
New York, pukul sembilan pagi...
Matahari terbit dengan sempurna. Langit pun tampak cerah dengan awan putih berarak menghiasi angkasa. Butiran salju mulai mencair saat terkena hangatnya mentari. Begitu juga dengan hati Rain yang mencair saat bersama istrinya. Keduanya kini tengah menikmati mentari pagi dari teras hotel yang mereka inapi.
"Sayang, masih pagi."
Ara merasa kegelian saat Rain menciumi bahunya dari belakang. Rain sengaja mendudukkan Ara di atas pangkuannya agar bisa lebih leluasa menjelajahi tubuh sang istri. Sifat mesumnya muncul lagi, sampai-sampai ia lupa dengan apa yang terjadi fajar tadi. Ara benar-benar telah berhasil membuatnya mabuk kepayang dalam cinta dan jalinan kasih.
"Sayang."
"Hm?"
"Harum sekali." Rain memuji istrinya.
"Ya, kan habis mandi. Biar kamu juga betah." Ara tersenyum kepada suaminya.
"Hahhh ...," Rain menghirup aroma tubuh istrinya. "Aku ingin, lho. Bagaimana, ya?" Rain memberi kode.
"Tidak capek apa?" Ara mencolek ujung hidung Rain.
Rain menggelengkan kepala.
"Dasar!" Ara pun mencubit hidung Rain.
"Aw!" Seketika Rain kesakitan, ia memegangi hidungnya.
"Sayang, kita jalan-jalan, yuk! Kan sudah mandi." Ara mengajak Rain ke luar kamar hotel.
"Tidak mau." Rain menolaknya.
"Lho, kenapa?" Ara segera berbalik, menghadap suaminya.
"Aku ingin," kata Rain tanpa malu-malu.
"Hih, dasar!" Ara pun beranjak bangun.
__ADS_1
"Sayang ...."
Rain tidak membiarkan Ara pergi. Ia segera menarik Ara kembali ke pangkuannya. Namun, kini Rain mendudukkan Ara menghadapnya. Ia menaikkan pinggul sang istri agar lebih menempel dengan tubuhnya.
"Sayang ...," Ara berusaha menjauhkan wajah Rain dari dadanya.
"Jangan ditolak, nanti aku sakit hati." Rain memasang wajah pundung kepada Ara.
Dia ini. Seketika Ara merasa tidak enak hati. "Tapi Sayang, masih pagi." Ara menatap dalam-dalam kedua bola mata biru suaminya.
"Tidak apa. Aku inginnya sekarang." Rain seperti tidak menerima penolakan.
Ara menghela napas, ia tak habis pikir dengan kegigihan sang suami yang ingin mendapatkannya pagi ini. Ia akhirnya menyerah karena tahu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Baiklah," katanya yang pasrah.
Seketika itu juga wajah Rain berseri-seri. Ia merasa senang karena mendapatkan izin dari Ara untuk memadu kasih kembali. Ia pun menarik daster yang Ara kenakan dengan bibirnya. Perlahan-lahan hingga hangat napasnya sampai terasa ke permukaan lengan Ara.
Dasar tidak tahu malu!
Pukul sebelas siang waktu New York dan sekitarnya...
Sehabis bercinta, keduanya ternyata didera kelaparan. Dan kini sepasang suami istri itu tengah menyantap makan siang di restoran hotel bintang lima yang mereka inapi. Kedua rambut mereka pun terlihat masih basah, menandakan jika belum lama ini mereka baru selesai mandi.
Rain dengan lahapnya menyantap makanan di ruangan paling ujung, dekat dengan kolam ikan. Ia sengaja memilih ruangan paling ujung agar bisa berlama-lama bersama istrinya. Tanpa khawatir ada yang ingin mengisi ruangan. Ia pun menikmati pemandangan ikan koi yang berkejaran di kolam. Namun, sesekali ia melihat ke arah istrinya yang diam saja saat makan. Dan entah mengapa saat itu juga Rain tertawa lepas tanpa alasan yang jelas.
"Ohok! Ohok!" Akhirnya ia tersedak makanannya sendiri.
"Sayang, cepat minum." Ara segera mengambilkan air minum untuk suaminya.
Rain meminumnya dengan cepat dan tanpa bernapas sama sekali. Ia teguk habis segelas air minum yang diberikan istrinya. Lambat laun ia pun tidak tersedak lagi. Rain bisa kembali menghirup udara segar tanpa menderita sakit. Karena bagaimana pun rasa tersedak itu amat tidak mengenakkan sekali.
