Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Subconscious


__ADS_3

"Tolong!!! Tolong!!!" Terdengar teriakan minta tolong entah dari mana.


Langit masih gelap. Bintang fajar pun masih menghiasi angkasa raya. Di ufuk timur belum terlihat tanda-tanda sang mentari akan muncul. Lautan pun hanya memantulkan cahaya bintang yang bersinar, ditemani deru ombak yang berkejaran.


Pandangan Ara mencari di mana suara teriakan berasal. Alam bawah sadarnya menarik dengan cepat menuju ke sebuah dermaga yang ada di selatan kota. Ia kemudian melihat sebuah tempat yang digaris polisi. Penglihatannya pun menerobos untuk melihat apa yang terjadi. Saat itu juga Ara tersentak kaget sendiri.


"Tolong!!! Tolong!!!"


Suara teriakan itu terdengar semakin histeris, memilukan dan menyayat hati. Pandangan Ara kemudian melihat banyak mayat yang bergelimpangan. Mayat-mayat itu tertimpa reruntuhan bangunan. Entah di mana, Ara pun tidak tahu lokasinya.


Ini di mana?


Ara seolah-olah berada di tempat kejadian. Laju napasnya terasa begitu berat saat melihat pemandangan yang memilukan. Saat itu juga waktu seakan berputar ulang, memperlihatkan apa yang terjadi sebelumnya. Dan ternyata, Ara melihat sebuah gedung di dekat dermaga runtuh tiba-tiba. Tidak ada angin, tidak ada hujan.


Astaga ....


Konsleting listrik terjadi lalu menimbulkan percikan api. Api itu semakin lama semakin membesar. Perlahan tapi pasti api merambat ke jaringan listrik lainnya. Saat itu juga Ara melihat jam di kota. Namun, ia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Jam di kota terlihat samar-samar.


Jarum panjang menunjukkan ke angka ...?


Seperti menjelang fajar, seperti sudah melewati fajar. Ara tidak bisa melihat persis waktu yang diperlihatkan alam bawah sadarnya. Selang beberapa detik kemudian ia melihat patung Liberty yang berdiri tak jauh dari tempat kejadian. Semesta pun menghilang dengan cepat dari pandangannya. Cahaya menyilaukan membuat Ara kembali ke alam sadarnya. Ara jatuh lemas.


"Sayang!"


Rain dengan sigap menopang tubuh istrinya. Dipeluknya sang istri dengan penuh kasih sayang. Ia ambil gelas yang dipegang Ara lalu diletakkannya ke meja samping kasur. Rain terlihat khawatir dengan keadaan istrinya.


"Sayang, apa yang terjadi?" Ia bertanya seraya merebahkan Ara ke kasur.


Ara menghela napas panjang. Sebisa mungkin ia mengambil udara agar sirkulasi pernapasan bisa berjalan lancar di tubuhnya. Namun, kejadian yang baru saja ia lihat seolah menyedot semua tenaga yang ia punya. Ara kehilangan tenaganya.


"Ara, apakah kau mengalami kejadian aneh lagi?"


Pagi-pagi buta Ara terjaga. Pagi-pagi buta ia berteriak. Hal itu membuat Rain amat mengkhawatirkannya. Ara pun memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia masih belum terbiasa mengalami kejadian seperti ini.

__ADS_1


"Aku ...." Ara mencoba bicara.


"Sayang, katakan saja. Ada apa?" Rain masih menunggu Ara bicara.


"Aku ... aku melihat ada sebuah motel di dekat dermaga." Ara terengah-engah mengucapkannya.


"Sebuah motel?" tanya Rain antusias.


"Motel itu ... berada di selatan kota, dekat dengan dermaga. Tak jauh dari patung Liberty berada." Ara menceritakan.


Rain menelan ludahnya. "Lalu?" Dia amat antusias menanggapi cerita sang istri.


"Banyak ... banyak sekali." Ara seperti tidak sanggup meneruskannya.


"Banyak apa, Sayang?" Rain cemas. Ia kemudian memeluk istrinya agar tenang.


"Banyak mayat bergelimpangan karena motel itu runtuh," kata Ara lagi yang masih tersendat bicara.


"Runtuh?!" Seketika Rain terkejut.


"Astaga!" Seketika itu juga Rain menjadi cemas.


Rain tidak tahu hal yang diceritakan oleh istrinya ini benar atau tidak. Namun, ia mencoba menerima setiap perkataan istrinya. Ia khawatir jika hal ini hanya bawaan Ara lelah saja.


"Sayang." Ara menyapa suaminya.


"Ya?" Rain pun menatap lembut istrinya.


