Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Starting...


__ADS_3

Lihatlah dirimu, Nick. Kau terlihat tidak tenang saat kakek sudah mulai bertindak. Jika mengatasnamakan cucu kandung, kau tetap saja tidak bisa lari dari hukum. Jika di Dubai tidak bisa menghukummu, maka USA lah yang akan menghukummu. Ya, walau kutahu kakek pasti tidak akan tega melihatmu masuk penjara. Setidaknya hal itu bisa menjadi efek jera dari perbuatan burukmu.


Owdie mendecih pelan lalu kembali melanjutkan makan malamnya. Ia tampak jijik melihat Nick yang duduk di seberangnya. Sedari tadi ia hanya diam, tak banyak bicara. Sedang saudara-saudara Nick yang lain tampak diacuhkannya. Seakan tidak peduli dengan orang-orang yang membela Nick.


Sial!


Nick pun menyadari sikap Owdie. Namun, Nick tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus tetap bersandiwara agar kejahatannya tidak ikut terbongkar. Ia bersikap biasa-biasa saja seolah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.


Sementara itu...


Rain dan Pangeran Agartha baru saja sampai di istana. Keduanya turun dari kuda lalu disambut oleh pelayan wanita yang berjaga di pintu istana. Keduanya diberi minum lalu dipersilakan untuk duduk. Pangeran pun meminta Rain untuk menemaninya duduk di kursi tamu kerajaan. Rain kemudian duduk bersama pangeran untuk beristirahat sejenak. Mereka membuat percakapan kecil usai melakukan perjalanan.


"Aku sendirian di istana ini. Ingin rasanya mempunyai seorang penasehat dalam menjalani tugas kerajaan."


Pangeran menuturkan keinginannya kepada Rain. Pelayan pun satu per satu datang menghidangkan beberapa sajian istimewa khas Agartha. Rain kemudian menyicipinya tanpa ragu.


Sejak perjalanannya ke telaga bersama pangeran, ia merasa sudah semakin dekat dengan sosok berjubah hitam dan bermahkota itu. Ditambah pangeran seakan tidak ragu untuk mengungkapkan masa lalunya kepada Rain. Di mana ia menceritakan kisah asmaranya bersama seorang gadis dari kalangan rakyat jelata. Di saat itulah Rain merasa nyaman untuk berbincang lebih dekat dengan pangeran.


"Sayang sekali, Pangeran. Aku mempunyai tugas dan tanggung jawab di duniaku. Aku tidak bisa berada di sini lebih lama. Banyak orang-orang yang membutuhkanku." Rain menuturkan seraya tersenyum.


Pangeran Agartha mengangguk pelan. Ia seperti mengerti akan tugas dan tanggung jawab Rain di dunianya.


"Aku senang sekali saat tahu jika akan ada yang datang ke istana ini. Nenek bilang akan terjadi perubahan besar baik di dalam maupun di luar istana setelah kedatangan orang itu. Dan aku harap orang itu adalah dirimu, Tuan." Pangeran tersenyum penuh harap.


Rain membalas senyuman. "Pangeran jangan membuatku tertekan. Kata-kata itu sangat berat untuk kuterima." Rain mengajak bercanda.


"Hahaha." Pangeran tertawa. "Hah ... andai saja sejak dulu aku punya saudara, mungkin semua tugas dan tanggungjawab tidak perlu kupikul sendiri." Pangeran lagi-lagi mengungkapkan keinginannya.


Rain merasa bertambah akrab dengan sosok pria di hadapannya. "Tuhan tahu jika Pangeran bisa mengemban tugas kerajaan sendirian. Maka dari itu Pangeran terlahir sendiri," tutur Rain lagi.

__ADS_1


"Hah ... ya, ya. Baiklah." Pangeran mengiyakan. "Silakan dicicipi." Pangeran kemudian mempersilakan Rain untuk mencicipi hidangan lainnya.


"Pangeran!" Tak lama berselang datang seorang prajurit menghadap Pangeran Agartha.


"Ada apa?" Pangeran pun segera bertanya kepada prajurit yang terlihat tergesa-gesa itu.


Prajurit tersebut tampak cemas. Ia tergesa-gesa menemui pangeran. Ia kemudian berbicara pelan kepada calon rajanya.


"Pangeran, di selatan sedang terjadi perselisihan antara rakyat dan tuan tanah. Tuan tanah bersikeras mematok tanah rakyat dengan alasan perjanjian. Rakyat tidak terima dan ingin bertindak sendiri. Mereka meminta keadilan dari pihak istana mengenai hal ini." Prajurit itu menuturkan seraya berbisik.


