lahan merayap di atas tubuhnya sambil mengecup-ngecup permukaan dadanya. Seketika kudengar lenguhan tertahan dari mulutnya. Saat itu juga kumulai permainanku agar dia tidak pundung lagi.


“Sayang ….” Dia mulai terlihat pasrah padaku.


“Kita mulai, Sayang,” kataku. Saat itu juga dia mengerang kenikmatan.


Esok harinya…


Sinar mentari menerangi seluruh kota dengan cerahnya. Aku pun baru selesai mandi sehabis membuatkan sarapan untuk suamiku. Tapi, pagi ini seperti ada yang berbeda. Saat keluar dari kamar mandi, ternyata suamiku sudah menunggu di depan pintu.


“Sayang?” Aku terkejut melihatnya masih memakai handuk. Padahal sudah sepuluh menit berlalu dari selesai mandi.


Kupikir saat aku mandi, dia mengenakan pakaiannya. Tetapi ternyata, dia belum mengenakan apa-apa. Priaku sepertinya memang sengaja menungguku keluar dari kamar mandi.


“Sudah mandi besar?” tanyanya seraya merentangkan tangan, menghadangku. Kedua matanya seolah ingin menagih janji.


“Em, Sayang. Kau tidak ingin pergi bekerja?” Aku mengalihkan pertanyaannya sambil memegang handuk di tubuhku ini.

__ADS_1


“Aku libur. Sengaja meliburkan diri.” Dia berkata tanpa merasa khawatir.


“Eh?! Sayang, nanti pekerjaanmu menumpuk, lho.” Aku menasihati sambil mengambil arah lain untuk berjalan.


“Ara.” Dia menghadangku kembali, merentangkan satu tangannya. “Sudah bersih, kan?” Dia menanyakan kembali status menstruasiku.


Saat itu juga kusadari apa yang dimaksudkan olehnya. Suamiku sengaja meliburkan diri, tidak bekerja untuk menagih janjiku semalam. Dan kini aku terhadang olehnya sampai tidak bisa lewat. Kutelan ludahku lalu menatap kedua bola mata birunya. Jantungku berdebar saat mengingat hal itu.


“Em, Sayang. Ak-aku ….” Entah mengapa aku merasa kikuk di hadapannya.


Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Kau tidak bisa menghindar lagi, Istriku. Hari ini kupastikan aku akan memilikimu seutuhnya. Berikan padaku atau aku akan mencari yang lain!” Dia mengancamku.


“Sa-sayang?!” Aku terbata sekaligus terkejut dengan ancamannya.


Dia memutar tubuh sambil merentangkan tangan kanannya. “Silakan ke kamar, Tuan Putri.” Dia mempersilakanku untuk berjalan duluan ke kamar.


Astaga ....


Aku merasa pagi ini juga hal itu akan terjadi. Tak tahu apa yang harus kulakukan, rasanya kaku sekali. Baru kali ini aku menghadapi situasi dimana aku dituntut untuk memenuhi janjiku. Yang mana janji itu tidak bisa tidak kupenuhi. Sekarang juga aku harus menepatinya.


Ya ampun, aku tidak bisa menghindar lagi. Pagi ini dia sampai meliburkan diri untuk mendapatkanku. Aku tidak punya jalan lain selain memenuhi permintaannya.


Aku terus melangkahkan kaki sampai masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar, Rain langsung mengunci pintu dan menghidupkan lilin aroma terapi yang ternyata telah dia persiapkan. Dia menutup tirai kamar kami lalu menghidupkan lampunya. Lalu berjalan mendekatiku perlahan. Aku pun bingung harus berbuat apa.


“Biarkan aku melayanimu, Putri.” Dia memanggilku dengan sebutan putri. Mungkin agar tubuhhku tidak tegang saat menghadapi hal ini.


Aku menelan ludahku. “Sayang, pelan-pelan, ya.” Aku meminta padanya.


Dia mengangguk lalu segera merebahkanku ke atas kasur. Aku pun mencoba relaks di bawah tubuhnya agar tidak terlalu sakit. Dan kulihat suamiku ini melepaskan handuknya. Dia juga menarik handukku agar terlepas. Sehingga kini kami tidak mengenakan apapun. Polos tanpa sehelai benang yang menutupi. Aku pun menutupi wajahku karena malu. Sinar terang lampu memperlihatkan lekuk tubuhku.


Kami polos sekali. Aku bisa melihatnya, dia bisa melihatku. Rasanya sungguh malu saat kedua bola mata birunya melihat tubuhku. Aku sampai menutup wajah ini darinya. Tapi, dia menepiskannya. Seolah memintaku untuk terus menatapnya.


“Istriku, kau sudah menjadi pakaianku. Dan aku ingin memakainya sekarang. Jangan tegang, ya.” Kedua bola mata birunya seolah memohon padaku.

__ADS_1


Aku menelan ludah, mengambil napas dalam-dalam karena tahu hal ini akan sakit sekali. Tapi, aku sudah menjadi haknya, aku tidak boleh lari lagi.


__ADS_2