Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Story


__ADS_3

Ibu ....


Kejadian itu sudah berlangsung lama. Tepatnya tahun ke dua Rain menginjakkan kakinya di Timur Tengah. Sekitar tiga sampai empat tahun yang lalu pertemuan itu dialaminya. Namun, Rain bersikap biasa-biasa saja. Ia tidak merasakan apa-apa saat bertemu dengan sosok wanita itu.


"Ibu ...." Rain menyapa sosok wanita yang berjualan roti di hadapannya.


"Nak, kau ingin membeli roti? Pilih saja." Ibu itu berkata. Ia lupa jika pernah berjumpa dengan Rain sebelumnya.


Sontak Rain tidak lagi bisa menahan rasa harunya. Matanya berkedut, menandakan jika butiran kristal bening itu ingin segera keluar dari persembunyiannya. Ara pun memperhatikan suaminya yang terlihat sangat bersedih.


Apakah ibu ini adalah ibu kandungnya?


Ara bertanya-tanya sendiri. Saat itu juga Rain memeluk wanita paruh baya tersebut. Tentu saja hal ini membuat sosok wanita itu terbelalak kaget.


"Nak, kenapa kau menangis?"


Sosok wanita itu menyadari jika anak muda yang memeluknya menangis. Ara pun mengerti mengapa suaminya sampai bersikap seperti ini. Ia ikut terharu menyaksikan momen yang ada di hadapannya. Tanpa terasa air matanya pun ikut tumpah.


"Ini aku, Bu. Aku ... anakmu." Rain terbata mengucapkannya.


"Anakku ...?!"


Saat itu juga wanita paruh baya itu terperanjat kaget. Ia tak percaya jika di hadapannya adalah putranya sendiri. Ibu itu kemudian melepas pelukan Rain.


"Anakku?" Ibu itu diliputi seribu tanda tanya.


Rain mengangguk. Ia kemudian menunjukkan tanda lahir yang ada di tangannya. "Ibu ingat ini?" tanya Rain sambil menahan isakan tangisnya.


Wanita itu memperhatikan tanda lahir yang ada di tangan Rain. Sontak ia menutup mulutnya, tak percaya jika yang berada di hadapannya adalah putranya sendiri.

__ADS_1


"Jadi ...?" Wanita itu masih belum percaya. Ia pun menyadari apa yang sedang terjadi.


Sosok wanita paruh baya itu adalah seorang wanita berpakaian khas Turki dengan usia sekitar lima puluh tahun. Ia mengenakan hijab sebagai penutup kepala dan berjualan di sekitar jalanan kota. Rain pun segera berlutut di hadapannya. Ia memegangi kedua kaki wanita itu sambil menahan isakan tangis yang ingin pecah.


"Maafkan aku, Bu. Baru sekarang aku bisa menemukan Ibu." Rain tidak lagi dapat menahan isakan tangisnya.


Ibu itu terdiam cukup lama. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Ara kemudian mendekati sosok wanita paruh baya tersebut. Ia lantas memeluknya. Sontak wanita itu pun semakin bertanya-tanya. Benarkah di hadapannya ini adalah nyata?


Satu jam kemudian...


Perbincangan singkat terjadi antara Ara, Rain dan wanita paruh baya yang membuat wanita paruh baya itu memutuskan untuk menyudahi aktivitas dagangannya. Kini wanita paruh baya itu sedang mempersilakan Ara dan Rain untuk mengikutinya masuk ke sebuah pemukiman.


Rain dan Ara pun memasuki pemukiman kecil yang ada di pinggiran kota. Mereka melihat banyaknya anak-anak yang bermain di sepanjang gang pemukiman. Hingga akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah kecil berlantai dua. Ara dan Rain pun masuk ke dalamnya.


"Silakan Nak."


Lantainya belumlah berkeramik, masih berupa semen dengan dinding yang sudah kusam. Tangga rumahnya juga terbuat dari kayu yang sudah harus diganti. Rain tidak percaya jika ini adalah rumah ibunya.


