Kontrak Cinta Sang Penguasa

Kontrak Cinta Sang Penguasa
Stay Home


__ADS_3

Beberapa hari kemudian…


Sinar terang sang mentari menemaniku menyiapkan sarapan untuk suami tercinta. Suamiku akan kembali bekerja hari ini, jadi aku harus membantunya menyiapkan segala keperluan. Termasuk pakaian dan juga isi dompetnya. Kebetulan Rainku memang menyukai keterbukaan. Jadi dia tidak keberatan jika aku tahu urusan pribadinya.


Kini aku baru saja menyajikan sarapan ke atas meja. Pagi ini kukenakan daster tanpa lengan selutut yang bisa dibilang mewah. Bagaimana tidak, harga daster ini kalau dirupiahkan hampir setengah juta rupiah. Harga segitu tentunya bisa membeli belasan daster pada umumnya. Tapi karena tinggal pakai, ya kupakai saja. Lain jika disuruh membeli sendiri. Aku sih ogah.


“Sayang, nanti aku pulang agak malam. Tak apa ya?” Suamiku baru saja selesai mandi. Dia masih menghanduki rambutnya yang basah.


“Apa ada pertemuan dengan klien?” tanyaku seraya berjalan mendekatinya.


Dia terdiam sejenak. “Sepertinya tidak. Aku juga belum tahu pasti karena Ro belum memberi tahuku,” jawabnya.


Kami berjalan bersama menuju kamar. Kupegang handuk yang habis dipakainya untuk mengeringkan rambut. “Aku masuk kuliah lagi, boleh?” Aku meminta izin.


Rain membuka lemari besar berisi pakaian kami. “Nanti kau bertemu dengan dia lagi. Apa ingin membuatku cemburu?” Dia menutup lemarinya seraya menatap ke arahku.


“Sayang, tapi ….” Entah mengapa aku tetap ingin masuk kuliah.


“Jika kau membutuhkan ijazah, aku bisa memberikannya. Tapi jika untuk bertemu dengannya, aku tidak bisa.” Dia memegang kedua lenganku.


Aku terdiam di hadapannya.


“Sayang, kau tahu aku ini pencemburu. Jadi tolong jangan memancing amarahku. Aku menyayangimu, Istriku.” Dia menatap dalam mataku.


Kupeluk dirinya yang hanya terbalut handuk sebatas pusar hingga lutut. Aroma sabun mandinya masih tercium jelas di hidungku ini. Kuhirup dalam-dalam aroma tubuhnya sambil memeluknya dengan erat. Aku tidak ingin dia marah lagi.


“Sayang, aku juga mencintaimu. Tapi aku bosan jika tidak ada kerjaan. Aku ingin mengisi waktuku dengan belajar.” Aku merayunya.


Terdengar alunan merdu detak jantungnya di setiap hela napasku. Dia kemudian mencium kepalaku lalu mendorong sedikit tubuhku agar bisa bertatapan kembali dengannya.


“Nanti kita bicarakan lagi mengenai kuliahmu. Jack sudah meminta izin kepada pihak kampus untuk mengambil cuti sebulan. Dan ini baru seminggu. Masih tersisa tiga minggu untuk berpikir. Sabar, ya?” Dia menenangkanku.


Aku mengangguk, menurut padanya. Dia sudah menjadi suamiku sekarang dan harus kupatuhi. Aku pun memeluknya kembali dengan erat. Tanpa sadar handuknya jatuh ke lantai.


Kok lembut sekali?

__ADS_1


Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh perutku. Lantas segera kujauhkan tubuhku lalu melihat ke bawah. Dan ternyata Rainku sudah tidak memakai apa-apa. Namun, dia sama sekali belum menyadarinya.


“Astaga, Sayang. Handukmu jatuh!”


Kuambil handuknya dengan membungkuk sedikit. Kuangkat kepalaku agar bisa kembali berdiri dengan sempurna. Namun, tanpa sengaja wajahku melewati miliknya. Saat itu juga kulihat raut wajahnya berubah.


“Sayang, napasmu.” Dia tiba-tiba terlihat aneh di hadapanku.


“Ke-kenapa?” Aku jadi khawatir padanya.


Dia menarik tubuhku ke pelukannya. “Sayang, hisap lagi,” pintanya setengah berbisik.


Saat itu juga kedua mataku terbelalak kaget. Bisa-bisanya sudah mau berangka kerja dia meminta hal itu padaku.


“Sayang, cepat kenakan pakaianmu! Aku tunggu di meja makan,” kataku mencoba mengalihkan.


“Sayang, aku ingin.” Dia menahanku saat beranjak pergi.