"Cepat beri tahukan pejabat setempat. Minta motel itu dikosongkan. Aku melihat kejadiannya pada waktu fajar. Tapi entah sebelum atau sesudahnya. Jam di kota tidak bisa jelas terlihat." Ara meminta.


"Ara ...." Rain tampak bingung.


"Tolong. Aku tidak ingin terjadi penyesalan. Hubungi saja pihak motel agar segera mengosongkannya. Aku khawatir apa yang kulihat menjadi kenyataan." Ara memohon kepada suaminya.

__ADS_1


Rain menelan ludah. Ia merasa ragu untuk memenuhi permintaan istrinya. Namun, di lain sisi penjelasan yang Ara tuturkan sudah cukup untuk mencari keberadaan motel tersebut.


Sudah hampir setengah empat pagi. Jika kejadiannya sebelum fajar, itu berarti hanya tersisa waktu sedikit saja. Tapi jika sesudah, mempunyai lebih banyak waktu untuk mengamankan. Tapi masalahnya, apakah pihak motel bisa memercayai kabar ini?


Rain kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi pejabat setempat. Ia mencoba memenuhi permintaan istrinya. Ia khawatir jika apa yang dikatakan oleh istrinya benar-benar terjadi.


Astaga ... tidak ada yang menjawab?


Satu, dua panggilan dari Rain tidak ada yang menjawabnya. Ia pun jadi ikut cemas dengan kabar ini. Dilihatnya sang istri tengah beristirahat sambil mengambil napas dalam-dalam, saat itu juga ia merasa kasihan karena harus melihat Ara menanggung beban seperti ini. Rain tidak menyangka jika istrinya bisa melihat hal-hal yang di luar nalar manusia.


Baiklah, coba lagi.


Ia kemudian terus mencoba menelepon nomor pejabat setempat. Namun, masih tidak ada jawaban. Lantas Rain mencoba menelepon nomor darurat. Tak berapa lama teleponnya pun segera diangkat.


"911. Ada yang bisa dibantu?" Suara dari seberang bicara.


Rain mengambil napas lalu menjawabnya. "Aku Rain Sky. Pejabat pertambangan utusan Amerika untuk Timur Tengah. Tolong cek keberadaan motel di selatan kota, dekat dengan dermaga. Secepatnya!" Rain meminta.


"Diterima." Pihak operator pun segera mengeceknya melalui jaringan kilat milik pemerintah USA. Di layar komputer itu tak beberapa lama ditemukan sebuah lokasi. "Ada tiga motel di dekat dermaga. Satu motel paling dekat dengan patung Liberty. Motel Red Chile yang ada di selatan kota. Sekarang tengah diisi oleh enam puluh enam pasangan." Suara dari seberang mengabarkan.


Rain menelan ludahnya sendiri. "Baik, hubungi pusat keamanan kota untuk segera mengosongkan motel itu dalam waktu tiga puluh menit dari sekarang." Rain meminta cepat.


"Maaf, Tuan. Mengapa motel itu harus dikosongkan? Kami membutuhkan alasan yang tepat." Operator itu menanyakan alasannya.


Rain kemudian menceritakan jika ia mendengar kabar motel itu akan runtuh. Seketika pihak operator pun mengerti dengan apa yang Rain maksud.


"Baik, Tuan. Terima kasih atas informasinya." Dengan cepat pihak operator bergerak.


Sambungan telepon terputus. Rain pun mengambil napas panjang untuk menenangkan hatinya. Ia khawatir jika hal ini hanya bawaan Ara lelah saja. Tapi, ia juga tidak ingin jika ucapan istrinya menjadi nyata. Rain kemudian menelepon seseorang untuk meminta bantuan.


"Dengan Rain Sky, pejabat pertambangan Amerika untuk Timur Tengah. Tolong kondisikan area selatan Kota New York secepatnya. Kudengar akan ada bangunan yang runtuh." Rain berbicara kepada seseorang di telepon.


Rain kemudian berbicara lebih lanjut dengan seseorang itu. Tanpa terasa waktu terus saja berlalu. Dan sekarang sudah pukul setengah empat pagi waktu setempat.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Seseorang dari seberang itupun memenuhi apa yang Rain perintahkan.


Pagi ini Rain harus menanggapi hal yang dilihat oleh istrinya. Sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak bisa dijelaskan dengan algoritma. Tapi, Rain berusaha memercayainya karena ia khawatir jika hal yang dikatakan istrinya memang benar terjadi. Kejadian saat penerbangan ke USA sudah cukup untuk menguatkan dirinya agar percaya kepada Ara. Dan fajar ini ia kembali memercayai apa yang dikatakan oleh istrinya, Aradita.


__ADS_2