"Fokus makan, Sayang. Jangan bicara dulu." Ara mengelap mulut Rain dengan tisu.
Rain pun memegang tangan Ara yang mengelap mulutnya. "Sayang." Ia menatap sang istri.
__ADS_1
"Apa?" Ara tiba-tiba bingung dengan sikap suaminya.
"Tadi itu ...," Rain mengingat hal yang belum lama terjadi.
"Kenapa?" tanya Ara lagi.
Rain mendekatkan wajahnya ke Ara. "Tadi itu enak sekali. Aku ingin nambah lagi," katanya yang membuat Ara terbelalak seketika.
"Apa?! Dasar mesum!" Ara pun menyumpal mulut Rain dengan tisu yang dipegangnya.
"Sa-sayang?!" Rain kaget karena Ara menyumpal mulutnya.
Ara menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kau ini memang benar-benar, ya. Tidak ada capeknya sama sekali. Baru saja selesai, sudah mau nambah lagi. Kau tidak memikirkan diriku apa?" Ara menepuk jidatnya sendiri.
Rain merasa bersalah, tapi ia juga tidak dapat memungkiri jika menginginkannya lagi. "Sayang, memangnya salah apa aku bicara seperti itu?" Rain pundung sendiri.
Ara melihat suaminya dengan tatapan penuh kasih. Ia lihat pria yang duduk di hadapannya itu begitu memelas, seolah meminta pertolongan. Ara pun akhirnya dibuat luluh oleh drama Rain siang ini. Ia meneguk segelas air minumnya lalu mengambil napas panjang. Ara mencoba untuk memahami sifat mesum suaminya.
Lain dengan Rain, ia merasa sangat bahagia saat bersama Ara. Baginya hanya Ara lah yang bertahta.
Sayang, wajahmu itu imut sekali jika seperti ini. Apalagi kalau sedang marah, rasanya aku ingin mencubitnya saja. Tapi kalau sedang di kamar, wajahmu seakan memintaku untuk terus bekerja dan bekerja. Aku pun jadi betah berlama-lama.
Sayang, katakan saja iya saat aku meminta. Aku sudah milikmu, kamu juga milikku. Tidak ada kata tidak. Kau tidak lagi bisa menolak ku, Sayang.
Rain amat menyayangi Ara. Begitu juga sebaliknya, Ara sangat menyayangi Rain. Keduanya satu frekuensi, hanya berbeda di tingkatkan kasta. Namun, Tuhan membuktikan kebesaran-NYA dengan menyatukan mereka. Dan mereka pun berharap hubungan ini akan selama-lamanya.
Baiklah, aku mengalah saja.
Pada akhirnya Ara berusaha tersenyum di hadapan Rain. Saat itu juga Rain tertawa lalu mengusap wajahnya. Ia lantas memegang tangan Ara lalu menciumnya, sepenuh hati dan perasaannya. Karena bagi Rain, Ara adalah ratunya. Dan selamanya akan tetap seperti itu.
Menjelang siang ini sepasang suami istri itu tampak saling menatap satu sama lain. Sang istri merasa kesal karena ulah suaminya, sedang sang suami tak berhenti menjahili istrinya. Tapi pada akhirnya, sang istri dapat memaklumi sifat suaminya itu. Ia menepiskan perasaan kesal dengan cinta yang ia miliki. Karena ia pun menyadari jika sudah menjadi hak penuh suaminya.
Sayang-sayang, tu kan benar apa kataku. Kamu itu memang tidak bisa diberi waktu luang. Pikirannya selalu ke situ saja. Rasa-rasanya aku akan cepat hamil jika terus seperti ini. Dasar hujan!
Ara pun menggerutu di dalam hati. Ia kemudian menghabiskan makan siangnya sebelum melanjutkan aktivitas hari ini. Rencana Ara akan datang ke manshion kakek Rain untuk ikut menghadiri acara pertemuan tahunan. Ketiga belas cucu pemegang perekonomian dunia akan hadir di sana.
__ADS_1
Lalu apakah kakek Rain bisa menerima Ara yang notabene hanya seorang gadis dari kalangan biasa? Dan bagaimanakah sikap Rain saat bertemu dengan Nick nantinya? Apa yang akan terjadi pada selanjutnya?