“Kerja!” Aku menolak dengan sedikit menaikkan intonasi bicaraku. Aku mulai galak padanya.


Aku tak peduli. Segera kulangkahkan kaki keluar kamar tanpa memedulikan dirinya di dalam sana. Aku tidak ingin dia sampai telat datang ke kantor karena hasrat yang mulai menggelora. Lagipula menstruasiku sebentar lagi akan berakhir, jadi kusimpan saja untuk nanti. Sayang kan jika dibuang percuma?


Setengah jam kemudian…


Aku mengantarkan suamiku pergi bekerja sampai ke depan rumah. Kulihat Jack juga sudah menunggu di halaman depan rumah kami. Dan kini saatnya aku menciumnya.


“Mmmuach!” Kucium pipinya, mencurahkan kasih sayang dari hati.


Dia melihatku. “Sayang, kau tega padaku,” katanya yang sudah memegang koper kerjanya.


“Eh?!” Aku jadi heran.


“Nanti malam, ya? Aku sudah sangat gatal, ingin digaruk.” Dia berbisik padaku.


“Sayang, malu!” Kucubit pinggangnya karena khawatir kedengaran oleh Jack.

__ADS_1


“Tak apa. Dia juga tahu jika kita pengantin baru.” Rain membela diri.


“Ish, dasar! Sudah sana! Semangat kerjanya. Hati-hati, ya!” Aku menyemangatinya.


“He-em.” Dia pun mengangguk. “Jangan nakal di rumah, luluran saja. Mens sudah selesai, kan?” tanyanya tanpa ragu.


“Sayang!!!” Aku khawatir Jack sampai mendengar percakapan kami.


“Hehehe. Kau milikku, Ara. Sampai nanti, Istriku.” Dia kemudian mencium keningku ini.


“Sampai nanti.” Aku pun membalasnya segera.


Dia menjulurkan tangannya padaku, minta dicium. Entah mengapa aku sampai lupa jika harus seperti ini. Padahal biasanya sering sekali kulakukan padanya. Mungkin karena hari ini hari pertamaku mengantarnya pergi bekerja setelah berstatus suami-istri. Jadinya sedikit ada rasa grogi yang menggerogoti.


Selamat bekerja, Sayang.


Lantas kucium tangannya sepenuh hati. Dia juga mencium keningku ini. Dia tersenyum padaku, senyuman yang manis sekali. Dia adalah suamiku, Rain Sky.


Malam harinya…


Hari ini kujalani aktivitas dengan banyak menulis di laptop. Aku tidak ada kerjaan, jadinya menulis saja. Ke kampus juga tidak boleh, apalah daya. Jadinya seharian ini aku hanya duduk sambil menuangkan ide dari pikiran. Mengisi waktu agar tidak suntuk di rumah.


“Sudah jam tujuh, dia belum pulang juga.”


Kini aku baru saja beristirahat dari aktivitas menulisku. Duduk di ruang tamu sambil membaca-baca majalah memasak hari ini. Rain sengaja berlangganan majalah di setiap harinya agar aku tidak bosan di rumah. Mungkin karena sudah terbiasa pergi ke sana ke sini, jadinya mudah merasa bosan jika di rumah. Entahlah, mungkin akunya saja yang belum berpikiran dewasa. Selalu ingin berkelana.


Sampai saat ini kami belum pernah melakukan hubungan suami-istri. Saat kedekatan sebelum pernikahan pun, hal itu tidak pernah terjadi. Paling hanya sebatas nakal-nakal kecil di sekitar dada. Itu pun sudah sangat luar biasa. Katanya sih cinta tanpa sentuhan tidak akan bertahan lama. Karena sentuhan itulah yang dapat menambah kuat ikatan batin. Entah benar atau tidak, aku juga tidak tahu. Karena kupikir hal itu kembali ke pribadi masing-masing.


“Hah … aku tiduran saja.”


Sambil menunggu Rainku pulang dari kantornya, aku merebahkan diri di atas sofa lalu memainkan ponsel. Kucek semua pesan masuk yang ada di ponsel, kubaca lalu kubalas satu per satu. Namun, tidak dengan pesan dari Lee. Pesan darinya kuabaikan karena menjaga hati suamiku. Tidak tahu kenapa suamiku itu anti sekali dengannya.


"Sayang?"


Tiba-tiba saja ada panggilan masuk untukku saat sedang memainkan ponsel. Terpampang jelas di layar ponsel ini foto pernikahan kami. Kusadari jika yang menelepon adalah suamiku. Segera saja kuangkat telepon darinya.

__ADS_1


“Halo?” jawabku mesra.


__ADS_2