"Silakan diminum, Nak. Hanya ini yang bisa ibu berikan." Sosok wanita itu memberikan Rain dan Ara segelas air minum.


Tak ada kendaraan, tak ada perabotan mahal. Di rumah ini hanya ada sosok wanita itu sendirian. Sedang di luar rumah banyak anak-anak yang bermain dengan riangnya. Rain pun tidak mengerti mengapa ibunya bisa berada di sini. Ia ingin menanyakannya.


"Ibu, maaf. Aku tidak tahu benarkah engkau ibu kandungku atau bukan. Tapi aku mendapat informasi jika engkau adalah ibu kandungku." Rain mengatakan sejujurnya tentang apa yang dikatakan oleh Pangeran Agartha waktu itu.


Wanita itu terdiam, seperti sedang memikirkan masak-masak hal ini. Ketiganya duduk di lantai beralas tikar.


"Jika benar engkau adalah ibuku, bisakah menceritakan apa yang terjadi setelah penyerangan itu? Aku ingin mengetahui hal yang sebenarnya." Rain tampak bersedih.


"Sayang." Ara yang duduk di sampingnya pun mencoba menenangkan.

__ADS_1


Ibu itu menarik napas dalam. Ia terkejut karena Rain mengetahui penyerangan yang pernah melanda kampung halamannya.


Apakah dia benar-benar anakku?


Ingatan akan masa lalu pun kembali terbayang di benak wanita itu. Ia merasa Rain memang benar anak kandungnya.


"Em, maaf Nak. Ibu tidak tahu harus berkata apa. Mungkin kita bisa ke rumah sakit untuk membuktikannya." Ibu itu juga terlihat bersedih.


Rain mengerti. Ia menyadari jika situasi ini terasa canggung sekali. Harusnya ia tidak terbawa perasaan sehingga memeluk seorang wanita yang belum jelas siapa dirinya. Ia pun meminta maaf kepada ibu itu.


"Maafkan aku. Maafkan sikapku tadi. Aku hanya amat merindukan ibuku. Yang katanya pernah kutemui sebelumnya di Turki." Rain mengatakan apa yang Pangeran Agartha ceritakan waktu itu.


Sontak ibu itu pun tersentak. Ia berusaha mengingat kembali kejadian yang telah berlalu...


Invasi Irak, beberapa puluh tahun silam...


Sebuah pemukiman di Irak menjadi target sasaran bagi orang-orang yang bersenjata. Mereka memasuki rumah penduduk satu per satu untuk mencari seorang bayi yang diduga akan memimpin pemberontakan suatu hari nanti. Tak ayal beberapa orang bersenjata memasuki rumah Rain kecil yang mana ia masih berada dalam timbangan ibunya.


Pintu didobrak. Sekelompok orang bersenjata mencari di mana keberadaan Rain. Ibunya pun berusaha menyembunyikan Rain dengan bersembunyi di balik lemari rumahnya. Namun sayang, Rain kecil itu menangis karena rasa lapar yang menerpanya. Sontak sang ibu berusaha mendiamkannya. Namun, sekelompok orang itu mendengar jika ada bayi di dalam rumah yang mereka datangi.


"Berpencar! Geledah semua barang yang ada!"


Satu per satu dari mereka merobohkan semua barang yang ada di rumah Rain kecil. Sampai akhirnya mereka membuka lemari pakaian milik kedua orang tua Rain. Namun, mereka tidak menemukan Rain di sana.


Para orang-orang bersenjata lengkap itu terus mencari Rain. Mereka menggeledah semua isi rumah. Masih mencari bayi yang dianggap akan memimpin pemberontakan terhadap organisasi. Sang ibu pun terus menenangkan bayinya agar tidak menangis lagi. Terlihat jelas ada tanda lahir di tangan Rain kecil. Ibunya pun memeluk Rain dengan erat.


Ya Tuhan selamatkan kami.


Namun, ternyata takdir berkata lain untuk Rain dan ibunya. Salah satu dari kelompok itu melihat ada seseorang di balik lemari. Dan akhirnya mereka menemukan Rain kecil beserta ibunya...

__ADS_1


__ADS_2