"Astaga!" Pangeran pun terkejut.


"Panggil pejabat terkait untuk menyelesaikannya segera!" pinta pangeran cepat.


Prajurit terlihat semakin cemas. "Mohon maaf, Pangeran. Pejabat terkait sudah pergi ke tempat kejadian. Namun, sampai sekarang dia belum juga kembali." Prajurit mengabarkan hal yang terjadi.


"Apa?!" Pangeran tampak risau. "Baiklah. Siapkan beberapa prajurit untuk ikut aku ke sana. Aku pergi sekarang." Pangeran akhirnya memutuskan.


Pangeran Agartha tidak mengindahkan kedatangan Mile. "Aku akan pergi ke selatan sekarang. Minumlah sendiri tehnya." Pangeran bergegas meninggalkan istana.


"Tapi Pangeran—" Mile ingin mencegah kepergian pangeran.


"Tuan Rain, bisa aku titip sebentar istana kepadamu? Aku akan segera kembali." Pangeran meminta kepada Rain dengan tidak mengindahkan Mile.


Rain beranjak berdiri. "Akan kuusahakan semampunya, Pangeran." Rain pun menyanggupinya dengan terpaksa.


"Baik. Terima kasih." Pangeran berjubah hitam itu kemudian bergegas pergi meninggalkan istana. Langkah kakinya tampak terburu-buru.


Akhirnya ....

__ADS_1


Mile diam-diam tersenyum senang karena merasa rencananya selangkah demi selangkah telah berhasil. Taktiknya sudah dilancarkan. Tinggal menunggu pangeran benar-benar pergi dari istana. Ia pun mengantarkan pangeran sampai ke depan pintu dengan raut wajah penuh penantian akan kepulangan pangeran. Padahal nyatanya ia hanyalah sedang bersandiwara.


Cepatlah pergi, Pangeran. Karena sebentar lagi akan kudapatkan apa yang kumau.


Rain sendiri tidak mempunyai firasat apapun tentang Mile. Ia bersikap biasa-biasa saja dan berusaha mengemban pesan pangeran. Namun, setelah mengantarkan pangeran pergi, Mile segera beralih ke Rain. Ia menahan Rain yang ingin pergi dari ruang tamu kerajaan.


"Tuan!" Ia memanggil Rain.


"Putri?" Rain berbalik, melihat Mile.


"Tuan, Anda mau ke mana?" tanya Mile berbasa-basi.


"Aku ingin pulang sebentar ke padepokan. Permisi Putri." Rain bergegas pergi.


"Tunggu!" Mile pun dengan berani menahan lengan Rain.


Rain merasa ada yang aneh dengan sikap Mile siang ini. Ia segera menjauhkan lengannya agar pegangan Mile terlepas. "Ada apa Putri?" tanya Rain heran.


Mile memasang wajah manis di hadapan Rain. "Tuan, aku sudah membuatkan teh untuk pangeran. Tapi, pangeran sedang ada urusan sehingga tidak ada yang meminum tehku. Maukah Anda yang meminumnya? Teh ini langsung dipetik dari kebun rakyat Agartha. Mungkin Tuan ingin mencicipinya." Mile merayu Rain.


Rain terdiam sejenak. Ia tampak berpikir.


"Sedikit saja tak apa. Anggap sebagai rasa terima kasihku karena sudah membantu pangeran menjaga istana ini," tutur Mile kembali.


Rain terlihat keberatan. "Em, aku rasa tidak perlu sampai menerima penghargaan seperti itu, Putri. Terima kasih atas tawarannya. Aku harus segera kembali. Permisi." Rain pun beranjak pergi tanpa basa-basi lagi.


Arrghh ....


Seketika Mile kesal bukan main. Rayuannya ternyata ditolak mentah-mentah oleh Rain. Rain pun terus berjalan menuju pintu belakang istana, membuat Mile harus segera melancarkan aksi selanjutnya.

__ADS_1


Baiklah. Sepertinya memang harus menggunakan cara ini.


Mile kemudian berlari mengejar Rain sambil mempersiapkan sesuatu di tangannya. Dari telapak tangannya itu kemudian muncul gambar daun tembakau yang berwarna hitam. Ia pun menepuk pundak Rain dengan cepat seraya membaca mantra. Gambar daun tembakau hitam itu juga seolah masuk ke dalam tubuh Rain. Tak berapa lama kemudian pandangan Rain berubah total. Ia seperti orang yang terkena hipnotis.


__ADS_2