Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Don't Panic


__ADS_3

"Nanti aku akan bicara kepada Rain. Semoga dia bisa membantuku." Owdie terlihat bersemangat.


Byrne tersenyum geli. "Untuk apa?" Byrne ingin tahu.


"Untuk meminta botol anggurnya lebih banyak lagi. Hahahaha." Owdie akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.


"Astaga."


Byrne pun menepuk dahinya sendiri. Ia pikir Owdie akan meminta resep rahasia agar cepat menikah. Tapi tahunya malah ingin meminta anggur yang lebih banyak lagi.


Di tempat yang berbeda....


"Tuan, tidak beristirahat?"


Seseorang bertanya kepada Rain yang sedang menuliskan sesuatu di atas secarik kertas. Sang penguasa terlihat berada di dalam sebuah ruangan yang temaram. Dan ternyata ia berada di dalam kapal.


Rain terlihat lesu dan tidak bersemangat. Dari wajahnya tersirat ketidakberdayaan. Ia kemudian memberikan secarik kertas itu kepada pria yang menyapanya.


"Tolong sampaikan pesan ini kepada istriku. Katakan jika aku mencintainya." Rain berpesan.


"Baik, Tuan."


Pria itu pun mengiyakan. Namun, tak lama sebuah ledakan hebat terjadi. Ledakan itu ternyata berasal dari kapal tempat di mana Rain berada. Bayang-bayang Rain pun menghilang dari pandangan mata.


"Sayang!!!"


Ara segera terjaga dari tidurnya. Ia ternyata mengalami mimpi buruk lagi. Ia berteriak saat Rain menghilang dari pandangan matanya. Hatinya was-was, pikirannya tak tenang seketika. Ia merasa mimpi itu seperti benar-benar terjadi.


"Sayang, sebenarnya ada apa?"


Napasnya tersengal. Ia pun cepat-cepat mengambil ponselnya untuk menelepon Rain. Tapi, ia menemukan pesan jika Rain sedang tidak bisa dihubungi.


/Sayang, aku sedang mengunjungi pengeboran minyak di laut Dubai. Aku tidak bisa menerima pesan atau panggilan telepon lewat ponsel pintar. Jika keadaan mendesak, telepon lewat selular biasa saja ya./


Begitulah pesan dari Rain. Ara pun mengerti jika saat ini ia tidak bisa menghubungi suaminya, terkecuali lewat panggilan biasa. Ia pun segera menelepon Rain untuk memastikan suaminya baik-baik saja.


Nada panggilan berbunyi...

__ADS_1


"Sayang, cepat angkat teleponnya."


Ara mengusap wajahnya. Napasnya terengah-engah kala mengalami mimpi buruk lagi. Di mana ia melihat kapal yang ada suaminya meledak. Sehingga membuat hatinya was-was tak karuan.


"Halo?" Tak lama Rain pun mengangkat telepon itu.


"Sayang, aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku," kata Ara yang begitu mencemaskan Rain.


Rain berjalan ke luar kapal, menuju anjungan untuk menerima telepon dari istrinya. "Kenapa, Sayang? Kau rindu padaku?" Rain tersenyum sendiri di sana.


Ara menarik napasnya dalam-dalam. "Sayang, aku mimpi buruk. Kau baik-baik saja, bukan?" tanya Ara yang cemas.


Rain terlihat khawatir. "Sayang, jangan panik. Lekas minum air putih. Aku masih bekerja di sini. Ponsel pintar tidak kubawa karena radiasinya sangat besar. Tunggu aku pulang, ya. Mungkin sampai rumah agak malam." Rain mengabarkan.


"Sayang, bisakah kau pulang sekarang saja?" Ara amat mencemaskan keadaan suaminya.


Rain pun tersenyum di sana. "Aku sedang sibuk, Sayang. Masih mencari uang untuk kamu dan juga si kecil nanti. Sabar, ya?" pinta Rain yang membuat Ara meneteskan air matanya.


Suamiku ....


Sayang, bisakah kau memercayai perkataanku?


Ara amat menyayangi Rain. Ia khawatir jika firasat itu memang benar terjadi. Ia takut terjadi apa-apa terhadap suaminya. Perkataan dari Rain pun seolah mengisyaratkan jika akan terjadi sesuatu. Entah mengapa, Ara tidak bisa diam begitu saja. Semesta seolah menggerakkannya untuk memperingatkan Rain di sana.


"Sayang, berhati-hatilah di sana. Selamat bekerja, ya. Doaku selalu menyertaimu. Aku mencintaimu." Ara mengucapkannya sambil terisak.


Rain menyadari jika sang istri tengah menangis. "Sayang, sudah. Dengarkan aku. Aku baik-baik saja di sini. Tapi aku belum bisa pulang sebelum mengecek seluruh keamanan kapal. Tunggu saja aku di rumah, ya. Nanti secepatnya aku pulang. Sudah jangan menangis." Rain berusaha menenangkan istrinya.


Ombak di lautan menjadi saksi sikap lembut Rain kepada sang istri. Rain menenangkan istrinya yang tengah bersedih di rumah karena ia tidak bisa pulang cepat. Bagaimanapun sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memastikan keamanan pengeboran minyak. Dan hari ini ia harus segera menyelesaikannya. Sekalipun sang istri sudah memperingatkannya.


Begitulah tanggung jawab seorang suami demi membahagiakan sang istri. Ia akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Tanpa peduli lagi pada risiko dan bahaya yang akan dihadapi. Dan sudah sepantasnya bagi seorang istri untuk selalu mendoakan keselamatan suaminya yang tengah mencari nafkah di luar sana. Karena hanya doa yang bisa merubah segalanya.


"Baiklah. Aku tunggu pulang." Ara mengusap air matanya.


"Iya, Sayang. Jaga si kecil, ya. Jangan banyak pikiran," pesan Rain kepada Ara.


Ara mengangguk. "Aku mencintaimu," kata Ara sambil menahan tangis.

__ADS_1


"Aku lebih mencintaimu, Araku." Rain menjawabnya sepenuh hati. Tak lama telepon mereka pun terputus.


Rain merasakan apa yang sedang istrinya rasakan. Ia pun menimbang ulang terhadap perkataan istrinya, tapi ia juga mencoba untuk berpikir logis karena saat ini sedang bekerja.


Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa cepat pulang. Semoga Tuhan melindungi kita semua.


Rain pun kembali bekerja. Ia menuruni anak tangga untuk memeriksa bagian kapal lainnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul satu siang waktu Dubai dan sekitarnya. Itu berarti jam istirahat sudah habis dan harus segera kembali bekerja. Dan Rain pun dengan semangat menjalankan tugasnya. Ia mencari nafkah untuk sang istri dan anak tercinta. Ia adalah salah satu contoh lelaki yang bertanggung jawab.


Hotel Marina pukul dua siang...


Nick melihat jam di tangannya. Jam tangan super mahal dan juga mewah yang hanya dimiliki orang-orang kelas elite dunia. Ia pun menggerakkan jari-jemarinya di atas sofa yang sedang diduduki. Ia tengah menunggu sesuatu terjadi siang ini.


"Tuan, ini laporan dari tim pengawas."


Seorang pria berjas hitam memberikan laporan kepada Nick. Sebuah map berwarna hitam kelam yang mana segera ia ambil. Ia kemudian membaca saksama laporan tersebut.


"Dua jam lagi." Nick berbicara sendiri.


"Pekerja itu akan menjadi target selanjutnya. Setelah rencana ini berhasil, kami akan menembaknya di tempat," tutur pria berjas hitam tersebut.


"Bagus. Pastikan tidak menimbulkan kecurigaan pihak kepolisian. Ini di Timur Tengah, hukuman tindak kejahatan akan lebih rumit. Jangan sampai pihak kepolisian menemukan kejanggalan." Nick berpesan.


"Baik, Tuan. Peluru lebur juga sudah dipersiapkan. Jika mengenai daging, peluru itu akan melebur dengan sendirinya. Sehingga kemungkinan kecil akan diketahui oleh pihak kepolisian." Pria itu menjelaskan.


Nick menoleh. "Bagaimana dengan bekas tembus peluru itu?" tanya Nick lebih detail.


"Kami sudah menyusun rencana agar kematiannya terlihat alami. Tim sudah mempersiapkan kejutan saat hal ini berhasil." Pria itupun menuturkan.


"Pihak keluarganya tahu?" tanya Nick lagi.


"Tidak, Tuan. Pihak keluarga sudah dialihkan perhatiannya dengan diberi tiket gratis bertamasya. Mereka tidak tahu dengan perjanjian yang kita buat. Saya kira semuanya sudah aman." Pria itu menjelaskan.


"Hm, baiklah. Kita tinggal tunggu waktunya." Nick mengangguk.


"Baik, Tuan. Permisi." Pria itupun berpamitan.


Semua rencana Nick telah dipersiapkan secara matang. Tanpa pekerja Rain ketahui, ternyata Nick mengincar nyawanya agar tindak kejahatan ini tidak sampai terbongkar. Sayang seribu kali sayang. Walaupun ia tidak kehilangan keluarganya, namun nyatanya ia harus kehilangan nyawanya. Dan begitulah bagaimana sistem kerja sama penjahat. Merugikan dan tidak kenal belas kasihan.

__ADS_1


__ADS_2